The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Rumah Besar


__ADS_3

💖


💖


"Aarrgghh! Sialan! Di mana kalian?" Daryl berteriak dengan ponsel menempel di telinga.


Lalu dia melemparnya ke kursi di samping saat ada empat mobil hitam muncul dan mengikutinya di belakang.


Yang salah satunya kemudian mendekat lalu mendahului setelah pria di balik kemudi mengisyaratkan dengan tangan untuk mengikutinya.


Waktu hampir tengah malam dan sebagian jalanan memang sudah sepi, terutama di pinggiran kota. Dan mereka berhenti ketika tiba di depan sebuah gapura kecil dan mendapati seseorang sedang dipukuli.


"Piece of ****!!" Daryl segera turun begitu mengenali pakaian korban. Yakni hoodie abu-abu dengan gambar matahari seperti milik Nania. 


Sementara pria yang memukulinya tampak tak sadar. Dia begitu membabi buta mendaratkan setiap pukulan dan tendangan pada tubuh kecil gadis itu.


"Sukyn sin! (dasar bajingan!)" Lalu tanpa basa-basi Daryl menjejakkan kakinya dengan keras kepada Sandi sehingga pria itu terjengkang ke belakang.


"Hey!" Dia berteriak tak terima karena aktivitasnya terganggu.


Lalu Sandi bangkit dan bermaksud membalas orang yang mengusiknya ketika dia mendapati seorang pria tinggi menjulang di depannya.


Belum Sandi mengenalinya, sebuah tendangan keras bersarang di wajah dan tak ayal lagi membuatnya kembali terjerembab ke tanah.


Lalu Daryl mendaratkan pukulan bertubi-tubi dan instingnya sebagai pemegang sabuk hitam taekwondo muncul seketika.


Pria itu mencengkram kerah pakaiannya kemudian dengan mudah mengangkatnya tinggi-tinggi. Dan dalam hitungan detik segera membantingnya ke tanah sehingga terdengar bunyi berdebum.


Daryl kemudian mengulangi hal tersebut sehingga tak terdengar lagi suara yang semula di dengarnya saat pria yang dipukulinya tersebut tengah menghajar Nania. Dia menggila, dan orang-orang yang berada di belakangnya membiarkan Daryl lepas kendali karena pria itu memang akan sulit dihentikan. Kemarahannya benar-benar tak tertahankan.


Namun sesuatu tiba-tiba menghentikanya ketika seseorang meraih tungkainya dan Daryl segera menunduk untuk melihat.


Sepasang tangan kecil menggenggam pergelangan kakinya dan pada saat dia menoleh, Nania tertelungkup di belakangnya.


"Malyshka!" katanya, dan pria itu berbalik.


Dia berjongkok kemudian memeriksa keadaan Nania dan menemukan wajah gadis itu sudah berdarah-darah.


Seketika kemarahan kembali menyeruak dan dia mendongak ke arah orang suruhannya yang sudah lengah saat bertugas.


Perlahan Daryl melepaskan gadis itu untuk kemudian melesat ke arah mereka dan memukulinya secara bergiliran. 


"Bespoleznyy idiot! (bodoh! Tidak berguna!)" Lalu dia kembali kepada Nania dan memeriksanya lagi.


Daryl menyingkirkan rambutnya yang berantakan kemudian merengkuh tubuhnya dalam dekapan. Menatap wajah dengan mata sayu itu lalu mengusap kepalanya. Sementara Nania mulai menangis.


"I'm sorry, you save now." katanya, dan dia segera meraup tubuh lemah itu dan mengangkatnya dengan mudah.


Daryl membawanya ke dekat mobil ketika seorang di antara suruhannya membukakan pintu belakang, dan dia segera masuk.


"Urus bajingan itu!" katanya, sebelum pintu di tutup dan tiga orang itu segera bergerak meski rasa sakit bekas pukulan masih terasa.


"Ke rumah besar!" katanya pada pria yang sudah siap di balik kemudi.


Lalu tanpa basa basi Rubicon hitam itu pun melaju, kembali membelah jalanan ibu kota menuju tempat yang dikatakan Daryl.


Sementara dia yang di belakang tak melepaskan Nania sedikitpun. Daryl mendekapnya dengan erat dalam pangkuan seolah gadis itu akan terjatuh jika dia tak melakukannya.


"Maafkan aku, maafkan!" gumamnya, dan dia menciumi kepala gadis itu.


Dan aku malah bersenang-senang ketika kamu dalam bahaya. Maafkan! Hatinya berdenyut ngilu.


Daryl tidak berhenti merutuki dirinya sendiri saat dia mengingat apa yang terjadi sebelum panggilan menyadarkannya beberapa saat yang lalu.


"Maafkan aku, Malyshka. Maafkan!" katanya lagi, dan dia memeluknya semakin erat.


Sementara Nania yang meringkuk dalam pelukannya terus terisak dengan wajah tenggelam di dadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Somebody help!" Daryl berteriak begitu memasuki rumah.


"Someone!!" Dia membawa tubuh Nania yang terkulai lemah ke ruang tengah.


"Somebody!!!" Dia berteriak lagi yang kemudian membuat semua orang terbangun dan muncul dalam hitungan detik.


"Daryl! Ada apa?" Sefia menuruni tanggga diikuti oleh Satria.


Dan keduanya tertegun saat mendapati putra kedua mereka yang pulang pada hampir dini hari dan membawa seseorang dalam gendongan. Ditambah keadaannya yang cukup berantakan.


"Daryl, siapa itu, Nak?" ranya Sofia dan dia segera menghampiri.


"Na-Nania." Sang anak terbata, dan wajahnya tampak begitu panik.


"Nani?"

__ADS_1


"Tolong dia, Mama!" ucapnya, dan hal tersebut membuat Sofia terhenyak ketika memeriksa keadaan Nania.


Keningnya terluka dan mengalirkan darah. Hidungnya pun sama, dan bibirnya yang robek seperti terkena pukulan keras.


"Kenapa Nania?"


"Just help her!" Daryl membaringkannya di sofa.


Sofia memerintahkan pegawai untuk menyiapkan beberapa hal. Yang kemudian segera melakukan apa yang diperintahkan.


Satu orang membawa wadah dengan air hangat, satu orang lainnya membawa kotak obat, lalu satu orang lagi membawa air minum. Sementara Satria memanggil dokter.


"Somebody, do something!" Daryl kembali berteriak.


"Tenanglah, apa yang terjadi?" Satria menariknya ke sisi lain.


Daryl tak menjawab, namun dia hanya menatap ke arah Nania yang sedang mendapatkan perawatan.


"Bersihkan dirimu dulu, kamu tampak berantakan!" ucap Satria yang menatap keadaan putranya yang tidak karuan.


Kemeja dan jas tidak terkancing dengan benar, ditambah noda darah di mana-mana. Dia terlihat seperti habis membunuh seseorang.


"But …."


"Bersihkan dulu dirimu, Nania sedang ditangani." ucap Satria lagi, dan pria itu pun menurut.


Dia pun nenurut.


Dan tak menghabiskan waktu lama, Daryl segera kembali ke bawah saat dia mendengar rintihan gadis itu, yang rupanya sedang mendapat perawatan dari dokter.


"Apa yang kalian lakukan kepadanya?" katanya, yang mendekat.


"Dokter sedang mengobatinya, Der." Darren menahan kakaknya.


"Mengobati apanya? Dia kesakitan!" Namun Daryl menepis tangan sang adik kemudian mendekati sofa di mana Nania berada.


"Lukanya harus dibersihkan dan dijahit." Dokter Syahril menunjuk luka di atas alis Nania.


"What?"


"Ini harus dilakukan, kalau tidak akan sangat berbahaya." Pria itu mengeluarkan peralatannya.


Dia menyuntikkan sesuatu di sekitar luka yang membuat Nania menjerit kesakitan.


Dokter Syahril tidak menyahut. Dia hanya melakukan tugas sebagai mana mestinya. Membersihkan luka, membubuhkan obat, kemudian melakukan tindakan untuk menutup luka tersebut meski dibawah tekanan ketika Daryl terus menginterupsi pekerjaannya.


"Sakit Pak!" Nania merintih.


"Hentikan! Dia kesakitan!" Lalu Daryl berteriak.


"Berikan dia biusnya!"


"Sudah." Sesekali Dokter Syahril menjawab.


"Lalu mengapa dia masih kesakitan? Berikan dia bius total!" Daryl menggenggam tangan Nania yang terus menangis. 


"Kita tidak bisa memberikan bius total di wajah."


"Kenapa? Mau menyiksanya heh? Mau melihat dia kesakitan?"


"Prosedurnya seperti itu."


"Seharusnya kau mengobatinya, buka malah membuatnya lebih sakit!" Daryl terus berteriak sehingga seisi rumah sangat berisik. 


Selain karena tangis kesakitan Nania, juga karena ocehannya yang tidak berhenti sepanjang dokter melakukan tindakan perawatan kepada gadis itu.


"Daryl! Diamlah! Biarkan Dokter melakukan tugasnya!" Satria menepuk pundak anaknya, dan seketika itu juga dia menutup mulut.


"Nah, selesai.  Sedikt, hanya lima jahitan." Dokter Syahril berujar.


"Apa katamu? Hanya lima jahitan? Kau bercanda ya? Lukanya sebesar itu, dan kau bilang hanya? Di mana akalmu?" Pria itu bereaksi.


"Astaga!" Darren mengusap wajahnya.


"Ini luka kecil, di rumah sakit ada yang lebih besar. 15 sampai 20 jahitan."


"Dan kau mengatakannya dengan enteng? Tidak lihat dari tadi dia menangis dan menjerit?"


Dokter Syahril memutar bola matanya.


"Sudah, sudah. Dokter sudah selesai." Satria kembali menghentikan putranya.


"Kalau mau Nania bisa dibawa ke rumah sakit, Pak." ucap Dokter Syahril kepada Satria.


"Tidak mungkin! Aku hanya akan merawatnya di sini. Jika ada yang dia perlukan bawa saja kemari." Daryl segera menjawab.

__ADS_1


Dia masih berada di sisi Nania yang mulai tenang.


"Lakukan saja, Dokter! Dari pada dia gila!" Dimitri yang sejak tadi diam akhirnya buka suara. Membuat sang adik mendelik karenanya.


"Baiklah, besok pagi saya akan kembali membawa beberapa hal yang diperlukan. Untuk sementara, biarkan Nania istirahat."


"Apa dia baik-baik saja? Dokter sudah memeriksanya? Dia dipukuli tadi!!" Daryl bertanya lagi.


"Pemeriksaan awal tidak terlalu mengkhawatirkan. Tapi harus ada pemeriksaan lanjutan, takutnya ada luka dalam. Maka, kita lihat besok pagi." jawab Dokter Syahril yang kemudian berpamitan setelahnya.


"Sebaiknya kita pindahkan dia ke kamar." ucap Sofia setelah beberapa saat dan keadaan sudah lebih tenang.


"Kamarnya sudah siap, Bu." sahut seorang pegawai yang turun dari lantai atas.


Lalu tanpa banyak bicara, Daryl kembali mengangkat tubuh Nania dan segera membawanya ke kamar yang sudah disediakan. 


Dia membaringkannya di atas tempat tidur lalu duduk sebentar di sisinya. Memastikan obat tidur dan penghilang rasa sakitnya yang diberikan oleh dokter bekerja.


Dan benar saja, gadis itu segera tertidur pulas begitu kepalanya menyentuh bantal, meski sesekali terdengar dia terisak.


"You save now, you save. Don't worry!" Daryl berbisik sambil mengusap kepalanya yang sedikit basah karena keringat dan air kompresan.


Lalu dia membenahi selimut dan sejurus kemudian pria itu mencium keningnya sebelum akhirnya dia memutuskan untuk keluar.


***


"Apa yang terjadi?" Mereka berkumpul di ruang tengah.


"Mereka tidak menjaganya dengan baik." Daryl menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Mereka kehilangan jejak disaat seharusnya bisa tetap mengawasinya meski diluar kedai." lanjutnya, dan rasa kesal masih dia tunjukan kepada orang yang diperintahkan untuk menjaga Nania.


"Maaf, Pak." ucap pria yang dimaksud.


"Kelalaianmu hampir membuat satu nyawa melayang, bodoh!" Daryl menggeram.


"Maaf. Tapi jalannya memang sulit, disana ada banyak gang dan saya …." Galang mengangkat tangannya, lalu dia menggelengkan kepala untuk memberi isyarat agar bawahannya itu diam.


"Tidak ada alasan untuk kesalahan seperti ini. Taruhannya adalah nyawa!" Daryl berteriak.


"Maaf, maaf Pak."


"Tidak berguna!" Dia bersedekap lalu menoleh kepada Galang.


"Suruh orang untuk mencari tahu siapa yang memasukkan obat ke dalam minumanku!" katanya kemudian.


"Apa hubunhannya dengan Nania?" Darren menyahut.


"Sebelum ini aku menghadiri pesta di Blue Marine Pub, dan seseorang memasukkan sesuatu ke dalam minumanku."


"Memangnya kenapa dengan minumanmu?" Dimitri yang malam itu tiba setelah dihubungi Sofia pun bertanya.


"Aku merasa seseorang memasukkan sesuatu ke dalam minumanku. Atau mungkin memang itu yang mereka jual kepada pengunjung. Benar-benar sangat membahayakan!" Dia teringat apa yang sudah terjadi.


"Obat?" Darren kambali berbicara.


"Mungkin. Dan jika benar itu yang mereka jual, maka harus dilaporkan ke polisi karena jelas melanggar hukum."


"Baik." Galang menyalakan ponsel.


"Aku tunggu laporannya besok pagi." Daryl bangkit dari duduknya.


"Hey, kau ini siapa berani memerintah seperti itu?" Dimitri bereaksi melihat kelakuan adik keduanya.


"Aku masih Nikolai, sama sepertimu." jawab Daryl yang melenggang ke arah tangga.


"Tapi aku pemimpinnya di sini."


"Aku tidak peduli!" ucapnya dan dia berjalan ke lantai atas.


"Dan satu lagi, pastikan pengacau kecil itu mendapatkan balasan yang pantas karena telah memukuli Naniaku!" Dia berteriak dari ujung tangga.


"Naniamu?" Orang-orang serentak bergumam.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Vote!!!😜


__ADS_1


__ADS_2