The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Keluarga


__ADS_3

💖


💖


"Mama harap setelah ini tidak ada satupun di antara kalian yang merahasiakan sesuatu. Jangan menjadikan Mama sebagai orang terakhir yang tahu. Apa pun masalahnya, kendala yang kalian hadapi, kesulitan atau apa pun. Mama mohon untuk memberitahu Mama. Tidak boleh disembunyikan seperti ini!" Sofia hampir saja mengakhiri percakapan di antara suami, anak dan menantunya.


Dia memang sengaja membahas masalah Daryl saat mereka berkumpul. Meski orang yang dimaksud tak nampak batang hidungnya.


"Kamu dengar itu?" katanya, lebih ditujukan kepada Darren yang menyembunyikan perihal kelainan yang diidap oleh Daryl selama bertahun-tahun.


"I'm sorry, Mom. Bukan maksudku untuk seperti itu, tapi …."


"Mama tahu, tapi untuk masalah tertentu memang sebaiknya kita memberi tahu anggota keluarga lainnya, agar jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu ada yang bisa kita lakukan. Kita bisa mencari solusinya bersama-sama dan masalahnya tidak berlarut-larut."


"Kamu tahu apa penyebab hubungan sebuah keluarga menjadi retak? Salah satunya karena masalah seperti ini."


"Yes, Mom. I'm sorry." ucap Darren lagi.


"Tidak apa, Darren. Niatmu baik. Kamu melindungi saudaramu sehingga dia tetap merasa percaya diri." Sofia menjeda kata-katanya sebentar.


"Terima kasih karena sudah mengurus Daryl sampai saat ini. Kamu menjaganya dari hal buruk yang mungkin terjadi selagi Mama tidak ada bersama kalian. Itu pasti sangat sulit. Terima kasih." katanya, yang kembali membuat air matanya menetes.


Tapi bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan. Dan dia bangga akan hal itu.


"Don't make me cry!" Darren menyeka matanya yang basah namun sambil tertawa. Lalu dia menghambur untuk memeluk ibunya.


Sementara yang lainnya menghela napas lega.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kita kok ngendap-ngendap gini sih? kayak abege yang lagi pacaran sembunyi-sembunyi deh?" protes Nania pada saat mereka berdua hampir memasuki rumah ketika malam sudah tiba.


"Kita kan memang sedang sembunyi dari Anya dan Zenya. Mereka pasti langsung ke sini kalau tahu kita sudah pulang." Daryl menekan handle pintu perlahan agar tak menimbulkan suara dan membuat orang-orang di rumah besar menyadari keberadaan mereka.


"Padahal lagi pada sibuk kayaknya? Denger nggak rame banget di rumah Papi?"


"Justru itu …." Mereka pun masuk ke dalam rumah.


"Ini kita nggak akan ke rumah besar dulu?" Nania menatap rumah mertuanya yang tampak ramai.


Tentu saja, semua orang sudah berkumpul seperti biasa, hanya mereka saja yang tidak ada.


"Tidak usah, aku sudah bilang akan pulang malam." Dan Daryl hampir saja memutar kunci ketika menemukan keberadaan dua keponakannya di depan pintu.


Anak-anak itu tersenyum lebar setelah mengetahui bahwa om dan tantenya sudah ada di rumah mereka.

__ADS_1


Daryl mendengus keras. Padahal rasanya dia sudah berusaha untuk tidak menimbulkan suara, tapi tetap saja mereka tak luput dari perhatian dua keponakannya. Yang membuat pria itu akhirnya terpaksa membuka kan pintu.


"Come in!" katanya sambil menyentakkan kepala.


"Yeayyy!!" Anya dan Zenya melonjak kegirangan sebelum akhirnya mereka menghambur masuk ke dalam rumah tersebut.


"Ke mana sih pengasuh kalian? Malam-malam dibiarkan berkeliaran seperti ini?" Daryl menggiring mereka ke ruang tengah.


"Sabtu Minggu kan libur?" Anya menjawab.


"Cih, enak sekali mereka. Kerja tidak terlalu berat, mana akhir pekan libur. Dibayar mahal pula? Untung sekali ya?" Mereka duduk di sofa lalu Daryl menyalakan televisi.


"Kata Mommy, Mbak Titi sama Mbak Santi itu capek, jadi butuh liburan."


"Tentu saja capek, dan pasti juga pusing. Yang diasuh seperti kalian." Pria itu tertawa.


"Eh!!" Nania bereaksi.


"Mommy kalian sih enak, Sabtu Minggu pergi balapan. Nah, yang pusing Papi kan yang ditinggal bersama kalian?" ucap Daryl.


"Kata Papi nggak, kan bisa nginep di sini?" jawab Anya lagi.


"Oo jelas, yang pusingnya Om dan Tante Nna. Juga Oma dan Opa."


"Dadd?" Nania meletakkan makanan kecil di meja. "Nggak usah ngomong gitu kenapa?"


"Nggak, siapa bilang?" Perempuan itu pun menjawab.


"Tadi Om Der bilang gitu." tunjuk Zenya kepada sang paman yang tertawa terbahak-bahak.


"Om Der cuma bercanda." Nania menjawab.


"Tapi kayak serius?"


"Nggak lah."


"Huh, Om Der bohong. Pasti karena maunya pacaran sama Tante Nna terus makanya ngomong gitu?" Zenya menggerutu.


"Itu kalian mengerti? Lalu kenapa ke sini terus?" jawab Daryl yang mulutnya segera ditutup oleh Nania.


"Stop!! Jangan bilang gitu ih, kamu rese deh!"


Anya dan Zenya terdiam dan saling pandang.


"Tuh kan, kamu nyebelin! Pasti bikin mereka sedih?" Dan perempuan itu bereaksi.

__ADS_1


"Jangan dengerim Om Der, anggap aja radio butut." katanya, kepada dua keponakannya.


"Aku nanti boboknya mau sama Tante Nna, ah." ujar Zenya yangengalihkan perhatiannya kepada Nania.


"Sama aku juga." Dan Anya pun menyahut.


"Bercanda ya? Tidurnya di rumah Opa saja lah." Namun Daryl segera menjawab. Kali ini dia tak ingin mengalah pada dua keponakannya tersebut.


"Nggak mau, pokoknya aku sama Zen boboknya sama tante Nna! Om aja sana yang boboknya di rumah Opa. Om kan anaknya Opa?" ucap Anya lagi sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Tidak bisa begitu! Memangnya ini rumah siapa? Kan rumah Om?" Daryl kembali menjawab.


"Kata siapa? Orang rumah Om ada di tempatnya Opa aku kok!" Namun anak itu pun melontarkan jawaban telak.


"Bukanlah, ini kan …." Pria itu bangkit dan menegakkan tubuhnya.


"Sssttt! Jangan berantem terus, berisik ah! Kamu kayak anak kecil." sergah Nania dan dia melenggang ke arah tangga.


"Tante mau bobok sekarang ya? Aku ikut!!" Anya dan Zenya hampir saja mengikutinya.


"Nggak, Tante mau mandi dulu." Perempuan itu menjawab.


"Ikut ya?"


"Nggak, tunggu di sini."


"Tapi kan …"


"Tunggu dulu! Nanti Tante turun lagi." Nania memperingatkan dengan jelas sehingga anak-anak itu kembali ke tempatnya duduk tadi. Sementara Daryl hanya tertawa.


Hingga beberapa saat kemudian dia kembali ke lantai bawah setelah membersihkan diri, dan mendapati tiga orang berbeda usia itu sudah terlelap di sofa.


Daryl berada di tengah-tengah sementara dua keponakannya di sisi kiri dan kanan sama-sama bersandar pada pundaknya.


"Dih, tadi masih ribut-ribut?" Perempuan itu mendekat dan menatap wajah lugu mereka bergantian dengan perasaan yang menghangat.


Dia kemudian menyiapkan tempat tidur di dekat sofa lalu memindahkan Anya dan Zenya sehingga keduanya tidur dengan nyaman setelah menyelimuti mereka. Sementara dirinya membangunkan Daryl.


"Mau pindah?" tanyanya saat pria itu membuka mata.


Daryl tak menjawab, namun dia malah menarik Nania, membuat mereka sama-sama berbaring di sofa. Dia kemudian memeluknya dengan erat hingga keduanya sama-sama terlelap di sana.


💖


💖

__ADS_1


💖


Bersambung ...


__ADS_2