The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
The Untold


__ADS_3

💖


💖


"Bapak lihat kan? Ini anak saya, dia juga sudah di visum semalam dan hasilnya sangat parah. Tulang rusuknya retak, kakinya patah. Belum lagi dia mengalami luka dalam dan gegar otak juga. Dan Bapak masih tidak mau membantu saya?" Mirna menunjukkan beberapa foto Sandi yang terbaring lemah di rumah sakit juga hasil pemeriksaan lainnya.


Pagi-pagi sekali dia dan Hendrik sudah berada di kantor polisi untuk melapokan kejadian pemukulan yang dialami putranya pada malam sebelumnya. 


"Semua ada prosedurnya, Bu. Dan kami juga sudah melakukan penangkapan terhadap terduga pelaku pemukulan anak ibu …."


"Bukan terduga, Pak. Dia memang benar memukuli anak saya kok. Kan sudah saya tunjukkan buktinya?" Perempuan itu kembali menggeser ponselnya yang menampakkan video pemukulan yang dilakukan oleh Daryl. Yang dia dapatkan dari Hendrik ketika pria itu secara kebetulan melintas saat peristiwa itu terjadi.


Lengkap dengan foto dan nomor polisi mobil milik Daryl saat meninggalkan tempat kejadian membawa Nania.


"Ya, dari nomor polisi yang kami lacak, mobil itu milik Daryl Stanislav Nikolai. Anak kedua dari Satria Nikolai, yang tidak mungkin bertindak sembarangan tanpa sebab." Petugas polisi menjawab.


"Bertindak sembarangan tanpa sebab bagaimana Bapak ini? Jelas-jelas anak saya dipukuli dengan sangat kasar seperti itu? Bapak tidak lihat? Lagipula, memangnya dia itu siapa? Anak pejabat?"


"Lihatlah masalah dari dua sisi, jangan hanya dari apa yang Anda lihat saja, Bu." Suara tegas lain terdengar dari belakang.


Mirna dan Hendrik menoleh dan tampaklah pria itu yang mereka lihat di video.


Daryl memasuki ruang pemeriksaan dengan langkah tenang dan tanpa beban. Tentu saja, dia merasa bahwa apa yang telah dilakukannya merupakan hal benar.


Pria itu duduk di samping Mirna yang menatapnya dengan raut tak biasa. Antara terkejut, heran dan bertanya-tanya.


Apakah benar pria ini yang dilihatnya di video yang diambil oleh suaminya atau bukan? Lalu ada hubungan apa pria itu dengan putrinya?


"Dia memukuli Nania terlebih dahulu makanya aku membalas." Daryl langsung saja berbicara dengan santainya.


"Dan mungkin siapa pun yang mengetahuinya akan melakukan hal sama. Kecuali orang gila." lanjut pria itu, memalingkan pandangan dari pria berseragam di depannya.


"Lalu putri saya?" Mirna memberanikan diri. Meski aura yang dipancarkan anak muda ini mulai membuatnya gentar, tapi dia harus terus maju demi ganti rugi yang akan di dapatkannya nanti.


Keluarganya tidak mungkin bisa menerima jika nama baik mereka tercoreng karena perbuatan anaknya, bukan?


"Siapa?" Daryl menoleh sekilas.


"Nania, putri saya."


"Aku pikir dia yatim piatu!!" Daryl berlagak terkejut saat perempuan itu menyebut Nania sebagai putrinya.


Mirna memicingkan mata.


"Ternyata dia masih punya orang tua ya?" Lalu pria itu melirik ke arah Hendrik yang terdiam di belakang Mirna.


Otaknya terus mengingat data-data yang didapatnya dari Regan semalam mengenai latar belakang, anggota keluarga, dan apa saja yang terjadi kepada Nania selama gadis itu bersama mereka.


Perempuan ini pasti ibunya, dan pria itu pastilah ayah tirinya.


Cih! Angkuh sekali. Dipikir siapa mereka ini? Kesan pertama saja Daryl sudah tak menyukainya.


"Lalu apa yang Nania lakukan di luar rumah dan malah tinggal di tempat kerjanya?" lanjut pria itu yang kembali mendelikkan matanya.


"Baik, jadi saudara Daryl, anda mengakui telah melakukan pemukulan terhadap saudara Sandi?" Petugas mulai menanyainya.


"Siapa? Malam minggu lalu saya memukuli seorang pria yang hampir saja menjual adik perempuannya. Tapi tidak tahu namanya." Daryl memberikan jawaban.


"Tidak mungkin!" sergah Mirna yang mendengar ucapan itu.


"Mana mungkin Sandi menjual adiknya sendiri? Itu bohong!" perempuan itu tidak percaya.


"Ck!" Daryl berdecak kesal.


"Anda jangan membuat fitnah ya? Yang ada Anda membawa kabur putri saya. Lalu apa itu namanya?"


"Perempuan dipukuli di depan mata saya, ya saya bawa pergi lah. Bisa mati dia kalau dibiarkan?" jawab Daryl lagi.


"Anda juga mengakui telah membawa kabur anak perempuannya?" Polisi kembali bertanya.


"Ya. Kalau tidak saya bawa, nanti Nania bisa mati. Sudah saya katakan, Pak."


Polisi mencatat semua keterangan yang diucapakn Daryl.

__ADS_1


"Lalu, motif Anda memukuli korban apa?" Pria itu bertanya lagi.


"Dia memukuli Nania, Pak."


"Kamu bohong! Nania pasti bohong! Kamu juga yang mempengaruhinya agar dia kabur dari rumah kan? Agar kalian bisa bebas berhubungan, begitu?"


"Apa apaan ini?" Daryl bereaksi.


"Nania itu penurut sebelum bertemu kamu. Dia selalu menuruti apa yang saya katakan tanpa membantah sedikit pun."


"Termasuk menjual rumah peninggalan ayahnya? Saya rasa itu tanpa Nania ketahui?" Daryl tidak pernah kehilangan ide.  Semua data ada padanya dan dia mengetahui banyak hal.


"Itu bukan urusan kamu."


"Karena Anda membahasnya, dan itu berhubungan dengan Nania, maka hal tersebut menjadi urusan saya, Bu."


"Tidak nyambung! Yang seharusnya kamu selesaikan adalah soal anak laki-laki saya yang hampir mati karena kamu pukuli."


"Tapi dia masih hidup kan?"


"Tetap saja kalau dia tidak cepat dibawa ke rumah sakit pasti sekarang sudah tidak ada."


"Lalu siapa yang membawanya ke rumah sakit?"


"Umm …."


"Sekedar informasi, Bu. Anak buah sayalah yang membawanya ke rumah sakit."


Mirna terdiam, sementara polisi di dekat mereka hanya menyimak hal tersebut.


"Pokoknya saya tidak terima anak saya di siksa seperti ini! Saya mohon keadilan!" Perempuan itu mulai bereaksi.


"Mohon keadilan semacam apa?"


"Pak polisi, saya mohon tahan dia karena sudah berbuat semena-mena kepada putra saya! Dan saya minta ganti rugi atas apa yang dia lakukan!!"


"Oh, masalahnya hanya uang?" Daryl menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Dia bohong!! Pasti telah berbohong kepadamu. Apa pun yang dikatakannya tidak benar!!" ujar Mirna.


"Buktinya apa?" Suara lain menginterupsi perdebatan itu.l, membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut menoleh bersamaan.


"Buktinya apa kalau aku bohong?" Nania memasuki ruangan itu didampingi Darren dan dua pria lainnya di belakang. Yakni Galang dan Wira.


"Malyshka? Kenapa kamu malah ke sini?" Daryl segera bereaksi.


Nania tidak menjawab.


"Dan Anda ini?" Lalu polisi mengalihkan pertanyaan kepadanya.


"Saya Nania, anaknya Ibu Mirna yang dikabarkan telah dilarikan."


Pria berseragam itu mengangguk-anggukkan kepala.


"Sampai kapan ibu mau membela Bang Sandi terus? Sampai jatuh lagi korban?" Nania menatap wajah ibunya meski dia merasa muak.


"Nania!"


"Apa Bu?"


"Berani-beraninya kamu bicara begitu kepada Ibu?"


"Kenapa aku tidak boleh berani?"


"Kamu lancang!!"


"Lalu apa yang ibu lakukan kepadaku? Mengambil semua gajiku, menjual rumah ayah, kemudian menuntutku untuk melakukan banyak hal, sementara Bang Sandi Ibu manjakan!!"


"Saya ini ibu kamu!!"


"Siapa yang akan menolaknya? Tapi yang ibu lakukan kepadaku mencerminkan bahwa ikatan darah itu tidak ada!!"


"Aku bahkan nggak percaya kalau Ibu adalah yang melahirkan aku. Mana ada ibu yang melakukan seperti apa yang ibu lakukan kepadaku, Bu? Nggak ada!!"

__ADS_1


Mirna bungkam.


Dari mana dia mendapatkan keberanian sebesar ini? Batinnya.


"Ibu mau tahu apa yang Bang Sandi lakukan?"


Perempuan itu masih tak bersuara.


"Dia jual aku ke bandar judi untuk membayar hutangnya juga yang nggak terhitung."


Mirna menggeleng pelan.


"Ibu nggak percaya kan? Mana ibu percaya sama aku? Kebencian ibu terlalu besar sehingga apa pun yang aku katakan nggak akan ibu anggap."


"Ibu mau bukti?" ucap Nania lagi, dan dia sedang mengumpulkan segenap keberaniannya.


"Kalau aku bilang Bang Sandi yang menyebabkan nenek meninggal ibu akan percaya?" Dia mengingat hal lain.


Wajah Mirna memucat ketika dia juga mengingat pengakuan anaknya.


"Tapi ibu nggak akan percaya."


Mirna tetap bungkam. Dia tak tahu lagi apa yang akan dikatakannya. 


"Kalau aku bilang malam itu Bang Sandi mukulin aku karena dia marah setelah aku kabur dari tempat judi, apa ibu akan percaya?"


Perempuan itu diam saja.


"Nggak akan. Meski aku tunjukin ke ibu bukti yang kuat juga. Karena yang ada di pikiran ibu cuma Bang Sandi. Sementara aku hanya ibu anggap sebagai media untuk mendapatkan apa yang ibu mau." 


"Ibu lihat ini?" Nania menunjuk memar di pipinya.


"Ini juga." Lalu dia menunjuk jahitan diatas alis.


"Atau ini." Dia menyingkap bagian lengan pada kausnya yang kemudian memperlihatkan memar lain di sekitar tangan.


"Atau kalau itu nggak cukup, apa ini bisa bikin ibu percaya?" Gadis itu kemudian menarik kausnya ke atas sehingga benda itu terlepas dari tubuhnya.


Dan terpampanglah semua memar yang memenuhi tubuh bagian atasnya.


"Hey!!" Daryl tentu saja bereaksi.


Dia segera bangkit seraya melepaskan jas yang dipakainya yang kemudian dia gunakan untuk menutupi tubuh Nania.


"Apa yang kamu lakukan?" Dia segera mendekap gadis itu.


"Apa masih belum cukup? Apa perlu juga aku tunjukkan semuanya agar ibu tahu seberapa biadabnya anak laki-laki ibu? Yang katanya satu kandungan, satu darah dan satu buaian? Sebut satu aja yang membuat kami sama, Bu!! Nggak ada. Selain lahir dari rahim ibu yang sama." Nania berteriak, dan seketika saja kantor polisi menjadi ajang perdebatan keluarga.


"Bukankah keluarga itu seharusnya saling melindungi? Tapi kenapa itu nggak aku dapat? Sejak kecil kalian selalu memperlakukanku dengan buruk. Apa itu nggak cukup sehingga ketika ada yang melindungiku malah ibu serang juga?" Nania berteriak lagi.


Daryl mendekapnya semakin erat.


"Pak Polisi, malam itu saya dijual ke bandar judi. Lalu saya lari sehingga kakak saya marah. Itu yang menyebabkan dia memukuli saya." Nania berbicara dengan penuh keberanian.


"Lalu Pak Daryl datang dan membawa saya." Gadis itu mendongak kepada pria yang tengah memeluknya.


"Kalau Bapak nggak percaya, terus saya ngadunya sama siapa?" Nania dengan matanya yang berkaca-kaca, dan dia mengingat semua ucapan Darren, Wira dan Galang yang menyuruhnya mengatakan segala yang diketahui, dialami dan dirasakannya selama ini.


"Saya juga mau melaporkan kematian nenek saya. Saya mau semuanya diusut sejelas-jelasnya. Kalau nenek harus diotopsi juga nggak apa-apa." lanjut Nania, dan dia masih dalam dekapan Daryl.


Lalu semua mata tertuju kepada Mirna dan Hendrik.


💖


💖


💖


Bersambung ...


Mana nih, yang baca ribuan tapi yang like nggak setengahnya?


Please lah gaess, habis baca itu biasakan minimal likenya dong kalo males komen. Tahu nggak, kalau like komen gift itu bisa bantu author naik level dan popularitas, jadi bisa juga bantu dapat bayaran lebih?

__ADS_1


__ADS_2