The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Seragam


__ADS_3

💖


💖


"Aku dengar perusahaan suamimu mau meluncurkan produk parfum?" Lisa memutar posisi duduknya begitu jam pelajaran usai.


"Iya." Dan Nania membereskan alat tulisnya.


"Aku lihat spill nya di website Fia's Secret." ucap Lisa lagi.


"Uh'um." Nania menganggukkan kepala.


"Launchingnya kapan?"


"Akhir minggu ini."


"Kalian mengundang siapa saja? Pasti banyak artis terkenal?"


"Kalau itu aku nggak terlalu tahu, tapi mungkin juga sih."


"Nanti kamu ada di sana dong?"


"Iyalah, orang aku yang …."


"Uuuhhh … iri deh sama kamu. Nikah sama anggota keluarga Nikolai, masuk ke lingkaran itu dan pastinya bisa dengan mudah mendapatkan akses ke mana pun."


"Umm …."


"Kalau aku, udah nggak bakalan mau deh capek-capek sekolah lagi. Ngapain? Punya suami kaya, bisa ngasih segalanya. Mending diem aja di rumah."


Nania terdiam.


"Aku kalau nggak harus bantuin papaku urus perusahaan, nggak mau deh sekolah lagi. Males."


"Seharusnya kamu bersyukur. Orang tuamu mampu dan mereka bisa menyekolahkan kamu setinggi-tingginya. Nggak kayak aku yang punya mimpi tinggi tapi nggak punya dukungan. Terutama soal uang. Itu sebabnya kadang aku pikir Tuhan nggak adil, karena memberi orang malas kekayaan berlimpah tapi aku yang mau kerja keras dibikin miskin terus." Nania seolah menemukan jalan untuk berbicara.


"Tapi sekarang,  karena dukungan suamiku aku bisa mewujudkan satu-persatu mimpi yang dulu aku pikir mungkin nggak akan jadi nyata."


"Kamu tahu, Lisa? Kamu jauh lebih beruntung dari pada aku, jadi kenapa harus iri? Toh semua orang punya takdirnya sendiri-sendiri dan memiliki jalannya sendiri untuk mencapai kesuksesan. Kamu hanya tinggal menuruti kemauan papamu, dan semua bisa kamu dapatkan. Sedangkan aku? Kamu nggak akan percaya meski aku cerita apa yang udah aku alami sampai tiba di titik ini."


"Bukan gitu, maksud aku …."


"Aku tahu, mungkin kamu pikir aku mendapatkan semua ini dengan mudah. Tiba-tiba ketemu seorang laki-laki kaya kemudian menikah dan jadilah aku yang sekarang. Tapi yang nggak kamu tahu adalah proses sampai aku tiba di sana. Yang mungkin hanya satu diantara ribuan orang kayak aku yang mengalami."


Lisa terdiam lagi.


"Dan menurut aku, akan sangat bagus kalau misalnya kamu menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Selagi orang tuamu ada dan mereka mampu untuk memberi pendidikan yang sangat layak. Sehingga kamu nggak akan menemui kesulitan seperti aku, dan selagi orang tuamu ada, apa susahnya untuk mendengarkan keinginan mereka? Karena kalau udah nggak ada, maka satu-satunya yang ingin kamu dengar adalah cara mereka berbicara kepadamu." Nania bersiap untuk pergi setelah dia menerima pesan dari Regan di ponselnya.


"Aku … cuma ngasih gambaran. Gimana rasanya ketika orang tua udah nggak ada. Atau ketika orang tua ada tapi kayak nggak ada. Karena aku mengalami itu, Lisa." katanya, yang kemudian melagkah ke arah luar setelah dirasa keadaan cukup lengang. 


Namun dia berhenti sebentar di ambang pintu dan berbalik.


"Hey Lisa? Nanti kirim alamat rumah kamu ya? Jadi aku bisa menyuruh orang untuk mengantar undangan launching parfumnya." Perempuan itu tersenyum.


"Apa?" Lisa seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.


"Aku cuma undang kamu lho, karena kamu yang paling sering ngajak aku ngobrol sejak masuk ke sini." ucap Nania lagi yang kemudian melenggang keluar.


"Bye, Lisa. Jangan lupa kirim alamat rumah kamu!" katanya lagi sebelum akhirnya dia menghilang dibalik pintu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Langsung pulang?" Regan buka suara.


Mobil yang mereka kendarai sudah berada di tengah kepadatan lalu lintas kota Jakarta yang cukup terik pada tengah hari itu.


"Hu'um." Nania mengangguk sambil merebahkan tubuh kecilnya pada sandaran kursi.


"Ada masalah lagi?" Pria di balik kemudian itu bertanya.


"Nggak ada, aku cuma capek aja." Nania menjawab tanpa semangat sepertu biasanya.


"Capek? Memangnya habis apa? Saya pikir sekolah persamaan itu lebih ringan dari sekolah umum?"


"Ya emang."


"Terus, kenapa bisa membuatmu capek?" Regan bertanya lagi.


"Kamu pikir sekolah itu nggak capek? Muter otak sama nyimak penjelasan guru nggak capek?"


"Ya tidak lah, kamu cukup diam dan mendengarkan. Bukannya jumpalitan menyelesaikan misi seperti saya." Regan menjawab.


"Dih, ya nggak bisa dibandingin lah!"


"Kenapa tidak bisa?"


"Ya nggak bisa. Kamu kan kerja, sedangkan aku sekolah. Di mana letak perbandingannya?"


Regan tertawa pelan.


"Emangnya kerjaan kamu berat banget ya, pakai bilang jumpalitan segala?" Nania bangkit kemudian agak mencondongkan tubuhnya ke arah depan.


"Lumayan."

__ADS_1


"Kok lumayan?"


"Ya lumayan berat."


"Hmm … suami aku ngasih tugasnya berat-berat ya?"


"Tidak juga. Hanya saja kadang-kadang tidak masuk akal."


"Masa? Misalnya apa?"


"Mengawasi seseorang di tengah malam buta, atau mengikuti orang sampai ke dalam gang."


"Kok begitu?"


"Itu dulu, sekarang sudah tidak."


"Kenapa?"


"Ganti tugas."


"Jadi apa?"


"Sopirmu."


"Oh, iya benar juga. hahaha." Nania tertawa.


Dan setelah beberapa saat mereka tiba juga di kediaman Satria.


"Silahkan." Regan membuka pintu mobil.


"Terus setelah ini tugas kamu di mana lagi?" Perempuan itu masih penasaran.


"Hanya menunggu perintah."


"Gitu ya?"


"Ya. Ada lagi yang mau ditanyakan? Kalau tidak ada saya pamit." ucap Regan saat dia menunggu sebentar.


"Kayaknya nggak deh, ngapain aku tanya-tanya kamu? Emangnya kamu suami aku?" Perempuan itu melenggang ke arah rumah besar.


Regan memutar bola matanya. "Bukankah tadi dia juga yang bertanya?" katanya, yang kemudian segera pergi dengan mobilnya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sofia masuk ke ruang tengah ketika mendengar kedatangan menantunya setelah menerima segels jus dari asisten rumah tangga mereka.


"Baru sampai?" Dia duduk di seberang Nania yang merebahkan dirinya di atas sofa.


"Mungkin kecapean. Semalam kalian pulang jam berapa?" Sofia menyesap jus yang dia bawa.


"Nggak tahu, kayaknya tengah malam deh." Nania pun bangkit.


"Kalau begitu kenapa memaksakan pergi  sekolah?" Sang mertua meletakkan gelas jus di meja.


"Sayang kalau libur. Cuma empat hari dalam seminggu ini." Nania menelan ludahnya sendiri saat melihat minuman milik mertuanya.


"Aku mau minum." kataya.


"Panggil Mima."


"Mau jus."


"Iya, minta Mima buatkan."


"Mau punya Mama."


"Apa?"


"Mau jus punya Mama."


"Ini?" Sofia menunjuk gelas jus miliknya.


"Iya."


"Tapi ini bekas."


"Nggak apa-apa, aku maunya itu." Nania yang segera meraih gelas tersebut lalu meneguknya hingga isi di dalamnya hampir habis.


"Aahh … segarnya." Lalu dia mengembalikanya lagi ke atas meja.


"Padahal bisa minta Mima buatkan?"


"Ah, lama akunya keburu ileran."


"Duh?" Sofia mengerutkan dahi. "Oh iya, Mama lupa memberikanmu ini." Lalu dia menyerahkan paper bag yang dibawanya dari lantai atas.


"Apaan?" Nania segera menerimanya.


"Sampel."


"Sampel lagi?" Sang menantu mengeluarkan barang tersebut yang berupa pakaian kekurangan bahan berwarna merah menyala.


"Wah?"

__ADS_1


"Bagus kan? Nanti akan kita tambahkan ke koleksi di FSH biar semakin komplit. Itu ukuran paling kecil, sepertinya muat untukmu?"


"Uuuhhh …." Mata Nania berbinar menatap benda tersebut.


"Mau aku cobain ah." Perempuan itu beranjak dan dia menghambur ke rumahnya di belakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Baik, selangkah lagi kita hampir sampai ke launching dan pembukaan. Jadi saya harap semuanya sudah selesai saat waktunya tiba." Daryl menarik kesimpulan dalam diskusinya dengan beberapa staf di Fia's Secret.


"Semuanya sudah diatur, Pak. Dan kita hanya menunggu sampai selesai." Dinna menggeser laptop milik Daryl yang telah menerima kiriman file foto dan video dari iklan yang mereka buat pada berapa hari sebelumnya.


Pria itu kemudian melihat foto-foto tersebut, yang memunculkan sedikit senyum di sudut bibirnya.


"Sudah pas." katanya yang kemudian beralih pada video iklan di mana dia dan saudara juga istri mereka beradu kemampuan akting.


"Mungkin untuk videonya ada yang harus dikurangi atau ditambah, bisa kita lakukan dari sekarang." Orang dari bagian staff promosi kembali berbicara.


"Hmm … sebentar." Lalu Daryl meraih ponselnya yang berbunyi tanda pesan masuk.


"Daddy, Mama ngasih aku baju." Pesan dari Nania yang diikuti beberapa gambar.


"Bagus nggak?" Kedua bola mata Daryl terbelalak dan di hampir menjatuhkan ponsel di tangan sehingga menghentikan rapat pada lawat tengah hari itu.


Dia sempat menyembunyikan benda pipih tersebut seraya menatap sekeliling ruangan di mana stafnya berada dan menunggunya membuat keputusan.


Kemudian Daryl perlahan kembali menatap layar di mana Nania mengirimkan foto setengah telanjangnya. Perempuan itu mengenakan pak*ian d*lam super mini berwarna merah menyala yang sangat transparan.


"Astaga! Kenapa dia berbuat seperti itu?" gumamnya yang menelan ludah dengan susah payah.


"Daddy, bagus nggak? Ini juga mau Mama luncurkan nanti sama parfumnya." Nania kembali mengirimkan gambar dalam posisi menyamping sehingga siluet bentuk tubuhnya terlihat lebih jelas.


Namun sesaat kemudian ponsel kembali berdering dan Nania lah yang memanggil. Membuat pria itu melonjak karena merasa terkejut.


"Ya?" Segera saja Daryl menjawabnya.


"Aku tanya, itu bagus nggak? Kok nggak kamu jawab? Emang lagi sibuk ya?" Suara Nania terdengar nyaring.


"Umm … aku sedang rapat, nanti kita bicara lagi, oke?" Dia pun menjawab dengan sedikit terbata.


"Oo … kirain lagi santai?" Terdengar tawa dari seberang sana.


"Mana ada? Sebentar lagi kita launching kan? Jadi …." Daryl memelankan suaranya.


"Oo … iya iya, oke aku ngerti." 


"Yeah, so …." Sesekali Daryl melirik ke arah stafnya yang menunggu.


"Ya udah, kalau rapatnya jam segini berarti nanti pulangnya nggak malem dong ya?"


"Umm … belum tahu, tapi …."


"Nggak apa-apa, aku nunggu."


"Oke."


"Kalau gitu aku siap-siap dulu ya?"


"Siap-siap untuk apa?" Daryl menatap jam tanganya yang baru menunjukkan pukul dua siang.


"Siap-siap aja, siapa tahu kamu pulang cepet."


"Hum?"


"Kan udah dapat seragam."


"Seragam?"


"Iya, seragam dari Mama." Nania tertawa lagi.


"Haih!" Daryl menggelengkan kepala ketika dia merasa pikirannya kosong, kecuali visualisasi perempuan itu yang tengah mengenakan pakaian minim bahan yang malah membuatnya terlihat lebih telanjang.


"Udahan dulu ya, aku mau mandi."


Lalu muncul pula bayangannya yang tengah membersihkan diri. Yang tentu saja segera membuat konsentrasi Daryl buyar seketika.


"Bye Daddy, cepet pulang ya?" ucap Nania lagi dengan suaranya yang menggoda sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.


Sementara Daryl tengah berusaha mengembalika konsentrasinya yang sempat berhamburan entah ke mana.


💖


💖


💖


Bersambung ....


lagi rapat lho itu malah digoda? 🙈🙈


Cuss like komen ssma hadiahnya kirim lagi biar naik terus di ranking.


Alopyu sekebon😘😘

__ADS_1


__ADS_2