The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Masalah Kehamilan


__ADS_3

💖


💖


"Selamat datang!!" Darren dan Kirana menyambut kedatangan mereka pada sore itu.


Seluruh anggota keluarga Nikolai datang bersamaan tidak terkecuali anak-anak. Mereka mengenakan pakaian hampir sama, yakni semacam kemeja bagi para laki-laki dan tunik panjang bagi para perempuan. Yang semuanya sama-sama berwarna putih.


Tentu saja kedatangan keluarga besar tersebut menarik perhatian orang-orang yang sudah hadir. Apalagi ketika mereka menyalami keluarga Kirana yang menyambut sejak dari depan pintu.


"Pak Satria, Bu Fia apa kabar?" Kedua orang tua Kirana segera menyapa.


"Baik Bu, Pak." Sofia dan Satria menjawab sambil memberikan bingkisan yang mereka bawa dari rumah.


Lalu sapaan beralih kepada yang lainnya. Yakni anak, menantu juga cucu mereka yang juga membawa hantaran spesial


Suasana terasa begitu ramai apalagi setelah ibu-ibu dan pemuka agama dari sekitar rumah  sudah tiba, dan segera saja acara pengajian itu dimulai.


"Tenanglah." Daryl menempelkan kakinya pada kaki Nania yang sejak tadi bergetar sebagai reaksi ketika mendatangi tempat baru dan orang-orang yang tak dia kenal. Pria itu bahkan meletakkan tangan di pahanya supaya istrinya itu menjadi lebih tenang.


Nania tersenyum sekilas, kemudian dia menyentuh tangan suaminya, sehingga akhirnya mereka saling berpegangan.


Pengajian sore itu berlangsung cukup khidmat dan semua orang sama-sama mendoakan yang terbaik bagi seluruh anggota keluarga. Terutama bagi tuan rumah yang sebentar lagi akan menjadi orang tua.


Harapan terbaik diucapkan dan mereka semua menjadi pihak yang ikut berbahagia atas karunia yang telah diterima. Serta lantunan doa untuk keselamatan dan kesehatan pun terus mengudara memenuhi rumah besar tersebut.


"Senang ya Bu, kalau keluarga besar seperti ini sudah ngumpul? Jadi kelihatan kompaknya." Ibunya Kirana menjamu mereka setelah pengajian usai dan undangan pergi berurutan, sehingga hanya keluarga saja yang tersisa.


"Iya, Bu. Bersyukur punya anggota keluarga yang banyak." Sofia berusaha beramah tamah seperti yang lainnya.


"Kirana anak tunggal, tapi sepupunya banyak, jadi ya beginilah."


"Sama saja, Bu. Saya dan Papinya Darren  juga anak tunggal, tapi anak kami banyak." Sofia sedikit tertawa.


"Ah, benar juga. Semoga Kirana dan Darren juga punya banyak anak seperti Ibu dan Bapak ya?"


"Aamiin." Obrolan di antara berlangsung dengan hangat.


"Kalau istrinya Daryl sudah hamil juga kah? Menikahnya kan sama-sama ya?" celetuk seseorang di antara mereka, yang merupakan kerabat dari keluarga Kirana. Yakni sang tante yang duduk paling depan bersama sang tuan rumah.


"Sepertinya … belum, tapi kami belum tahu ya, Nania?" Sofia menoleh ke arah menantunya yang terdiam.


"Umm … ya, belum." Nania menganggukkan kepala.


"Ah, tidak apa-apa. Memang setiap orang itu beda-beda ya? Ada yang cepat hamil ada yang lambat. Bahagianya yang cepat diberi kepercayaan berupa keturunan, tapi untuk yang belum jangan berkecil hati. Semoga segera menyusul." katanya, dengan kekehan kecil.


"Iya, Bu. Aamiin." Sofia menanggapi lagi.


"Seperti anak saya, Raisa. Dua bulan lalu dia baru menikah, tapi sekarang sudah hamil lho. Nggak nyangkan kan?" Dia kembali berbicara yang membuat beberapa orang terdiam.


Terutama Daryl yang keningnya sedikit menjengit.


"Oh ya? Selamat ya untuk Raisa?" Sofia menjawab dengan raut canggung namun beberapa anggota keluarga di belakang sama-sama memicingkan mata.


Dan Rania mengekspresikan reaksi yang lebih keras ketika napasnya terdengar mendengus, yang disadari oleh Dimitri.


"Iya Bu, terima kasih. Bahagia lho saya, padahal baru nikah, eh Tuhan sudah percaya memberi Raisa anak. Anugerah itu Bu." katanya lagi.

__ADS_1


"Ya ya ya, memang anak itu anugerah. Hehe … selamat ya sekali lagi?" Sofia tampak ingin menyudahi percakapan ini karena mulai membuatnya merasa tidak nyaman. Sementara orang tua Kirana pun tampak berusaha menghentikan kerabatnya tersebut.


"Iya Bu, makasih. Semoga Daryl juga cepat menyusul ya seperti Raisa?" Perempuan paruh baya itu tersenyum ke arah Daryl yang hampir saja menyemburkan makian jika saja Nania tak menghentikanya.


"Oh ya, bukannya Raisa itu sekolah kebidanan ya? Memangnya sekolahnya sudah lulus?" Tanpa diduga Rania buka suara.


"Oh, iya masih tapi cuti dulu karena hamil kan?" Perempuan itu kembali tertawa.


"Oh, cuti dulu? Padahal masih bisa sekolah sebenarnya ya?" Rania mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya, tapi Raisa memilih cuti saja. Tidak kuat ngidamnya, maklum hamil muda kan?"


"Begitu .... Terus nikahnya kapan? Kok kita nggak diundang sih?" Lalu dia melirik kepada anak perempuan yang dimaksud. Yang tampak malu-malu duduk bersama seorang pria seumurannya. Dan Rania memperkirakan jika itu adalah suaminya.


"Memang tidak pesta, Nak Rania. Hanya keluarga saja." Ibunya Kirana berniat mengakhiri percakapan ketika melihat gelagat tak biasa di wajah tamunya.


Tentu saja, ucapan kerabatnya mungkin saja membuat mereka merasa tersinggung? 


"Lho, kok nggak pesta? Kan sayang kalau anak perempuan nggak pesta? Ya minimal undang-undang gitu?" Rania menjawab.


"Eee … iya, hanya undang keluarga saja, Nak Rania." jawab ibu Kirana lagi.


"Gitu ya? Memang anak sekarang kalau nikahan banyakan sederhana ya? Nggak gelar pesta besar. Tapi bagus sih."


"I-iya."


"Kayak yang hamil duluan." celetuk Rania dengan mata menyipit. Dan ucapannya membuat semua orang terdiam.


"Zai!!!" Dimitri segera menghentikannya.


Namun perempuan itu menatap sepupu Kirana yang wajahnya memucat dan salah tingkah setelah dia mengucapkan hal tersebut.


"Dulu. Hehehe. Kalau ada yang nikahannya gitu kan suka digosipin hamil duluan ya? Tapi sekarang sih udah biasa, orang semuanya rata-rata begitu. Maksudnya pesta sederhananya lho, bukan hamil duluanya." Lalu Rania tertawa lagi. Sekalian saja dia membalas ucapan kerabat Kirana yang dia tangkap sebagai sindiran kepada iparnya.


Dia merasa puas saat mengetahui bahwa perkiraannya mungkin saja benar dengan melihat raut wajah perempuan yang mereka bicarakan itu.


"Kalau Nania sih santai ya, Nna? Mau sekolah dulu, lanjutin kuliah, terus mungkin kerja. Nikmatin masa pacaran dulu lah, soalnya mereka kan pacarannya sebentar cuma sebulan doang. Jadi ya … wajar lah ya kalau belum hamil? Orang lain malah ada yang belasan tahun nikah baru punya anak. Lah Nania sama Daryl baru hitungan bulan." ujarnya lagi, lalu Rania diam begitu orang di depan tak lagi berbicara.


Sementara Nania menoleh kepadanya dan dia menatap istri iparnya itu untuk beberapa saat.


***


"Ah, kenapa sih kalian malah pulang? Kan semalam katanya mau menginap di sini?" Kirana mengantar keluarga mertuanya yang sudah berpamitan untuk pulang.


"Lain kali aja ah kalau nggak ada Raisa sama mamanya. Aku sebel sama dia." Rania dengan segala kejujurannya.


"Hmm … maaf ya? Aku jadi tidak enak. Maaf ya, Nania kalau ucapan tante aku membuat tersinggung?"


Nania mengangguk pelan sementara Daryl tak mengucapkan apa pun. Namun wajahnya menyiratkan ketidak sukaan atas apa yang didengarnya barusan. Dan Kirana menyadari itu.


"Aku sih kalau jadi kamu bakalan negur tante kamu deh. Kamu juga, Ren. Nggak baik tahu ngomong kayak gitu di depan orang. Sama aja kayak menghina. Kita kan nggak tahu gimana keadaan orang yang diomongin." ucap Rania lagi yang memang tidak pernah menutupi perasaannya pada apa pun.


"Iya, Kak. Maaf." Kirana tak banyak menjawab.


"Bukan kamu yang salah, tapi tante kamu yang nggak punya empati sama orang. Kayak dia orang suci aja. Aku jadi pengen tahu deh, perkiraan aku ini bener nggak sih? Kok aku curiga?"


"Soal apa?"

__ADS_1


"Sepupu kamu yang udah hamil itu. Aku curiga dia hamil duluan." Nania tertawa cukup keras sementara Kirana hanya terdiam.


Ah, kayaknya bener? Batinnya.


"Maafin aku juga ya? Aku orangnya emang kayak gini, nggak bisa nahan diri kalau ada orang belagu. Jangankan orang lain, keluarga sendiri aja kalau berulah aku tindak, apalagi orang lain."


Kirana menganggukkan kepala. Sedikit banyak dia sudah mengetahui karakter dari anggota keluarga suaminya. Dan apa yang dilakukan sang tante memang tak bisa dimaklumi juga, dia mengakui itu.


"Kami pamit ya, Ki?" Sofia menyudahi perbincangan, sebelum Rania bicara lebih banyak lagi. Dia sangat tahu bagaimana sifat menantunya yang satu itu.


"Maaf ya Ma?" Mereka pun berpelukan.


"Tidak apa-apa, kami maklum."


Kemudian mereka segera pergi meski ocehan Rania masih terdengar membahas kejadian beberapa saat yang lalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jangan dipikirkan." Daryl menemukan Nania yang tampak melamun sejak kepulangan mereka dari rumah Darren.


Perempuan itu langsung naik ke peraduan setelah membersihkan diri dan tanpa mengucapkan apa-apa. Padahal biasanya dia sangat cerewet apalagi menjelang tidur.


"Apa?" Nania mendongak.


"Jangan pikirkan ucapan tantenya Kirana. Tidak penting." Daryl pun naik ke tempat tidur lalu duduk di sampingnya.


"Nggak ih, aku cuma capek." Nania pun menjawab ucapannya.


"You are a bad liar." Pria itu kemudian menjatuhkan kepalanya di pangkuan Nania.


"Kamu tidak bisa menyembunyikan apa pun dariku."


Nania terkekeh.


"Just don't." Dia menatap wajah istrinya lekat-lekat.


"Kamu nggak seneng kalau misal kita cepet punya anak?" Perempuan itu mengusap rambut di kepala suaminya.


"Senang, tapi kan kenyataannya kita belum diberi kepercayaan. Lalu apa masalahnya?"


Nania terdiam.


"Stop!! Pernikahan kita baru hitungan bulan kan? Dan seperti yang Rania katakan bahwa itu hal yang biasa, jadi tidak harus terlalu dipikirkan. Dan aku harus mengakui jika aku sependapat dengannya kali ini."


"It's okay, we have so much time." Daryl bangkit kemudian memeluk dan mencium perempuan itu.


💖


💖


💖


Bersambung ...


Ada yang sependapat? 😩


Capek tahu ditanya masalah kehamilan. Kayak nggak ada bahan obrolan lain aja.

__ADS_1


Baca novel online kek biar nggak julidin orang? 🙈🙈


Cuss like komen sama hadiahnya kirim lagi buat Tante Nna biar tetep semangat.


__ADS_2