The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
PR


__ADS_3

💖


💖


"Hai Kak Din?" Nania memasuki gedung Fia's Secret dan mendapati tempat tersebut yang cukup sibuk.


Dan dia segera naik ke lantai empat di mana ruangan suaminya berada.


"Hai, Nna? Kamu pulang sekolah?" Dinna menjawab sapaannya.


"Iya."


Lalu terdengar ribut-ribut dari ruang kerja Daryl.


"Ada apa?" Nania bertanya.


"Pak Daryl sedang marah-marah." Dinna menjawab.


"Marah-marah kenapa?"


"Desain produk kita ditiru sama perusahaan sebelah padahal baru mau lounching bulan depan. Tapi hari ini mereka sudah launching duluan."


"Aduh? Produk yang mana Kak?"


"Parfum."


"Parfum?"


"Ya. Dari desain botol, varian wangi sama konsep iklanya mirip seperti yang sudah kita buat, tapi dengan merk berbeda."


"Kok bisa begitu?"


"Ini lagi mau di selidiki. Entah ada kebocoran data atau gimana, belum tahu."


"Apa gawat?"


"Banget. Soalnya kalau bulan depan kita lounching produk tetap pakai konsep iklan yang sama bisa-bisa kita dituduh meniru. Padahal ide asli sudah kita duluan yang punya. Dan semua idenya dari Pak Daryl makanya bikin di marah."


Kemudian suasana hening setelah beberapa saat dan pintu terbuka setelahnya. Lalu beberapa orang keluar dengan wajah tegang. Namun sebagian dari mereka masih berdiskusi.


"Kalau aku masuk boleh nggak?" tanya Nania kepada sekretaris.


"Nggak tahu, apa Pak Daryl nggak akan marah-marah sama kamu?" Dinna balik bertanya.


"Kakak lupa ya? Sebelum nikah aku sering berantem sama dia."


Perempuan itu tertawa.


Kemudian Nania masuk ke dalam ruangan tersebut dan menemukan suaminya sedang duduk bersandar di sofa dengan mata terpejam.


"Tidak sekarang, Dinna. Aku sedang tidak berminat untuk bicara." ujar Daryl yang belum menyadari kehadiran Nania.


Perempuan itu mendekat kemudian duduk di pinggiran sofa di mana suaminya masih memejamkan mata.


"Dinna, not now!!" Daryl meninggikan suaranya.


"Ya udah, aku pulang kalau gitu." ucap Nania yang hampir bangkit bersamaan dengan pria itu yang membuka mata.


"Malyshka? What are you doing?" Lalu dia menahan tangannya.


"Aku kira kamu Dinna?" Daryl menegakkan tubuhnya.


"Hmm … marah-marah terus sih?"


Pria itu mengusap wajahnya kasar.


"Ada masalah apa?" Nania kemudian bertanya.


"Nothing. Just … ada yang berani macam-macam denganku. Dan mereka bersembunyi dibalik kata ide kreatif untuk tiruannya. Tapi aku tidak buta dan aku tahu apa yang kulihat. Seseorang telah berbuat curang dan itu tidak bisa dimaafkan."


Nania terdiam sebelum akhirnya Daryl menariknya duduk di samping. Kemudian dia kembali merebahkan tubuhnya pada sandaran sofa.


"Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa dan apa akibatnya karena telah berani berbuat begitu." Pria itu memijit pangkal hidungnya yang terasa nyeri.


"Mungkin memang idenya kebetulan sama." Nania merespon.


"Haha, yeah right." Lalu Daryl menarik sebuah ipad di meja kemudian menyalakannya.


"Lihat saja videonya. Yang pertama itu punya mereka, dan yang kedua adalah iklan punyaku." Daryl menunjuk dua folder paling atas dan menyentuh salah satunya sehingga video sebuah iklan segera berputar berurutan.


Jika dilihat dengan teliti keduanya memang punya kesamaan. Dari bentuk botol, konsep iklan dan kutipan-kutipan kalimat yang tertera di video tersebut memang benar mirip. Hanya merk dan modelnya saja yang berbeda.


"Dan kamu bilang itu hanya kebetulan? Yang benar saja."


Nania bahkan sampai mengulang dua kali untuk melihatnya. Dan memang benar-benar sama.


"Kok bisa?"


"Mereka sedang menyelidiki kenapa bisa terjadi. Fia's Secret Parfum punya popularitas yang sangat tinggi, jadi tidak heran jika ada yang meniru, apalagi oleh produk baru. Tapi aku tidak menyangka mereka berani melakukan peniruan sedetil ini dan berhasil meluncurkan nya lebih cepat dari kami. Aku kecolongan. Kerja keras kami dua minggu ini jadi sia-sia." Daryl menjatuhkan kepalanya di pangkuan Nania seraya memeluk pinggang perempuan itu.


Nania terdiam.


"Oh iya, kenapa kamu kemari? Bukankah tadi mengatakan mau langsung pulang setelah sekolah?" Kemudian dia mendongak.


"Umm …." Nania berpikir. Apakah ini saat yang tepat untuk mengadu? Karena sepertinya masalah yang sedang dihadapi suaminya juga cukup serius. Sementara masalahnya hanya berupa gosip belaka.


"Malyshka?!" panggil Daryl.


"Mm … nggak. Cuma kepikiran aja mau mampir." Dan akhirnya Nania mengurungkan niatnya untuk mengadu hari ini. Mungkin akan dia simpan untuk nanti atau esok hari. Atau lain kali jika masalah suaminya sudah selesai. Siapa tahu rumornya segera mereda.


"Hanya mampir?"


Nania menganggukkan kepala.


"Aku pikir ada apa." Daryl kembali merebahkan kepalanya.


"Aku kira tadi ada apa kamu sampai teriak-teriak?"


"Hmm … kami kecolongan, bagaimana aku bisa tenang? Rencana sudah matang, louncing produk minggu depan. Tahu-tahu ada yang duluan lounching dengan konsep yang sama. Bagaimana kamu tidak marah?"


"Terus tindakan kamu apa?"


"Mungkin sekarang sudah mulai diselidiki kenapa bisa begitu."


"Jangan dibiasakan marah-marah, nggak baik buat kesehatan. Tenang dulu kenapa? Kan ujung-ujungnya tetap diselidiki juga?" Nania mengusap-usap dada suaminya.


"Ah, aku tidak bisa seperti itu. Aku harus melampiaskan kekesalan. Bukankah sudah ku katakan jika aku ini ekspresif? Aku akan marah jika aku merasa marah. Aku akan mengomel jika sesuatu tidak sesuai dengan yang aku rencanakan. Dan aku akan bertindak jika seseorang berbuat curang kepadaku. Kalau sudah yakin, maka akan aku ratakan mereka dengan tanah!"


"Serem amat?"

__ADS_1


"Ya apalagi? Hal seperti itu tidak bisa ditoleransi. Kalau dibiarkan mereka akan mengulanginya. Satu produk dibiarkan ditiru, nanti mereka berani juga untuk meniru produk lainnya. Bayangkan berapa banyak pihak yang akan dirugikan jika itu terulang?"


Sekarang Nania benar-benar mengurungkan niatnya untuk bicara. Karena sepertinya ide itu buruk.


Bayangkan seberapa besar kegaduhan yang akan timbul jika suaminya bertindak karena pengaduannya? Dan sepertinya itu akan menjadi hal yang memalukan juga.


Hal sepele nanti reaksinya berlebihan? Dia membatin.


Ya, cuma hal sepele. Nanti juga reda sendiri kan? Dia mengangguk-anggukkan kepala.


"Kenapa?" Daryl bereaksi karenanya.


"Eh, nggak. Aku kayaknya mau pulang aja deh, kamu habis ini kerja lagi kan?" Nania mengangkat kepala pria itu dari pangkuannya.


"Pulang? Aku kira kamu mau di sini sampai sore?" Daryl pun bagkit.


"Umm … aku ada pr hari ini." Nania mencari alasan.


"Kerjakan saja si sini."


"Umm … aku mau istirahat dulu sebentar. Tidur gitu. Baterai aku rasanya terkuras habis kalau habis dari luar rumah." Nania memijit tengkuknya sendiri.


"Baterai? Kamu pikir kamu ini hape ya?" Daryl tertawa sambil mencubit hidung kecil perempuan itu.


"Ya anggap aja gitu." Nania hampir saja beranjak.


"Setidaknya temani aku makan siang dulu." Namun pria itu kembali menghentikanya. Dan bersamaan dengan hal tersebut pintu diketuk dari luar, dan Dinna masuk setelah diizinkan dengan membawa makanan pesanan Daryl.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa orang pria tengah membongkar sebagian rumah bermain. Yang kemudian mengaturnya kembali menjadi beberapa bagian dan membuat denah-denah baru seperti yang ada pada gambar Nania.


Setengah dari taman bunga harus direlakan untuk membuat lahan baru dan setidaknya ada beberapa pohon yang ditebang. Pot-pot dipindahkan ke sisi lain dan mereka mulai membuat galian untuk pondasi rumah. 


"Udah mulai ya?" Nania tiba setelah Daryl mengizinkannya pulang dari Fia's Secret. Dengan sedikit usaha tentunya karena pria itu tidak membiarkannya keluar dengan mudah.


"Ya, coba dilihat. Apa sudah sesuai dengan sketsamu?" Arfan yang berada di sana untuk mengawasi para pekerja di hari pertama.


Nania mendekati area pembangunan dan melihat beberapa tanda yang diletakan oleh pekerja.


"Udah. Tapi nanti kayaknya rumahnya akan besar banget ya?" Nania menoleh kepada kakak ipar suaminya itu.


"Standar saja untuk area ini. Tapi bisa disesuaikan dengan keinginan kan?"


"Kalau bisa jangan terlalu besar. Kamar kan udah di atas semua, jadi di bawah sini dapur sama ruang tamu aja cukup kan?"


"Ruang sebesar itu nantinya akan ada tempat untuk dapur, ruang makan dan ruang tamu. Tidak pakai sekat kan?"


Nania menganggukkan kepala.


"Yakin ruang tamunya tidak dipisah dengan ruang keluarga?"


"Nggak kayaknya. Semuanya di satu ruangan yang sama lebih bagus." Nania menjawab.


"Baik, jadi tidak akan ada yang dirubah." Arfan menandai catatan pada bukunya.


"Tapi nanti tamannya dikembalikan ya? Sayang juga rasanya, aku kirain nggak akan kena tamannya."


"Itu urusan kamu, pegawai hanya akan mengembalikan lahannya. Sementara isinya kamu yang perbaiki." jawab Arfan.


"Iya, nggak apa-apa."


"Eh, jangan. Nggak usah. Biarkan aja, lagian buahnya udah mau matang. Sayang kan? Nanti minta tukang kebun rapihin bawahnya aja."


"Oh. Baiklah terserah padamu."


"Hmm … jangan lupa jendelanya banyak dan kacanya yang besar-besar ya?" Nania mengingatkan.


"Ya, tulisanmu jelas sekali di sini." Arfan menunjukkan gambar yang sudah penuh dengan tulisan-tulisan.


Lalu Nania hanya tertawa.


"Maaf, kalau banyak permintaan." katanya.


"Ya sudah, ini harus dipastikan lagi kepada mereka agar tidak keliru." Arfan kemudian menghampiri salah satu pekerja dan mengajaknya berbicara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pr mu belum selesai?" Daryl masuk dan meletakkan tas kerjanya di meja dekat pintu.


"Eh kok aku nggak denger kamu pulang? Biasanya teriak-teriak kalau dateng?" Nania menjeda kegiatannya sebentar ketika pria itu mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur.


"Kamu suka bajunya? Ini tadi dikasih lagi sama Mama." Nania menarik ujung pakaian yang dia kenakan.


Semacam jumpsuit sebetis berwarna hitam namun dengan tali di pundaknya yang terbuka.


"Ininya terlalu terbuka." Daryl menyentuh pundaknya.


"Ini tadi ada blazernya, jadi kalau keluar ya tinggal dipake aja." Nania menunjuk sehelai kain di ujung ranjang.


"Sering sekali Mama memberimu pakaian?"


"Nggak tahu, katanya kalau di aku kelihatan bagus mau di produksi banyak."


"Hmm … semacam endorse ya?"


"Mungkin."


"Mama membayarmu untuk itu?"


"Kok bayar? Kan bajunya dikasih?"


"Kalau sistem endorse ya seharusnya Mama membayarmu."


"Kan bukan bisnis."


"Nanti akan menjadi bisnis kalau misal pakaiannya diproduksi lebih banyak. Apalagi dengan merk Fia's Secret pakaian seperti ini memiliki nilai jual yang tinggi."


"Masa?"


"Kamu tidak tahu merk Fia's Secret?"


"Tahu doang tapi belum pernah beli. Mahal." Nania tertawa.


"Makanya."


"Eh, tapi sekarang udah punya duit juga tetep aku nggak bisa beli."


"Kenapa? Bukankah aku memberimu uang?"

__ADS_1


"Ngapain beli, orang bisa dapat gratis. Hahaha. Dulu mikir kalau punya uang aku mau beli ini, beli itu. Tapi sekarang mikir lagi mending nunggu yang gratis aja." Dia tertawa lagi.


"Hmm … dasar." Daryl mengacak rambutnya.


"Iya kan? Orang lain susah-susah nyisihin uang kalau mau beli baju, aku cuma nunggu sebentar aja sampai mama beres bereksperimen sama kain. Malah sampai daleman aja dikasih. Coba, nikmat mana lagi yang akan aku dustakan?"


Daryl tersenyum.


"Lagian sejak pulang dari Rusia aku nggak bisa pergi ke mana-mana."


"Hey, bukankah sudah aku katakan …."


"Iya iya, Pak. Nggak usah dibahas lagi." Nania menghentikan ucapannya.


"Kamu mau mandi sekarang?" Dia bertanya sebelum meneruskan pekerjaannya.


"Sebentar lagi, selesaikan saja dulu prmu." jawab Daryl yang sedikit menunduk untuk melihat apa yang perempuan itu kerjakan.


"Beneran?"


"Ya, aku bisa menunggu."


"Oke kalau gitu, sebentar lagi ini selesai kok." Perempuan itu menunduk lagi untuk mengerjakan tugasnya seperti semula.


"Pr apa itu?"


"Matematika sama Bahasa." Nania melanjutkan kegiatannya.


"Kamu bisa mengerjakannya?" Daryl melihat rumus-rumus dan tulisan yang cukup panjang di kertas.


"Bisa. Ini gampang."


"Kalau susah aku bisa membantumu …." Pria itu menarik ujung buku.


"Nggak!!! Aku bisa." Namun Nania menolak.


"Serius, agar lebih cepat."


"Ini juga cepat ngerjainnya. Udah aku bilang kalau aku bisa kan?"


"Nanti pusing?"


"Nggak. Lebih pusing dengerin orang ngegosip dari pada ngerjain ini."


"Apa?" Daryl sedikit tertawa.


"Eh, maksud aku nggak sesusah yang kamu bayangin kok. Aku bisa."


"Benar tidak mau aku bantu?"


"Beneran." Nania menganggukkan kepala.


"Baiklah kalau tidak mau. Jangan mengeluh ya?"


"Nggak akan. Kamu sendiri gimana masalah yang tadi? Udah ketahuan?" Nania tetap berbicara walau dia masih mengerjakan tugasnya.


"Belum. Ini harus hati-hati dan tidak boleh gegabah. Harus mendapatkan bukti sebanyak-banyaknya agar jika nanti diuruskan ke polisi tidak akan ada hal yang menjadi boomerang. Masalahnya manusia itu bisa memutar balikkan fakta."


"Hmm …."


Pria itu tetap memperhatikan. Lalu dia merapikan rambut Nania yang tersingkap dan menemukan memar di punggung perempuan itu bekas gigitannya semalam.


Dia tertawa sambil menyentuhnya.


"Awww! Ini masih sakit, jangan keras-keras!" rengek Nania sambil menghindar.


"Aku terlalu keras kepadamu ya?" katanya, dan dia masih menyentuh area itu.


"Bukan masalah kerasnya, tapi kenapa pakai gigit-gigitan? Kamu ini drakula apa?" ucap Nania, asal.


"Ya, aku jadi drakula kalau malam,  kan mangsanya kamu?"


Nania terbatuk mendengar ucapan suaminya.


"Prnya masih belum selesai ya?" Daryl kembali melihat buku tugas perempuan itu.


"Dikit lagi."


"Aku mau mandi sekarang." katanya kemudian.


"Ya mandi aja."


"Kemejaku?"


"Oh iya." Nania bangkit lalu mendekat dan melepaskan tautan kancing kemeja suaminya. Tidak lupa juga dengan kaitan pada celananya.


"Sana. Habis ini kita makan." Lalu dia kembali pada pekerjaan rumahnya.


"Kamu sudah mandi?" Namun Daryl belum beranjak.


"Udah kan tadi."


"Hmm … Tidak mau memandikan aku?" Pria itu masih di sana.


"Kan aku ada pr."


"Pr lain juga ada." Daryl menarik tali di pundak Nania dengan perlahan sehingga benda itu turun sedikit demi sedikit.


Perempuan itu menatap pundaknya, lalu wajah Daryl secara bergantian. Dan dia menemukan senyum aneh di wajah suaminya.


Hadeh …. Pasti harus ini dulu? Batinnya ketika pria itu menarik tangannya hingga mereka turun dari tempat tidur, kemudian menuntunnya berjalan ke arah kamar mandi.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Hadeh, pasti nggak bisa nolak nih. 🤣


prnya Nania banyak beut ya? Jadi pengen gantiin.🤣🤣


Like komen hadiah terus kirim gaess biar semakin naik.


Alopyu sekebon pokoknya😘😘


__ADS_1


__ADS_2