
💖
💖
"Bagaimana dengan model nomor 28?" Daryl berbicara dengan seseorang di telfon tanpa memalingkan pandanganya dari layar laptop.
Waktu sudah menunjukkan hampir jam 11 malam, namun pria itu belum menyudahi diskusi dengan stafnya. Padahal dia pulang ketika waktu sudah larut dan semua orang bahkan sudah beristirahat.
"Aku rasa dia cukup berpotensi. Muda, aktif dan sepertinya menyenangkan. Aku sempat berbincang dengannya tadi."
"Benar Pak, dia dari agensi Meghan. Satu atap dengan Bella." jawab orang di seberang yang terdengar sangat jelas karena ponsel dalam mode loud speaker.
"Hmm … pantas."
Eh, apa maksudnya? Bella juga menyenangkan begitu? Pantas jadi teman have funn! Geram Nania dalam hati.
Dia meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian merangkak ke ujung tempat tidur di mana sofa tempat suaminya berada.
Nania melihat beberapa foto yang tengah Daryl pandangi, yang kesemuanya merupakan gambar model-model yang di seleksi tadi siang.
"Masukkan dia ke list." ucap Daryl yang melirik sekilas ketika dia merasakan istrinya mendekat.
"Baik Pak."
"Lalu nomor tiga puluh?" Pria itu beralih ke foto berikutnya di mana seorang model mengenakan pakaian yang cukup provokatif.
"Dia niat sekali, hahahah." Pria itu tertawa melihat tampilannya yang aduhai mengenakan pakaian berwarna merah dengan belahan dada rendah. Jangan lupakan kaki jenjangnya yang indah dia pamerkan juga.
"Ya, Bapak tahu sendiri lah." sahut pria di ujung telfon.
"Hmm … apa bayaran di Fia's Secret cukup menggiurkan?" Daryl meneguk kopi kedua yang Nania buatkan untuknya.
"Ya, salah satu yang terbaik." Staf menjawab.
"Hmm … pantas."
"Ya Pak."
"Baiklah, sepertinya cukup untuk hari ini. Kita selesaikan saja besok?" katanya, kemudian mematikan panggilan.
"Let see …." Namun nyatanya dia masih melihat foto-foto hasil jepretan fotografernya tadi siang, sekedar untuk memastikan bahwa pilihannya tidaklah salah.
"Cantik-cantik ya?" Nania bergumam.
"Namanya juga model, ya harus cantik." Daryl menjawab.
"Kalau aku daftar jadi model nggak akan lolos seleksi kali ya?" Gadis itu terkekeh.
"Tentu saja tidak. Mana ada model pendek dan kecil sepertimu?" celetuk Daryl tanpa tedeng aling-aling.
"Pendek-pendek gini juga kamu ngejar-ngejar aku?" Nania mendelik, tidak terima dengan ucapan suaminya.
"Ya benar, karena kamu mudah ditangkap." Pria itu tertawa.
"Kecil-kecil juga kamu kok mau?"
"Karena kamu mudah dipeluk!" Dia cepat merangkul gadis itu sehingga Nania tersungkur ke sofa.
"Ish!!"
Daryl terus tertawa.
"Enak ya, setiap hari kerjanya lihatin cewek cantik terus? Mana seksi-seksi lagi?" Nania pindah ke sofa.
"Tentu saja, nikmat mana lagi yang akan aku dustakan?"
Ngeselin!! Batinnya.
"Terus kalau gitu suka ada yang godain nggak?"
"Eh, aku lupa. Kan ada ya, Bella. Sampai sun-sunan sama bobo bareng?"
"Ck! Bawa-bawa masa lalu terus?"
"Ya habisnya aku tahu."
"Makanya jangan cari tahu, akibatnya begitu. Pasti diungkit terus. Padahal aku sudah mendepak dia dari Fia's Secret." Daryl masih sibuk dengan laptopnya.
"Sekarang aku tahu kenapa harus pandai menjaga diri. Karena tidak semua orang akan menerima masa lalumu dengan baik, apalagi perempuan. Kalau sudah begini, aku jadi menyesal." lanjutnya, dan dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Nania terdiam.
"Tidur sana! Besok bekerja kan?" ucap Daryl setelah beberapa lama, dan Nania masih terjaga di sampingnya.
"Kamu sendiri?" Gadis itu bertanya.
"Aku belum selesai."
"Aku kirain udah selesai."
"Masih banyak model yang harus aku lihat." Pria itu menggeser kursor dan nampaklah puluhan model yang fotonya terpampang nyata dengan berbagai gaya.
"Tadi bilangnya udah?"
"Tanggung juga. Besok malah lebih banyak." Ucap Daryl yang tampak serius menatap layar laptopnya.
Nania menghembuskan napas kesal. Dia kemudian melenggang ke arah kamar mandi.
"Masa harus sekarang?" Gadis itu melepaskan pembalutnya yang tadi sore dia pasang lagi, dan keadaannya telah benar-benar bersih.
Terus mau kapan? Nunggu sampai dia tidur sama modelnya lagi? Satu suara berdengung di kepala.
Kamu kan istrinya, nggak boleh nolak apalagi bohong. Suara lainnya mengikuti.
Jangan-jangan bukan cuma Bella?
"Aaa! Nggak mungkin!" Nania menutupi telinga dengan kedua tangannya. Lagi-lagi pikirannya berisik oleh banyak suara.
Kemudian dia membuka pintu kamar mandi sedikit dan mengintip suaminya yang masih betah dengan laptopnya.
"Godaan terbesar laki-laki itu harta, tahta, wanita, Nania." dia ingat ucapan mertuanya tadi pada saat makan malam.
Kepulangannya yang lebih awal membuatnya memiliki waktu lebih untuk berbincang dengan Sofia, karena jika Daryl ada di rumah siapa pun tidak akan berani mendekat.
"Dan Daryl punya semuanya. Harta dia banyak, tahta juga sama, dan pekerjaannya dikelilingi banyak wanita. Akan Mama katakan dengan jujur jika mereka lebih darimu. Menyakitkan, tapi itulah kenyataannya."Â
"Tidak mudah menjaga papimu, karena ada banyak yang mengincar juga. Tapi dia memang layak untuk dijaga. Begitu juga Daryl. Dan kalau jadi kamu, Mama akan bertahan dengan cara apa pun. Karena tidak ada yang lebih ganas dari pada perempuan yang mengincar pria semapan Daryl."Â
"Apa pun Ma?" Nania menatap wajah mertuanya.
__ADS_1
"Ya, apa pun. Gunakan dirimu sendiri. Buat suamimu hanya menatapmu seorang, dan jangan biarkan pikirannya beralih kepada hal lain." Sofia berapi-api.
"Gimana caranya?"
"Ah, kamu sudah mengerti. Masa harus Mama jelaskan?" Sofia menggodanya.
Nania mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Kalau caranya yang satu itu, memanglah belum. Apalah daya, dirinya ini yang masih ragu-ragu? Meski tahu ini adalah kewajiban tapi tak dapat dipungkiri rasanya takut juga. Entah apa yang dia takutkan, padahal jelas-jelas ini sudah hak nya.
Atau kamu lebih suka dia tidur dengan orang lain, begitu? Suara di kepalanya kembali berdenging
"Nggak!! Mana bisa?!"
Masa dia tidur dengan orang lain, sementara aku? Nggak mungkin!
"Oke. Mungkin memang sudah saatnya." Nania menarik menghembuskan napas pelan-pelan.
"Dia suamimu, dan dia layak mendapatkannya. Ingat yang sudah dia lakukan?" Dia tidak akan lupa berapa kali pria itu telah menyelamatkan dirinya.
"Ya, kenapa harus ditunda. Tunggu apa lagi?" Nania kemudian keluar dari kamar mandi.
Daryl melirik ketika terdengar pintu kamar mandi seperti dibanting. Dan dia mendapati gadis itu berdiri di sana, di depannya.
Nania bersikap seperti anak kecil yang malu-malu ketika diketahui telah berbuat kesalahan.
"Ada apa?" Dia mengalihkan perhatiannya sebentar.
"Umm …." Kali ini Nania tidak ingin banyak bicara. Dia tahu bahwa yang dimaksud oleh mertuanya adalah hal ini, dan perempuan itu memang benar.
Nania lantas melepaskan pakaiannya sehingga hanya bra dan segitiga mininya saja yang tersisa. Membalut dada ranum dan pusat pribadinya yang tampak menggoda.
"Holly …." Tentu saja Daryl terhenyak.
"Apa yang …." Dia menempelkan punggungnya pada sandaran sofa ketika Nania berjalan menghampirinya.
"Umm … kamu mau apa, hey?" Daryl terkekeh-kekeh dengan keadaan jantungnya yang tak karuan. Degupannya lebih kencang dari biasanya dan dia merasa sedikit aneh.
"Apa aku sudah pantas jadi model sekarang? Hum? Gimana?" Nania lantas duduk mengangkang di pangkuanya.
"Apa kamu bilang?"
"Aku juga mau jadi model, apa bisa diterima? Apa aku seksi kayak mereka? Lihat? Aku nggak pakai baju?" Dia hampir saja melepaskan branya sendiri.
"Stop-stop, Naniaaa!!" Daryl menahan tangannya. "Apa yang kamu lakukan?"
"Aku cuma mau jadi modelnya biar kamu liatin aku terus!" ucap gadis itu.
Daryl tertawa canggung. Ini adalah pertama kalinya Nania berbuat hal tersebut, dan rasanya aneh meski membuatnya berdebar-debar.
"You already have!"
"Masa?"
"Ya. Di sini." Daryl mengetuk kepala dengan ujung jarinya.
"Bohong."
"I swear! Apakah yang aku lakukan tidak cukup?"
Nania menatap wajahnya.
"Sekarang bangunlah, karena aku harus bekerja." Namun gadis itu tak mendengarkan.
"Aku udah selesai."
"Apa?"
"Masa haidku sudah selesai, kalau kamu mau kamu bisa …."
Daryl tampak menelan ludahnya dengan susah payah.
"Terima kasih." Nania berbisik.
"Te-terima kasih?"
Gadis itu menganggukkan kepala.
"Untuk apa?"
"Yang udah kamu lakukan untuk aku."
"Hum?"
Nania tersenyum.
"Dan maaf."
"Untuk apa lagi?"
"Karena aku udah bohong." Gadis itu tertawa.
"Bohong soal apa?"
"Soal haidnya semalam."
Daryl mengerutkan dahi.
"Padahal udah selesai dari semalam."
"Hmm …." Pria itu menggeram sambil memicingkan mata.
"Wait, what you said?"
Nania mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Kamu berbohong kepadaku dan sengaja melakukannya?"
Nania menganggukkan kepala sambil menahan senyum.
"I'm sorry, Daddy!"
Sesuatu seperti meledak di dalam dadanya, dan ini rasanya menyenangkan.
"Say that again!" katanya.
"I'm sorry."
"No!"
"Daddy?"
__ADS_1
Daryl menggigit bibirnya, lalu dia meremat bokong Nania dengan keras. Dan tak menunggu lama lagi dirinya segera mencumbu gadis itu.
Daryl kemudian menariknya ke tempat tidur tanpa melepaskannya sedikitpun. Dan kedua tangannya segera menjelajar ke segala arah.
"Are you sure?" Dia melepaskan pakaiannya sendiri setelah membuatnya berada di bawah kuasanya.
Pria itu menarik lepas cel*na dal*m Nania dan tak menemukan hal lainnya di sana. Membuatnya tertawa kegirangan.
"Such a naughty girl!!" bisiknya sambil menarik branya ke atas dan tampak pula sepasang benda bulat yang menggemaskan dalam pandangannya. Yang segera dia genggam dan dirematnya dengan penuh perasaan.
Nania menggigit bibirnya keras-keras saat merasakan gelenyar hebat di tubuhnya.
Daryl kemudian melanjutkan cumbuan. Dia menyesap bibir Nania keras-keras seolah ingin menghabisinya saat itu juga. Sedangkan kedua tangannya tidak diam sedikitpun.
Nania mulai mendesah, dan kali ini dia pasrah saja. Memutuskan untuk menyerah dan membiarkan Daryl melakukannya, sepertinya menjadi pilihan terbaik saat ini.
Pria itu menyesap apa pun yang dilewati bibirnya. Meninggalkan bekas yang memerah di sana sebagai tanda kepemilikannya.
Kedua dadanya bahkan tak luput dari sentuhan dan resapannya, yang membuat Nania mengerang dan menggeliat gelisah.
Tangannya terus merayap turun hingga dia menemukan pusat tubuhnya yang basah tanda Nania sudah siap.
"Ready?" Daryl bangkit seraya mengarahkan alat tempurnya.Â
Dengan napasnya yang menderu-deru, Nania menatap benda itu, lalu dia mengangguk tanda setuju.Â
Daryl menyeringai.
"There is no go back!" katanya, dan dia mulai menekan Eragonnya sehingga benda itu perlahan terbenam.
"Mmm …." Nania mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Sesuatu memasuki dirinya, dan itu adalah milik suaminya. Masih terasa asing padahal mereka pernah hampir melakukannya.
Perlahan-lahan, dan Daryl mencoba untuk tetap tenang meski kenyataannya dia merasa ingin segera menghujam nya. Namun tidak bisa seperti itu karena menaklukkan perawan tidaklah mudah.
Baru setengah, dan dia merasa sedkit kesulitan. Belum lagi tubuh Nania terasa seperti menolak.
"Rileks." bisiknya, seraya menciumi leher dan telinga gadis itu. Yang sebentar lagi kegadisannya akan dia renggut. Lalu dia kembali mempermainkan kedua buah dadanya secara bergantian.
Nania mengatur napasnya sehingga dirinya lebih tenang, dan perasaan indah itu kembali menguasai tubuhnya.
Daryl kembali mendorong meski di dalam sana rasanya begitu sempit, dan di hujaman kedua dia merasa seperti menabrak sesuatu.
Pria itu mengetatkan rahangnya hingga giginya bergemeletuk. Dan dengan segenap perasaan yang dimiliki, dia mendorong dengan keras sehingga mampu menerobos pertahanan terakhir Nania.
"Ughh!!" Keduanya sama-sama terdiam untuk saling merasakan debaran masing-masing.
Ada bahagia bercampur haru yang menyeruak di dada, dan mereka sama-sama merasakannya. Terutama bagi Nania yang merupakan pengalaman pertamanya.
Dan bagi Daryl, merupakan kebanggaa yang sangat besar menjadi yang pertama, sehingga dia memiliki perempuan ini seutuhnya. Hanya dirinya sendiri.
Pria itu pun mengatur napas, lalu membingkai wajah Nania untuk menciuminya dengan penuh perasaan. Dan setelah yakin mereka merasa tenang, dia menarik alat tempurnya kemudian mendorongnya kembali.
"Aaahhhh, sakit!" Nania mulai merintih ketika rasa sakit menjalar di pangkal pahanya.
"Memang sakit." Daryl berbisik
"Mm … nggak mau, ini sakit!"
Pria itu terus bergerak sambil menempelkan kening mereka berdua.
"Aaaahhh … sakit!!" Nania terus merintih, dan ini memang tidak main-main. Sakit dan perihnya luar biasa seperti mengoyak bagian terdalam dari dirinya. Namun Daryl menulikan pendengaran.
"Aaaaa … Daryl, sakit!" Perempuan itu hampir berteriak ketika pria di atasnya tidak juga berhenti.
"Ya, teriakan saja namaku! Tapi aku tidak akan berhenti, Malyshka! Tidak kali ini!" bisiknya, lalu dia menggigit telinga Nania dengan perasaan gemas teramat sangat.
Dirinya sudah ingin menggila dan hasratnya benar-benar ingin dipuaskan.
Nania terus mengerang dan merintih sementara Daryl terus saja bergerak. Dan dia benar-benar melakukan apa yang dikatakan.
"Eeehhhh!" Nania mulai terisak karena rasa sakitnya terus berlanjut, namun Daryl mengusap air matanya.
Dia mencium kening, kedua mata dan bibirnya. Mencumbunya seperti tadi dan tak membiarkannya diam walau sedetik.
Daryl terus berpacu tanpa menghentikan sentuhannya pada tubuh Nania yang kini bereaksi. Meski teriakan tertahan sesekali hampir pecah.
"Berteriaklah, tidak usah ditahan. Tidak ada yang akan mendengarnya." Pria itu terus meracau seiring hentakannya yang kian menggila.
Dan benar saja, Nania sudah tak bisa menahanya. Ketika rasa sakit terus berlanjut, namun hadir juga perasaan lain yang tidak dia mengerti menguasai tubuh, akal dan pikirannya. Yang ada hanya erangan yang memenuhi kamar pada hampir tengah malam itu.
Di mana dua sejoli yang sedang saling merasakan kenikmatan yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata itu juga tengah saling memahami.
Daryl terus berpacu semakin keras, sementara Nania menggeliat dengan suaranya yang semakin terdengar erotis, dan Daryl sangat menyukainya.
"Yes, Hon. Oh, … kamu cantik sekali." Racau pria itu yang tak memalingkan pandangan dari wajah Nania yang terlihat menggairahkan.
Keringat mulai membasahi dahi dan wajanya, sementara tubuhnya terlihat semakinmenggoda.
"Eeee … Dar … Daryyll!" Nania berteriak lagi.
"Yes, Darling?" Pria itu merapatkan tubuh mereka ketika merasakan sesuatu yang sangat mendesak.
"Hmmm …" Wajah Nania semakin memerah, dan kedua tangannya memeluk tubuh suaminya dengan erat.
Dia merasakan hal gila menguasai tubuhnya. Menyengat setiap saraf, dan berputar-putar menggulung kesadarannya.
"Ah, Daryyll!!" Nania semakin tidak bisa menahan diri. Dia tak mengerti dengan tubuhnya.
Rasa sakit ini bercampur dengan hal lain yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, dan ini luar biasa.
"Lepaskan saja, it's oke." Ujar pria itu yang mengerti apa yang terjadi.
"Hmm …." Napas mereka terus menderu-deru dan Nania benar-benar kehilangan akal. Hingga akhirnya dia menyerah pada gempuran gelombang hebat dari dalam dirinya.Â
Pusat tubuhnya berdenyut keras dan segala yang ada padanya seperti melebur menjadi kepingan ketika klim*ks pertamanya dia dapatkan. Dan tanpa sadar dia menggigit pundak Daryl untuk meredam teriakan kerasnya.
Sementara pria itu segera menghujamkan miliknya begitu dalam kala pelepasan juga datang menghantam. Dan seketika dia merasa ledakan didalam dirinya yang mengalir memenuhi Nania.
"Aahhh, Malyshka!!!" Daryl menggeram sambil membenamkan wajahnya pada ceruk leher perempuan itu.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Anu ... 🙉🙉🙉