
💖
💖
"Ini karena kau menyentuh Naniaku!" Pukulan keras mendarat di wajah seorang pria berperawakan tinggi besar yang sudah babak belur karena pukulan Daryl sebelumnya. Membuat dia terhuyung ke samping.
"Ini karena kau berbuat kurang ajar!" Tendanganpun bersarang di perutnya sehingga dia memuntahkan darah.
"Dan ini karena kau bajingan!!" Pukulan berikutnya bertubi-tubi dia layangkan kepadanya sehingga pria itu tak bisa berkutik lagi.
Wajahnya babak belur dan berdarah-darah juga tubuhnya sudah melemah. Dia bahkan hampir tak bisa berbicara bahkan untuk sekedar untuk meminta ampun.
Daryl bangkit kemudian mendorong pria itu dengan ujung kakinya untuk memastikan keadaannya.
"Hmm … dia pingsan." katanya, lalu mundur.
Regan menyodorkan sebotol air dingin yang kemudian Daryl tenggak hingga hampir habis.
"Sudah selesai, Pak?" tanya pria itu untuk yang ke tiga kalinya. Dan sekarang dia yakin Daryl sudah puas karena targetnya sudah tak bisa bergerak lagi.
"Belum, tapi karena bajingan itu pingsan jadinya sudahi saja lah." jawab Daryl seraya melepaskan singletnya yang basah oleh keringat bercampur bercak darah.
"Sialan! Dia membuatku lelah saja!" katanya, lalu Daryl keluar dari ruangan tersebut.
"Kirim dia ke kantor polisi setelah ini." katanya sambil membasuh tangan dan wajahnya di wastafel yang tersedia di luar ruangan itu.
"Baik." Regan menjawab.
"Biasanya kalian obati dulu apa tidak sebelum dikirim ke kantor polisi?" Daryl menerima handuk kecil yang disodorkan Regan kepadanya yang kemudian dia pakai untuk mengeringkan tangan dan wajahnya yang basah.
"Diobati sebentar, Pak."
"Hah, payah. Kenapa orang seperti itu masih diberi ampun?" Lalu dia kembali mengenakan pakaian bagian atasnya yang sempat dilepaskan sebelum menghajar bandar judi tadi.
"Nikolai Grup tidak pernah membunuh siapa pun, Pak. Sekalipun itu musuh berbahaya."
"Ah, iya aku lupa."
"Ya Pak."
"Lalu sudah kau ratakan tempatnya?" Daryl bertanya lagi.
"Sudah Pak. Tidak ada lagi bangunan berdiri di sana, dan semua orang sudah diperingatkan."
"Bagus." Pria itu menepuk bahu Regan.
"Terima kasih Pak."
"Jangan senang dulu! Kesalahanmu sangat besar, kau tahu? Karena kau lengah dan membuat Naniaku hampir celaka!"
"Umm … maaf, Pak. Itu memang kesalahan saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi." ujar Regan, kemudian berdeham.
"Kau memang seharusnya begitu."
"Ya Pak."
"Baiklah." Daryl menyemprotkan parfum pada leher dan pakaian yang menempel di tubuhnya.
"Aku mau pulang. Naniaku menunggu di rumah." katanya, seraya merapikan rambut bergelombangnya, dan dia berjalan dengan kepercayaan dirinya yang berada di atas rata-rata.
"Kau uruslah semuanya." Dia melenggang keluar dari bangunan tersebut.
"Baik Pak." jawab Regan yang mengekorinya dari belakang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mommy!!!" Dua anak itu menghambur ke pelukan Rania ketika dia baru tiba di ambang pintu.
"Hey kalian!!!" Perempuan itu menyambut keduanya dengan rasa rindu tiada tara.Â
"Aku lihat Mommy balapan kemarin malam. It was cool!" Zenya segera berceloteh begitu Rania nenurunkannya di sofa.
"Aku juga, Mommy ngebutnya wuss wuss wuss … gitu." Anya tidak mau kalah.
"Oh ya? Kalian nonton?" Rania menyahut.
"Iya dong. Sampai selesai, sampai Mommy pegang pialanya."
Rania tersenyum.
"Terus gimana pemotretannya? Lancar?" Lalu dia beralih kepada mertuanya.
"Lancar, sekarang mereka lebih mudah diarahkan." jawab Sofia.
"Bagus lah."
"Eh, Kak Nania sekarang tinggal di sini lho, bobonya di atas." celetuk Anya.
"Apa?"
"Iya, Mommy. Seharian aku sama Anya yang nemenin. Kasihan, Kak Nanianya sakit habis dipukulin sama Om Der." Zenya menabahkan.
"Hah?"
"Eh, kalian salah! Aduh, anak-anak masih salah faham saja." sergah Sofia sambil tertawa.
"Maksudnya apa sih Ma? Ada Nania di sini?" Rania pun bertanya.
"Iya, sejak semalam."
"Kenapa? Memangnya jadi ya, sama Daryl? Udah resmi?" Dia sudah mengetahui perihal hubungan adik iparnya dengan gadis pelayan kedai itu.
"Secara jelas sih belum."
"Lho, kok Nanianya udah di sini? Kenapa? Menginap doang?"
"Bukan."
"Kak Nanianya dipukulin, Mom. Mukanya biru-biru, badannya juga. Ininya dijahit sama Om Dokter." Zenya menyentuh keningnya sendiri.
"Benar?" tanya Rania lagi.
"Iya. Tengah malam Daryl menemukan Nania sedang dipukuli seseorang di jalan."
"Astaga!! Sekarang gimana?"
"Sedikit lebih baik. Sepertinya sudah tidur tadi Mama lihat."
"Aku nggak bisa lihat dia dong?"
"Tidak usah, nanti saja."
"Zai, apa kita akan pulang sekarang?" Dimitri muncul setelah beberapa saat.
"Oke, aku mau langsung istirahat." Perempuan itu menjawab.
"Kenapa tidak menginap saja? Tanggung kan?" Sofia bereaksi.
"Iya Mom, aku mau nginep lagi. Kan ada Kak Nania!" Zenya pun sama.
"Eh, besok sekolah." Lalu Dimitri mendekat.
"Berangkat sekolahnya dari sini aja, Papi!" Anya merengek.
"Papi nggak bawa baju dan tas kalian, Sayang!"
"Bawa aja dulu, nanti Papi balik lagi ke sini."
"Tidak bisa, Papi capek. Ayo, kita pulang saja. Nanti ke sini lagi?" bujuk Dimitri kepada kedua anaknya.
"Nggak mau!!"
"Ayoo … Anya sama Zenya nggak mau nurut? Mommy kan baru pulang, masa gitu? Good girl sama good boy kok gitu?"
"Umm …."
"Kalau Momy yang ajak pulang tetep nggak mau juga?" ucap Rania yang membuat kedua anaknya terdiam.
"Mau nurut nggak sama Mommy? Kalau nurut, ayo kita pulang sekarang. Besok atau lusa kita ke sini lagi."
Anya dan Zenya saling pandang.
"Lagian kan setiap libur kalian nginep di sini? Masa Mommy ajak pulang nggak mau?"
"Ayo pulang?" bujuk Rania lagi yang akhirnya membuat kedua anaknya menurut.
"Pulang dulu ya Ma? Makasih udah jagain anak-anak." Lalu dia berpamitan.
"Iya, hati-hati."
"Oma, aku pulang dulu ya? Nitip Heimlich ya, jangan dibuang? Kasihan Heimlichnya lagi sakit." Zenya memeluk sang nenek.
"Aku juga nitip Joe. Nanti mau nyari kaki seribu lain biar Joe ada temennya." ucap Anya juga.
__ADS_1
"Oke."
"Heimlich? Joe? Siapa?" Rania bertanya.
"Ulat dan kaki seribu."
"Apa?"
"Peliharaan baru mereka."
"Ulat sama kaki seribu?"
Sofia menganggukkan kepala.
"Kenapa nggak kucing atau kelinci gitu?"
"Bukan anak kamu kalau begitu?" Daryl muncul tiba-tiba.
"Ish!!" Rania mendengus keras.
"Om, ulat sama naganya udah ada?" Anya bertanya begitu melihat pamannya tiba.
"Tidak ada." Daryl mejawab.
"Tuh kan Om bohong! Tadi sore bilangnya punya?"
Daryl tak menjawab lagi.
"Ini apa lagi? Masih bahas ulat lah, naga lah?" Dimitri kembali ke dalam karena anak dan istrinya tak kunjung keluar mengikutinya.
"Itu, Om Der. Tadi bilangnya punya ulat sama naga. Malahan mau dikasih lihat sama Kak Nania. Tapi sama aku nggak." Adu Anya kepada ayahnya.
"What?"
"Tidak!! Aku hanya bercanda, Kak!! Habisnya tadi sebel lihat Zen bawa ulat peliharaannya." Daryl segera menjawab sambil tertawa.
"Nah kan, Om bohong. Terus, nanti apa yang mau dilihatin sama Kak Nania?"
"Ee …."
"Sudah sudah, kalau mau pulang cepatlah sekarang. Sudah terlalu malam! Sofia menyudahi percakapan absud antara cucu dan putranya.
"Iya, sana cepat pulang! Biar rumah nggak berisik!" ucap Daryl yang melenggang ke arah tangga.
"Kami pulang, Mom." Dimitri memeluk ibunya.
"Iya."
"Dah Oma, besok ke sini lagi ya?" Anya dan Zenya juga melakukan hal yang sama. Lalu mereka berempat pergi.
"Nanianya sudah tidur, Der!!" Sofia menghentikan Daryl yang hampir saja menyelinap ke kamar Nania.
"Eh, … hanya mau melihat, Mom." Pria itu mengurungkan niatnya.
"Sudah, jangan ganggu dia!" ucap Sofia.
"Mmm … tapi aku mau melihat keadaannya, Mom."
"Besok saja."
Daryl terdiam.
"Sana, kamu juga istirahat. Besok harus bekerja, bukan?" Sang ibu mengingatkan.
"But Mom …."
"Daryl!!"
"Yes Mom." Pria itu pun masuk ke dalam kamarnya yang terletak persis di samping kamar Nania.
"Dan jagan coba-coba untuk menyelinap tengah malam nanti ya?" ucap Sofia yang juga melenggang ke arah kamarnya di ujung ruangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nania membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Pagi itu dia memberanikan diri untuk turun dari tempat tidur dan segera membersihkan dirinya sendiri. Meski tubuhnya masih terasa remuk akibat penyiksaan yang dilakukan oleh Sandi, tapi dia tidak mau hanya diam saja.
Kemarin rasanya malu sekali ketika pegawai di rumah itu membantunya mandi dan mengerjakan beberapa hal untuknya. Dia tidak terbiasa.
Gadis itu menuruni tangga dan ruangan tersebut terasa begitu sunyi. Apakah rumah orang kaya memang seperti ini? Sunyi, sepi seperti tak berpenghuni? Batinnya.
Meski suasana tampak terang karena cahaya masuk dengan mudah dari beberapa jendela besar, tetap saja tak menghilangkan kesan sunyi nya.
"Non mau ke mana? Kok sudah bisa keluar kamar?" perempuan yang dikenalnya sejak kemarin karena membantunya mandi dan berpakaian itu muncul tiba-tiba. Membuat Nania terkejut dan hampir saja berteriak.
"Orang-orang kok nggak ada? Pada ke mana?" Nania melirik jam besar di dekat tangga yang menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Oh … pantesan sepi."
"Iya. Non sudah mau sarapan? Akan saya siapkan kalau mau?" tawarnya kemudian.
"Oh, nggak. Belum lapar, nanti aja. Saya mau balik lagi deh ke atas?" jawab Nania yang bergegas kembali ke lantai atas.
Namun dia tertegun di ujung setelah menaiki tangga ketika melihat pintu-pintu kamar yang memiliki rupa dan warna yang sama.
Di sisi kiri dan kanannya setidaknya terdapat masing-masing tiga kamar dengan pintunya yang berwarna coklat kayu alami. Sementara di ujung ruangan sana, sebuah pintu dengan warna lebih gelap berornamen tumbuhan menjadi pembeda.
"Itu pasti kamarnya Bu Fia." Dia bergumam.
"Terus kamar aku yang mana?" Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Nania mengingat pada saat dirinya keluar dari kamar sepertinya pintu ada di sebelah kiri tangannya dan tak lama langsung mencapai tangga.Â
"Jadi mungkin … yang ini." Dia lantas membuka pintu pertama yang paling dekat, kemudian menerobos masuk.Â
"Apa yang kamu lakukan?" Suara bariton membuyarkan fokusnya.
Nania mendongak, dan dihadapannya berdiri menjulang pria setengah bule yang hanya mengenakan boxer berwarna hitam dan menggenggam sehelai pakaian.
Gadis itu membeku. Seketika pikirannya mendadak kosong dan dia kehilangan kata-kata, menatap tubuh setengah telanjang milik Daryl yang berdiri di hadapannya.
Tunggu!! Ini Daryl ataukah Darren? Karena tampaknya mereka sama saja!!
"Astaga!!" Nania akhirnya tersadar.
"Maaf, Pak. Saya nggak bermaksud …." Dia memutar tubuh.
"Kirain ini kamar saya, maaf." katanya, lalu dia bermaksud membuka pintu.
"Daryl!!" Lalu terdengar suara Sofia memanggil.
Dan Nania hampir saja membuka pintu ketika pria itu melesat dan menahannya.
"Pak?!"
"Sstt! Diam! Nanti Mama salah faham." Daryl mengunci pintu.
"Kenapa dikunci?" Nania menatap nanar tangan pria itu yang menekan pintu.
"Nanti Mama masuk."
"Lah, saya mau keluar Pak."
"Nanti!"
"Tapi …."Â
"Nanti Mama mengira kita sedang macam-macam."
"Tapi kan nggak?"
"Pandangannya akan berbeda kalau melihat kita seperti ini." Daryl masih mengungkung tubuh kecil Nania yang berdiri menghadap ke pintu.
"Umm …." Sementara gadis itu merapatkan tubuhnya ketika merasa pria di belakang malah terus merapat.
"Daryl? Kamu sudah bangun?" Sofia mengetuk pintu sambil menekan handle.
"Der? Kamu kunci pintunya?" Sofia berteriak lagi.
"Yes Mom, aku sedang berpakaian."
"Sudah bangun ternyata?" Sang ibu terdengar menggumam.
"Yeah, sebentar lagi aku turun."
"Kamu … tidak melihat Nania? Dia tidak ada di kamarnya." tanya Sofia lagi.
"No Mom, aku belum keluar dari kamar." Daryl kembali menjawab.
"Oh, baiklah. Mungkin dia keluar."
"Yeah."
"Cepat Nak kita sarapan." katanya.
__ADS_1
"Ada apa Mom?" Lalu terdengar suara Darren.
"Tadinya Mama mau membangunkan Daryl."
"Oh, biar aku saja. Biasanya juga aku kan? Mama turunlah dulu." ucap saudaranya yang terdengar mendekat.
Daryl semakin merapatkan telinganya ke pintu sementara Nania berada di tengah-tengahnya.
"Pak!!" Gadis itu bermaksud melayangkan protes karena dia merasa tidak nyaman dengan hal ini, namun Daryl malah membekap mulutnya agar tak bersuara.
"Der? Kau mengunci pintu?" Darren menggerak-gerakkan pegangan pintu.
"Yeah, aku sedang berpakaian, Ren." jawaban sama seperti yang dia lontarkan kepada ibunya.
"Berpakaian sendiri?" tanya Darren lagi.
"Umm … yeah."
"Kau bisa?"
"Bisa, Ren."
"Yakin?"
"Yakin. Pergilah."
"Mungkin kau butuh bantuanku lagi untuk …."
"No!! Just go!" Daryl meninggikan suaranya.
"Daryl, are you oke!" Darren belum menyerah, karena biasanya saudara kembaranya itu dia yang mendandani setiap pagi.
"Yes, i'm alright."
"Are you sure?"
"Offcourse, don't worry about me!!" Daryl meyakinkan saudara kembarnya.
"Oke then …." Lalu Darren seperti menjauh.
"Udah Pak." ucap Nania setelah beberapa saat posisi mereka seperti itu.
"Umm …." Daryl pun segera menjauh
Gadis itu menarik napas dan menghembuskannya dengan keras seolah dia baru keluar dari bahaya.
"What are you doing?" Daryl segera mengenakan celana panjangnya, lalu dia meraih kemejanya dengan sedikit gugup.
Padahal ini bukan pertama kalinya seorang perempuan melihatnya dalam keadaan seperti itu. Namun untuk Nania, perasaannya berbeda.
"Udah saya bilang nggak sengaja kan? Tadinya mau ke kamar saya. Habis pintunya sama semua sih, saya kan jadinya bingung." Nania pun menjawab.
Lalu dia memutar kunci dan bermasud keluar ketika Daryl mendapati hal paling tidak menyenangkan di rutinitas paginya.
"Sialan! Mereka masih saja lupa menyediakan pakaiannya!" Pria itu bergumam.
"Hey Nania!!" Lalu dia beralih kepada Nania.
"Kancingkan dulu kemejaku sebelum kamu keluar!" katanya, membuat Nania yang hampir saja membuka pintu pun tertegun.
"Nania!!"
"I-iya Pak?"
"Bantu aku mengancingkan kemejanya!!"
Gadis itu terdiam menatapnya
"Malah diam? Nania!!" Daryl sedikit meninggikan suaranya.
"I-iya." Lalu Nania bergegas ke hadapannya dan melakukan apa yang Daryl katakan.
Pria itu menatap wajahnya yang membiru. Bekas pukulan mungkin sedikit sulit hilang dari kulit kuning langsatnya, tapi itu tak membuat Nania kehilangan pesonanya.
Dia tetap manis seperti biasa dan tentunya, menggemaskan. Membuat hatinya berdebar-debar tak karuan.
"Udah Pak." Nania hampir saja mundur ketika kedua tangan Daryl meraih pinggannya sehingga gadis itu merapat kepadanya.
"Pak?"
"What?"
"Saya mau keluar, nanti kalau orang-orang tahu kita begini gimana?"
"Tidak bagaimana-bagaimana, biarkan saja. Memangnya kenapa?" Pria itu dengan cueknya.
"Saya malu."
"Apa yang membuatmu malu?"
"Saya …."
"Tidak ada yang akan mempermalukanmu di sini, percayalah."
Nania terdiam. Dia menatap dada pria itu yang sejajar dengan kepalanya
"Kamu takut?"
Gadis itu mengangguk pelan.
"Apa yang membuatmu takut?"
"Nggak tahu."
"Apa Mama bersikap tidak baik kepadamu?"
Nania menggeleng.
"Apa papi yang membuatmu takut?"
"Bukan."
"Atau Darren?"
"Nggak. Masa Pak Darren bikin takut?" Nania sedikit terkekeh.
"Lalu apa? Kak Dim? Jangan hiraukan dia. Anggap saja hanya pajangan kalau dia macam-macam!"
Nania tertawa lagi
"Aku suka mendengar tawamu, membuatku merasa bagahia." Pria itu menundukkan wajahnya, dan dia hampir saja meraih bibirnya Nania ketika gadis itu menghindar.
"Sekarang apa?" Daryl merasa tak senang.
"Bisakah kita pelan-pelan dan jangan terlalu sering begini?" Nania dengan takut-takut.
"Kenapa?"
"Saya nggak biasa."
"Nanti juga terbiasa." Daryl semakin menunduk dan dia kembali meraih bibir gadis itu, namun lagi-lagi Nania menghindar.
"Malyshka!!!"
"Saya kan …." Namun secepat kilat Daryl mendaratkan ciumannya dan kali ini dia berhasil.
Nania bahkan tak memiliki cukup waktu untuk menghindar lagi yang akhirnya membuat dia diam dan menyerah saja. Dan setelah beberapa saat dia menikmatinya juga.
Daryl tersenyum lalu dia menghentikan cumbuan.
"Semua akan baik-baik saja, percayalah!" katanya, yang mengusap puncak kepala Nania.
"Aku akan melindungimu sejak saat ini. Jadi jangan takut."
Nania menatapnya dengan mata berkaca-kaca.Â
Ini seperti mimpi di siang bolong. Baginya, kata-kata semanis apa pun terdengar seperti sebuah dongeng yang tidak mungkin menjadi nyata. Walau bagaimana pun perbedaan di antara mereka begitu kentara. Dan dirinya tak ingin terlena.
Rasa takut kecewa dan sakit hati begitu mendominasi, apa lagi setelah banyak kejadian yang membuatnya ambruk akhir-akhir ini.
Tapi ini sangat indah, Ya Tuhan! Dan aku ingin mempercayainya. Meski rasa takut itu jelas adanya, tapi apakah aku pantas menerima semua ini?
Nania menatap wajah dengan rahang tegas dan tatapan tajam milik Daryl. Yang seketika akan melembut jika mereka berdekatan seperti ini. Dan hal tersebut membuatnya merasa tenang.Â
Dia tidak pernah merasa senyaman ini ketika berdekatan dengan pria manapun kecuali ayahnya. Dan Daryl menghadirkan kembali perasaan itu yang sempat menghilang karena banyak hal.
"Malyshka? Just trust me." Pria itu berbisik, lalu dia membenamkan kepala Nania di dadanya.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ...
Orang-orang pada nungguin wooyyy??!!!😜