
π
π
"Daryl dan Nania belum ke sini?" Satria duduk di kursinya sementara Sofia mengisi piringnya dengan menu makan siang mereka.
"Belum. Sepertinya hujan membuat mereka malas ke sini." Perempuan itu menatap lewat jendela ruang makan di mana hujan mengguyur dengan lebatnya.
"Hmm β¦ cuaca memang sedang tidaj bersahabat ya? Tengah hari begini hujan sangat lebat. Bisa berlanjut sampai malam." Satria memulai kegiatan makannya.
"Aku rasa ya. Sampai-sampai aku tidak menyalakan ac dua hari ini karena rumah kita terasa dingin." Sofia tertawa pelan, lalu dia pun duduk setelah mengisi piring untuk dirinya sendiri.
"Itu bagus, mungkin akan mengurangi biaya listrik untuk bulan ini?" Sang suami menjawab.
"Mima, nanti kalau hujan sudah reda antar makan untuk Daryl ya? Mungkin mereka malas ke sini." Sofia beralih kepada asisten rumah tangganya.
"Baik, Bu." Mima menjawab.
"Mungkin Nania sudah masak sendiri makanya mereka tidak kesini?" Satria menyahut.
"Iya, tapi kalau masak sendiri biasanya dia memakan makanan kurang sehat. Asal enak di lidah dan mereka menyukainya, rasanya pedas pula, kan kasihan cucu kita."
"Namanya juga anak muda kan? Mereka memakan yang mudah dibuat saja."
"Iya, makanya harus tetap kita ingatkan. Dikirim dari sini kan bagus?" jawab Sofia.
Sedangkan Satria hanya tersenyum.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
"Daddy?" Nania mendorong pintu ruang kerja suaminya pelan-pelan, dan dia mendapati pria itu yang tengah fokus pada laptopnya.Β
Terdengar suara orang berbicara dari seberang dan Nania cukup mengenalnya. Mungkin itu Dinna, sekretarisnya.
"Baik, Pak. Nanti saya akan kirim beberapa file untuk Bapak periksa sehingga besok bisa saya selesaikan yang lainnya." Perempuan itu berujar.
"Ya, itu juga bagus. Dan mungkin bisa kamu kerjakan seperti itu sehingga aku tidak perlu datang ke Fia's Secret setiap hari." Daryl terkekeh.
"Baik Pak, akan saya usahakan." jawab Dinna lagi.
"Jangan hanya diusahakan, tapi benar dikerjakan. Bukankah kalian memang senang jika aku tidak ada di kantor seharian? Kerja jadi lebih santai, kan?" ujar pria itu yang membuat sekretarisnya itu tergagap.
"Eee β¦ tidak begitu, Pak, hanya saja β¦."
"Sudah, cepat kerjakan. Aku akan memeriksa file yang kamu kirimkan." ucap Daryl ketika menyadari keberadaan Nania di ruangan itu lewat bayangan di kaca jendela di depannya.
"Baik, Pak."
Pria itu segera memutuskan sambungan video di laptopnya.
"Yes, Baby?" Lalu dia memutar kursi kerjanya saat jarak Nania cukup dekat.
"Lapar nggak? Mau ke rumah Mama tapi kok hujannya lebat amat?" Perempuan yang masih mengenakan seragam hitam putihnya itu langsung saja duduk di pangkuan suaminya.
"Kenapa tidak masak sendiri saja?" Dan Daryl merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Segera saja, tangan nakalnya menyelinap dibalik rok hitam milik Nania.
"Mau?" tawar perempuan itu kepadanya.
"Mau."
"Kamu mau makan apa?"
"Apa saja, aku omnivora, ingat?"
__ADS_1
Nania tertawa dengan suaranya yang lucu. "Termasuk makan aku ya?" katanya yang berinisiatif untuk mengecup bibir suaminya.
"Jangan begitu, aku jadi sangat lapar sekarang ini." Dan Daryl mengusap paha Nania sehingga rok hitam pendeknya sedikit tersingkap.
"Ya udah, kalau gitu aku masak dulu." Nania pun turun dari pangkuan setelah mengecup dan ******* bibirnya sekilas. Dan dia tersenyum genit seperti sedang menggodanya.
Daryl menatapnya yang berjalan ke arah pintu, lalu dia melirik keluar jendela yang masih diselimuti hujan deras sejak mereka tiba di rumah.Β
"Hey, Malyshka?" panggilnya yang kemudian menghentikan langkah Nania.
"Ya?" Perempuan itu memutar tubuh.
"Makan yang lain dulu bisa?" Daryl menatapnya dari kepala sampai kaki.
Dia yang rambut panjangnya agak berantakan dan masih mengenakan seragamnya mengapa tampak menggoda? Membuat otaknya segera saja diliputi pikiran kotor.
"Mau makan apa?" Nania bertanya.
Pria itu tak menjawab, tapi tangannya bergerak memberi isyarat agar dia mendekat. Dan sebuah seringaian terbit di sudut bibirnya.
Nania kembali mendekat lalu dia berhenti tepat di depannya saat Daryl tersenyum. Dan sepertinya dia mengerti apa yang suaminya maksud.
Daryl meraih pinggangnya kemudian menarik perempuan itu hingga jarak mereka cukup dekat saat dia mendongak dan meraih bibirnya yang semerah cherry itu.
Lalu kedua tangannya meremat paha Nania dan merayap menyentuh bokongnya.Β Kemudian hal yang sama dia lakukan.
Perempuan itu melenguh dan keningnya berjengit kala rasa geli menjalar di belakang tubuhnya. Dan dia terhuyung limbung jika saja tak berpegangan pada pundak Daryl.
Salah satu lututnya bertumpu di antara kedua paha pria itu yang tangannya menyelinap tengah berusaha menarik lepas kain mini dari dalam roknya.
"Daddy!" Tubuh Nania bergetar saat jari-jari Daryl menyusup ke pusat tubuhnya. Sementara tangan yang lainnya berusaha melepaska kancing kemeja Nania meski rasanya sulit. Tapi dia berhasil di dua kancing paling atas.
"Ahh!" Nania mendongak ketika pria itu juga meremat dadanya dari balik bra yang masih menempel.
Daryl kemudian menarik lepas tanganya dari bawah lalu dia mendorong Nania ke arah meja.
Pria itu bangkit untuk melanjutkan cumbuan dan tangannya mengangkat sebelah kaki Nania untuk kembali mengobrak-abrik pusat tubuhnya,Β hingga istrinya itu mengerang tak karuan.
"Daddy!!!" Dan tubuhnya bergetar ketika pelepasan pertama menghantamnya tanpa ampun.
Daryl melepaskan kausnya dan dia tersenyum puas seiring matanya yang melirik ke bawah untuk memberi isyarat saat sesuatu dibalik celananya sudah meronta-ronta.
Dan Nania mengerti. Sejenak dia mengatur napas dan menenangkan diri setelah mendapatkan pelepasan pertamanya beberapa saat yang lalu, kemudian turun dan mendaratkan ciuman di bibir suaminya.
Bibir lembutnya menyusuri wajah pria itu hingga tak satupun ada yang terlewat. Kemudian dia menjelajah leher kokohnya seperti yang sering Daryl lakukan kepadanya.
Lalu ciumannya turun ke bawah menyusuri dada bidang dan perut kotak-kotaknya, hingga akhirnya dia sampai di pusat tubuhnya.
Nania menarik joggerpants yang masih Daryl kenakan, sehingga benda yang sudah mengeras dibaliknya menyembul menampakan diri.
"Aahhh, Eragonna udah bangun!" Perempuan itu memekik kegirangan. Lalu tanpa menunggu lama dia segera menggenggam alat tempur suaminya yang sudah tegak berdiri.
Nania menggerakkan tangannya sehingga Daryl mulai mendes*h saat merasakan sensasi gila pada alat tempurnya. Apalagi ketika Nania mengecup ujung Eragon dan membuka mulut sehingga benda itu masuk ke dalamnya.
"Oh, Baby!" geramnya, dan pria itu meremat puncak kepala Nania.
Dia merasakan sesapan yang nikmat dan membuatnya ingin segera menuntaskan hal ini. Tapi menunggu lebih lama sepertinya menyenangkan juga.
Setelah beberapa menit kemudian Daryl mendorong wajah Nania perlahan sehingga mulutnya terlepas, lalu dia menariknya bangkit. Pria itu segera mendorongnya ke arah meja dan membuat kedua tangannya bertumpu di sana.
Satu kaki Nania dia angkat ke atas sehingga leluasa ketika mengarahkan senjatanya yang sudah sangat mengeras. Lalu dia mendorongnya sehingga benda itu terbenam seluruhnya.
"Oohh, Daddy!!" Nania setengah berteriak dan dia berpegangan erat pada pinggiran meja kala Daryl mulai menghentak.
__ADS_1
"Hmm β¦ aahhh β¦." Erangannya semakin keras seiring semakin cepatnya pula hentakan Daryl.
"Oh β¦ babynya, Dad. Babynya!!" Dan dia berusaha mengingatkan Daryl tentang kehamilannya sehingga pria itu dengan terpaksa memperlambat gerakannya.
Meski hal itu tak menghentikannya sama sekali apalagi Nania terus meracau tak karuan.Β
Des*han terus mengudara dan keduanya semakin kehilangan kendali. Bagkan hujan deras diluar tak menghentikan mereka untuk tetap saling menyenangkan.
Daryl yang terus menghentak dan tangannya tak berhenti menyentuh setiap bagian tubuh Nania, sehingga racauan perempuan itu jadi semakin menggila.
Dia melepaskan diri sejenak, lalu membaringkan Nania di atas meja. Di detik berikutnya dia masuk di antara kedua kakinya dan menarik pinggul perempuan itu untuk kembali menautkan milik mereka.
"Haaaa!" Nania menggeliat dan kepalanya terdongak ke atas.Β
Pakaiannya benar-benar sudah berantakan namun Daryl tak berniat melepaskanya sama sekali. Dan dia malah membiarkannya seperti itu karena membuat istrinya terlihat lebih seksi di matanya.
"Daddyy!!" Nania merintih-rintih padahal hentakannya cukup lembut. Namun hal itu malah membuatnya begitu frustasi.
Dia menatap wajah suaminya yang terlihat mengeras. Giginya saling merapat dan pria itu tampak mati-matian menahan diri.
Napasnya terdengar menderu-deru dan dadanya terlihat naik turun. Jakunnya bahkan terlihat bergerak menelan saliva karena tenggorokkannya terasa begitu kering.Β
Menatap keadaan Nania yang berantakan seperti itu malah membuat hasratnya semakin bergolak. Dan dia ingin memuaskan diri dengan seliar-liarnya. Tapi dia ingat dengan keadaan perempuan itu yang tengah berbadan dua, menjadikannya harus lebih berhati-hati.
"Baby's okay?" Daryl menggumam seraya menyentuh perempuan itu.
"Hmm β¦ Okay." jawab Nania yang menarik tangan pria itu kembali agar mempermainkan dadanya.
Daryl tersenyum, dan dia mengerti keadaannya. Apalagi pusat tubuh di bawahnya terasa berdenyut semakin kencang. Mencengkram dan merem*as-re*as miliknya semakin kuat, membuat dirinya pun semakin tidak tahan.
"Oohh, Daddyyy!!" Nania menggeliat-geliat tak karuan dan kedua kakinya perlahan terangkat ke atas.
"Is it good, Honey?" Pria itu merunduk ketika dia menambah tempo hentakannya.
"Uh'um β¦." Dan Nania menjawabnya dengan mengangguk-angguk.
"Is it good?" tanya Daryl lagi, dan hentakannya menjadi semakin cepat.
"I-iya." Nania menjawab lagi.
"Baby's good?" Pria itu kembali bertanya, dan hal tersebut membuat Nania semakin frustasi.
"Hmm β¦." Nania menggigit bibirnya kuat-kuat ketika merasakan klim*ksnya hampir tiba.
"It's good?" Kali ini Daryl tak bisa menahannya lagi.
"Iya, it's good β¦ and baby's good!! Eehhh β¦ it's soo good!!" katanya, dan pinggulnya terangkat keatas ketika pelepasannya benar-benar tiba.
Sementara Daryl memacu tubuhnya saat dia juga merasakan hal sama. Dia memegang pinggul Nania erat-erat bersamaan dengan menekan miliknya sendri dengan keras sehingga apa yang memancar dari dalam tubuhnya benar-benar memenuhi bagian terdalam perempuan itu.
"Aaarrrggghhh, Malyshkaaaa!!!!" Geramannya memecah udara dingin di sekeliling dalam guyuran hujan yang masih berlangsung begitu deras.
π
π
π
Bersambung ....
Hujannya berlanjut gaessππ
Kopinya kirim lagi ππ
__ADS_1