The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Persiapan Sekolah


__ADS_3

💖


💖


"Non?" Mima meletakkan cangkir keramik berisi milk tea permintaan Nania. Sementara perempuan itu duduk di kursi taman memperhatikan para keponakannya yang tengah asyik bermain di taman belakang.


"Makasih, Mbak."


"Umm … dua hari yang lalu ada ibunya Non datang ke sini."


Nania hampir saja menyesap minumannya saat sang asisten rumah tangga itu berbicara.


"Ibu?"


"Ya, Bu Mirna."


Dia mengerutkan dahi.


"Saya mau bilang dari kemarin tapi Non kan baru datang. Mana sakit juga lagi?"


"Terus mau apa ibu ke sini?" Nania bertanya.


"Mau ketemu Non, tapi kan Non nya kemarin masih di Moscow."


"Oh, iya juga."


"Udah ibu suruh masuk tapi nggak mau. Cuma sampai depan gerbang aja."


"Masa? Sama siapa datangnya?"


"Sendiri sih."


"Hmm … bilang apa?" Dia bertanya lagi.


"Nggak bilang apa-apa, cuma mau ketemu aja katanya."


Nania terdiam.


"Mima?" Terdengar Daryl memanggil dari ruang olah raganya.


"Ya Pak?"


"Suruh orang isi galon, sudah kosong." Pria itu keluar kemudian datang mendekat.


"Iya Pak." Mima segera pergi untuk mengerjakan apa yang Daryl perintahkan.


"Orang-orang belum kembali?" Dia menatap anak-anak yang tengah asyik bermain di dekat rumah bermain.


"Belum."


"Huh, kenapa joging juga lama sekali?" Pria itu duduk di samping Nania.


"Mungkin jauh?"


"Sejauh-jauhnya hanya berkeliling dari sini ke hutan kecil di sana."


"Aku kan nggak tahu."


"Oh iya, kamu belum pernah ke sana kan?" Daryl merebut cangkir milk tea di tangan Nania.


"Belum. Tadi mau ikut nggak boleh, katanya aku lagi sakit padahal udah nggak apa-apa."


"Mereka mengerti keadaanmu." Lalu dia menenggak isi di dalam cangkir sampai habis setengahnya.


"Kamu olahraganya udahan?" Kini giliran Nania yang bertanya.


"Sudah." Daryl membiarkan Nania mengambil kembali cangkirnya.


"Aaa … kamu habisin milk teanya, padahal aku belum minum?" Nania merengek ketika dia mendapati isi di dalam cangkir sudah berkurang banyak.


"Duh? Aku kira sudah kamu minum?" Pria itu tertawa.


"Belum, kan ini baru datang?"


"Buat lagi saja."


"Ini udah nggak terlalu panas, kan? Kalau bikin lagi harus nunggu lama biar agak dingin. Padahal aku mau ini dari tadi!" protesnya, dan itu membuat Daryl terus tertawa.


"Kenapa nggak minum kopi sih? Milk tea buat aku aja!"


"Habisnya aku haus."


"Ya minum!"


"Itu barusan aku minum."


"Iya, minumnya milk tea aku." Nania mengerucutkan mulutnya.


"Dari pada aku minum milknya kamu." Daryl dengan cueknya.


"Hah?"


"Eh, tapi kan milknya kamu belum ada isinya ya? Hanya daging saja. Hahaha." Dia tertawa lagi.


"Jadi selama ini yang aku hisap apa dong? Angin?"


"Ish!!" Nania mendelik dengan wajah sedikit memerah ketika dia mengerti apa yang suaminya maksud.


"Om Der, Om Der!!!" Anya berlari ke arah mereka dengan membawa segenggam tanah di tangan.


"Heh! Jangan bawa serangga lagi, itu menjijikan!" Pria itu mengacungkan kakinya pada sang keponakan. Namun Nania segera menepuk pahanya dengan keras.


"Anya bawa apa?" Kemudian dia bertanya pada anak itu.


"Ini telur apa ya? Aku nemuin di sana." Anya menunjuk ke bawah pohon buah naga di samping rumah bermain.


"Telur?" Nania menari anak itu sehingga dia dapat melihat benda tersebut.


Ada beberapa butir telur berukuran kecil dalam tanah bercampur daun kering yang Anya genggam.

__ADS_1


"Mungkin telur dinosaurus." Daryl menjawab asal.


"Dinosaurus?" Anya dan Nania bereaksi bersamaan.


"Om Der bohong! Masa telur dinosaurus segede ini?" Sang keponakan memicingkan mata.


"Ya kalau telur burung tidak mungkin. Masa ada burung menyimpan telurnya di tanah? Pasti di pohon kan?"


"Mungkin telur kodok?"


"Kodok bertelurnya di air, dan bentuknya tidak seperti itu, lagi pula ukurannya kecil-kecil." Daryl menjawab lagi.


"Terus apa dong?"


"Sudah aku katakan kalau itu telur dinosaurus."


"I told you." Zenya pun mendekat.


"Nggak mungkin!" Nania tertawa. "Kamu jangan bikin pikiran anak-anak tersesat! Mana ada telur dinosaurus di zaman sekarang? Kalau pun ada pasti udah jadi fosil."


"Sok tahu!"


"Ya iyalah. Dinosaurus kan udah punah lama banget? Mana ada yang masih hidup?"


"Ada."


"Mana buktinya?"


"Itu komodo? Mereka kan dinosaurus terakhir di bumi? Kura-kura juga."


Nania tertawa terbahak-bahak.


"Kamu maksa banget sih!"


"Tanya saja ilmuwan kalau nggak percaya!!"


"Jadi ini telur apa dong?" Anya bertanya lagi.


"Why don't you keep it in the box, then we can find out later? ( kenapa nggak kamu simpan aja di kotak, jadi nanti kita bisa tahu?)." Zenya berujar.


"You right! Ayo kita simpan telurnya?" Mereka berlari ke dalam rumah bermain.


"Astaga! Ada saja yang mereka temukan?" Daryl menggelengkan kepalanya, sementara Nania hanya tertawa.


"Kamu tahu, taman ini jadi semacam dunia buat Anya sama Zenya untuk di eksplor. Aku curiga nanti setelah mereka besar akan jadi ilmuwan atau semacamnya?"


"Yeah, right. Atau mungkin jadi pengumpul hewan liar yang kemudian mereka satukan dalam sebuah kandang dan memeliharanya. Dan jadilah rumah ini sebagai kebun binatang seperti Ragunan."


"Bisa jadi. Mereka unik bukan?"


"No, mereka pengacau. Sama seperti ibunya." Pria itu melirik orang tua dan saudara juga para iparnya yang sudah kembali dari jalan pagi mereka.


"Kamu ih suka ngomong sembarangan!"


Namun Daryl hanya menggendikan bahu.


"Aku mau mandi lah, sebentar lagi kita pergi." Kemudian dia bangkit.


"Membeli peralatan sekolahmu." Pria itu melenggang ke arah rumah.


"Hah?"


"Mau ikut tidak?" Dia menoleh.


"Kalau mau ikut ayo bersiap?"


"Eee …."


"Malyshka!!!"


"Iya iya." Lalu Nania berlari mengikutinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mall menjadi pilihan Daryl untuk membeli perlengkapan yang dia maksud, dan ini pertama kalinya mereka pergi keluar bersama setelah resmi menjadi suami istri.


"Kamu bilang kalau alat tulis ada di ruang kerjanya Papi?" Nania memegangi bagian belakang pakaian Daryl pada saat mereka berjalan melewati toko-toko di pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta itu.


"Siapa tahu kamu mau membelinya sendiri?" jawab pria itu yang beralih menarik tangan istrinya.


"Padahal nggak usah, yang ada aja nggak apa-apa." Mereka memasuki sebuah toko buku besar di mall tersebut dan seketika Nania tak mampu berkedip.


Puluhan rak berisi ribuan buku dengan berbagai macam jenis dan tema. Dari mulai novel, buku pelajaran juga buku tentang bisnis. Lalu di sisi lainnya dia menemukan bermacam-macam alat tulis.


"Aku tidak tahu alat tulis jenis apa yang akan kamu pakai. Aku belum pernah membelinya sendiri." Daryl membawanya ke bagian alat tulis.


Di sana ada berbagai jenis buku tulis, pensil dan kebutuhan sekolah lainnya.


"Terus kalau kamu sekolah gimana?" Nania mengambil keranjang kecil di sisi rak.


"Gimana apanya? Sekolah ya sekolah saja, soal alat tulis dan lain-lainnya tinggal bilang pengurus rumah." Mereka masuk ke dalam lorong-lorong rak dan Nania segera memilih apa yang mungkin dia perlukan.


"Oh, nanti ambil di ruang kerjanya Papi ya?"


"Ya, atau mereka yang beli dan aku tinggal memakainya saja."


"Hmm … aku lupa kamu anak siapa." Perempuan itu menggumam pelan.


"Ya kalau ada yang bisa disuruh kenapa harus pergi sendiri?"


"Aku terbiasa melakukan semuanya sendiri, jadi perubahan yang sekarang bikin aku agak kayak gimana gitu …."


"Hmm … itu bedanya aku dan kamu." Daryl berhenti di depan sebuah rak dengan buku-buku bacaan tentang medis dan psikologi.


"Kamu juga mau beli buku?" Nania bertanya.


"Ya, sepertinya aku membutuhkan beberapa bacaan." Pria itu mengambil beberapa buku dengan judul bermacam-macam.


"Kalau aku juga beli buku selain peralatan untuk sekolah boleh nggak?" Nania menatap rak lainnya yang berisi novel-novel dengan berbagai macam genre.

__ADS_1


"Ambil sajalah, mumpung kita di sini." Daryl menjawab.


"Dua buku boleh?" Nania muncul dari balik rak lainnya.


"Mau sepuluh juga silahkan." 


"Sepuluh?"


"Ya. Atau mau satu toko ini kamu beli?" Daryl menoleh ke arahnya yang tengah memilih buku yang dimaksud.


"Apa?"


"Silahkan." Kemudian dia melenggang ke arah kasir.


***


Selanjutnya mereka memasuki sebuah toko pakaian, yang di dalamnya sebagian besar adalah seragam sekolah dan semacam sampel almamater beberapa kampus di Jakarta.


"Regan bilang kamu harus memakai seragam hitam putih." Daryl melirik pria yang baru saja kembali setelah dimintanya menyimpan buku-buku yang telah mereka beli ke mobil.


"Seragam?" Nania menjengit.


"Ya. Kemeja putih dan rok hitam."


"Emang kalau sekolah online harus pakai seragam juga?" Lalu dia bertanya kepada Regan.


"Sebenarnya kalau online bebas-bebas saja, Bu. Tapi kan ini sekolah offline?"


"Offline?"


"Iya."


Nania menatap ke arah suaminya.


"Cepat, pilih seragamnya sekarang. Setelah itu kita cari makan." Daryl menarik perempuan itu tanpa banyak bicara lagi.


"Roknya yang pendek atau yang panjang?" Nania memperlihatkan dua buah rok hitam kepada suaminya.


"Sama saja."


"Kemejanya?" Lalu dia memperlihatkan dua buah kemeja.


"Sama."


"Kalau aku pilih dua-duanya gimana? Siapa tahu perlu?"


"Boleh."


"Oke." Kemudian transaksi pun berlangsung cepat setelah Daryl melakukan pemindaian QR kode dari ponselnya pada sebuah mesin edc khusus seperti yang dia lakukan di toko buku sebelumnya.


"Mau itu boleh?" Nania menghentikan langkah ketika mereka melewati food court dan dia menemukan banyak stand makanan dan minuman.


"Milk tea? Di rumah juga ada." Daryl mundur beberapa langkah.


"Tapi aku mau beli, rasanya kadang beda." Nania menjawab.


"Baiklah." Lalu mereka masuk ke area tersebut.


Tak hanya milktea, namun akhirnya Nania memesan beberapa macam makanan dari stand yang ada. Dim sum, kentang goreng, beef burger, dan beberapa macam makanan berbahan dasar ayam berbalut tepung yang diberi saus.


"Kamu akan menghabiskan ini semua?" Daryl menatap makanan-makanan tersebut yang Nania letakkan di depannya.


"Kamu." Perempuan itu duduk di sampingnya.


"Apa?"


"Kamu belum makan dari pagi, jadi kayaknya kamu yang akan menghabiskannya."


"No way!"


"Kenapa? Emangnya nggak lapar apa? Kan dari pagi belum makan?"


"Aku tidak terlalu suka makanan seperti ini, sukanya makanan rumahan."


"Terus gimana?"


"Gimana apanya? Ya makan saja sendiri." ucap Daryl yang kembali menatap layar ponselnya.


Nania terdiam sebentar, namun kemudian dia melirik kepada Regan yang duduk tak jauh dari mereka.


"Kalau mau aku kasih ke orang boleh?" Dia bertanya kepada suaminya terlebih dahulu.


"Terserah kamu." Pria itu menjawab.


"Regan?"


"Ya bu? Ada yang mau saya bawakan lagi?" Regan siaga meski dia juga sedang memakan pesananannya.


"Kamu yang makan lah, Pak Daryl ngga mau makan." Nania menggeser nampan berisi makanan yang dua cup minumannya sudah dia ambil sebelumnya.


"Maaf Bu?"


"Makan ini, habiskan." ulang perempuan itu yang menyerahkan nampan tersebut kepadanya.


"Yang, kalau gitu kita pulang aja? Nanti aku masak di rumah." Nania beralih kepada suaminya.


"Oke." Daryl pun bangkit dari kursi, lalu dia membiarkan Nania memegangi ujung kemejanya dan mereka berjalan beriringan ke arah lift untuk keluar. Sementara Regan masih tertegun di tempat itu dengan banyak makanan di meja.


Tahu begitu aku tidak akan pesan makan tadi. Batinnya, lalu dia meneruskan kegiatan makannya setelah atasan dan istrinya pergi.


💖


💖


💖


Bersambung ...


Maaf gaes hari ini telat up. Emak dapat misi kenegaraan jaga prasamanan di kondangan😁😁

__ADS_1


Like komen dan hadiahnya kirim terus ya, semoga habis ini kita bisa up lagi.


Alopyu sekebon😘😘


__ADS_2