
💖
💖
Daryl menarik blazer yang nania kenakan sehingga benda itu terlepas dan jatuh ke lantai sementara cumbuanya tidak dia hentikan. Dan tangannya segera menyusuri seluruh tubuh perempuan itu membuatnya bergerak-gerak tak karuan.
Apalagi ketika Daryl menyentuh beberapa bagian sensitifnya yang segera membangkitkan hasrat Nania. Membuatnya membuka sendiri tautan pada kancing jumpsuitnya sehingga pria itu dapat dengan mudah melepaskannya pula.
Sedangkan Daryl tersenyum dalam cumbuan karena dia senang bahwa istri belianya itu telah mengerti segala hal tanpa harus banyak mengajarinya.
"Mmm …." Nania mengatupkan mulutnya dengan matanya yang mengerjap-ngerjap ketika pria itu mengecupi lehernya sementara dadanya yang masih berbalut bra hitam itu dia remas perlahan.
Jantungnya berdebar tak karuan dan napasnya menderu-deru ketika gairahnnya mulai tersulut, namun dia membiarkan saja suaminya melakukan apa yang diinginkan pada tubuhnya.
Daryl mendorong Nania sehingga dia kini berbaring telentang di atas tempat tidur dan dengan segera dia melepaskan pakaiannya hingga yang tersisa hanya bra nya saja.Yang dia tarik ke atas tanpa membuka pengaitnya seperti biasa, lalu berhenti di pergelangan tangan perempuan itu.
Dia kemudian mengikatkan benda tersebut hingga Nania tak dapat merenggangkan tangannya sama sekali.
"Ummm … Daddy?" Perempuan itu menatap ikatan pada pergelangan tangannya, namun Daryl kemudian kembali menahannya di atas kepala.
"Diamlah, kamu akan menyukainya." bisik pria itu kemudian mengecup telingannya dengan lembut.
Tubuh Nania sedikit mengejang seperti tersengat aliran listrik, namun dia terkekeh karena hal itu.
Daryl melanjutkan cumbuan dan dia menyusuri setiap jengkal tubuh nya. Sebelah tangannya tetap menahan tangan terikat Nania di atas kepala, sementara tangan yang lainnya menyentuh tubuh perempuan itu.
Ujung-ujung jarinya menyentuh begitu lembut namun membangkitkan sisi erotis pada Nania sehingga dia mulai mendes*h tak karuan ketika merasakan reaksi pada apa yang Daryl lakukan.
Kedua kakinya bergerak tak nyaman dan dadanya semakin membusung dengan sendirinya ketika tubuh mungil namun menggoda Nania melengkung-lengkung setiap kali dia menyentuhnya.
Des*hannya mulai mengeras dan napasnya kian menderu. Terutama ketika di saat yang bersamaan Daryl menyesap dadanya bergantian sambil mempermainkan puncaknya dengan gemas.
"Oohhh, Daddy!!" Tubuh Nania menggelinjang dan dia merapatkan kakinya ketika merasa sengatan itu merambat hingga ke pusat tubuhnya.
Namun tak lama kemudian Daryl menelusupkan tangannya dan menemukan inti tubuh perempuan itu sudah basah.
"Oh, you're so ready." katanya, lalu dia segera menarik lepas kausnya dan melucuti celananya sendiri.
Dia kembali ke tempat tidur kemudian menarik pinggul Nania sehingga pusat tubuh mereka bertemu. Dan tanpa menunggu lama lagi Daryl segera membenamkan miliknya, lalu mendorongnya hingga benda yang sudah sangat menegang itu masuk seluruhnya.
"Daddy!!" Perempuan itu memekik ketika merasakan Daryl begitu memenuhinya dan dia menggigil di saat gelenyar-gelenyar menyenangkan itu merambat bersamaan di seluruh tubuhnya.
Keduanya saling menatap untuk beberapa saat dengan perasaan yang bertambah berkali-kali lipat setiap kali tubuh mereka bertautan. Dan segera saja hentakan itu mulai berlangsung.
"Nghh …." kening Nania berkerut hingga kedua alisnya tampak saling mengait.
Daryl segera menunduk untuk meraih ciuman, dan kedua tangannya kembali menahan tangan Nania yang terikat.
Erangan terus menggema dan keduanya benar-benar terbawa suasana, sehingga tidak memikirkan apa pun lagi saat ini selain kesenangan mereka berdua.
"Ahhh … Daddy!" Nania merasakan hentakannya menjadi semakin keras saja hingga mampu mengobrak-abrik bagian terdalam dari dirinya, membuatnya frustasi karena dia hampir tiba di ujung dan tak mampu menyentuh suaminya seperti biasa karena tangannya terikat.
Dia ingin menyentuh tubuhnya, meremat rambutnya, berpegangan pada lengannya atau apa pun yang biasa dilakukan ketika kedua tangannya bebas.
"Eegghhh …." Dia sedang berusaha melepaskan ikatan dan cengkraman itu bersamaan dengan usahanya untuk menahan diri.
"Dadyy!!"
"Yes Baby?" Daryl menempelkan kening mereka berdua.
Keringat sudah mulai membasahi pelipisnya dan dia juga berusaha mati-matian untuk menahan diri meski segala rasa telah berkumpul di pusat tubuhnya, dan menuntut untuk segera dituntaskan.
"You want more?" katanya dengan napas yang memburu.
"Hum?"
"Do you want more, Baby?" katanya lagi, menatap Nania yang menggigit bibirnya kuat-kuat dengan pipinya yang semakin merona.
Kedua tangannya masih bergerak berusaha lepas dari ikatan dan dia benar-benar merasa frustasi.
"Mmmhhh …." Nania terus mengerang lalu mengalungkan tangannya yang terikat di leher pria itu sehingga tubuh keduanya benar-benar merapat.
Dada mereka saling menempel dan kulit mereka bergesekan sehingga menimbulkan suara percintaan yang begitu terdengar erotis di telinga.
"You want more?" bisik Daryl lagi dengan rahang yang mengeras karena dia menahan sensasi gila di bawah sana ketika kedutan di pusat tubuh Nania semakin kencang.
Perempuan itu mengangguk karena sudah merasa tahan lagi, dan dia menginginkan hal ini segera dituntaskan.
"Say it!" Daryl menatap kedalam matanya yang semakin berkabut.
"Say it, Malyshka!" katanya yang memelankan hentakannya, namun hal itu membuat Nania bereaksi.
Dia mengeratkan pelukan dan melingkarkan kakinya di pinggang Daryl sehingga pria itu kembali menekan dengan kuat.
"I-iya." katanya.
"What?" Daryl masih belum puas mengujinya.
"Yeah, i want more!!" racaunya, dan dia semakin mengeratkan kedua kakinya di pinggang pria itu.
Daryl terdiam sebentar menatap wajahnya dan menunggu reaksinya.
"Daddy please, i want more!" rengek Nania lagi dan dia lebih mengeratkan lagi pelukannya.
__ADS_1
Pria itu menyeringai dan dia melakukan apa yang memang diinginkannya juga. Kembali memacu tubuhnya dan membuat perempuan di bawah semakin meracau tak karuan. Dan di detik berikutnya mereka sama-sama menekan pinggul masing-masing ketika ledakan pelepasan tiba secara bersamaan. Diikuti lenguhan dan geraman dari keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Daddy?" Nania mencari keberadaan suaminya yang tak dia temukan ketika membuka mata.
Matahari sudah bersinar cukup terik di atas kepala namun mereka masih berada di tempat itu.
"Sayang?"
"Di sini." sahutan Daryl terdengar dari samping di mana kolam renang berada. Pria itu sedang berjemur menikmati sengatan cahaya matahari di tubuhnya.
"Kita pulangnya kapan?" Nania mendekat.
"Pulang terus yang kamu pikirkan?" Daryl menjawab. "Memangnya di sini tidak senang ya?"
"Tapi kita perginya kelamaan."
"Terus kenapa?"
"Nanti orang rumah khawatir?"
Daryl tertawa.
"Kita ini bukan anak TK, kenapa orang rumah harus khawatir? Lagi pula kamu pergi denganku."
"Umm … aku ngerasanya begitu." Nania mendekat ketika Daryl bangkit dan mengulurkan tangannya, lalu dia duduk di pangkuan pria itu.
"Kalau kamu yang pergi sendiri aku patut khawatir. Jadi tenanglah." ucap pria itu yang tangannya segera menyentuh paha Nania yang hanya berbalut bathrobe dan merematnya dengan hati-hati.
"Jadi kita nggak akan pulang sekarang?" Perempuan itu bertanya lagi.
"Tidak. Just enjoy the time." Daryl meraih wajahnya kemudian mendaratkan ciuman di bibirnya yang semakin lama terlihat semakin menggoda.
Tangannya merayap di leher kemudian turun menyingkap bathrobe pada bagian pundaknya.
"Jangan, aku nggak pakai apa-apa." Namun Nania segera menahan tangannya.
"So what?"
Perempuan itu melihat ke sekeliling dan dia tak menemukan apa-apa di sekitar selain langit yang cerah dan angin yang berhembus.
"Tidak ada apa-apa di sini, dan kita ada di lantai paling atas. Hotel ini paling tinggi dari dua apartemen di samping jadi tidak akan ada yang lihat."
"Hum?"
Pria itu tersenyum.
"Senyum kamu mencurigakan."
"Wanna try something?"
"Apaan?"
Dia menurunkan Nania kemudian bangkit dan menariknya ke arah kolam.
"Nggak mau! Kamu tahu aku takut air sebanyak itu!" Namun perempuan itu menahan langkahnya.
"I know." Lalu dia melepaskan tangannya.
Daryl melakukan gerakan pemanasan sebentar kemudian menceburkan tubuhnya ke dalam air dan muncul tak berapa lama.
"Come."
"Nggak mau." Nania mulai merasa gelisah.
"It's oke. Tidak ada apa-apa, hanya aku … dan Eragon."
Nania tertawa frustasi. Dia tahu di bawah sana tidak ada hal yang membahayakan atau hal menakutkan lainnya seperti yang ada dalam bayangannya. Tapi tetap saja ketakutan itu sangat menguasai pikirannya.
Daryl mendekat ke pinggiran kolam.
"Come, Malyshka. Ketakutan itu harus dihadapi, bukan dihindari. Kalau dihindari kamu akan seperti ini terus."
Nania terdiam.
"Bagaimana kalau nanti kita punya anak dan dia senang berenang? Siapa yang akan menemaninya di saat aku tidak ada?"
"Masih lama kan?"
"Tetap saja. Nanti dia memintamu menemaninya renang tapi kamu menolak dengan alasan takut?"
"Ini nggak semudah yang kamu pikir, tahu?"
"I know."
"Terus kenapa kamu maksa aku terus?"
"I'm not. Just told you to try once."
Nania terdiam lagi.
"Kamu tidak akan tahu bagaimana sebelum mencobanya. Tapi kamu memilih untuk seperti itu selamanya?"
__ADS_1
"You just scared of the things that you don't even know their exist. (kamu takut pada hal yang bahkan tidak kamu tahu bahwa itu ada)."
"The fear is only on your mind. ( ketakutan hanya ada di pikiranmu)."
"So come, it's oke. Here's only me dan Eragon, you know?"
Nania tertawa lagi.
"Ayolah. Aku akan memegangimu jadi kamu nggak akan tenggelam." bujuknya lagi dan dia mengulurkan kedua tangannya kepada Nania.
"Ayo sayang!"
"Oh astaga!! Nggak maksa tapi bujuk-bujuk terus?" keluh Nania namun dia akhirnya menyerah juga. Pria itu tidak akan berhenti membujuk sebelum dirinya mengikuti apa yang dia inginkan.
Dia lebih mendekat ke kolam meski kakinya mulai gemetaran.
"It's ok honey, i got you." Daryl terus meyakinkan.
Perempuan itu jongkok kemudian duduk. Perlahan dia memasukkan kakinya ke dalam air yang terasa dingin.
"Ya, itu bagus. Pelan-pelan saja, tidak apa-apa. Buka bathrobenya, Sayang. Itu akan menyulitkanmu." Daryl lebih mendekat lagi.
"Tapi aku nggak pakai apa-apa."
"It's oke, tidak ada yang akan melihatnya. Cctv dibagian sini juga dimatikan."
"Hah?"
Daryl memegangi pinggangnya.
"Kamu aman bersamaku, Baby."
"Tapi … jangan lepasin aku ya?" kakinya semakin bergetar namun Nania tak bermaksud mengurungkan niatnya.
"Tidak akan. Aku akan memegangimu terus."
"Janji ya?"
"Ya. Turunlah!" ujarnya dan dia membantu perempuan itu melepaskan bathrobenya.
Daryl tersenyum menatap bagian atas tubuh perempuan itu yang tak terhalang apa pun.
"Come!" katanya lagi, dan dia bersiap ketika Nania mengulurkan kedua tangan lalu memeluk pundaknya.
"Jangan lepasin aku!" Perempuan itu berujar.
"I wont."
Nania kemudian pasrah saja ketika Daryl menariknya ke dalam air. Namun dia menjerit ketika merasakan sesuatu seperti menelannya hidup-hidup. Menghisapnya begitu kuat sehingga untuk bernafas pun dia kesulitan.
"It's oke, i got you. Tenang!!" Daryl memeluknya erat-erat seperti halnya Nania yang melingkarkan kedua tangan dan kaki di tubuhnya.
Dan untuk beberapa saat kegaduhan mengisi kolam renang di kamar paling atas di hotel tersebut ketika Daryl berusaha menenangkan istrinya dari ketakutan. Namun lama-kelamaan Nania mulai tenang dan dia tak lagi menjerit-jerit.
"It's oke, tidak ada apa-apa." Daryl tetap memeluknya dan dia mengusap-usap punggungnya sampai perempuan itu benar-benar tenang.
"See? Nothing's happen." katanya setelah Nania diam.
Mereka dalam posisi itu untuk beberapa saat dan Daryl memberinya kesempatan untuk merasakan keadaan di sekelilingnya.
Nania menatap wajah suaminya.
"Benar kan? Sekarang aku akan membawamu ke sana ya?" Daryl menunjuk sisi lain kolam.
"Jangan lepasin aku!!" Nania menjawab.
"Tidak. Kita hanya akan seperti ini sampai sana ya?" ucap pria itu, dan dia segera bergerak ketika Nania menganggukkan kepala.
"Oke." Lalu dia segera membawa perempuan itu ke sisi seberang kolam di mana mereka bisa menatap pemandangan indah di bawah.
Nania berpegangan pada pinggiran kolam begitu mereka sampai dan Daryl melepaskannya perlahan.
"I got you, i got you." Pria itu memeluk pinggangnya.
Nania terdiam dan dia menatap apa yang ada di depannya. Laut terhampar luas sejauh mata memandang namun rasanya menyenangkan.
Tempat tinggi biasanya membuatnya merasa ketakutan tapi keberadaan suaminya membuat dia tenang. Dan dirinya kini bahkan ada di kolam renang setelah selama belasan tahun kehilangan keberanian akan tempat seperti itu.
"Benar kan tidak kenapa-kenapa?" Pria itu kembali berbicara. Dan kini mereka sama-sama menikmati pemandangan di depan sana.
"So what are you afraid of?"
Nania menoleh dan senyuman perlahan terbit di bibirnya.
"Aku akan terus menjagamu bagaimanapun keadaannya." ucap pria itu lagi, dan Nania mengangguk setelahnya.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Ehm ... Vote dulu gaess😁😁