
💖
💖
"Setelah aku pikir-pikir lagi, kayaknya nggak usah deh." Nania menyesap milk tea nya yang sudah dingin.
Mereka berkumpul setelah kedai sepi dan pengunjung tak lagi datang. Kebetulan juga cuaca tidak terlalu bersahabat malam itu.
"Serius?" Hampir semua orang bereaksi serentak. Kecuali Galang yang diam di tempatnya.
"Kasihan kalau misalnya nanti makamnya harus dibongkar terus neneknya diotopsi. Aku nggak tega." ucap gadis itu setelah mengetahui apa saja yang kemungkinan akan dilakukan jika kasus kematian neneknya dilaporkan ke polisi.
"Lagian urusan sama polisi kayaknya ribet. Harus datang ke sana, nerangin banyak hal. Belum lagi nanti ketemu sama ibu …." suara Nania terdengar tercekat.
Galang menangkap gelagat tak biasa dari gadis itu.
"Tapi se enggaknya, kita tahu apa penyebab kematian nenek kamu." Amara menyela.
"Kan udah tahu karena serangan jantung?" jawab Nania.
"Serangan jantungnya disebabkan apa?" Amara kembali berbicara.
"Karena jatuh kan?" sambung Galang yang kini menegakkan posisi duduknya.
"Umm … kayaknya."
"Terus kamu bilang kamar nenek berantakan, padahal nenek orangnya rapi banget. Apa nggak janggal kalau misal nggak ada sebab lain, atau orang lain yang menyebabkan nenek kamu jatuh terus kena serangan jantung?" Ardi ikut berbicara.
"Kamu juga bilang soal kakak kamu yang kemungkinan menjadi penyebabnya? Apa itu nggak perlu di kasuskan? Ini masalahnya nyawa loh!"
"Tapi aku mikir lagi, akunya males ketemu ibu sama Bang Sandi."
"Mereka pernah berbuat jahat padamu?" Galang buka suara.
"Apa kamu pernah diperlakukan kasar?" Mereka semua menatap Nania dengan raut menyelidik.
Gadis itu tak menjawab.
Apakah merupakan hal yang tepat untuk membicarakan hal ini? Karena rasanya sangat memalukan. Membuka keburukan keluarganya sendiri kepada orang asing sepertinya hal yang tidak baik. Dan dia tak terbiasa melakukannya.
Sejak dulu Nania tidak pernah mengatakan apa pun yang terjadi padanya. Jangankan orang asing, kepada ayahnya saja dia tak pernah.
Padahal semasa pria itu masih ada pun, dirinya kerap kali mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Mirna dan terutama Sandi, jauh sebelum mereka tinggal bersama.
Setiap bertemu di jalan, kakak tirinya itu sering memintainya uang dan melakukan kekerasan jika dia tak menurutinya. Dan tak seorangpun tahu, karena dia memang selalu menutupinya dari siapa pun.
Ini keburukan, dan mereka masih keluarganya. Merupakan hal yang tidak baik jika dirinya harus membuka masalah ini. Dan niatnya untuk melaporkan soal penyebab kematian sang nenek sepertinya bukan ide yang baik.
Lagi pula, Nania sudah tidak ingin lagi bertemu baik dengan ibunya, apa lagi Sandi. Dengan berada jauh dari mereka saja, itu sudah cukup baginya.
"Nania?" Suara Galang membuyarkan lamunan.
"Ya Pak?" Gadis itu mendongak.
"Kamu juga pernah mengalami hal seperti itu?" tanya Galang lagi.
"Mm … nggak."
Galang menatap wajahnya.
"Udah ya? Dibatalin aja, nggak usah diteruskan ke polisi. Neneknya udah tenang, dan aku juga kan tinggal di sini."
"Tapi ini penting …."
"Nggak juga. Udah ya, case closed."
"Tapi Nania, …."
"Ada apa kalian kumpul-kumpul seperti ini? Sudah mulai rapat untuk pernikahannya Darren ya?" Daryl tiba-tiba saja muncul.
"Lah, aku kirain Kakak nggak akan ke sini lagi? Kan udah tujuh hari?" Amara segera menjawab.
"Ck! Memangnya ada larangan setelah hari ketujuh aku nggak boleh datang lagi?" Daryl sedikit mendelik. Dia lantas berjalan mendekat ke tempat mereka berkumpul di tengah ruangan dan berdiri di belakang Nania.
"Ya waktu itu bilangnya bakal ke sini terus sampai hari ke tujuh?" Amara mengingatkan.
"Bukan berarti dihari berikutnya aku nggak datang kan?"
"Iya sih."
"Aku lapar, mau makan." ucap pria itu, dan hal tersebut membuat semua orang menatapnya.
"Udah clossing, Kak. Semua perabotan udah diberesin." Amara menjawab.
"I don't care." Dan Daryl menjawab.
"Lagian habis kerja bukanya pulang malah muter ke sini?" ucap Amara lagi, dan dia melihat jam di layar ponselnya.
"Terserah aku lah."
Amara mencebik.
"Sudahlah, kalau begitu kita pulang saja." Galang bereaksi.
"Kamu yakin masalah ini nggak akan dibawa ke polisi?" Untuk terakhir kalinya Amara bertanya.
"Nggak usah Kak. Aku nggak mau ada ribut-ribut lagi lah. Males." Nania menjawab seperti sebelumnya.
"Benar?" Galang pun meyakinkan sekali lagi.
"Ya Pak."
"Ya udah kalau gitu." Amara pun bangkit dibantu oleh Galang.
Kehamilannya yang sudah besar memang mulai menghambat pergerakannya.
"Pulang ya?" pamitnya kemudian.
"Iya Kak."
"Jangan nginep ya? Kan udah lebih dari tujuh hari?" Amara kepada Daryl yang membuat pria itu hampir saja bereaksi. Namun Galang cepat-cepat membawanya pergi. Diikuti yang lainnya keluar berurutan.
Nania tertegun sebentar, lalu dia beralih kepada Daryl ketika sudah mengingat keberadaannya.
"Ada … urusan apa dengan polisi?" Pria itu segera bertanya.
"Nggak ada apa-apa." Nania membereskan meja.
"Kalian ada masalah?" Daryl mengikutinya yang meletakkan gelas-gelas kotor ke pantry.
"Nggak juga."
"Terus tadi bicara soal polisi ada apa?"
"Nggak ada." Nania memutar tubuh, dan dia terkejut mendapati pria itu sudah berada di belakangnya.
"Tapi sepertinya serius?"
"Nggak ah, biasa aja." Gadis itu menghindar.
"Realy?"
"Ya. Tadi mau makan kan? Mau dibikinin apa?"
__ADS_1
Pria itu terdiam, sedangkan Nania mencoba mengalihkan perhatian dengan membereskan beberapa hal.
"Tadi siang katanya mau bilang sesuatu, makanya aku mampir sebelum pulang." Daryl mengingatkan percakapan mereka tadi siang.
"Oh, soal itu?"
Pria itu mengangguk.
"Nggak jadi, hehe." Nania masuk ke area pantry, berniat membersihkan gelas-gelas kotor tadi.
"What?"
"Nggak jadi. Tadi udah ngobrol sama Kak Ara sama Pak Galang. Terus saya pikir lagi kayaknya nggak usah."
"Memangnya apa yang kamu bicarakan dengan Ara dan Galang?"
"Ya … yang mau saya bilang sama Bapak."
"Iya apa?"
"Soal nenek."
"Nenek?"
"Ya."
"Kenapa dengan nenek?" Pria itu mengikutinya ke area pantry.
"Tadinya mau lapor polisi."
"Kenapa lapor polisi?"
"Saya curiga ada penyebab lain yang bikin nenek kena serangan jantung."
"Terus?"
"Ya nggak jadi lapornya."
"Dan kamu mengatakan masalah ini kepada Galang?"
"Sama Kak Ara juga."
"Ya, kamu mengatakannya kepada mereka tapi tidak kepadaku?"
"Um …." Nania menghentikan kegiatannya, lalu menoleh.
"Kan … saya bilang nggak jadi."
"Tapi kamu mengatakannya kepada Galang."
Nania terdiam.
"Kalian berunding soal ini, tapi aku tidak tahu?"
"Ya kan nggak jadi!"
"Masalahnya, aku jadi orang terakhir yang tahu."
"Terus?"
"Kamu sadar nggak posisi kita ini apa?"
Nania berpikir.
"Memangnya tidak bisa ya kalau kamu mengatakannya dulu kepadaku? Kenapa malah kepada orang lain terlebih dulu?"
"Kak Ara itu kan bos aku, biasanya …."
"Memangnya saya harus bilang ke Bapak kalau ada apa-apa gitu?"
"Nania!" Daryl dengan nada frustasi.
"Kamu ini pacarku, terus masa kalau ada masalah kamu bilangnya kepada orang lain? Terus gunanya aku ini apa?"
"Emangnya kalau pacaran harus gitu ya? Apa-apa harus bilang?"
"Tentu saja."
"Kayak suami istri aja? Pacaran itu kan belum ada ikatan. Masa apa-apa harus bilang?" Nania dengan pendapatnya.
"Kalau misalnya ternyata kita berjodoh bagaimana?" Daryl mendekat.
"Umm … Soal itu … Kan nggak ada yang tahu." Nania mundur.
"Lagian belum seminggu masa udah bahas masalah jodoh? Kayaknya kejauhan deh?" Gadis itu terkekeh.
"Kalau misalnya itu benar terjadi?" Dan Daryl terus menyudutkannya hingga punggung gadis itu membentur chiller di belakang.
"Nggak mungkin, Bapak mikirnya kejauhan."
Daryl terdiam.
"Kamu tahu, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selama kamu mengusahakannya semua hal pasti akan terjadi."
"Cara bicara Bapak kayak Ardi."
"Apa?"
"Yang Bapak bilang barusan kayak Ardi semalam. Dia bilang gitu juga."
Daryl mengetatkan rahangnya hingga giginya terdengar bergemeletuk. Rasanya dia tidak suka mendengar apa yang diucapkan gadis itu barusan.
"Kamu harus tahu sesuatu, Malyshka."
"Soal apa?"
"Aku tidak suka disamakan atau dibandingkan dengan orang lain."
"Emangnya siapa yang samain Bapak? Nggak ada." Nania dengan polosnya.
"Astaga!" Daryl memejamkan mata sekejap, lalu dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Udah ah, katanya mau makan. Saya masak dulu." Nania bergeser untuk menghindar karena percakapan ini menjadi terlalu serius, dan dia mulai tak menyukainya.
"Wait!" Namun Daryl merentangkan tangannya.
"Pak!"
"Sepertinya kita harus bicara serius soal ini agar situasinya jelas bagimu."
Gadis itu tertegun.
"Pacaran itu bukannya tidak ada ikatan. Ucapan maukah kamu menjadi kekasihku itu aku rasa sudah menjelaskan posisi kita bagaimana. Tapi kenapa aku merasa hanya aku saja yang mengerti soal ini?"
"Hubungan ini artinya kita saling memiliki, meski dalam bentuk yang tidak terlalu jelas. Tapi pernyataanku sudah menjadi tandanya. Masa kamu tidak mengerti?"
Nania mendongak.
"Kamu merasakan apa yang aku rasakan tidak?" Pria itu semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka, sementara Nania semakin tersudut di antara kungkungannya.
Gadis itu terdiam.
"Perasaanku padamu sepertinya serius. Aku tidak bisa memalingkan pikiran darimu. Dan sekarang segala hal selalu berkaitan denganmu. Lalu apa ini namanya?"
__ADS_1
"Apa kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan?" Daryl meraih tangan Nania kemudian dia tarik dan diletakan di dada kirinya. Di mana benda di dalamnya selalu berdetak dua kali lebih kencang setiap kali mereka bertemu.
Nania menatap tangannya sendiri, lalu wajah Daryl secara bergantian. Dia tidak tahu jika berhubungan dengan seseorang akan seperti ini. Apalagi dia dengan usia yang lebih dewasa dan segalanya berbeda.
"Hum?"
Tapi perasaannya …
Ada hal yang tak mampu dia identifikasi. Seperti sesuatu yang belum pernah kamu temui tapi kamu sudah menginginkannya. Dan itu rasanya membingungkan.
"Aku rasa ini serius." Daryl kembali berbicara.
"Jangan serius-serius dulu lah, kita kan baru jadian." Nania hampir menarik tangannya, namun Daryl segera menahannya agar posisinya tetap seperti itu.
"No! Perasaan tidak bisa dibuat main-main." Pria itu berujar.
"Maksudnya nggak main-main juga, tapi kan …."
"Aku tidak pernah mengalami hal ini dengan siapa pun, itu sebabnya aku menjalaninya dengan serius."
"Masa?"
"You don't believe me?"
"Nggak terlalu."
"Why?"
"Kita baru jadian, Pak. Dan ayah saya bilang, laki-laki itu makhluk yang nggak bisa dipercaya gitu aja. Jadi jangan serius-serius menanggapinya."
"What?" Daryl mengerutkan dahi.
"Orang yang nikah aja bisa cerai, apa lagi pacaran? Baru beberapa hari lagi."
"Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu? Kamu tidak mempercayai aku?"
"Kenapa juga saya harus percaya sama Bapak?"
"Karena kita ini pasangan. Dan setiap pasangan memang harusnya begitu."
"Masa?" Nania malah tertawa.
Kening Daryl semakin berkerut.
"Pikiranmu ini sebenarnya bagaimana sih?"
"Nggak gimana-gimana. Saya cuma jaga-jaga aja."
"Jaga-jaga dari apa?"
"Dari kemungkinan sakit hati."
"What?"
"Makanya jangan terlalu serius sama saya, jadi sayanya juga nggak akan kebaperan sama Bapak."
"Nania, kita ini kan …."
"Pacaran, saya tahu. Tapi kita kan baru jadian, apa aja bisa terjadi. Apa lagi untuk orang seperti Bapak."
"Apa maksudmu bicara begitu?"
"Bapak bisa mendapatkan apa pun, dan bisa melakukan apa pun. Dan untuk perempuan, saya yakin saya bukan satu-satunya. Jadi untuk apa serius-serius?"
"Are you sure?"
"Ya. Apa pun bisa Bapak lakukan. Apa lagi untuk perempuan seperti saya. Itu hal yang mudah." Tiba-tiba saja dia ingat kejadian beberapa hari sebelumnya.
Saat pria itu bercumbu mesra dengan modelnya yang seksi di sana, di ruangan yang sama saat mereka juga bercumbu.
Lalu mengapa rasanya dia ingin membahas ini?
"No, kamu salah!"
Nania menggelengkan kepala.
"What you mean? Kenapa kita membicarakan masalah ini?"
"Hanya untuk tetap menyadarkan saya kalau apa yang kita jalani sekarang tidak seserius yang Bapak bilang."
Daryl mendengus sambil memejamkan mata.
"Aku tahu aku serius. Perasaanku serius, dan yang mulai aku lakukan kepadamu adalah hal serius, jadi kenapa kamu bisa berkata seperti itu sementara …."
"Terus apa yang Bapak lakukan dengan Bella?" Akhirnya kalimat itu terlontar dari mulut Nania.
"What?" Tubuh Daryl menegang.
"Minggu lalu kalian bermesraan di kantor, terus beberapa hari berikutnya kita melakukannya di ruangan yang sama. Dan konyolnya saya mau lagi."
Daryl mengingat kejadian itu dengan jelas. Di mana dirinya bercumbu dengan Bella sebelum kedatangan Nania yang mengantar makan siangnya. Dirinya tak menyangka jika gadis itu melihatnya dan sedikitpun tidak mengira bahwa hal itu akan menjadi masalah.
"Kamu melihatnya?" tanya nya, dan dia mulai ketakutan.
"Ya. Jelas."
Daryl kehilangan kata-kata.
"Sebenarnya sih nggak masalah, karena waktu itu kita buka siapa-siapa kan? Saya cuma pelayan kedai yang mengantar makanan pelanggan, dan itu juga bukan urusan saya. Tapi masalahnya adalah … apa semua laki-laki kayak gitu?"
"Hari ini mesra-mesraan sama perempuan ini, terus besoknya bisa jadian sama yang lain? Terus melakukan hal yang sama?"
"Saya cuma berpikir … gimana perasaan Bapak melakukan itu? Apa sama seriusnya kayak yang Bapak bilang ke saya?"
Daryl tak mampu menjawab.
"Jadi … ucapan serius itu untuk siapa? Atau Bapak bilang serius sama semua perempuan yang Bapak cium? Bukan cuma saya dong?"
Pria itu hampir membuka mulutnya untuk menjawab. Namun Nania segera mendorongnya agar dia bisa menjauh. Dan kini dia berhasil melakukannya.
"Makanya jangan serius-serius, karena nggak semua perempuan bisa kayak gitu. Kalau terlalu serius nanti malah saling menyakiti." Nania kembali pada pekerjaannya semula.
"Oh, bukan! Bukan saling menyakiti, tapi nanti saya yang sakit hati, karena apa yang saya pikir serius ternyata bohong." ujar gadis itu yang semakin membuat Daryl bungkam.
"Jadi, Bapak mau makan apa?" Dia berbalik setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dan merasa heran karena tak lagi mendengar Daryl bersuara.
Namun Nania tertegun ketika pria itu terlihat keluar dari kedai dan menaiki mobilnya yang terparkir di depan.
Dan tanpa banyak kata dia pergi dari sana, meninggalkannya yang baru akan bicara lagi.
"Nah kan bener? Cowok itu nggak se serius yang mereka bilang?" gumamnya, lalu dia memutuskan untuk segera menutup kedai dan mengunci semua yang perlu dikunci.
💖
💖
💖
Bersambung ...
Yah, baru jadian udah berantem? Gara-gara salah faham lagi, duh ...
Ayo mana like komen sama hadiahnya? Ditunggu banget loh😁😁
__ADS_1