
💖
💖
Daryl melipat kedua tangannya di dada dengan wajah merengut. Sementara Nania disibukkan dengan dua anak kecil yang meminta banyak hal kepadanya.
Beberapa saat kemudian Darren dan Kirana turun dari kamar mereka untuk sarapan sebelum pulang.
"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa ditekuk begitu? Tidak enak dilihat?" ucap Darren kepada sang kakak.
Daryl melirik dengan ekor matanya, lalu mendelik.
"Eh, ada keponakan tersayang? Kalian menginap juga ternyata?" Kemudian Darren menyapa Anya dan Zenya.
"Hai Om Ren, hai Tante Dokter?" Dua bocah itu melambaikan tangan dengan mulut penuh dengan makanan.
"Hai sayang? Di mana Mommy dan Papi? Belum turun?" tanya Kirana.
"No, nggak ada Mommy dan Papi." Zenya menjawab.
"Apa?"
"No Mommy, no Papi. Just us," sambung Anya, yang kemudian meneguk jus jeruknya.
"Really?" Darren melirik kepada Nania yang menganggukkan kepala.
"Aku sama Zen bobok sama Tante Nna lho semalam. Kan udah dibolehin." celetuk Anya.
Kemudian Darren beralih kepada Daryl yang masih diam dengan wajah tak enak dilihat.
"Pantas." Pria itu bergumam, kemudian duduk di seberang sang kakak sambil menahan tawa ketika dia memahami apa penyebab pria yang lahir beberapa menit lebih dulu darinya itu berwajah cemberut.
"Kenapa?" Kirana bertanya kepada suaminya.
"Umm … sayang, apa kamu mau langsung pulang?" Darren malah balik bertanya.
"Bukankah kamu bilang kita mau sarapan dulu?" ujar Kirana yang melihat gelagat aneh suaminya.
"Kamu kenapa sih? Matamu kelilipan ya? Sini aku lihat, apa ada debunya?" Perempuan itu membingkai wajah Darren ketika dia berkedip-kedip memberi isyarat.
"Ee … tidak, aku hanya …."
"Ehhmm!!!" Daryl berdehem dengan cukup keras, yang tentu saja membuat Nania terkejut.
"Bapak mau makan sekarang? Udah nggak marah lagi?" Gadis itu bertanya.
Darren hampir saja menyemburkan tawanya ketika mendengar hal tersebut.
"Umm … sayang, sepertinya aku ingin langsung pulang saja. Aku lupa setelah ini ada kumpul keluarga lagi." Kirana yang mengerti keadaan saat ini.
"Really? Oke, lets go home! Dan setelah itu langsung pulang ke rumah kita ya?" katanya, dan mereka segera bangkit.
"Kami … pulang duluan ya? Kalian masih mau di sini kan?" pamit Darren, kemudian dia tertawa.
Nania menganggukkan kepala, dan dua anak di dekatnya melambaikan tangan, sementara Daryl hanya mendelikkan mata. Mereka bahkan sempat melihat Kirana menepuk punggung Darren ketika dia kembali tertawa.
"Udah dong, jangan cemberut terus. Kan akunya jadi nggak enak kalau Bapak gitu terus?" Nania menggeser secangkir kopi yang mulai dingin ke hadapan suaminya.
"Kopinya keburu dingin lho? Lihat, Anya sama Zen juga makan kan? Nasi gorengnya enak. Mau coba nggak?" Gadis itu dengan lugunya juga menyodorkan piring berisi nasi goreng lengkap dengan irisan telur dadar dan acar.
Daryl menepisnya sambil memalingkan wajah ke arah lain.
"Ah, benaran kayak anak TK!" Nania bergumam, kemudian meletakkan kembali piring sarapan untuk Daryl.
"Maaf aku telat!" Suara khas yang tentunya sangat mereka kenal.
"Mommy!!!" Membuat dua bocah yang baru selesai makan itu berteriak kegirangan.
"Ck!" Namun Daryl berdecak sambil memutar bola matanya.
"Kagak usah begitu, adik ipar! Aku kan nggak sengaja ninggalin mereka di sini. Lagian aku kira mereka dibawa Mama." ucap Rania ketika jaraknya sudah dekat.
"I'm sorry, Mommy. Aku cuma mau nginep sama Tante Nna." Anya dan Zenya segera mendekat.
"Nggak apa-apa, tapi lain kali jangan begitu ya? Kalian bikin Mommy khawatir lho?"
"I'm sorry, i didn't mean that!" ucap Zenya dengan wajah menyesal.
"Nggak apa-apa katamu? They ruin my time!!" Daryl bereaksi.
"Nggak usah gitu, namanya juga anak-anak, mana ngerti mereka sama hal ginian? Aku minta maaf! Aku yang salah" Perempuan itu mengatupkan kedua tangannya di depan wajah.
"Kalian nggak ngerepotin Tante Nna, kan?" Lalu dia beralih pada kedua anaknya.
"No!!! I'm a good boy. Anya juga. Were sleep with Tante Nna." Zenya menjawab.
"Beneran, Nna?" Rania menoleh kepada Nania.
"I-iya, Bu. Eh … Kak." Gadis itu mengangguk.
"Apa katamu? Tidak merepotkan? Jelas-jelas mereka sangat merepotkan. Tidur di tempat tidurku, lalu memeluk istriku? Lalu apa lagi?" Daryl berujar.
"Iya, maaf. Sekarang aku bawa mereka pulang." Rania pun menjawab.
"Kenapa tidak dari semalam?" Daryl bergumam.
"Ka kamu sendiri yang bilang nggak usah dijemput karena mereka sudah tidur?" Rania mengingatkan percakapan telfon semalam.
"Ya maksa kek atau apa …." Daryl bergumam lagi."
"Dih!! Bilangnya gitu semalam. Kirain nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa kepalamu? Kepalaku yang pusing semalaman!"
Mereka terus berdebat, sementara Nania hanya menyimak di tengah-tengah.
"Udah ah, anak-anak harus sekolah." Rania merentangkan tangannya kepada dua anaknya, dan mereka segera berpamitan.
"Dah Om Der, dah Tante Nna. Nanti kita bobok bareng lagi ya di rumah Opa?" Anya melambaikan tangan.
"Yeah, dalam mimpimu saja!" jawab Daryl dengan masih kesal.
Dia bahkan masih bersungut-sungut meski kakak ipar dan keponakannya itu sudah pergi.
"Marah-marah terus?" Nania bergumam.
"Aku nggak marah-marah, Nna. Hanya kesal!"
"Kesal-kesal terus?"
Daryl menoleh kepada gadis itu.
"Kamu perhatian kepada anak-anak tapi tidak kepada suamimu!" Akhirnya dia berbicara.
"Ya kan anak-anak. Kalau nggak diperhatiin mereka nanti kenapa-kenapa. Kalau Bapak kan udah dewasa."
"Astaga!" Daryl mengusap wajahnya sendiri.
"Udah, jangan marah-marah terus. Makan gih?" ucap Nania lagi yang semakin membuat pria itu kesal dibuatnya.
"Ayolah kita pulang. Awas saja, aku akan segera membawamu pindah rumah setelah ini!" ucap Daryl yang menarik tangan gadis itu, dan segera membawanya pulang ke rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lho? Kalian sudah pulang saja? Mama kira masih di hotel?" Sofia menyambut kedatangan kedua anak dan menantunya pada hampir siang.
Beberapa kerabat masih berada di rumah besar yang juga tengah bersiap akan pulang.
"Yeah, kenapa juga lama-lama kalau bisa pulang cepat kan? Kalau ingat itu aku jadi kesal." Daryl menjawab.
"Kesal? Kesal kenapa?"
"Mama tidak tahu kelakuan cucu kesayangan Mama ya? Semalam kan mereka menginap di hotel bersamaku."
"Oh, Anya dan Zen?"
"Memangnya siapa lagi yang suka membuat kekacauan selain mereka?"
"Mereka jadi menginap? Bukankan Kakakmu datang menjemput?" Satria ikut berbicara.
"Aku larang, kasihan mereka sudah tidur juga." jawab Daryl.
"Oh …."
"Yeah, tidur di ranjangku bersama istriku. Hebat sekali kan?" Pria itu tersenyum sinis.
"Apa?"
"Hahahah! Hebat sekali malam pengantinku!!" Daryl melenggang ke arah tangga.
"Benar, Nna?" Sofia beralih kepada menantunya yang masih berada di sana.
"Benar, Bu. Eh … M-mah." Gadis itu tergagap.
"Duh, bencana ini?" Dan Sofia bergumam.
"Naniaaaaa!!!" Terdengar panggilan Daryl dari ujung tangga.
"Iya, Pak?" Lalu Nania segera berlari mengikutinya.
"Sini, duduk?" Daryl menepuk sisi sofa yang kosong di sampingnya, sementara Nania masih berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Tutup pintunya dan kunci!" ucap pri itu.
"Kunci?"
"Ya, kunci."
"Umm …."
"Cepat!"
"I-iya." Gadis itu melakukan apa yang diperintahkan.
"Come!" ucap Daryl lagi yang kembali menepuk tempat itu.
Nania segera mendatanginya dengan perasaan berdebar.
Kayak mau ujian. Bersiaplah Nania! Setelah ini hari-harimu tidak akan sama lagi! Pasti banyak hal yang terjadi, dan itu nggak akan biasa-biasa aja! Batinnya.
"Listen!" Daryl mulai berbicara.
"Usahakan jangan panggil Bapak terus, kita kan sudah suami istri?" katanya.
"Itu terus yang dibahas? Udah dibilangin belum terbiasa juga?" Nania menjawab.
"I know, tapi biasakan lah! Orang rumah mungkin faham, tapi orang lain? Mereka akan mengira kalau kamu ini pegawaiku!"
Gadis itu terdiam.
"Lagian aku bingung mau manggilnya apa?" ucap Nania kemudian.
"Kenapa bingung?"
"Aku harus manggil apa? Mas? Nggak enak. Abang? Mana ada abang-abang kayak Bapak? Nggak sesuai."
"Duh!" Daryl memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa nyeri.
"Enakan manggil Bapak, kan udan terbiasa." Nania terkekeh.
"Nanti orang-orang akan mengira kamu karyawan dan bukan istriku, Nna!" Daryl mengulang ucapannya beberapa saat yang lalu.
"Orang-orang siapa? Emangnya aku bakalan ketemu siapa?"
"Ya bisa siapa saja."
"Kayaknya nggak akan. Aku kan nggak ke mana-mana, paling kerja di kedai. Lagian, aku emang pelayan kedai?"
Daryl menatapnya lekat-lekat.
"Apaan?"
"Kamu masih mau bekerja?" Lalu dia bertanya.
"Ya masih lah, masa nggak? Kan awalnya aku kerja."
"Kamu ini sudah menikah lho, dan kamu adalah istriku. Daryl Stanislav."
"Terus?"
"Nikolai?"
"Ya, terus masalahnya di mana?"
Daryl terdiam.
"Tidak bisakah kamu berhenti saja?" pinta Daryl kemudian.
"Apa? Masa berhenti? Dari awal aku kerja, dari lulus SMP. Aku udah terbiasa. Terus kalau sekarang tiba-tiba nggak kerja, aku mau ngapain?"
"Ya … di rumah saja."
"Nggak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Ya … nggak kebayang aja aku bakal ngapain di rumah. Apalagi di sini."
"Memangnya kenapa kalau di sini."
"Banyakan diem. Aku nggak biasa, apalagi kalau Bapak pergi kerja. Aku sama siapa? hahaha." Gadis itu tertawa.
"Nanti kita pindah." Daryl mulai santai.
"Pindah ke mana?"
"Rumah kita sendiri. Aku sedang mencari yang sesuai."
"Nggak tinggal di sini?"
"Tapi rumah itu kan mahal." Nania berpikir.
"Ya, tapi itu investasi seumur hidup."
"Kan ada rumah aku! Kita pindah aja ke sana?" Nania dengan idenya.
"Negatif!" Daryl menggelengkan kepala.
"Kenapa? Jelek ya?"
"Bukan."
"Terus?"
"Terlalu jauh dari Fia's Secret."
"Terus Bapak beli untuk apa? Mana belinya tanpa perhitungan lagi?"
"Kan untuk mahar?"
"Ya maharnya berlebihan."
"Tapi kamu senang bisa mendapatkan rumah itu lagi kan?"
"Iya sih, tapi … uang Bapak habisnya banyak dong?"
"Tidak juga."
"Masa?"
"Yeah."
"Minta sama Mama ya? Dih, curang. Masa untuk mahar minta sama orang tua? Harusnya hasil kerja sendiri lho."
"Enak saja, siapa bilang?"
"Aku denger gitu. Kalau bisa mahar itu hasil kerja sendiri, bukan minta sama orang tua."
"Aku tidak! Kamu sok tahu!"
"Masa?"
"Dari tadi masa-masa terus?"
"Habisnya nggak percaya, masa Bapak ngabisin uang sebanyak itu?"
"Kamu meledekku ya?"
"Nggak, maksud aku … nggak enak aja."
"Kamu pikir apa yang aku berikan kepadamu itu pemberian orang tuaku?"
"Ya."
"Kamu salah."
"Apa?"
"Orang tuaku mungkin banyak uang, tapi mereka tidak selalu memberikan hal-hal semacam itu."
"Oh ya?"
"Ya."
"Terus dari mana Bapak punya uang sebanyak itu? Aku kan nggak tahu, masa dari penghasilan di Fia's Secret. Emang sebesar itu?"
"Kamu ingin tahu?"
"Iyalah."
Daryl menyandarkan punggungnya pada kepala sofa.
"Eh, tapi nggak penting juga ya? Hahaha. Masa aku nanya-nanya soal ini?" Nania tertawa lagi.
"No. Aku rasa memang penting."
Lalu dia terdiam.
"Aku memang disokong Papi sampai lulus SMA. Kuliah pertama pun masih dibiayai Papi, tapi waktu umur 19 tahun kami diberi semacam tanggung jawab soal keuangan. Waktu itu aku dan Darren, Kak Dim juga Kak Dygta diberi kekuasaan atas saham keluarga di Nikolai Grup."
Nania mendengarkan.
"Kami diberi masing-masing sepuluh persen kepemilikan saham, jadi dari sanalah penghasilanku. Dan sejak saat itu papi tidak lagi menyokong keuanganku. Selain untuk hal-hal tertentu. Dan untuk ukuran Nikolai Grup, sepuluh persen itu sangatlah banyak. Jadi tidak usah khawatir, kita tidak tergantung pada sokongan orang tuaku."
__ADS_1
Nania menatapnya.
"Kamu sangat khawatir kalau aku mengandalkan orang tuaku ya?" Daryl terkekeh.
"Cuma takut nantinya aku jadi benalu." Nania menjawab.
"Hey, kenapa kamu bilang begitu?" Daryl pun bereaksi.
"Bapak tahu, masuk ke sini aja udah kayak mustahil, terus aku hidup di sini sama yang lainnya. Terus rumah yang udah dibeli lagi … kan itu kayak …."
"No! Pikiranmu terlalu jauh, Nna!"
"Keluargaku tidak pernah meributkan hal-hal semacam itu. Apa yang aku pilih itulah yang akan aku jalankan, dan jadi tanggung jawabku sepenuhnya. Tidak akan ada yang ikut campur."
"Hmm …."
"So don't worry."
Nania mengangguk-anggukkan kepala.
"Kenapa untuk hal seperti ini kamu dewasa sekali? Tapi untuk hal lain seperti tidak tahu apa-apa?" Daryl mengalihkan topik pembicaraan.
"Apaan?"
"About this." Kemudian pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Nania dengan tangannya yang menarik pinggang gadis itu.
"Pak?" Nania menahan pundaknya.
"Why? Kita sudah suami istri. Mau mesra-mesraan kapanpun tidak apa-apa!"
"Umm …."
"Dan kamu tidak boleh menolak, ingat?"
Ah, iya. Itukan ucapanku sendiri? Batin Nania.
"Tapi kan masih siang, Pak?"
"Memangnya kenapa? Mau pagi, siang atau sore sekalipun tidak ada masalah."
"Tapi …."
"Just shut up! Semalaman kamu membiarkanku, dan malah tidur dengan Anya dan Zenya. Kamu pikir aku tidak akan mempermasalahkannya?"
"Eee … soal itu …."
"Malam pertama kita gagal karena anak-anak, maka harus dibayar dengan waktu lainnya."
"Omongan Bapak serem ih, bikin aku takut!" Nania mengkeret di sudut sofa.
"Dan akan lebih menakutkan lagi kalau kamu menolak yang sekarang."
"Masa? Bapak bakal marah-marah?"
"Mungkin."
"Bapak bakal mukul aku?"
"Tidak!! Masa aku memukul perempuan?"
"Ya kali. Ka biasanya kalau yang marah suka begitu?"
"Mmm … kepada orang lain mungkin, tapi tidak kepadamu."
Nania memindai wajahnya.
"So lets do this?" Daryl menyeringai, kemudian dia meraih bibir gadis itu.
"Siang-siang begini Pak?"
"Ya."
Dan ya, Nania memang tidak lagi bisa menolak. Dia memutuskan untuk menyerah saja. Lagi pula tidak ada gunanya mencari alasan untuk menghindar karena pada faktanya, pria itu memang memiliki hak atas dirinya.
"Mmm … sebentar!" Namun dia menjeda cumbuan.
"Why?"
"Mau pipis dulu boleh?" Dia bertanya.
"Hmm … mau menghindar lagi?" Daryl menyipitkan mata.
"Nggak, cuma mau pipis."
Pria itu terdiam.
"Cuma pipis doang, sebentar." ucap Nania lagi.
"Dua menit." Daryl menarik diri.
"Oke." Lalu gadis itu pun bergegas ke kamar mandi yang terletak di sisi lain kamar.
"Haduh … siang-siang begini lagi mau anuan?" Dia bersandar di belakang pintu kamar mandi.
"Bisa nggak ya?" Nania bergidik ketika ingat kejadian semalam.
"Haih!!! Menakutkan!" Dia berjongkok sambil mengacak rambutnya dengan perasaan frustasi sekaligus gugup. Hingga membuatnya ingin buang air kecil.
"Hhhh! Tapi tetap akan terjadi juga kan? Kalau nggak sekarang ya nanti. Masa menghindar? Kan udah jadi suami?" Lalu dia berniat menuntaskan urusannya.
Namun Nania tertegun ketika dia menurunkan celananya dan terdapat bercak merah di dalam sana.
"Emang udah waktunya datang bulan ya?" Dia terkekeh sendiri. "Duh, masih selamat." gumamnya.
"Tapi … Pak Daryl pasti bakal marah-marah lagi, duh." Nania cepat-cepat bangkit ketika mendengar gedoran di pintu.
"Nania!!! Ini sudah lima menit." Dan teriakan Daryl menggema.
"I-iya …" Dia pun membuka pintu.
"Sedang apa kamu?"
"Umm … bisa panggilin Mbak Mima nggak?" pintanya.
"Mau apa?"
"Panggilin dulu, tolong."
"Iya tapi kenapa?"
"Panggilin dulu Mbak Mima!"
Daryl menggeram, tapi dia melakukannya juga. Pria itu berteriak dari ujung tangga, dan tak lama kemudian Mima pun muncul.
"Ya Non?" Perempuan itu berdiri di depan pintu.
"Mbak, punya pembalut?" Nania berbisik.
"Maaf, Non?"
"Mbak ada pembalut nggak? Aku datang bulan." ulang Nania.
"Oh, pembalut. Ada, sebentar saya ambilkan?"
Gadis itu menganggukkan kepala.
"Whats wrong?" Daryl mendekat.
"Umm … kayaknya kita belum bisa melakukannya deh." Nania dengan takut-takut.
"What? Why?" Pria itu mengerutkan dahi.
"Soalnya aku datang bulan."
"What?"
"Aku … datang bulan." Nania kemudian menunjukkan cel*na d*lamnya yang terdapat bercak merah, yang seketika membuat Daryl tertegun.
"Nunggu seminggu lagi ya, Pak?" Nania tersenyum canggung.
"Ini, Non. Adanya yang biasa. Tapi nanti kalau saya ke pasar saya belikan yang lain." Mima kembali dengan satu bungkusan berwarna pink yang dia berikan kepada Nania.
"Nggak apa-apa ini juga bisa. Tolong celana aku dong?" Gadis itu menerimanya.Â
"Ada lagi Non?" Mima kembali bertanya.
"Nggak ada, makasih ya?" Nania segera melakukan apa yang harus dia lakukan, sementara Mima pun kembali ke bawah.
"Nania? What about me?" Namun Daryl tetap berdiri di depan pintu dengan perasaan frustasi.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Ah, bencana!!😂😂😂
Kuy like komen dan hadiah kirim lagi? 😘😘
__ADS_1