
💖
💖
Daryl mencari keberadaan Nania yang tak dia temukan di rumah saat pulang pada lewat tengah hari. Namun pintu green house yang dilewatinya tampak terbuka. Dan di sanalah dia yang tengah mengumpulkan beberapa hal.
"Hey, aku udah masak kok kalau mau makan?" Perempuan itu mendekap beberapa pot bunga dan benda lainnya.
Daryl menghela napas lalu dia menghampiri perempuan itu. Memang sudah beberapa hari ini Nania berada di greenhousenya setiap siang.Â
"Kamu sudah makan?" Lalu dia meraih pot-pot tersebut dan meletakkannya di meja.
"Belum, aku mau ke hutan dulu." Namun Nania kembali mengambil benda-benda tersebut untuk dia bawa.
"Berarti obatnya juga belum kamu minum?"
Perempuan itu menggelengkan kepala.
"Kalau begitu, ayo kita makan lalu minum obat?" bujuk Daryl.
"Nggak, aku udah janji hari ini mau ke hutan." Namun Nania menolak.
"Janji?"
"Ya, janji."
Daryl menoleh ke samping ketika ekor matanya menangkap pergerakan, yang ternyata adalah ibunya.
"Dari pagi dia di sini. Ke rumah hanya untuk masak lalu kembali lagi setelah selesai." jelas Sofia yang mengawasi Nania sejak pagi bersama Mima yang memeriksa setiap dua jam sekali.
"Iya Mom, aku tahu." Daryl merespon. "Ayo, kita makan dulu." Lalu dia meraih tangan Nania da menariknya keluar dari greenhouse tersebut.
***
Beberapa butir obat yang diantaranya untuk kestabilan mental Nania Daryl berikan. Yang langsung perempuan itu makan setelah mengisi perutnya dengan masakan yang dia buat.Â
"Habis ini boleh ke hutan?" Pertanyaan yang sama Nania lontarkan setelah yakin sudah melakukan semua yang Daryl katakan.
Pria itu sempat menarik napasnya terlebih dahulu, kemudian mengangguk. "Baiklah." katanya.
"Yeayy!!" Nania pun bangkit lalu meraup beberapa barang yang sudah dia siapkan di meja belajarnya.
"Wait, wait. Apa itu?" Daryl menghentikannya lalu dia memeriksa barang-barang tersebut.
Ada batu kerikil di dalam sebuah wadah yang sepertinya dia dapat dari taman milik ibunya, lalu tiga pot kecil succulent dan sebuah kayu sebesar telapak tangan bertuliskan Sunny.
"Itu untuk penanda, jadi kita tahu tempat baby nya di kubur." Nania menjelaskan.
"Sudah Papi tandai kan?" Daryl menjawab.
__ADS_1
"Tetep aja. Mungkin selain kita nggak akan ada yang tahu kalau dia ada di sana."
Daryl terdiam.
"Aku cuma sebentar, nanti balik lagi." Nania melenggang ke arah pintu.
"Tunggu, Nna. Aku juga ikut." Lalu Daryl mengekorinya di belakang.
Perempuan itu menanamkan succulent dan beberapa butir biji benih bunga diatas pusara janinnya setelah membersihkan rumput liarnya terlebih dahulu. Lalu dia meletakkan kayu bertuliskan Sunny di dekat bonsai, yang menjadi penanda jelas jika di tempat tersebut ada yang bersemayam.
"Sunny?" Daryl mendekat.
"Ya, Sunny. Cahaya yang biarpun nggak ada tapi tetap jadi penerang dalam hidup aku." Nania mengusap kayu tersebut, lalu dia mendongak ke arah suaminya. "Mungkin Papi nggak ngasih dia nama? Jadi apa salahnya kalau sekarang aku yang ngasih dia nama." Dia berbicara seperti Nania yang biasanya.
"Sunny?" ulang Daryl.
"Nama yang lucu kan? Kayak dalam bayangan aku." Perempuan itu sempat terkekeh seolah menemukan hal yang lucu, sementara Daryl menganggukkan kepala.
"Biar rasa sedih ini nggak akan pernah hilang sampai kapanpun juga. Karena kesalahan aku, malah bikin dia hilang. Padahal niat aku baik." Nania kembali mengusap pusara anaknya.
"Kamu dengar itu? Maksud Mommy mau nyelamatin nenek biar nggak kayak nenek buyut. Karena cuma nenek yang Mommy punya sekarang, tapi …." Dia menggantung kata-katanya.
"Sunny, kamu yang akan jadi penerang dunianya Mommy biar udah nggak di sini." Nania tersenyum tapi air matanya meleleh di pipi.
Daryl kemudian duduk di dekatnya dan merangsek untuk memeluk istrinya.
"I know, it's okay."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Maaf, Pak?" Mima berdiri di teras begitu melihat Nania dan Daryl kembali. "Tadi Bapak telfon tapi tidak dijawab?" tanya perempuan itu ketika anak majikannya itu sudah dekat.
"Iya, saya nggak bawa hape."
"Hmm …."
"Ada apa, Mima?" Lalu Daryl bertanya.
"Itu … ada tamu yang mau bertemu Non Nania." Dia menjawab sambil mengalihkan pandangan kepada Nania.
"Siapa?" Daryl pun menoleh kepada istrinya.
"Bu Mirna, Pak."
Nania menahan napasnya sebentar, dan mereka terdiam untuk beberapa saat. Daryl bahkan mengepalkan tanganya dengan keras. Emosi segera saja meluap memenuhi dada dan dia hampir saja bereaksi. Tapi teringat kondisi Nania, dan itu membuatnya menahan amarahnya mati-matian.
"Kamu mau menemui ibumu?" Kemudian dia bertanya kepada istrinya.
Namun perempuan itu segera menggelengkan kepala, dan dia terlihat panik. Dia bahkan memeluk lengan Daryl dengan erat sehingga dia bisa merasakan detak jantungnya yang begitu kencang.
__ADS_1
"Tidak mau?"
Lalu Nania mengangguk.
"Baiklah, mau masuk ke rumah?" Daryl menggenggam tangannya dengan erat seraya menariknya ke arah rumah setelah Nania mengangguk lagi.
Dia bahkan sampai mengantarnya ke dalam kamar dan membiarkan perempuan itu berbaring di bawah selimut untuk membuatnya merasa aman.
"Aku ke bawah dulu sebentar, oke?" katanya sambil mengusap kepalanya, dan Daryl segera turun untuk menemui mertuanya.
"Maaf." Hanya kata itu yang mampu Mirna ucapkan begitu dia berhadapan dengan Daryl dan kedua orang tuanya.
Awalnya Satria dan Sofia berniat untuk membiarkan mereka bicara berdua saja, tapi kemudian ingat bagaimana kondisi emosi dari sang putra yang membuatnya mengurungkan hal tersebut.
"Tidak ada yang bisa saya ucapkan atau lakukan selain meminta maaf atas semua yang terjadi kepada Nania." lanjutnya, sementara Daryl hanya duduk bersedekap di seberangnya yang hanya terhalang oleh sebuah meja.
Perempuan itu masih menunduk dan tak berani menatap wajah siapa pun apalagi menantunya yang sejak tiba tak mengucapkan sepatah kata pun kepadanya.
"Saya tahu kalian tidak akan dengan mudah memberi maaf, tapi saya ingin bertemu Nania. Saya menyesal." Dia mengangkat kepalanya perlahan.
"Tidak." Daryl segera menjawab tanpa berpikir panjang.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengizinkanmu menemui Nania lagi, apapun alasannya."
Mirna menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kau sudah mendapatkan lagi apa yang kau ingin. Rumah dan segala yang kau butuhkan sudah aku berikan dan aku harap itu cukup untuk membuatmu tak lagi mengganggu Nania. Biarkan dia pulih tanpa harus memikirkanmu atau apa pun yang terjadi kepadamu. Karena kau pun tidak pernah memikirkannya sama sekali."
"Kau tahu, kami bukan hanya kehilangan anak, tapi aku juga hampir kehilangan dia. Dan memang sudah sepantasnya kau merasa menyesal atas apa yang kau timbulkan." Daryl menyipitkan mata dan rahangnya terlihat mengeras.
"Dan jangan berpikir bahwa aku kejam karena melarangmu menemui anakmu, karena pada kenyataannya kau lebih kejam dariku. Dan kau sudah kehilangan kesempatan itu sejak memilih untuk mengikuti bajingan itu dari pada putri yang sudah mengusahakan banyak hal untukmu." Setiap kata yang Daryl ucapkan terdengar menekan dan itu membuat Mirna benar-benar tak bisa menjawab.
Hanya air matanya lah yang berderai dan menjadi luapan kesedihan. Karena untuk pertama kalinya Mirna merasa apa yang dikatakan orang lain benar tentangnya.
"Aku hanya sedang melindunginya dari gangguan mental yang lebih parah jika bertemu denganmu. Karena ini semua berawal darimu." ucap Daryl lagi, kemudian dia bangkit.
"Tunggu." Namun Mirna cepat menghentikannya.
"Setidaknya berikan ini kepadanya. Agar tahu kalau Ibu menyesal." Dia menyerahkan sebuah amplop yang terpaksa Daryl terima.
"Terima kasih sudah menjaganya. Dan saya menitipkannya kepada kalian. Sekali lagi saya minta maaf." Mirna kembali menyeka air mata di pipinya, dan tak lama kemudian dia berpamitan.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1