
💖
💖
Semakin lama Daryl merasakan hal ini semakin nikmat saja. Setiap sentuhan yang dia berikan menghasilkan reaksi yang luar biasa dari Nania.
Suaranya, ekspresinya, dan gerakan tubuhnya. Segala yang ada padanya tampak begitu mempesona. Dan membuat dirinya semakin tidak sabar.
"Ah, … pelan-pelan!" rintih Nania ketika Daryl kembali memasukinya. Dan ini sudah ke tiga kalinya mereka melakukannya, padahal waktu sudah hampir subuh.
Pria itu terjaga dan dia kembali menyentuhnya setelah keluar dari kamar mandi.
Tanda merah bekas ciuman sudah bertebaran di mana-mana, dan itu masih belum cukup. Karena baginya, ini merupakan hal yang paling dia sukai. Menandai Nania sebagai miliknya meski tanpa itu pun semua orang sudah tahu.
Daryl menghentak tanpa menghentikan cumbuan dan itu membuat Nania kembali lupa dengan rasa sakitnya. Semua berubah menjadi indah dan menyenangkan dalam hitungan detik saja.
"Daddy!!" racau perempuan itu dengan kedua tangannya yang meremat punggung kokoh Daryl.
Napasnya sudah memburu dan mereka tak lagi bisa mengendalikan diri. Sesuatu dari dalam tubuh terus mendesak dan ingin segera dituntaskan.
Pria itu mempercepat hentakannya saat merasakan milik Nania terus berkedut kencang. Dan dia sudah tak lagi bisa menahannya.
"Daddy!!" erangannya menjadi semakin kencang dan tubuh Nania pun mengejang seiring pelepasan yang kembali menyerang.Â
Dan Daryl pun nenekan pinggulnya dengan keras saat dia juga merasakan hal yang sama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nania tidak bekerja, Der?" Sofia melirik jam besar di dekat tangga ketika putranya turun.
"I guest …." Daryl menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, dan dia sudah melewatkan sarapan bersama.
"Mungkin tidak, Mom." jawabnya kemudian.
"Kenapa?"
"She's a … little bit … sick. Ya."Â
"Sakit? Semalam tidak apa-apa? Sakit apa? Demam?"Â
"Eee … sedikit tidak enak badan."
"Hmm …."
"Hanya biarkan saja dia istrihat, jangan mengganggunya." ucap Daryl yang melenggang ke belakang rumah di mana ruang olah raga berada. Wajahnya terlihat cerah ceria dan dia sedikit bersenandung.
Sepertinya sedang bahagia? Batin Sofia.
"Omaaaa!!!" Dua bocah berlari dari luar diikuti ayah dan ibu mereka.
"Hey … kenapa baru ke sini? Dari semalam Oma tunggu-tunggu?" Sofia menyambut kedatangan cucunya.
"Kan ada Mommy. Jadinya Papi mau di rumah aja." jawab Anya yang duduk di pangkuan neneknya.
"Berapa balapan yang tidak kamu ambil, Ran?" Satria meletakkan buku bacaannya.
"Minggu ini aja, Pih. Kayaknya cukup untuk istirahat."
"Hmm …."
"Lagian masa yang ambil raportnya anak-anak sama pengasuhnya? Kan nggak lucu." Mereka duduk di sofa.
"Oh ya? Anya dan Zen sudah ambil raport?" Satria menarik Zenya kemudian mendudukkannya di pangkuan.
"Belum, kan baru mau?" jawab Anak itu.
"Nanti siang, Pih. Sekalian wisudaan, kan Anya dan Zenya sudah lulus." Sahut Dimitri.
"Oh ya? Setelah ini masuk SD?" Sang kakek bertanya.
"Hu'um, aku udah gede sekarang." Zenya menganggukkan kepala.
Satria tertawa.
"Tante Nna pergi kerja?" Lalu anak itu turun dari pangkuan.
"Tidak, masih ada di atas." Sofia menjawab.
Lalu Zenya berlari ke arah tangga.
"Eh, mau ke mana?" Sofia sedikit berteriak.
"Mau ke Tante Nna!"
"Jangan!" Sofia menghentikannya. "Tante Nna sedang sakit, jadi tidak boleh diganggu."
"Sakit apa?"
"Hanya tidak enak badan." Dia menarik cucunya kembali.
"Nggak enak badan kenapa?"
"Mungkin kecapean?"
"Kecapean kenapa?"
"Karena habis kerja."
"Kerja terus? Om Der yang suruh ya?" Mereka kembali ke ruang tengah.
"Pokoknya jangan diganggu ya? Nanti Om Der bisa marah?"
"Aku kan mau lihat Heimlich. Udah jadi kupu-kupu apa belum?" Zenya berujar.
"Lihat sendiri kan bisa?"
"Nggak mau ah, mau tunggu Tante Nna aja."
Lalu anggota keluarga lainnya pun tiba. Tiga cucu diikuti kedua orang tua mereka yang segera membuat suasana rumah menjadi ramai.
"Lho, Arkhan di mana? Kenapa tidak ikut?" Sofia mencari satu cucu yang tidak hadir.
"Barusan mampir ke rumahnya Galang."
__ADS_1
"Tidak menginap di sini?"
"Ada janji ke SUNMORI besok, jadi pasti menginap di sana lagi." jawab Dygta yang kemudian duduk di tempat yang kosong.
"Oh, sekarang Arkhan kalau hari minggu ada kegiatan ya?"
"Begitulah, dari pada terus main hape di rumah kan?"
"Apa aman?"
"Kalau dengan Galang pasti aman. Lagi pula Papanya juga tidak akan tinggal diam kan?" Semua orang menatap Arfan.
"Ya … apa pun akan dilakukan agar anak tetap aman kan?" ucap pria itu yang membuat semua orang tertawa. Mereka mengerti apa yang pria itu maksud.
"Daryl pergi kerja di hari Sabtu?" Dygta mencari keberadaan adiknya yang satu itu.
"Sepertinya pergi nanti siang, ada seleksi model di Fia's Secret. Tapi sekarang sedang olah raga."
"Nania masih kerja?" Dygta bertanya lagi.
"Masih, tapi sekarang tidak berangkat. Dia sedang sakit."
"Sakit apa?"
"Tidak tahu, mungkin hanya tidak enak badan. Hari ini belum keluar dari kamar. Padahal biasanya turun paling pagi."
"Jangan-jangan ngidam? hahaha." celetuk Rania.
"Masa baru seminggu?" Dygta menyahut.
"Bisa aja, Kak. Kan sekarang semuanya serba instan. Kali hamil juga begitu?"
"Sembarangan! Memangnya kopi bisa instan?" Daryl muncul setelah menghabiskan waktu sebentar untuk berolah raga.
"Eh, kirain nggak ada orang?"
"Ah, ada orang juga tetap jadi bahan ghibah?"
Rania tertawa.
"Om, Tante Nna udah bangun belum?" Zenya bertanya kepada pamannya.
"Jangan ganggu! Tante Nna nya sedang sakit." Daryl pun melenggang ke arah tangga.
"Sakit apa? Om suruh kerja terus ya?" Anya mengikutinya, begitu pun Zenya.
"Buka urusan kalian, anak kecil!" Pria itu menjawab.
"Aku sama Zen sebentar lagi SD loh, bukan anak kecil lagi?"
"Masih anak-anak." Dia berhenti di depan pintu kamar, kemudian berbalik dan mendapati dua keponakannya yang mengikuti di belakang.
"Kalian mau apa?" Lalu dia bertanya.
"Mau ikut ke dalam." jawab Anya dengan tatapan berbinar.
"Tidak boleh."
Pria itu membuka pintu kemudian segera masuk tanpa menunggu jawaban kedua keponakannya.
"Huh, aneh sekali masa aku perbolehkan anak-anak masuk ke sini?" Dia bergumam di belakang pintu yang dikunci rapat-rapat.
***
Nania menggerakkan kepalanya ke kanan ketika mendengar suara pintu terbuka dan tertutup dengan cepat. Diikuti gumaman dari suaminya.
"Apa aku membangunkanmu?" Daryl segera mendekat.
Nania tercenung beberapa saat untuk mengumpulkan kesadarannya yang sempat memudar. Pergumulan mereka yang berulang subuh tadi membuatnya cukup kelelahan.
"Hey, Malyshka?" Daryl menatapnya yang tampak berantakan.
Perempuan itu mengerjap dan pandangannya dia alihkan kepada suaminya.
"Are you alright?" tanya Daryl yang kemudian duduk di pinggiran tempat tidur.
"Umm …." Nania perlahan bangkit sambil meringis ketika merasa kesakitan di area bawah perutnya.
"Sakit ya? Hehe." Pria itu mengusap punggung telanjangnya.
"Umm … jam berapa ini?" Nania dengan suara serak khas bangun tidur.
"Setengah sebelas." Daryl melepaskan kausnya yang berkeringat.
"Jam sebelas? Aku terlambat pergi kerja!" Nania mengusap wajahnya.
"Aku sudah menelfon Ara kalau hari ini kamu tidak akan bekerja."
"Libur terus?" Nania yang menoleh, lalu matanya membelalak ketika melihat suaminya sudah melepaskan pakaian.
Oh, jangan lagi! Gumamnya dalam hati.
"Memangnya kamu mau bekerja dalam keadaan seperti ini? Yang benar saja, memangnya sekuat itu ya?"
"Umm … nggak juga. Badan aku sakit semua." Nania memijit tengkuk dan pundaknya yang terasa pegal-pegal, lalu meregangkan tubuhnya yang benar-benar terasa remuk.
Kayak habis ditabrak banteng! Batinnya.
Daryl mencondongkan tubuhnya, kemudian mengulurkan tangan.
"Jangan lagi! Nggak mau!!" Perempuan itu menghindar.
"Apa?"
"Udah dulu, badan aku sakit semua!!" dia mengulangi kalimatnya.
"Apa sih kamu ini? Aku mau ambil hape?" Pria itu meraih ponselnya di atas nakas, lalu dia melakukan panggilan telfon.
"Ya hallo? Aku datang setelah makan siang, audisinya sudah dimulai?" katanya pada sekretaris.
"Belum Pak, tapi pesertanya sudah banyak." Jawab Dinna.
"Ya sudah, biarkan saja mereka menunggu." ucap pria itu.
__ADS_1
"Baik, Pak."
"Oke." Lalu dia memutuskan panggilan.
"Hmm …." Daryl tiba-tiba tersenyum.
"Apaan?" Nania merapatkan selimut yang menutupi tubuh bagian depannya.
"Ayo kita mandi sebelum aku pergi?" ucap pria itu yang menarik selimut tersebut.
"Mandi?"
"Ya, mandi bersama."
"Mandi aja kan?"
"Memangnya kamu mau lebih dari mandi? Oke …." Daryl menyeringai seraya menyingkirkan selimutnya.
"Nggak! Ampuun! Mandi aja! Aku mandinya nanti aja." Namun terlambat, pria itu sudah mengangkatnya dalam gendongan lalu membawanya ke dalam kamar mandi.
"Nggak! Jangan masukin aku ke bathub, aku takut air yang banyak, ingat?" Nania mengeratkan pelukan di pundak Daryl.
"Ini hanya bathtub, bukan kolam renang. Kamu nggak akan tenggelam!"
"Tetep aja itu airnya banyak! Aku nggak mau!!" Nania merengek.
"Astaga!!"
"Turunin, turunin! Mandinya nggak jadi!" pintanya sambil meronta.
"Ada-ada saja, kamu ini?" Daryl membawanya ke sudut lain kamar mandi di mana ruang berbilas berada lalu menurunkannya di bawah shower yang kemudian dia nyalakan.
Nania berdiri dengan tangan bertumpu ke dinding kamar mandi karena kedua kakinya yang bergetar. Dia hampir ambruk jika saja pria itu tak menahannya.
Air hangat mengalir membasahi tubuh mereka, dan Daryl segera melakukan bagiannya. Dia mengambil sabun yang tersedia kemudian membubuhkanya ke tubuh Nania. Lantas mengusap-ngusapkannya sehingga tak ada sejengkal pun yang terlewat.
Hal yang sama dia lakukan pada kepala perempuan itu setelah memberinya sedikit shampo. Yang juga dia lakukan kepada dirinya sendiri, hingga akhirnya mereka selesai dan sudah sama -sama bersih.
***
"Mau turun?" tawarnya setelah mereka selesai berpakaian.
Nania mengancingkan kemeja dan memastikan penampilan suaminya rapi seperti biasa.
"Iya." Perempuan itu mengangguk.
"Apa bisa jalan?" Daryl terkekeh.
"Bisa, tapi pelan-pelan. Rasanya aneh di sini." Dia menunjuk ke bawah perutnya.
"Anehnya kenapa?"
"Kayak ada sesuatu yang mengganjal."
Daryl tertawa.
"Ketawa terus, seneng ya? Ini sakit tahu!" Nania sedikit mendelik.
"Sakit-sakit tapi semalam kamu memelukku sangat kencang?" ucap Daryl yang seketika membuat kedua pipinya merona.
"Bagaimana rasanya? Indah bukan?" Pria itu mulai menggodanya.
"Ayo, kita ulangi lagi sebelum aku pergi?"
"Umm …."
"Ayo, Malyshka!!" Daryl menundukkan wajahnya untuk meraih bibir Nania.
"Jangan dulu, masih sakit." Namun dia menahan mulut pria itu dengan tangannya.
"Hmm …." Daryl menggumam.
"Nanti ya?"
"Kapan? Nanti malam?"
"Eee … besok?"
Pria itu memicingkan mata.
"Se nggaknya sampai sakitnya agak reda."
Daryl terdiam.
"Besok kamu libur kan? Aku juga mau libur lagi, atau kayaknya mau berhenti kerja aja?"
"Serius?" Dia menarik diri.
"Hu'um, kayaknya aku harus berhenti kerja?"
Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Kamu seneng kalau aku berhenti kerja?"
"Ya, tentu saja."
"Aku akan ada di rumah seharian."
"Tidak apa-apa, tunggu aku pulang."
"Hmm … kalau itu bikin kamu senang."
"Yeah, that's good!" Daryl tertawa, lalu dia meraih tangan Nania dan membawanya keluar dari kamar.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Cie cieeee ....🤣🤣🤣
__ADS_1