
💖
💖
"Maaf Pak? Kenapa mobilnya parkir di sini?" Seorang tukang kebun berlari begitu Daryl menghentikan Rubiconnya di halaman belakang. Diatas rumput yang baru saja dia rapikan.
"Mau dicuci." jawab Daryl ketika turun diikuti oleh Nanian.
"Mau cuci mobil?" Si tukang kebun tampak terkejut.
"Iya."
"Di sini?"
"Iya."
"Kenapa tidak ke tempat cuci mobil saja Pak?"
"Di sini saja biar gratis. Lagi pula ada yang mau mencucikan." ujar Daryl yang melepaskan jaketnya.
"Tapi Pak?"
"Apa?"
"Kalau di rumput nanti Ibu …."
"Mama ke mana?"
"Jogging denga Bapak dan anak-anak."
"Hm … ya sudah."
"Tapi Pak, maaf?"
"Apa lagi? Sudah, sana lanjutkan pekerjaanmu!"
"Rumputnya Pak?"
"Kenapa dengan rumputnya? Nanti saja diperbaiki kalau aku sudah selesai."
"Umm …."
"Sana!" Daryl menyentakkan kepalanya.
"Ba-baik Pak." Pria itu pun pergi.
"Yakin mau mencucikan mobilku?" Sekali lagi Daryl meyakinkan.
"Iya, Bapak pikir aku main-main ya?"
"Nggak sih. Hanya saja …." Dia tertegun saat Nania menarik lepas hoodienya.
Gadis itu mengenakan kaus berwarna putih polos yang agak ketat. Padahal biasanya dia memakai kaus kedodoroan dibalik hoodie yang sama gombrongnya. Dan ini pertama kalinya Daryl melihat Nania dalam tampilan seperti itu.
Lalu Nania melepaskan sepatu dan meletakkan semua barangnya di kursi taman tak jauh dari mereka.
"Ayo, mana air sama sabunnya?" katanya, dengan bersemangat.
"Umm … Mimaaaa!!!" Daryl berteriak, lalu asisten rumah tangganya muncul.
"Ya Pak?"
"Ambilkan sabun cuci mobil."
"Maaf Pak?"
"Ambilkan sabun cuci mobil, cepat!"
"Bapak mau cuci mobil?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena mobilnya kotor."
"Maksud saya, kenapa dicuci di sini?"
"Ada yang mau cucikan." Pria itu menghentakkan dagunya ke arah Nania, yang membuat asisten rumah tangganya itu mengerutkan dahi.
"Cepat Mima!!"
"Ee … iya pak." Perempuan itu pun bergegas melakukan apa yang Daryl perintahkan.
"Kenapa orang-orang pada nanya dan kelihatan heran waktu Bapak bilang mau cuci mobil?" Nania bertanya.
"Tidak tahu." Pria itu menarik selang air yang bertumpuk di dekat rumah bermain tak jauh dari tempatnya memarkirkan mobil.
"Kayak yang baru aja lihat orang cuci mobil?" Nania tertawa.
"Memang."
"Apa?"
Pria itu tersenyum kemudian menyalakan kran, yang membuat air tiba-tiba saja menyembur mengenai Nania.
"Bapak!!" Gadis itu berteriak.
"Ups. Sorry!" Namun Daryl tertawa.
"Belum apa-apa udah main semprot?"
"Nggak sengaja." katanya, lalu tertawa lagi.
Mereka kemudian membersihkan bagian dalam mobil terlebih dahulu. Mengusap joknya dengan kain dan krim khusus sehingga benda itu tampak cemerlang dan menghilangkan noda dari sisa belanjaan dari pasar tadi subuh.
"Hey, apa yang kamu lakukan di sana!" Daryl melihat Nania yang sedang menunduk dengan kepalanya di bawah jok bagian belakang.
"Aku nemuin sesuatu." Gadis itu kemudian bangkit.
"Apa ini?" katanya, seraya menunjukan benda yang ditemukannya. Seperti sebuah anting dengan permata di ujungnya.
"What?" Daryl mendekat.
"Kayak anting?" Nania mengerutkan dahi, kemudian melirik ke arah pria itu.
"Eee … aku nggak tahu itu dari mana, hehe …?"
Kenapa benda itu ada di sana? Pasti jatuh waku Bella … ah, sial! Batin Daryl bermonolog. Ingat hal terakhir yang dia lakukan bersama model ibunya itu.
"Hmm …." Nania memicingkan mata.
"Mungkin punya Mama?"
"Emang Bu Fia suka naik mobil ini ya?" Gadis itu dengan raut curiga.
"Sering." Daryl menjawab.
"Ke mana? Perasaan Bu Fia kalau pergi seringnya sama Pak Satria, dan pakai mobil lain." Nania sangat ingat setiap kali Sofia dan Satria datang ke kedai untuk makan, dan mobil mana yang mereka gunakan.Â
"Pernah, waktu itu …." Daryl menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kapan?"
"Waktu … awal kedai buka?"
"Iya gitu?"
"Umm … ya. Pernah. Waktu itu aku datang malam-malam dengan Mama."
Nania mengingat.
"Ah, kamu nggak akan ingat. Waktu itu kita belum akrab." Daryl merebut benda berkilauan di tangan Nania kemudian melemparkannya ke sembarang arah.
"Hey!! Kenapa dilempar? Bukannya itu anting Bu Fia? Harusnya dibalikin!!"
"Nggak usah, Mamaku punya banyak." Jawab Daryl yang menyemprotkan wewangian pada bagian dalam mobilnya yang telah selesai dibersihkan."
"Tapi sayang itu …."
"Mau juga yang seperti itu? Nanti aku belikan."
"Bukan begitu masalahnya, tapi …."
__ADS_1
"Cepat lanjutkan cuci mobilnya! Apa kamu tidak akan bekerja hari ini? Sudah siang lho!" Daryl mengingatkan.
"Kan jam kerja aku dipotong." Nania menjawab.
"Kenapa dipotong?"
"Karena tadi subuh ke pasar. Makanya aku mau cuciin mobilnya karena ada waktu empat jam sebelum kerja lagi nanti siang."
"Begitu ya?"
"Iya."
Lalu Daryl terlihat menyeringai.
"Apaan?"
"Waktu kita banyak." Katanya dengan suara pelan.
"Untuk apa?"
"Apa saja." Lalu dia melepaskan pakaian bagian atasnya.
"Pak?"
Kemudian Daryl kembali menyalakan keran setelah menutup rapat pintu mobil, dan dengan segala kejahilannya dia menyemprotkan air kepada Nania.
"Hey! Bukan ke aku, tapi semprot airnya ke mobil!!" Gadis itu berteriak.
"Sekalian aku mandikan kamu!!"
"Nggak usah! Mobilnya aja!!"
"Kamu bau habis dari pasar!"
"Bapak juga sama."
"Aku nggak terlalu."
"Sama!!" Mereka saling mengejar mengitari mobil kemudian saling berebut selang air yang menyala. Lalu menyemprotkannya ke tubuh masing-masing.
Tawa riang mengudara di halaman belakang kediaman Satria, dan itu berasal dari dua orang yang sedang menikmati dunia mereka sendiri.
Nania bahkan tertawa dengan keras sambil melonjak-lonjak kegirangan, dan itu pertama kalinya Daryl melihat dia begitu lepas. Seperti anak kecil yang menemukan mainan baru yang menyenangkan.
"Yeee, malah melamun!" Nania menepuk lengan pria itu.
"Ayo basahin!" ucapnya, yang memegang sebuah botol kemudian naik ke atap mobil.
"Hum?" Daryl meyakinkan pendengarannya.
"Mobilnya, basahin!" ulang Nania yang membutuhkan sabun pencuci pada bagian atas Rubicon milik Dary.
"Eee …." Pria itu menatap Nania yang berlutut di atas mobilnya dalam keadaan basah kuyup.Â
Kausnya terlihat semakin mengetat dengan cetakan dada terbungkus bra berwarna hitam. Belum lagi rambut dan wajahnya yang basah, yang membuatnya tampak menggoda.
Pria itu menggelengkan kepala.
"Pak?" Nania memanggil lagi.
"Ya?"
"Airnya!!" Dia mengisyaratkan kepada pria itu untuk mengalirkan air pada mobil.
"Umm …." Lalu pria itu menurut.
Nania melakukan bagiannya. Dia menggosok atap mobil hingga menghasilkan busa yang sangat banyak. Sementara Daryl menatapnya dari bawah. Dia bahkan sampai memiringkan kepala agar penglihatannya semakin jelas atas tubuh gadis itu.
Pantatnya terlihat sempurna, dadanya cukup menggoda, dan jangan lupakan kaus yang sedikit tersingkap itu membuat kulit pinggangnya terlihat. Dan hal tersebut membuatnya merasa berdebar.
"Astaga!! Padahal hanya begitu?" Dia menelan ludahnya dengan susah payah.Â
Tiba-tiba saja Daryl merasa tenggorokkannya seakan mengering. Gadis ini membuatnya merasa tak karuan. Padahal ini bukan pertama kalinya dia menatap tubuh perempuan.Â
Yang polos tanpa sehelai benang pun sering dia lihat. Bahkan dirinya sudah beberapa kali melakukan hubungan badan dengan Bella yang memiliki tubuh yang seksi, dan tak ada se inchi pun yang luput dari sentuhannya.Â
Tapi ini? Baru melihat Nania dalam tampilan seperti itu pun dirinya sudah kelimpungan, padahal dia masih berpakaian.
Berapa kuat kau menahannya, Daryl? Dia ada di depanmu dan dalam keadaan seperti ini.
"Hah, apa?" Pria itu terperangah.
"Airnya, lagi." Nania turun ke bagian bawah dan menunjuk kap depan.
Lalu Daryl mengarahkan selang yang menyala ke sana. Gadis itu kembali menggosoknya seperti yang dia lakukan sebelumnya. Dan lagi-lagi hal itu membuat pikirannya menjadi semakin kotor saja.
"Ah, sial!" geramnya, dan itu mengalihkan perhatian Nania.
"Kenapa?"
"Eee … tidak." Daryl tergagap.
"Dari pada diem, bantuin kenapa?"
"Hum?"
"Gosokin bagian yang itu kek, atau apa gitu? Biar cepat selesai. Kan aku mau kerja?" protes Nania yang mendapati pria itu hanya berdiri memegangi selang.
"Pak!!"
"Iya Nna, iya." Lalu Daryl menjatuhkan benda tersebut dan melakukan apa yang Nania katakan.
***
"Haaaaah! Capek!!" Nania menjatuhkan bokongnya di atas rumput, begitu pun Daryl yang berada tepat di sampingnya.
Mereka selesai membersihkan mobil setelah lebih dari satu jam.
"Ini pertama kalinya aku mencuci mobil, yeeee!!" Daryl tertawa.
"Masa?"
"Ya. Kamu membuatku melakukan apa yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Hahaha."
"Aneh ya?" Nania ikut tertawa.
"No, it's funn!"
"Hmm … Bapak aneh."
"Yeah, memang." Daryl tertawa lagi.
"Dih, seneng baget disebut aneh?"
"It's oke jadi orang aneh, itu artinya kamu berbeda dari orang lain, dan itu bagus. Aku suka jadi aneh."
Nania menatapnya sambil tersenyum.
"What? Aku … tampan ya?" Pria itu dengan percaya dirinya.
"Dih, kepedean!"
"Memang." Daryl mengedikkan bahu.
"Ah, Bapak mulai nyebelin."
"Aku senang seperti ini, mambuatku merasa lebih baik."
"Ish!!" Nania memutar bola matanya.
"Orang tua Bapak kalau joging suka sampai siang ya?" Nania mengalihkan topik pembicaraan.
"Biasanya tidak sesiang ini." Daryl menoleh ke arah belakang di mana pepohonan yang membentuk hutan kecil berada.
"Mungkin si kembar yang bermain-main dulu, mereka kan suka berpetualang."
"Semua kemauan cucunya dituruti ya?"
"Ugh!! Kamu tidak tahu saja bagaimana mereka. Itu baru kepada Anya dan Zenya, belum kepada anak-anaknya Kak Dygta."
"Oma dan Opa yang sweet!"
"Mungkin ke anak kita juga nanti begitu?" Daryl terkekeh.
__ADS_1
"Hah? Anak kita?"
"Ya, kalau kita menikah."
"Dih, pede amat bakalan nikah?"
"Kan suda aku bilang semalam?"
"Kan belum tentu?"
"Ucapan adalah doa, Nna. Kalau kita berharap menikah, siapa tahu akan terkabul. Menika itu kan hal baik?"
"Iyakah?"
"Hu'um." Mereka saling pandang, kemudian tersenyum.
"Berapa umurmu? Aku lupa." Daryl kemudian bertanya.
"Seminggu lagi 19 tahun."
"Apa? Itu berarti minggu depan?"
"Ya. Pas nikahannya Pak Darren."
"Hmm … kenapa kebetulan begitu?"
"Nggak tahu."
"So, kado apa yang kamu mau dariku?" Daryl bertanya.
"Kado?"
"Ya. Kado ulang tahunmu."
"Mm … nggak ada."
"Why?"
"Nggak ada aja."
"Tidak mau apa-apa dariku?"
"Nggak."
"Really?"
"Ya. Cuma berharap …." Nania menggantung kalimatnya.
"What?'
"Kalau yang ada sekarang akan berakhir baik. Kayak cerita dalam dongeng. Biarpun itu mustahil." Gadis itu terkekeh.
"Nothing is imposible. Selama kamu mau berjuang untuk mengusahakannya, apapun bisa terjadi."
"Tapi realitanya nggak gitu. Sebagian ada yang kejadian, dan sebagiannya lagi cuma khayalan."
"Maka jadilah yang nyata itu."
"Apa bisa?"
"Bisa, kalau kamu mau." Suasana terasa hening dan syahdu. Mereka seperti berada di tempat lain, di mana tak ada siapa pun yang akan menginterupsi.
"Umm …." Nania hampir bergeser ketika Daryl mendekat, namun pria itu menahannya dengan segera.
"Fokus saja dengan apa yang kamu mau, dan lupakan yang lainnya." ucap pria itu yang kemudian mendaratkan ciumannya pada bibir semerah cherry milik Nania.
Dia mengusap punggung basahnya dengan perlahan dan itu membuatnya sedikit menegang.
Nania membalas cumbuannya seperti yang pria itu lakukan. Masih agak kaku karena belum terlalu terbiasa, tapi dia melakukanya.Â
Rasanya tak ada alasan lagi untuk menolak, mengingat apa yang telah pria itu lakukan untuknya pagi ini.
Daryl merangsek seraya memegangi wajah Nania dan membuat ciuman mereka menjadi semakin dalam. Tubuh mereka bahkan merapat dan kehangatan seketika saja menguar.
"Umm …."
Daryl tak mau berhenti. Apalagi dia merasakan apa yang ada pada Nania menempel erat padanya. Dia terus menarik gadis itu hingga dia berada di pangkuannya.
Dia mengusap punggung dan tengkuk, lalu sebelah tangannya menyelinap dibalik pakaian basah Nania. Sementara tangan yang lainnya memeluk erat pinggang gadis itu.
"Wait Zen! Jangan cepat-cepat larinya!!!" Suara anak kecil menginterupsi aktifitas itu.
"Come on! Aku mau lihat Heimlich!!"
"Wait!! Aku kan bawa Shine!! Ini susah."
"Anak-anak, jangan lari-lari!!" Lalu disusul suara perempuan dewasa.
Dua sejoli yang sedang bercumbu itu terperanjat, dan mereka mencari asal suara. Lalu samar-samar terlihat bayangan di antara pepohonan di belakang mereka.
"Itu mereka!!" Kemudian Daryl menarik Nania untuk bangkit lalu mendorongnya ke arah rumah bermain.
"Eh, kenapa kita kesini?" Nania memekik.
"Nanti mereka banyak bertanya." Daryl menariknya ke sudut tersembunyi ketika mendengar langkah mendekat.
Lalu seseorang mendorong pintu dari luar.
"Aahh … Heimlichnya masih kepompong." Terdengar Zenya berbicara.
"Hey Joe, i got a friend for you." Suara Anya kemudian terdengar.
"Kalian tidak lihat Om Der?" Suara Sofia terdengar dari luar.
"Noo."
"Kenapa mobilnya malah diparkir di taman?"
"I don't know."
Daryl membekap mulut Nania ketika dia hampir saja bersuara. Dan dia memeluk tubuh basahnya dengan erat.
"Udah. Ayo kita cari Om Der? Kita minta es krim." ucap Anya, kemudian mereka terdengar keluar.
"Udah, Pak!" Nania menyingkirkan tangan pria itu dari mulutnya.
"Yeah, umm …."
Mereka tertegun untuk beberapa saat, meyakinkan kalau dua keponakan itu benar-benar telah pergi.
"Udah, Pak!!" Nania hampir saja beranjak, namun pria itu tak melepaskannya.
"Pak!!"
"Tunggu!"
"Apalagi?"
"Can we …."
"Apaan?" Nania menoleh.
"Eragon bangun." ucap pria itu.
"Apa?"
"Eragon nya … bangun. I can't …."
"Eragon apa?"Â
"Ini." Lalu Daryl mengarahkan pandangan ke bagian bawah tubuhnya.
Nania mengerutkan dahi, lalu beberapa saat kemudian dia baru faham ketika menatap bagian bawah perut pria itu yang sedikit menggembung.
"Ugh!" Gadis itu memukul paha Daryl, kemudian bangkit.
"Bapak mesum!!" katanya dengan kesal, lalu dia berlari keluar.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ...
selamat hari vote!!