
💖
💖
Beberapa hari kemudian …
"Mbak Mima??" Nania menghentikan langkah asisten rumah tangga yang hari itu tampak sibuk.
"Ya Non?"
"Mau ada apa kok rame bener?" Gadis itu bertanya.
"Oh, nanti malam ada kunjungan dari keluarganya Non Kirana." jawab Mima.
"Dokter Kirana calon istrinya Pak Darren?"
"Iya, dan keluarganya."
"Oh …."
"Non sendiri mau ke mana?" Perempuan yang sepertinya berusia tak terlalu jauh dari Daryl itu balik bertanya karena melihat penampilan Nania yang sudah mengenakan hoodienya.
"Umm … mau … kerja."
"Kerja?"
"Iya. Udah kelamaan libur."
"Oh …"
"Hey? Aku mencarimu tadi. Aku pikir kamu ke mana?" Daryl muncul dari atas.
"Kenapa kamu sudah pakai hoodie? Mau ke mana?" Pria itu pun segera bertanya setelah asisten rumah tangganya pergi.
"Mau kerja." Mereka berjalan ke ruang makan di mana anggota keluarga yang lain sudah menunggu.
"Bekerja?" Daryl berhenti di ambang pintu.
"Iya."
"Kenapa sudah mau bekerja? Apa kamu sudah baikan?" Dia bertanya lagi.
"Udah Pak."
"Yakin? Memarmu masih ada." Pria itu menunjuk memar di wajah Nania.
"Udah nggak apa-apa."
"Benar?"
"Iya, nggak enak juga di rumah terus." Nania sedikit terkekeh.
"Lho? Kamu mau pergi?" Sofia bertanya ketika dua orang itu sudah duduk di kursi mereka.
"Iya Bu. Mau kerja." Nania menjawab.
"Sudah bisa?"
"Udah."
"Padahal tadinya aku mau menelfon Ara agar dia membiarkanmu libur lebih lama." ujar Daryl yang menyesap kopi panasnya.
"Eee … nggak usah, Pak. Udah mau berangkat kok."
"Hmm …."
"Terbiasa keluar rumah ya, Nania? Jadi agak membosankan di rumah?" Sofia mengisi piring suami dan anak-anaknya dengan makanan, termasuk milik Nania.
"Umm … nggak gitu Bu, maksudnya. Saya kan biasa kerja, jadinya …."
"Iya iya, saya mengerti. Saya juga pernah mengalami itu dulu waktu Dygta masih kecil. Kalau yang terbiasa bekerja terus tiba-tiba diam di rumah ya mungkin rasanya aneh. Iya kan Papi?" Perempuan itu duduk di samping suaminya.
"Ya, sepertinya semua yang pernah bekerja begitu." Satria menyahut.
"Tidak apa-apa, tapi hati-hati ya?" ucap Sofia seraya menyesap teh herbal seperti yang dia berikan kepada suaminya.
"Iya, Bu." Nania meraih gelas di dekatnya yang berisi minuman favoritnya, dan sudah beberapa hari terhidang di sana setiap pagi, siang dan malam hari.
Dia tertegun sebentar dan merasakan jika ini sudah terlalu jauh dirinya menikmati segala keramahan keluarga asing yang menjadi tempatnya bernaung selama beberapa hari ini. Dan rasanya sudah cukup.
"Terima kasih Bu, Pak. Sudah membiarkan saya tinggal di sini beberapa hari. Dan terima kasih atas pertolongannya." katanya kemudian, yang membuat semua orang menghentikan kegiatan makannya.
"Mungkin setelah ini saya tinggal di kedainya Kak Ara lagi." lanjut gadis itu.
"What?" Daryl bereaksi.
"Iya, udah beberapa hari kan? Terus agak jauh juga, jadinya …."
"Kenapa kamu tidak tinggal saja? Di sini lebih aman kan?" Pria itu meletakkan sendok makannya.
"Di kedai juga aman, Pak. Apalagi Bang Sandinya sekarang udah nggak bisa apa-apa kan?"
__ADS_1
"Yeah, but why?" Daryl dengan raut tidak senang.
"Ya … kan saya tinggalnya di kedai, Pak. Masa mau di sini terus?" Nania dengan raut canggung.
Konyol sekali pertanyaan pria ini, kenapa juga dia bertanya?
"Memangnya kenapa kalau tetap tinggal di sini? Tidak akan ada yang melarangmu."
"Eee …."
"Tidak!! Kenapa juga kamu harus kembali ke sana? Tetap saja di sini. Soal kerja kan bisa pergi denganku pagi-pagi, lalu aku akan menjemputmu kalau sudah waktunya pulang."
"Umm …."
"Titik. Tidak ada penawaran lagi!" Pria itu sedang menunjukkan kekuasaannya.
"Daryl?" Lalu Sofia bereaksi setelah menyimak percakapan tersebut.
"Eee … sorry, Mom. Aku hanya …."
"Kamu yakin mau tinggal lagi di kedai?" Perempuan itu bertanya kepada Nania.
"Iya Bu."
"Kenapa? Di sini tidak betah?"
"Bukan, bukan begitu maksud saya. Disini menyenangkan tapi … kayaknya saya harus kembali ke kedai deh. Karena rasanya …."
"Baik, tapi hati-hati. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk memberi tahu." ucap Sofia setelahnya.
"Mom?!!"
"Kenapa? Nania juga punya hak untuk menentukan apa yang dia mau kan? Memangnya siapa kamu berani mengatur-atur dia? Kakak bukan, suaminya juga bukan?" Sang ibu berujar, membuat Daryl kehilangan kata-kata sementara Darren dan Satria sama-sama menahan tawa.
***
"Pamit Bu, terima kasih." Nania mencium tangan Sofia dan Satria sebelum pergi.
"Iya, kamu harus bisa jaga diri ya? Jangan terlalu percaya orang asing?"
Nania menganggukkan kepala.
"Ingat kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk memberi tahu?"
"Iya, Bu. Sekali lagi terima kasih." Lalu dia masuk ke dalam mobil setelah Daryl membukakan pintu untuknya.
Dan pria itu memutar bola mata ke arah ibunya sebelum mereka pergi.
"Kenapa anakmu itu?" Sofia bergumam.
"Memangnya Nania itu siapanya Daryl? Istrinya? Sehingga aku harus menahannya ketika dia mengatakan ingin pergi?"
"Eee … kamu sendiri tahu bagaimana mereka."
"Tapi Nania itu kan manusia bebas. Kenapa kita harus menahannya? Dia bisa menentukan apa pun yang dia mau sebelum ada ikatan jelas di antara mereka. Mau bilang apa lagi kamu?"
Satria hanya tersenyum.
"Kalau Daryl bilang mau santai, ya santai saja lah. Kenapa juga aku harus buru-buru?" Perempuan itu melenggang ke dalam rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bapak cemberut terus dari tadi?" Nania menatap Daryl yang fokus pada lalu lintas dengan bibir mengerucut.
Pria itu tak menjawab.
"Pak?"
"Diamlah, aku sedang tidak ingin bicara denganmu!" Jawab Daryl kemudian.
"Lho? Kok begitu?"
"Ish! Kamu menyebalkan! Kenapa juga malah tinggal lagi di kedai?" Dia mulai menggerutu.
"Kan saya memang tinggal di kedai? Terus rencananya nanti kalau udah gajian maunya ngontrak."
"Ngontrak? Kenapa malah ngontrak?"
"Ya nggak enak kalau kelamaan tinggal di kedai. Pegawainya Kak Ara kan bukan cuma saya doang? Takutnya menimbulkan kecemburuan sosial."
"Maksudku, kenapa kamu memilih tinggal diluar sementara rumahku masih aman?" Daryl memperjelas maksudnya.
"Rumah Bapak?"
"Ya. Kenapa tidak tinggal di rumah besar saja?"
"Rumah orang tua Bapak kali?" Nania tertawa.
"Yeah, terserah padamu lah."
"Ya masa saya harus tinggal di sana. Mau sampai kapan? Malu lah."
__ADS_1
"Malu kepada siapa? Orang tuaku tidak masalah dengan keberadaanmu di sana, lantas apa yang membuatmu malu?"
"Kalau keluarga Bapak itu orang tua saya, atau misal masih ada ikatan keluarga saya pasti memilih untuk tinggal di sana. Tapi kan bukan. Malu lah …."
"Kan ada aku." ucap Daryl setelah terdiam beberapa saat.
"Kita ini kan pasangan kekasih."
Gadis itu tertawa.
"Heh, kenapa tertawa??"
"Lucu aja. Jadi sekarang kalau udah jadi pasangan kekasih boleh tinggal bareng di rumah orang tua ya? Baru denger. Ini indonesia, Pak. Bukan Amerika."
Daryl terdiam.
"Kalau aku tinggal sendiri, di rumahku tanpa anggota keluarga lain kamu mau tinggal denganku?" Satu ide baru saja muncul di kepalanya.
"Apa?"
"Kita, tinggal bersama." Daryl merasa mendapatkan ide yang sangat brilian.
"Kumpul kebo dong? Nggak mau ah!! Baru berapa minggu pacaran udah mau kumpul kebo?"
"Bukan kumpul kebo, tapi tinggal bersama."
"Sama aja, Pak. Itu istilahnya tinggal bersama kalau di sini."
"Begitu ya? Aneh sekali peribahasa kalian itu?"
"Dih, dia nggak nyadar dirinya siapa?" Nania menggumam pelan.
"Jadi tidak mau kalau kita tinggal bersama? Padahal aku baru saja punya rencana mau keluar dari rumah."
"Kenapa mau keluar dari rumah?"
"Aku hanya ingin tinggal senidiri. Kamu tahu, aku merasa kalau rumah besar itu terlalu berisik. Apalagi kalau semua orang dan anak-anak mereka sudah berkumpul."
"Kan Bapak bisa pergi ke kamar?"
"Nggak enak kalau semua orang ada tapi aku tidak bergabung …."
"Kesannya kita sombong ya?"
"Hmm …."
"Saya juga nggak terlalu suka kalau banyak orang." Nania menyandarkan kepalanya pada kursi.
"Tapi keluarga Bapak cukup menyenangkan."
"Yeah, memang."
"Bapak beruntung punya mereka."
"Hmm … jadi kamu tetap tidak mau?" Daryl menoleh sekilas.
"Apaan?"
"Tinggal denganku?" Pria itu menggerak-gerakkan alisnya ke atas dan ke bawah.
"Nggak ih!" Nania menolak.
"Hmm …." Daryl kembali mengerucutkan mulutnya.
Lalu dia menghentikan mobilnya tepat di depan Amara'a Love yang sudah buka.
"Aku tidak turun lah. Banyak pekerjaan hari ini."
"Oke."
"Nanti siang juga tidak usah mengantar makan. Biar aku saja yang ke sini."
"Beneran?"
"Iya."
"Ya udah." Mereka terdiam untuk beberapa saat.
Lalu tiba-tiba saja Nania mendekat dan mendaratkan ciuman di pipi Daryl dengan cepat.
"Makasih Bapak udah menyelamatkan aku!" katanya, kemudian dia segera turun dan berlari ke dalam kedai, sementara pria itu tertegun di balik kemudi.
"What the hell is that?" gumamnya sambil menyentuh bekas ciuman Nania di pipinya.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Acie cieeeeeee .... 🙈🙈
Kuy like in lagi. Belum seribu juga udah aku up lagi kan? Demi siapa coba? Ya demi kalian lah. 😁