The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Kebiasaan


__ADS_3

💖


💖


Nania sedikit mengendap-endap mendekati tempat tidur di mana Daryl masih terjaga. Pria itu duduk bersandar pada kepala ranjang dengan televisi menyala.


Setelah orang terakhir pulang, keadaan rumah besar kediaman keluarga Nikolai kembali seperti semula. Sepi, apa lagi salah satu penghuninya sudah pergi.


"Tidak usah begitu, seperti pencuri saja?" gumam Daryl tanpa memalingkan pandangan.


Nania berhenti sebentar menatap suaminya yang menonton tayangan di layar. Kemudian dia perlahan naik ke tempat tidur.


"Biasa saja, aku tidak akan menggigitmu!" ucap Daryl lagi yang kemudian melirik kepada gadis itu.


"Eee … aku takut."


"Takut kenapa?"


"Takut Bapak masih marah? He …." Nania mencoba untuk tersenyum.


"Hhhmmm …." Pria itu menggeram sambil mengerucutkan mulutnya. "Kemarilah." Lalu dia menyentakkan kepalanya.


Nania segera mendekat, dan tak ingin membuat masalah dulu kali ini.


"Apa aku terlihat marah?" Daryl bertanya.


"Sebenarnya, mau marah ataupun nggak, Bapak kelihatannya sama aja."


"Bagaimana?"


"Sama-sama nyebelin." Nania tergelak, sementara Daryl memutar bola matanya.


"Nggak deh bohong, Bapak tetep ganteng." Namun gadis itu meralat ucapannya sambil menyentuh wajah Daryl.


Membuatnya mengatupkan mulut dengan hidung yang tampak kembang kempis.


"Tapi bakalan lebih ganteng kalau misalnya nggak marah-marah terus." Lanjut Nania, kemudian kembali tertawa.


"Mulai berani gombal?" Pria itu bergumam.


"Nggak gombal, tapi itu kenyataan."


Perlahan senyuman terbit di sudut bibir Daryl.


"Aku tidak marah, aku hanya sedang kesal. Dan aku sangat ekspresif. Aku akan bereaksi jika ada sesuatu hal yang merubah perasaanku, baik itu senang, sedih atau marah. Aku tidak akan menahan apa yang ada di dalam hatiku." Lalu dia menjelaskan.


"Jadi jangan heran kalau aku sering mengomel nanti, karena tidak akan terjadi saat ini saja. Dan kemungkinan kamu akan terjebak selamanya denganku."


"Kok aku deg degan ya? Hehe."


Daryl menyentuh bagian atas dada Nania, dan memang terdengarnya terasa cukup kencang saat ini.


"Tenang saja, aku tidak akan memukulmu." katanya sambil terkekeh.


"Aku tuh kadang takut kalau ada yang ngomongnya keras-keras. Di otak aku kayak sebentar lagi bakal mukul, atau ngelakuin sesuatu. Jadinya suka overthinking."


Daryl terdiam. Dia lupa jika gadis yang baru dinikahinya itu melewati banyak hal dalam hidupnya. Dan kemungkinan dia juga mengalami semacam trauma.


"Aku terlalu keras kepadamu ya?" ucapnya kemudian.


"Umm … mungkin itu karena kebiasaan aja? Karena aku gitu juga kebiasaan dibentak?" Nania terkekeh lagi. Dia berusaha memahami keadaan yang tiba-tiba saja berubah diantara mereka.


"Oh, padahal aku sudah janji akan menjagamu. Tapi lihat apa yang aku lakukan? Perkara malam pertama yang gagal saja menjadi masalah, padahal aku begitu bahagia karena telah berhasil menikahimu." Daryl kemudian merangkul Nania, lalu menariknya ke dalam pelukan.


"Kalau nada suaraku tinggi ketika sedang berbicara kepadamu, bukan berarti aku sedang marah. Itu hanya kebiasaan."


Nania menganggukkan kepala.


"Dan sepertinya aku harus banyak belajar lagi soal ini. Pendidikan yang aku dapat tidak membuatku mudah mengerti soal hal pribadi." Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Nania hanya tersenyum.


"Tapi memang kamu membuatku merasa gemas!!" Daryl menggeram kemudian mendaratkan ciuman dalam di bibirnya yang semerah cherry.


Dan untuk beberapa saat dia mengulum dan menyesapnya sampai benar-benar puas. Nania bahkan sampai megap-megap dibuatnya.


"Tidurlah sekarang! Aku tidak akan membuat masalah dulu denganmu beberapa hari ini. Kita tidak mau sesuatu terjadi kepadamu, kan?" katanya, yang melepaskan Nania dari rangkulannya.


"Umm …."


Pria itu mematikan televisi kemudian merebahkan tubuhnya.


"Tidur, Malyshka! Bukankah besok kamu akan bekerja?" Dia merentangkan sebelah tangannya, lalu Nania pun berbaring di sampingnya. Dan ini pertama kalinya mereka benar-benar tidur bersama.


"Pak?"


"Hum?"


"Memangnya aku masih boleh kerja?" Mereka tidur dengan posisi berhadapan.


"Sebenarnya aku ingin melarangmu. Bisakah?" Tangan Daryl merayap di pinggangnya, lalu menyelinap dibalik kausnya yang kedodoran.


Nania tak langsung menjawab.


"Atau untuk sementara tidak apa-apa, sambil penyesuaian." lanjut Daryl, dan tangannya semakin merayap ke atas, lalu berhenti saat dia tak menemukan benda lain di dalam sana.


Pria itu meraba-raba punggung Nania dan dia tak menemukan apa-apa selain kulit punggungnya yang mulus.


"Youre not wearing bra?" tanya nya.


"Nggak." Nania menggelengkan kepala.


"Oh, memang seharusnya tidak kan? Itu bagus untuk kesehatan." Daryl bersiap untuk tidur.


"Sebenernya memang kebiasaan juga sih." Gadis itu menyahut.


"Maksudmu?" Daryl mulai memejamkan matanya.


"Aku emang nggak pakai daleman kalau dirumah."


"What?" Matanya kembali terbuka.


"Bobok, Pak. Besok kerja." ucap Nania yang memejamkan mata, dan dia  menyurukkan wajahnya di dada pria itu. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nania tertegun di dalam walking klosset milik Daryl yang terletak di sisi lain kamar. Pakaian dengan beragam jenis warna, merk dan model berjejer rapi di rak penyimpanan.


"Malyshka!!!!" Terdengar panggilan dari luar.


"Ya? Sebentar." Gadis itu memilih pakaian yang sesuai.


"Bapak hari ini mau pakai baju apa?" Dia setengah berteriak.


"Apa saja." jawab Daryl.


"Nggak pakai dasi kan ya?"


"Tidak."


"Tapi mau pakai jas?"


"Boleh."

__ADS_1


"Oke." Gadis itu meraih celana panjang dan jas berwarna biru tua dengan kemeja putih. Tidak lupa boxer dan singletnya.


Sepasang sepatu hitam bertali yang pertama kali dia lihat juga menjadi pilihannya. Kemudian segera membawanya keluar.


Daryl tengah mengenakan krim wajah, body lotion, deodorant, juga menyemprotkan parfum pada tubuhnya yang hanya dibalut sehelai handuk. Seketika ruangan itu dipenuhi aroma maskulin yang menyenangkan.


Nania kemudian mendekat dan menyodorkan apa yang dibawanya. Dan Daryl mengenakannya satu persatu.


"Aku nggak pakai singlet." ucap pria itu yang mengambil boxernya.


"Terus kenapa ada disana?" Nania menyingkirkannya, seraya memalingkan pandangan ketika suaminya melepaskan handuk lalu mengenakan benda tersebut.


"Itu kerjaan Mima." Lalu dia meraih kemeja. 


Namun Daryl berdecak kesal ketika melihat benda tersebut.


"Kenapa?"


"Aku nggak suka kemeja, kenapa sih benda ini masih ada di lemariku?" katanya.


"Kenapa nggak suka kemeja?" Nania pun bertanya.


"Kancingnya terlalu banyak, aku lelah memasangkannya." Pria itu beralasan.


"Perkara kancing?"


"Eh, tapi kan sekarang ada kamu ya? Sepertinya pakaian apa pun tidak akan sulit lagi. Hehehe." Namun Daryl tetap mengenakannya. Dan beberapa saat kemudian dia mendekati Nania.


"Kancingkan!" katanya kepada gadis itu.


"Kenapa sih nggak mau ngancingin sendiri?"


"Ini sulit tahu?"


"Sulit apanya?" Gadis itu pun mendekat. "Tinggal dimasukin kesini, tuh. Udah. Gampang kan?" Satu kancing dia pasangkan.


"Kelihatannya mudah, tapi setelah aku lakukan semuanya seperti memudar dari memoriku dalam hitungan detik." Daryl menatap tangan dengan jari lentik yang tengah memasangkan kancing kemejanya.


Nania mengerutkan dahi.


"Aku … tidak bisa mengancingkan kemeja." Pria itu memutuskan untuk mengatakannya saja.


Lagi pula, mereka suami istri kan? Dan tidak boleh ada yang ditutupi dari pasanganmu, termasuk rahasiamu sendiri. Begitu pikirnya.


"Masa udah segede ini nggak bisa ngancingin kemeja? Aneh banget?" Nania tertawa.


"Serius. It's not easy for me to do a simple things."


"Hum?" Nania mendongak.


"I had a dyspraxia." Akhirnya Daryl mengatakannya juga. 


"Dyspraxia?" Gadis itu membeo.


"Ya. Aku mengidap ADHD. Attention Deficit Hyperactivity Dissorder. Atau ganguan koordinadi perkembangan. Orang-orang sering menyebutnya dispraksia." Daryl menjelaskan.


"Apa itu penyakit?"


"No, just … dissorder. Gangguan pada saraf motorik yang menyebabkan seseorang tidak mampu melakukan hal-hal tertentu. Walau mereka sudah mencoba melakukannya selama bertahun-tahun."


"Apa itu berbahaya?"


"Tidak, hanya … kadang terasa memalukan jika orang lain mengetahuinya, karena mereka akan bertanya-tanya mengapa sudah sedewasa ini aku tidak bisa mengancingkan kemeja?" Daryl terkekeh.


"Tapi karena kamu istriku maka aku mengatakannya, agar kamu mengerti bagaimana harus mengurusku." 


"Umm … maaf, aku bukannya ngetawain. Cuma merasa aneh, masa ada …."


"It's oke."


"Celana?" Dia menyerahkan celana panjangnya yang kemudian segera Daryl kenakan.


"Masangin kaitannya bisa?"


"Bisa tapi agak sulit di sini, jadi …."


"Aku aja." Lalu dia menautkan kaitan pada celana dan menaikkan resletingnya.


"Kenapa nggak bilang dari dulu? Kan jadinya aku nggak akan ketawa-ketawa tiap ingat itu?" Nania berbicara lagi.


"Hum?"


"Iya, masa ada laki-laki dewasa nggak bisa mengancing kemeja. Kan aneh?"


"Kamu pikir aku aneh?"


"Karena nggak tahu, jadi mikirnya aneh. Tapi karena udah tahu, jadinya aku ngerti." Dia membantunya mengenakan jas.


"Terus habis ini apa lagi?" Nania bertanya.


Daryl menundukkan kepala menatap kakinya.


"Sepatu?"


Pria itu menganggukkan kepala.


"Nggak bisa pakai sepatu?"


Lalu dia menatap sepatu di sisi kaki Nania.


"Hanya mengikat talinya saja." jawabnya.


"Itu juga?"


Daryl mengangguk lagi.


"Oh …." Lalu Nania segera memakaikan kaos kaki, memasangkan sepatu dan mengikat talinya sampai benar-benar rapi.


"Selesai! Sekarang apa?"


"Rambut?"


"Nggak bisa nyisir juga?"


"Kalau itu bisa, tapi akunya malas." Daryl tergelak.


"Dih?" Nania mencibir.


Namun kemudian dia meraih sisir di meja lalu menarik kursi di dekatnya.


"Udah pakai pomade kan?" Dan dia naik ke atas kursi.


"Sudah."


"Oke." Nania segera merapikan rambut kecoklatan Daryl dengan sisir di tangannya.


"Begini?"


Daryl menatap dirinya di cermin.


"Jangan terlalu rapi, aku seperti anak TK!" Pria itu menyugar rambut yang sudah rapi dengan tangannya.


"Ish! Udah bagus rapi?" protes Nania.

__ADS_1


"Aku kelihatan seperti Zen."


"Emangnya kenapa? Zen kan ganteng?"


"Apa?"


"Iya, Bapak emang kelihatan kayak Zen. Ganteng!" Dia mengulangi ucapannya.


Daryl memicingkan mata.


"Aku tidak suka kamu mengatakan hal itu untuk orang lain?" katanya.


"Apaan?"


"Kamu menyebut Zen ganteng?"


"Ya emang Zen ganteng?"


"Hmm …" Daryl bergumam.


"Masih kecil aja udah ganteng apalagi nanti udah gede?" Gadis itu bermaksud turun dari kursi, tapi Daryl mslah mengangkatnya dalam gendongan.


"Ihh … Aku mau turun!"


"Katakan sekali lagi, maka aku tidak akan melepaskanmu!"


"Apa?"


"Soal Zen?"


"Zen ganteng?"


"Haih! Menyebalkan sekali mendengarmu mengatakan hal itu!!"


"Dih?"


"Aku kesal mendengarnya."


"Kesal kenapa? Zen ka cuma anak-anak?"


"Tetap saja dia laki-laki!"


Nania tertawa.


"Aku ini pencemburu berat, jadi jangan coba-coba berbicara soal laki-laki lain di depanku!"


"Memangnya kenapa kalau aku bicara soal laki-laki lain? Kamu bakal marah? Eh!" Nania menutup mulutnya dengan tangan.


"Just try!"


Gadis itu tertawa lagi.


"Iya iya, ngerti. Udah! Sekarang turunin akunya!" Dia meronta.


***


"Kalian mau ke mana?" Sofia bereaksi melihat anak dan menantunya yang sudah rapi.


"Kerja." jawab Daryl dan Nania bersamaan.


"Kerja?"


Dua orang itu menganggukkan kepala.


"Baru dua hari menikah sudah mau kerja?" ucap sang ibu.


"Memangnya ada larangan baru menikah tidak boleh bekerja?" Daryl menarik kursi untuk Nania, kemudian mereka duduk dan bersiap memulai sarapan.


"Tidak juga, hanya saja biasanya kan libur? Darren bahkan sudah pergi ke Maladewa semalam."


"Benarkah?"


"Ya."


"Apa kalian tidak mau pergi bulan madu?" Satria ikut berbicara.


"Bulan madu?"


"Ya, seperti Darren."


"Umm … mungkin nanti." jawab Daryl yang menyesap kopi yang Sofia tuangkan.


"Kenapa nanti?"


"Ya … nanti saja. Percuma kalau bulan madunya sekarang." katanya.


"Kenapa percuma?"


"Aku tidak akan bisa apa-apa."


"Hah?"


"Jangan dibahas. Aku bisa kesal kalau ingat itu!"


Sofia dan Satria saling pandang, lalu mereka sama-sama melirik kepada Nania yang asyik dengan milk tea nya.


"Baiklah, terserah. Padahal tadinya Papi mau membelikanmu tiket bulan madu?" Sang ayah berujar.


"Tidak usah repot-repot, nanti aku beli sendiri kalau mau."


"Oke." Lalu Satria melanjutkan acara sarapannya.


"Bapak sarapannya mau apa? Aku ambilin?" tawar Nania kepada suaminya.


"Apa? Kamu memanggil suamimu dengan sebutan Bapak?" Satria bereaksi atas ucapan menantunya.


"Umm …."


Pria itu tertawa terbahak-bahak karenanya.


"Mana ada suami istri yang begitu? Kalau ada yang mendengar bisa-bisa kamu disangka pelayannya." Satria terus tertawa hingga matanya berair. Interaksi pagi ini menurutnya benar-benar lucu.


"Tuh kan, aku bilang juga apa?" ucap Daryl dengan kesal.


"Ya kan … belum terbiasa." Nania sambil meletakkan dua potong roti isi di piring suaminya.


"Maka biasakanlah! Nanti kedengarannya malah aneh!" Satria menyeka matanya masih sambil tertawa.


"Iya Pak, eh … Pih."


"Nah, masa kepada mertua bisa tapi kepada suamimu tidak bisa?" Sofia pun buka suara.


"Iya, mmm … nanti dicoba." Lalu mereka memulai kegiatan sarapan.


💖


💖


💖


Bersambung ...


Nah, ayo dibiasakan juga habis baca itu di like ya bestie.😂😂😂

__ADS_1


Jan lupa komen sama hadiahnya biar aku semangat.


__ADS_2