The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Dragon Fruit VS Eragon Fruit


__ADS_3

💖


💖


"Tante Nna!!" Suara bocah terdengar memanggil dari luar saat mereka asyik bercumbu mesra.


Tepatnya, Daryl yang mengganggu Nania di sela perempuan itu yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya.


"Ah, anak itu lagi!" Daryl melepaskan Nania dari pelukannya ketika suara panggilan dan gedoran di pintu terus terdengar.


Nania turun dari tempat tidur sambil membenahi pakaiannya, lalu segera melenggang ke arah pintu.


"Anya? Zen?" Perempuan itu segera menyambut keduanya.


"Tante!!" Dan dua bocah tersebut segera menghambur memeluknya.


"Ih, kangen! Berapa lama nggak ketemu ya?"


"Hum … akunya ke Bandung terus, ikut mommy kondangan."


"Oh ya? Kondangan siapa?"


"Nggak tahu, nggak kenal."


"Nggak kenal tapi ikut? Dasar aneh!" Sahut Daryl dari dalam.


Anya memiringkan tubuhnya sehingga dia bisa melihat pamannya di dalam.


"Kok Om Der nggak kerja? Bolos ya?" tunjuk sang keponakan dengan raut mengejek.


"Suka-suka Om lah." jawab pria itu yang juga turun dari tempat tidurnya.


"Aku aduin Papi lho, biar Om dimarahin." ancam Anya.


"Cih, apa hubungannya dengan papimu?"


"Ya biar dimarahanim, soalnya Om bolos kerja. Mana hari Senin lagi?"


Daryl terlihat mencebikkan mulutnya.


"Tante mukanya kenapa?" Zenya melihat memar dan bekas luka yang masih tersiaa di wajah Nania.


"Pasti dipukul Om Der lagi ya? Om Der ih jahat suka pukul-pukul?" sambung Anya dengan lugunya.


"Eeee … bukan!! Ini jatuh di sekolah." Nania segera menjawab.


"Sekolah?" Zenya membeo.


"Iya, sekolah. Tante kan sekolah lagi …." Nania menggiring kedua keponakannya tersebut ke lantai bawah.


"Kok sekolah lagi? Emangnya tante nggak pernah sekolah?"


"Dulu sempat berhenti." Mereka menuju ke ruang tengah di mana Sofia da Rania berada.


"Hai Kak?" Sapanya kepada perempuan itu.


"Hai Nna? Kamu udah baikan? Aku dengar dari papinya anak-anak ada kejadian di sekolah?"


"Udah Kak. Iya, tapi udah selesai kok."


"Hmm … udah sekolah lagi?" Rania bertanya lagi.


"Udah hari ini."


"Terus gimana? Masalahnya udah diusut?"


"Udah damai."


"Lho, kok damai? Nggak ke kantor polisi? Itu udah tindakan kriminal lho?"


"Nggak ah, orangnya udah babak belur juga."


"Oh, pasti langsung diculik ya?"


Nania mengangguk sambil tertawa.


"Emang ya, anak buahnya si dudul pada kejam-kejam kalau hajar orang. Siapa yang ngajarin coba?"


"Si dudul?"


"Galang." sahut Sofia.


"Oh …."


"Tapi bukan anak buahnya Galang yang menghajar." sang mertua menjelaskan.


"Terus siapa? Galang sendiri?"


"Bukan. Tapi Daryl."


"Duh? Mati dong orangnya kalau Daryl yang hajar?"

__ADS_1


"Hampir." Sofia sedikit berbisik.


"Ckckck! Udah kayak SMP zaman aku aja ada bully-bullyan. Kirain sekarang mah nggak?" Rania menggeleng-gelengkan kepala.


"Hal seperti itu tidak mengenal Zaman, di masa Mama juga ada." Sofia menambahi.


"Wah? Masa?"


"Iya, hanya saja tidak separah sekarang. Dulu paling hanya di ejek karena masalah baju atau sepatu saja, tapi sekarang tindakannya sampai diluar batas. Bahkan sampai menjurus ke arah kriminal."


"Iya, kalau zaman aku soal senioritas. Harus hormat sama kakak kelas dan mau ngelakuin apa aja kalau di suruh. Kalau nggak ya kena bully." Rania juga bercerita.


"Masa? Kamu kena juga ya? Lalu bagaimana?" Sofia sedikit tertawa karena dia pikir sosok pemberani seperti menantunya yang satu itu tidak akan memiliki pengalaman buruk di sekolah.


"Uuhh, di hari pertama sekolah kakak kelas udah pada songong. Ya aku hajar, enak aja maen suruh-suruh nggak jelas, mana pakai bentak-bentak lagi? Papa sama Mama aku aja nggak pernah bentak aku?"


"Aduh?"


"Papa bilang kalau ada yang nggak sesuai sama yang udah diajarkan guru itu berarti salah. Jelas lah aku hajar. Mana waktu itu pakai nampar si dudul lagi karena nggak mau disuruh ngambil makanan yang udah jatuh ke tanah. Gila aja, nyuruh ngerjain sesuatu yang nggak logis."


Sofia tertawa lagi.


"Berarti sejauh ini kamu aman lah ya?"


"Eh, nggak juga. Orang aku sempet mau dilecehkan guru olah raga."


"Lah, ada saja yang seperti itu di setiap sekolah ya?"


"Ada Mah, banyak."


"Terus bagaimana? Kamu kena?"


"Hampir."


"Bisa lolos bagaimana?"


"Aku hajar lagi sampai orangnya tumbang."


"Astaga, Rania. Itu guru olah raga lho?"


"Ah, nggak ada bedanya buat aku mah. Kalau dia berbuat yang nggak sesuai apalagi macem-macem Papa bilang hajar ajar."


"Memangnya apa yang mau dia lakukan?"


"Megang-megang badan akulah."


"Aduh. Terus?"


"Wow? Kamu menghajar dia sampai parah berarti?"


"Ya."


"Kok bisa?"


"Bisa lah. Harus bisa. Kalau bukan kita sendiri yang jaga diri, terus mau siapa lagi? Nggak mungkin orang lain akan selalu ada buat jagain kita."


"Ajaran Papamu ya?"


Rania mengaggukkan kepala.


Sementara Nania menyimak percakapan itu dalam diam. Memang interaksi yang biasa di antara menantu dan mertua, tapi membuatnya memikirkan banyak hal.


"Dragon fruit." Zenya naik ke sofa dan dia menatap ke arah belakang.


"Apa Zen?"


"I want a dragon fruit." Anak itu menunjuk ke arah rumah yang sedang dibangun. Yang di sampingnya terdapat pohon buah naga yang sangat lebat.


"Mungkin belum ada yang mateng?" Nania menghampirinya dan melihat ke arah yang sama.


"Mau lihat!" Lalu Zenya turun dan berlari ke arah belakang.


"Itu ada, Tante? Itu, itu, itu juga." Dia menunjuk ketika melihat beberapa buah dari tanaman berduri itu yang berukuran cukup besar.


"Oh iya, dari kemari dilihatin nggak begini lho? Tapi itu masih mengkel." 


"Aku mau, aku mau!!" Anya dan Zenya bereaksi.


"Sebentar kita ambil. Emangnya kalau yang masih mengkel gini enak?"


"I don't know."


"Mending tunggu mateng aja biar enak?"


"Aku maunya sekarang!"


"Hadeh … sebentar. Ini pohonnya tinggi lagi? Harus pakai tangga, atau kursi …." Namun tanpa di duga Daryl muncul dan menghampiri mereka. Dan dia segera memetik buah-buah itu dengan mudahnya.


"Yeayyy!!!" Zenya melompat-lompat kegirangan.


"Makanya, kalau tumbuh itu ke atas bukan ke samping." Pria itu bergumam sambil menyerahkan buah dengan bentuk yang unik itu kepada Nania. Lalu dia memetik beberapa lagi yang terlihat mulai berwarna merah.

__ADS_1


Nania menarik salah satu sudut bibirnya ke atas, namun membuat suaminya itu tertawa.


"Bercanda, Malyshka!" Daryl mengusak puncak kepalanya.


"Bercandanya nggak lucu, main fisik mentang-mentang tinggi?" Perempuan itu menggerutu.


"Uuhh jangan marah! Kecil-kecil begini jiga kan aku sayang? Kalau kamu tinggi kerjaanku jadinya berkurang."


Nania mencebikkan mulutnya.


"Jangan marah, Sayang. Dragon fruitnya banyak. Atau mau aku tambahin?" ucap pria itu.


"Ditambahin apa?"


"Eragon fruit." katanya, yang sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Nania.


"Eh, ssttt!" Namun perempuan itu menjatuhkan buah naga kemudian mengulurkan tangan untuk menutup mulut suaminya.


"Apa?"


"Jangn sebut-sebut Eragon, ada anak-anak." katanya.


"Memangnya kenapa?"


"Nanti mereka dengar."


"Aku hanya bilang Eragon …."


"Ssstttt, sssttt! Diam!"


"Eragon itu apa?" Zenya bertanya.


"Tuh kan, kamu sih?" Nania menepuk lengan suaminya.


"Kenapa Om sering bilang Eragon, Eragon? It's your pet?" tanya Zenya lagi.


"Umm …."


"Yeah, it's my pet." Daryl menanggapinya dengan sedikit tawa.


"Really? Om punya peliharaan?"


"Punya."


"Mana aku lihat?" Lalu Anya menyahut.


"Benar mau lihat?" 


"Mau mau mau!" Dua anak itu berteriak kegirangan.


"Eh, jangan! Mereka masih anak-anak, jangan dikasih lihat!" Nania bergeser ke depan Daryl untuk menghalangi dua keponakannya.


"Kenapa? Cuma Eragon."


"Ya jangan, masa kamu mau kasih lihat Eragon sama mereka? Gila apa?"


"Mau lihat!! Mana Eragonnya?" Anya da Zenya dengan penuh semangat.


"Jangan!! Kamu mau racunin mereka apa?" Nania terdengar fruatasi.


"Ahahah, cuma Eragon apanya yang meracuni anak-anak?" Daryl mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Kamu foto juga Eragonnya? Keterlaluan!" Lalu dia merebut ponsel tersebut dari tangan suaminya. 


Namun dia terdiam ketika melihat gambar yang hampir pria itu tunjukan pada keponakan mereka. Yakni, gambar sebuah poster film dari luar negeri dengan judul Eragon.


"Otakmu yang kotor, Malyshka!!" Kemudian Daryl menepuk kening perempuan itu.


"Ah, ini film?" Anya menatap layar ponsel milik sang paman.


"Yeah, apa lagi?" Daryl menjawab.


"Om bilang pet?"


"Pet nya ada di dalam film."


"Ah, Om bohong. Nggak asik!"


"Memangnya apa yang kalian harapkan? Om punya hewan peliharaan? Enak saja, membuat kotor rumah!" Daryl kemudian beranjak.


"Ayo Malyshka, aku juga mau Eragon fruit … eh … dragon fruit maksudnya." Pria itu tertawa sambil melenggang ke arah rumah.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Hadeh, otaknya udah terkontaminasi kan? 🙈🙈

__ADS_1


__ADS_2