
💖
💖
Daryl mendorong pintu kamar Nania perlahan, lalu mengintip gadis itu yang tengah meringkuk di tempat tidurnya.
"Aku kira kamu tidur?" Daryl tersenyum ketika di saat yang bersamaan gadis itu melirik kepadanya.
Kemudian dia masuk diikuti asisten rumah tangga yang membawa nampan makanan yang diletakkan di atas nakas.
"Terima kasih, Mima." Pria itu berujar.
Mima mengangguk kemudian dia keluar dari ruangan tersebut.
"Bapak nggak kerja apa? Sore-sore udah ada di rumah aja?" Nania bangkit sambil menyugar rambutnya yang berantakan.
"Tidak. Kalau terlambat berangkat malah jadi malas kan?" Daryl menjawab.
"Hmm …."
"Ayo makan, sudah sore begini kamu tetap di kamar. Apa kamu tidak lapar?" Daryl duduk di pinggir tempat tidur.
"Kira-kira polisi bakal percaya nggak apa yang aku bilang tadi pagi?" Gadis itu buka suara.
"Kita tunggu saja prosesnya."
"Ibu pasti punya banyak alasan untuk menghindar dan membela Bang Sandi, saya yakin ini nggak akan mudah."
"Memang, tapi buktinya kan ada."
"Duh, kalau aja hape saya ada. Satu buktinya ada waktu Bang Sandi bilang kalau ibu sakit. Pasti itu bisa sedikit merubah cara pandang ibu biar nggak belain dia terus. Sayangnya jatuh waktu lari malam kemarin."
"Hapemu?"
"Iya. Paling udah ada yang ngambil ya? Kan jatuhnya di jalan."
"Memang, Regan yang ambil." Pria itu mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya.
"Waaahh … hapenya!!" Nania segera merebut benda itu ketika dia megenalinya sebagai ponsel miliknya.
"Tapi sayangnya itu mati setelah Regan mengcopy data di dalamnya." ucap Daryl lagi.
"Apa?"
"Hapenya rusak … mati."
"Ahhh …." Nania dengan raut kecewa.
"Jangan khawatir, aku sudah menggantinya dengan yang baru." Lalu Daryl mengeluarkan benda lainnya lagi.
Sebuah ponsel keluaran terbaru dengan merk terkenal.
"Semua data sudah aku pindahkan ke sini." katanya, kemudian dia menyodorkannya kepada Nania.
Gadis itu tertegun dengan masih menggenggam ponsel miliknya yang sudah rusak.
"Ayo ambil!" ucap Daryl lagi.
Nania belum mau menerimaya. Dia hanya menatap benda itu lekat-lekat.
"Ambil!!!" Lalu pria itu meletakkannya di telapak tanga Nania.
"Tapi Pak, ini …."
__ADS_1
"Pakai saja, aku khusus membelinya untukmu. Sama seperti punyaku!!" Daryl tertawa sambil menunjukkan ponsel miliknya dengan merk dan tipe yang sama.
"Umm …."
"Jangan menolak, nanti aku marah." Pria itu memicingkan mata.
Nania merasa tubuhnya merinding. Mendengar kata-kata Daryl membuatnya kembali teringat pada kejadian dua malam lalu. Ketika pria itu mengamuk setelah menemukannya yang mendapat kekerasan dari Sandi. Yang segera membalasnya dengan lebih parah.
"Aaa … baiklah baik. Kenapa sih Bapak ini sukanya maksa?" Yang kemudian membuat Nania menerima benda tersebut.
"Begitu kan manis?" Daryl tersenyum seraya meraih piring berisi makanan untuknya.
"Saya aja Pak, masih bisa kok kalau makan." Lalu dia merebutnya.
"Jangan manjain saya, nanti saya jadi lemah." Nania mulai memulai kegiatan makannya.
"Aku tidak memanjakanmu, aku hanya sedang membantumu." jawab pria itu.
"Nggak usah, kalau soal begini saya masih bisa." Nania memulai kegiatan makannya.
Daryl hanya tersenyum.
"Makasih ya, udah bantuin saya?" Gadis itu kembali berbicara.
"Ah, itu bukan apa-apa. Hal seperti ini kecil untuk keluarga Nikolai." Daryl tertawa dengan bangganya.
Huh, mulai sombong. Kalau bukan karena udah bantuin rasanya mau aku getok kepalanya! Batin Nania.
"Ada anak yang beruntung lahir di keluarga seperti ini, tapi di saat yang sama ada juga yang harus berjuang demi hal kecil yang sulit dia miliki. Dan Bapak termasuk yang beruntung itu." Ucapannya membuat tawa Daryl sirna seketika. Namun Nania tersenyum lalu kembali meneruskan kegiatan makannya.
"It's oke, kamu juga akan memiliki keluarga seperti ini nanti." Pria itu berujar.
Nania menatap wajahnya.
"Kakak!!!" Pintu didorong dengan keras dari luar, lalu dua bocah muncul bersamaan.
"Kakak sama Om Der lagi pacaran ya? Kok dua-duaan terus?" Anya dan Zenya naik ke tempat tidur.
"Apa katamu?"
"Yeee … berduaan di kamar udah kayak pengantin baru?" Rania muncul kemudian.
"Iya, kayak pengantin baru." Zenya tertawa.
"Nania sedang makan!" jawab Daryl dengan pipi sedikit merona.
"Asik bener makannya ditemenin ayang?" Kakak iparnya itu juga tertawa.
"Jangan sering-sering berduaan, nanti ketiganya setan." katanya lagi, dan dia senang menggoda adik iparnya.
"Ish!!" Lalu Daryl memutar bola matanya, kesal.
"Kamu udah baikan, Nna?" Rania beralih kepada gadis yang tampak canggung di dekat Daryl.
"Su, sudah Bu."
"Katanya tadi ke kantor polisi ya? Udah beres?"
"Lagi proses."
"Hmm …."
"Kamu tidak latihan apa? Sabtu ini kan ada balapan lagi?" Daryl menyela percakapan.
__ADS_1
"Udah seharian ini yeee … ini baru pulang?" jawab Rania, sedikit mengejek seperti biasa.
"Aku sama Zen juga ikut Mommy latihan lho, seru." Anya ikut berbicara.
"Seru apanya? Cuma lihat motor kebut-kebutan begitu?" Daryl mendelik.
"Seru tahu Om!"
"Tidak. Yang ada hanya berisik sama seperti kalian!" Pria itu mendebat keponakannya.
"Dih? Mendingan berisik suara motor dari pada bisanya cuma marah-marah kayak kamu?" Rania bergumam.
"Siapa yang marah-marah? Aku hanya bicara!"
"Itu. Kalau ngomong bawaannya ngegas melulu. Apa nggak serem? Bisa-bisa Nania jantungan kalau sering dekat kamu."
"What?"
"Nanti aku beliin kamu earpeace ya, Nna. Biar telinga kamu tetap aman." Rania beralih kepada Nania.
"Kamu pikir aku ini speaker apa? Suaraku nggak sekeras itu sehingga Nania harus menggunakan earpeace." Daryl tidak senang dengan ucapan kakak iparnya.
"Ish, berisik!!" Rania mengusap kedua telinganya.
"Om Der jangan kenceng-kenceng ngomongnya, nanti Heimlich bangun." Zenya yang mendekap toples ulatnya tidak mau kalah.
"Ini lagi, nggak selesai mengurusi ulat daun!" Sang paman dengan kesal.
"Sstttt! Diem Om, Heimlich lagi bobok." Namun anak itu menempelkan jari telunjuknya di bibir, membuat Daryl memutar bola matanya, sebal.
"Udah, kalau Bapak-bapak ngumpulnya sama bapak-bapak jangan sama ibu-ibu. Apalagi anak-anak, nanti malah rebutan." Rania menyela perdebatan anyara anak dan adik iparnya.
"Siapa yang bapak-bapak?" Daryl menjengit.
"Kamu sebentar lagi jadi bapak-bapak. Sana!!"
"Sembarangan kamu kalau bicara!"
"Nggak ih, itu kenyataan."
"Kenyataan apanya?"
"Buktinya kamu emosian. Laki-laki kalau emosian itu tandanya dia udah waktunya jadi bapak-bapak. Biar kalem sedikit."
"Maksudnya?"
"Nikah gih, nikah!!" ujar Nania sambil tertawa.
Daryl mendengus kemudian bangkit.
"Nikah kepalamu!!" Dia mendelik.
"Ya apa lagi? Dari pada marah-marah terus? Mending nikah biar ada pelampiasan."
Daryl melenggang keluar dengan raut kesal.
"Dia emang kaya gitu ya? Sukanya marah-marah melulu? Kebayang kalau lagi tidur pasti suka ngomel." Rania tertawa lagi, diikuti Nania sambil menghabiskan makanannya.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ....
Ayoooo ... Like komen sama hadiahnya lagi biar otor semangat. Tembus 1500 like kita up lagi. Yuk bisa yuk. 😁😁😁