The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Ulat VS Naga


__ADS_3

💖


💖


Sofia menatap gadis itu yang keluar dari kamar mandi dibantu oleh seorang asisten rumah tangganya. 


Langkahnya pelan dan tertatih, terlihat sekali jika dia sangat kesakitan. Pasti karena apa yang terjadi kepadanya semalam.


"Duduklah di sini." Perempuan itu menepuk sisi kosong di sampingnya. Dan Nania dibantu asisten rumah tangga melakukan apa yang dia katakan.


"Umm …." Nania sempat menolak ketika mereka akan membantunya berpakaian.


"Tidak usah malu." ucap Sofia yang menarik bathrobe dari tubuh kecil gadis itu.


Namun seketika dia menahan napas ketika melihat punggung Nania dipenuhi lebam membiru, dan beberapa di antaranya seperti luka lecet.


Gadis itu menutupi dada dengan kedua tangannya, dan nampak pula lah tubuh bagian depannya juga mengalami hal yang sama.


"Apa yang telah mereka lakukan kepadamu?"  Sofia menatap lebam-lebam itu dengan perasaan yang entah harus dia sebut apa.


"Ambil salep nya, Bi." katanya, kepada asisten rumah tangganya yang kemudian menyerahkan satu tube salep yang isinya berupa gel sebening kristal. 


Sofia membantu mengusapkannya pada punggung Nania dan seketika gadis itu menggigil karena merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya. Yang setelah beberapa saat menyamarkan rasa sakit bekas tendangan dan pukulan yang dilakukan oleh Sandi kepadanya.


Lalu asisten rumah tangga segera membantunya berpakaian.


"Apa kamu sering mengalami hal ini?" Sofia memulai percakapan.


Dia juga mengoleskan gel tersebut pada lebam di wajah kemudian memeriksa luka jahitan di atas alisnya.


Nania belum menjawab.


"Katakanlah, agar kami bisa membantumu." ucap Sofia lagi, seraya menyisir rambut hitam gadis itu pelan-pelan.


"Kamu tahu, terkadang kita harus bicara agar orang-orang bisa membantumu."


Nania masih terdiam.


"Kami ingin membantumu karena percaya kalau mungkin kamu sedang dalam bahaya. Jadi satu-satunya cara untuk menyelamatkanmu adalah dengan berbicara." Sofia terus berusaha membuatnya buka suara.


"Tidak usah takut, ini adalah tempat paling aman di dunia, jadi kamu bisa mengatakan apa pun."


Gadis itu masih bungkam, tapi dia berpikir.


"Tidak apa-apa kalau memang tidak mau bicara. Tapi kamu harus tahu bahwa kita tidak bisa memendam segalanya sendirian. Berbahaya karena bisa merusak diri sendiri. Bicaralah kepada siapa pun yang kamu percayai. Mengadulah, dan katakan semuanya agar bebanmu sedikit berkurang." Perempuan itu berujar.


"Saya tinggal ya? Sebentar lagi ada yang akan mengantarkan makanan untukmu." Sofia bangkit dan dia berniat untuk keluar dari kamar ketika tiba-tiba saja Nania terisak.


Perempuan itu mengurungkan niatnya, lalu dia kembali duduk.


"Nania?"


Gadis itu terus terisak saat Sofia mengusap punggungnya. Segala hal seperti memaksa untuk keluar dan kali ini dia sudah tidak tahan lagi.


"Sayang, tidak apa-apa." Sofia lantas memeluknya dan seketika tangis Nania pecah di pundaknya.


Untuk beberapa saat perempuan itu membiarkannya mengeluarkan segala yang dia pendam sendirian.


Entah itu rasa sakit, marah atau kesedihan. Dia pasti telah melewati fase hidup yang rumit di usia semuda ini, dan hal itu membuatnya sulit berbagi masalah dengan orang lain.


"It's oke, menangis saja. Itu mungkin akan mengurangi rasa sakitnya." Sofia menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.


Lalu tiba-tiba saja Nania mengatakan segala hal kepadanya. Segala yang dialaminya sejak kecil hingga sebesar ini. Dari mulai perpisahan kedua orang tuanya dan kesengsaraan juga perjuangan yang dia lalui bersama sang ayah.


Belum lagi segala bentuk kehilangan yang akhir-akhir ini menimpanya, termasuk lepasnya kepemilikan satu-satunya rumah yang ditinggalkan pria itu untuknya.


Dan puncaknya adalah peristiwa semalam ketika Sandi, sang kakak tiri yang berniat menjualnya kepada bandar judi untuk mendapatkan uang dan melunasi hutang. Yang dia lawan dan mengakibatkan pria itu marah dan menghajarnya habis-habisan.


Sofia memejamkan mata dan seketika tetesan bening juga meluruh di pipinya. Rasa sakit dan kesedihan itu pun sampai kepadanya, sehingga dia tidak tahu harus mengatakan apa.


Yang Sofia lakukan hanya memeluknya dan membiarkan gadis itu melampiaskan perasaannya.


***


"What happen?" Daryl berada di depan pintu ketika Sofia keluar.


"Kita bicara di bawah." Sofia mendorong putranya turun ke lantai bawah.


"Tapi dia belum makan."


"Nanti, sekarang biarkan Nania istirahat."


"But Mom?"


"Ini sangat serius."


Kemudian mereka berkumpul di ruang tengah.


"Sepertinya Nania bukan hanya mengalami penganiayaan biasa. Dia juga korban traficking, pemerasan dan penipuan." Perempuan itu mulai berbicara.


"Apa?" Daryl dan Satria bersamaan.


"Dan jika saja dia tidak kabur, kemungkinan akan jadi korban pemerkosaan juga."


Daryl sempat menahan napas sebentar.


"Dan itu yang membuatnya dipukuli hingga separah ini. Hampir sekujur tubuhnya memar, dan itu hanya yang terjadi semalam. Kita tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya."


"Kurang ajar!" Daryl bergumam. "Mungkin itu yang membuatnya tinggal di kedainya Ara?"


"Bisa jadi."


"Kenapa dia tidak berbicara?" Daryl mengusap wajahnya.


"Orang seperti Nania sulit untuk berbicara soal keadaannya. Dia akan memilih diam karena mungkin tidak akan ada yang bisa membantu."


"Aku bisa membantu." 


"Bagi Nania, tidak mudah untuk mempercayai orang lain. Karena orang terdekatnya saja menyakiti dia."


"Astaga!!"


"Semalam dia dibohongi. Dikabari ibunya sakit dan diajak untuk melihat ke rumah sakit, tapi nyatanya malah dibawa ke tempat asing. Penuh dengan laki-laki mabuk dan Kakaknya menukarnya dengan sejumlah uang dan sebagai pelunasan hutang kepada bandar judi."


"Bajingan!!" Daryl menggeram.


"Itulah sebabnya dia mungkin masih dalam bahaya."


"Tidak jika dia bersamaku." Pria itu menyalakan ponselnya.


"Kau harus melakukan sesuatu untuk menebus kesalahanmu, Regan." Daryl mulai berbicara.


"Ya Pak?" terdengar suara dari seberang.


"Cari tempat judi di sekitar rumah orang tuanya Nania, dan bawa bandar judinya ke markas."


"Baik Pak."


"Dan … ratakan tempatnya sekalian!" Kemudian dia mematikan sambungan.


Daryl menatap kedua orang tuanya secara bergantian, lalu dia tersenyum lebar.


"Sekalian membantu polisi memberantas perjudian, Pih." katanya, lalu dia beranjak.


"Kenapa aku merasa semakin hari dia semakin mirip denganmu ya?" Sofia mengerutkan dahi, sambil menatap punggung putranya yang satu itu.

__ADS_1


Namun Satria hanya tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ayo Malyshka, makanlah! Jangan membuatku khawatir!" Daryl membujuk Nania untuk memakan makanan yang disodorkannya.


"Nanti Pak, belum lapar." tolak Nania.


"Ini bukan soal lapar atau tidak, tapi kamu harus makan."


"Iya saya tahu. Tapi nanti aja." Gadis itu memalingkan wajah.


"Malyshka, come on!!"


"Ish, Bapak maksa deh? Saya kan belum lapar, mana ini mulut rasanya nggak enak lagi, ahh!" Dengan kesal dia meraup makanan yang Daryl sodorkan ke dekat mulutnya, lalu dia kunyah dengan cepat.


Pria itu tersenyum dan dia mengulanginya sampai beberapa kali. Meraup makanan dengan sendok kemudian menyuapkannya kepada Nania.


"Menurutlah Malyshka!" Daryl melembutkan suaranya.


"Nama saya Nania, Pak. Sejak kapan jadi Malyshka? Itu yang kasih nama ayah saya lho, bapak seenaknya main ganti aja!" Nania mendelik kesal.


"Aku nggak mengganti namamu. Itu hanya panggilanku saja."


Nania memutar bola matanya.


"Want to know what it's mean?"


"Apaan?"


"It's mean little baby, honey, sweetheart or … my love jika itu digunakan untuk sepasang kekasih." Daryl tersenyum menatap wajah gadis itu yang terdiam dengan pipinya yang sedikit merona.


"Cepatlah makan lagi, aku harus pergi setelah ini!" Daryl kembali memberinya makan.


"Saya juga bisa sendiri, Pak." Nania hampir meraih sendok dari tangan pria itu.


"It's oke, just let me do it." ucap Daryl yang sempat menjauhkan sendok dari jangkauan Nania.


"Kak Nania!!!" Lalu tiba-tiba saja dua bocah menerobos pintu yang semula tertutup rapat. Membuat dua orang yang sedang saling meraba perasaan itu cukup terkejut.


"Look!! Heimlich nya nggak mau makan!!" Zenya mendekap sebuah toples kaca yang di dalamnya ada seekor ulat daun berwarna hijau dengan ukuran yang cukup besar.


"Aku bilang dia mungkin sakit!" Anya menyahut.


"No!!! He just sleeping!"


"Dia sakit Zen!"


"I said sleeping!"


"Heh heh heh!! Apa sih ribut-ribut?"


"Look Om!! Heimlich diam aja." Zenya menyodorkan toples tersebut kepada pamannya.


"Ish!! Singkirkan ulat itu!! Menjijikan!!" Daryl memalingkan wajahnya.


"He's cute!"


"Cute kepalamu!! Lagi pula kenapa juga kamu panggil dia 'He'? Memangnya dia laki-laki?"


"I know he was a male. ( aku tahu dia laki-laki.)"


"Tahu dari mana? Memangnya dia pakai celana?"


"No, … he just …."


"Atau di juga punya ulat?" Daryl tertawa. "Aneh sekali masa ulat punya ulat? Hahahah."


"Om Der is right. Dari mana kamu tahu kalau Heimlich itu laki-laki, Zen?" Anya juga bertanya.


Tawa Daryl menyembur seketika.


"Mungkin sama dengan punyamu." katanya, dan dia tertawa terbahak-bahak.


"Maksud Om apa?" Anya beralih kepada pamannya.


"Itu, punya nya Zenya mirip Heimlich."


Dua anak itu terdiam.


"Emang kamu punya yang mirip Heimlich, Zen?" Anya kemudian bertanya kepada saudara kembarnya.


"Nggak cuma Heimlich yang ini." Zenya menyodorkan toples kepada kakaknya.


"Tapi Om Der bilang punya kamu mirip Heimlich?"


"Nggak ada."


Tawa Daryl menjadi semakin keras menyimak percakapan keponakan kembarnya.


"Om Der bohong! Zenya cuma punya nya Heimlich doang."


"Ya ya ya. Ahahaha!" Daryl terus tertawa.


"Bapak ih, ngotorin otaknya anak-anak." Nania menepuk paha pria itu.


"Mengotori apa? Aku kan hanya bicara soal ulat?"


"Tapi nyama-nyamain sama …." Nania menggantung kata-katanya.


"Apa?"


"Itu …."


"Itu apa?"


"Punya nya … Zenya?"


"Punya nya Zenya apa?"


"Umm … ulat?"


"Otakmu yang mulai kotor!" gumam pria itu sambil menyeringai.


"Ish!!" Nania kembali menepuk pahanya, kali ini lebih keras.


"Aww!! Sakit tahu!!" Daryl bereaksi sambil mengusap-usap pahanya.


"Nyebelin bahas kayak gitu di depan anak-anak?"


"Apa? Aku membicarakan ulat!"


"Ish!!" Nania mendelik.


"Mau lihat ulat punyaku?" Pria itu malah meneruskan kelakarnya.


"Bapak!!!" Lalu Nania menutup telinga dengan kedua tangannya.


"Om juga punya ulat? Mana aku lihat?" Anya bereaksi.


"Ee …"


"Ulat daun kayak Heimlich bukan? Kemarin katanya takut sampai lari-lari waktu di Bogor? Tahunya punya juga?"


"Ahhh, diamlah!!"

__ADS_1


"Di mana Om, ulatnya? Aku mau lihat!!" Zenya antusias.


"Tidak ada!"


"Tadi katanya ada ulat, mau dilihatin sama Kak Nania. Sama aku nggak mau?"


"Ish!! Kalian ini!"


"Pasti ulatnya kecil nggak kayak Heimlich." cibir Zenya yang memeluk toples ulatnya


"Hey!! Sembarangan!" Pria itu meletakkan mangkuk berisi makanan Nanka di atas nakas.


"Buktinya nggak mau ngasih lihat?"


Nania menutup mulut dengan tangannya untuk menahan tawa.


"Kamu lagi menertawakan aku ya?"


Gadis itu menggelengkan kepala.


"Om sebenarnya nggak punya ulat." Daryl beralih pada dua keponakannya.


"Tuh kan, Om bohong!"


"Iya, bukan ulat."


"Terus apa?"


"Naga."


"Hah? Naga?"


"Hmm …." Daryl mengangguk.


"Om bohong! Kata Papi naga itu nggak ada." Anya mengarahkan telunjuk ke wajah pamannya.


"Serius, ada."


"Aku nggak percaya. Ada juga naga komodo."


"Heh, ini naga yang lain."


"Masa?"


"Ada punya Om."


"Mana?"


"Nggak bisa dilihat, karena naganya ajaib."


"Masa?"


"He is special."


"Ah, Om bohong!"


"No!!"


"Anya, Zenya, ayo mandi dulu, Nak? Sudah sore. Sebentar lagi Mommy pulang." Sofia masuk ke dalam kamar.


"Wait Oma. Aku lagi nungguin naga." Zenya menjawab.


"Naga?"


"Ya, naga sama ulatnha Om Der." Anya menyahut.


"Naga dan ulat?"


"Ee … itu Mom …."


"Kamu sejak kapan memelihara ulat? bukannya takut ya?" Sang ibu berujar.


"Tuh kan? Om Der kan takut ulat? Pasti bohong soal ulat sama naga ini?"


"Iya, mana mau dikasih lihat sama Kak Nania lagi, huuhhh bohong!"


"Apa?" Sofia bereaksi atas ucapan kedua cucunya.


"Ee … bukan begitu maksudnya … tapi …."


"Daryl!!!"


"No, Mom! Jangan salah faham!! Ini soal …." Lalu ponsel di saku celananya berbunyi.


"Ya?" Daryl menjawab panggilan.


"Misi selesai, Pak." ucap pria dari seberang.


"Benarkah? Bagus." jawab Daryl yang kemudian bangkit dari duduknya.


"Kau bawa orangnya?" lalu dia bertanya.


"Ya Pak."


"Sudah kau ratakan tempatnya?" Daryl bertanya lagi.


"Sudah Pak."


"Kerja bagus."


"Terima kasih Pak."


"Baik, aku ke sana sekarang juga." katanya, lalu dia mengakhiri percakapan.


"Oke, Mom. Aku pergi dulu." Daryl memasukkan ponsel kembali ke dalam saku celananya.


"Ke mana?"


"Ada sedikit urusan, mungkin pulang malam."


"Urusan apa?"


"Something."


"Hmm …."


"Aku pergi ya, Malyshka? Habiskan makananmu!" Dia menepuk puncak kepala Nania sebelum akhirnya pergi.


💖


💖


💖


Bersambung ...


Hadeh ... Bahasan apa itu ya?🤣🤣🤣🤣


Kuy genks, like komen hadiah sama votenya kirim lagi.


Alopyu sekebon😘😘


Ini Heimlich, ulatnya Jejen. Kira2, ulatnya Pak Daryl gimana ya?😂😂😂


__ADS_1


__ADS_2