The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Terapi #2


__ADS_3

💖


💖


"Ck! Kemeja dan sepatu bertali?" Daryl menggumam, lalu dia melirik kepada Dokter Citra yang berdiri sekitar satu meter bersama Nania yang duduk di sisinya.


"Karena Anda hanya mengalami kesulitan pada dua hal ini, maka yang akan kita maksimalkan terapinya adalah mengenai hal-hal tersebut." Perempuan yang mengenakan jas putih dan berkacamata itu menerangkan.


"Aku benci kemeja dan sepatu bertali!" Daryl mendelik.


"Itu karena Anda tidak bisa mengenakannya sendiri, tapi jika bisa maka Anda akan sangat menyukainya."


Daryl tampak mendengus. Lalu dia menatap kain dengan kancing-kancingnya yang terbuka itu dengan perasaan tidak suka.


"Hanya begini." Dokter Citra mencontohkan bagaimana caranya mengaitkan kancing satu persatu.


"Aku tahu begitu caranya. Tapi apa Dokter tahu kalau otakku ini seperti langsung membeku setiap kali aku mendekatkan benda sialan ini ke lubangnya?" Nada suara Daryl meningkat satu oktaf.


"Sayang?" Nania mencoba mengingatkan.


Seperti biasanya, emosi pria itu tersulut setiap kali Dokter Citra akan memulai sesi terapinya.


"Berapa kali sih harus aku jelaskan kalau ini sangat sulit?" Dan Daryl segera menoleh kepada istrinya.


"Justru kita sedang berusaha mengatasi kesulitan itu, Pak. Bukankah semalam Bapak sendiri yang menghubungi saya untuk mengatur jadwal ulang terapi?" Dokter Citra berujar.


Daryl terdiam. Dia ingat, bahwa memang dirinyalah yang dengan sengaja menghubungi perempuan itu untuk kembali berkonsultasi dan meminta jadwal terapinya diatur lagi.


Tentunya setelah berpikir cukup lama, semenjak dia mengetahui ada janin yang sedang tumbuh di perut istrinya.


Dan bukan tanpa alasan jika dia memiliki pemikiran seperti itu, melainkan karena sering melihat story whatsapp Amara yang sering menampilkan video ketika Galang tengah menggantikan pakaian dan popok bagi bayi kembar mereka.


"Benarkah Galang melakukannya? Masa laki-laki memakaikan pakaian untuk bayi? Aneh." Sekali waktu dia mengirimkan komentar kepada nomor perempuan itu setelah melihat storynya ketika Galang memakaikan pakaian bayi kepada Azura dan Angkasa.


"Benar lah, setiap pagi kalau nggak sibuk-sibuk amat Kak Galang yang gantiin bajunya anak-anak."


"Terus apa yang kamu kerjakan? Bukankah itu tugas seorang ibu ya?" Daryl membalas.


"Ya tugas ibu sama bapak lah, kan yang bikin berdua. Masa ngerjainnya sendiri-sendiri?"


"Iya, tapi aneh."


"Siapa bilang? Orang Kak Galang sendiri juga bilang gitu kok. Kalau soal ngurus anak pagi-pagi itu tugasnya dia."


"Masa?"


"Tanya aja sendiri."


"Terus yang kamu lakukan apa?"


"Mandiin mereka doang, abis itu ngurus diri sendiri dan ngerekam Kak Galang." Balasan Amara diikuti emot senyum.


"Lalu tugas dua baby sitter apa?" Daryl bertanya lagi.

__ADS_1


"Pegang mereka setelah Kak Galang pergi kerja lah."


"Dan kamu?"


"Santai. Atau sesekali memantau kedai." Diikuti emot senyum lagi.


"Senang sekali hidupmu?"


"Memangnya mau apa lagi? Suami pergi kerja, anak ada yang megang. Ngasih asi sesekali, kerjaan udah ada yang ngurus, kayaknya aku nggak usah mikirin hal lainnya."


"Yeah, right. Aku juga mau melarang Nania tetap di rumah karena sedang hamil tapi dia perlu menyelesaikan sekolahnya dalam enam bulan ke depan. Belum lagi dia punya proyek sosial di rumah bacanya."


"Ya biarin aja kenapa sih? Selama dia seneng ngelakuinnya. Kan definisi kebahagiaan setiap orang itu beda-beda."


"She's a people pleasure. Terlalu sering memikirkan kebahaiaan orang lain lebih dari dirinya sendiri."


"Dengan begitu dia merasa bahagia, Kak." Amara melakukan panggilan telfon. "


"Lihat senyum orang yang dia bantu, atau bisa melakukan sesuatu untuk orang lain. Nania kan terbiasa begitu, tapi yang ini lebih bermanfaat dari pada ngasih makan keluarganya yang kayak benalu. Dampingi aja kenapa sih? Atau bantu sekalian. Dari pada ngomel melulu. Nggak malu apa lihat dia sampai kepikiran open donasi untuk dapat uang biar bisa bantu orang?"


"Aku punya prioritas, Ra." Pria itu menjawab.


"Kakak pikir Nania nggak punya prioritas? Nggak ngerasa ya kenapa dia sampai open donasi? Itu karena dia memprioritaskan Kakak agar jangan sampai merasa terbebani sama apa yang jadi niat baiknya."


"Kamu membelanya karena kalian sama-sama perempuan." 


"Terserah deh, tapi aku lihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Nggak harus sama dong ya? Orang suami istri aja juga kadang beda. Contohnya Kakak yang perhitungan, ketemu sama  Nania yang bisa merelakan apa aja yang dia punya biar hidup orang yang nggak seberuntung dia menjadi lebih baik."


"Iya, kan Kakak emang begitu?"


"Bukan soal uang, Ra."


"Terus soal apa?"


"Aku pikir kalau aku nggak mengabulkan kemauannya sekarang ini dia akan berhenti, apalagi karena dia sedang hamil. Tapi ternyata tidak sama sekali." Daryl terkekeh. "Aku kan khawatir."


"Ah, Kakak kayak yang nggak kenal Nania aja. Hidupnya yang sekarang sama Kakak itu menurutnya mudah karena apa-apa tinggal minta. Belum lagi dia udah mengalami segala kesulitan sendirian. Jadi nggak ada yang susah buat Nania. Timbang nyari dana buat rumah baca doang sih gampang. Bukan karena dia banyak uang, tapi otaknya muter nyari cara gimana biar bisa dapet. Dan buktinya dia berhasil, kan?"


Daryl terdiam lagi.


"Udah ah, aku mau bobok siang dulu sama anak-anak." ucap Amara.


"Duh, tidur siang?"


"Iya dong, ibu menyusui itu butuh banyak istirahat tahu, biar tetep sehat dan tetep bahagia," jawab perempuan itu.


"Baiklah, sana tidur!" Lalu percakapan berakhir.


"Kenapa dari bahas video malah melebar ke rumah bacanya Nania ya? Aneh sekali anak itu!" Dia bergumam.


Namun Daryl sedikit tersentak ketika Nania dari belakang menyelinap sambil meraih kedua tangannya, kemudian mengarahkannya pada kemeja di depan mereka.


Perempuan itu membimbing sebelah tangan Daryl untuk menyentuh benda-benda kecil yang menempel di pinggiran kain tersebut, sementara tangan yang lainnya menarik sebelah sisinya.

__ADS_1


"Tempelin aja dulu." katanya sambil mendekatkan kancing tersebut dengan kain di sebelahnya.


"Ini tempel, ini tempel, ini juga tempel." Nania membuat tangan Daryl hingga ke bagian bawah kemeja.


"Mungkin begitu dulu, Dokter?" ucapnya lagi.


"Ya, pelan-pelan saja sampai terbiasa. Lalu nanti kita tingkatkan lagi." Dokter menjawab.


Setelahnya Nania pun mundur dan membiarkan suaminya melakukan apa yang barusan dia lakukan. Mendekatkan dua sisi kain kemeja sehingga menempel lalu mengulangi sampai di bagian bawahnya. Walaupun dengan kedua tangannya yang bergetar cukup keras karena tiba-tiba saja dia merasa gugup. Apalagi ketika dia kembali merasakan otaknya membeku.


***


"Ini membosankan!" gumam Daryl setelah sekitar setengah jam dia melakukan hal yang sama.


Nania bangkit dari kursinya dan kembali menghampiri sang suami yang hari itu berusaha sangat keras untuk fokus pada apa yang sedang dia latih.


"Malyshka?"


"Ya?"


"Berapa lama lagi aku harus begini?" Matanya menatap dua sisi kemeja yang dia dekatkan.


"Sampai kamu merasa terbiasa."


"Aku bosan, dan aku belum terbiasa." jawabnya, dengan bibirnya yang mengerucut.


"Bertahap saja, tidak harus sekaligus." Dokter Citra kembali menghampiri setelah membiarkan mereka berada di ruang terapinya selama beberapa saat.


"Hal ini kalau dilakukan setiap hari dan secara berulang akan membuat kita merasa terbiasa. Seperti makan atau minum, maka sehari saja tidak melakukannya akan membuat kita merasa lapar, bukan? Jadi tidak usah dipaksa harus langsung bisa, tapi dibiasakan akan kita bisa," katanya.


"Apa in cukup? Sudah setengah jam aku melakukannya tapi hanya begini saja." Tangannya kini tak terlalu bergetar saat mendekatkan kancing pada sisi lainnya.


"Sepertinya untuk hari ini cukup, mungkin Anda bisa mulai lagi tiga hari lagi atau minggu depan? Terserah Anda, tapi ingat untuk melatihnya sendiri di rumah ya?" 


Daryl menghembuskan napas lega.


"Apa ada yang harus dilakukan selain ini, Dokter?" Nania bertanya sebelum mereka pergi.


"Tidak ada. Seperti yang sudah saya katakam tadi, bahwa kita harius pelan-pelan dan melatih kebiasaannya secara bertahap. Jadi membiasakan satu persatu dulu itu lebih baik."


"Baik, Dokter."


"Kalau begitu, sampai jumpa di pertemuan berikutnya?"


Lalu keduanya pun berpamitan.


💖


💖


💖


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2