
💖
💖
"Daddy?" Nania menduduki perut Daryl yang masih terlelap padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Mau bangun nggak?" Dia menunduk kemudian berbisik di telinga pria itu.
"Daddyyy!" bisik Nania lagi lalu dia bangkit dan mengusap-usap dadanya.
"Orang-orang udah pada mau sarapan masa kamu masih tidur aja? Nggak akan pergi kerja apa?"
"Daddy? Nanti kita terlambat." Perempuan itu kembali mendekatkan mulutnya ke telinga Daryl kemudian meniupkan napasnya pelan-pelan sambil tertawa.
Namun sesaat kemudian dia memekik ketika merasakan bokongnya diremat dengan keras, yang pelakunya siapa lagi kalau bukan suaminya sendiri?
"Menggodaku terus!" Pria itu bergumam sambil mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya terang benderang yang masuk lewat jendela besar di kamarnya.
"Habisnya kamu nggak bangun-bangun?" Nania terkekeh kemudian bangkit.
"Oh, aku lelah sekali apa kamu tidak mengerti?" Daryl mengusap wajahnya lalu dia menatap Nania yang sudah berada di atasnya dan baru mengenakan kemeja putihnya saja.
"Ya terus? Nggak akan pergi kerja? Kan udah hari siang?"Â
"Benarkah?"
"Hu'um." Nania mengangguk.
"Oh, aku lupa waktu gara-gara kamu!" Lalu dia bangkit dan meraup pinggang Nania. Kemudian merapatkan wajah ke dadanya dan memeluknya erat-erat.
"Dih? Nyalahin?"
Daryl tertawa.
"Bagaimana kalau kita bolos saja hari ini?" ucap pria itu yang mendongak.
"Bolos apaan? Aku kan ada ulangan semester." Nania merangkul pundak suaminya.
"Benarkah? Kamu sekolah sudah selama itu?"
"Iya. Udah separuh jalan, dan dalam waktu lima bulan lagi aku lulus. dapat ijazah SMA deh." Nania tertawa riang dengan wajah berseri-seri.
"Hmm … cepat juga ya?"
"Iya. Kita nikah juga udah tujuh bulan. Kalau orang hamil sebentar lagi lahiran."
"Ya seperti Kirana."
Nania mengangguk.
"Kamu juga tujuh bulan lagi melahirkan." Daryl kemudian menyentuh perut Nania dan mengusapnya dengan lembut.
"Iya, lulus, dapat ijazah, dapat anak juga. Hahaha."
"Kuliahnya tertunda."
"Nggak apa-apa, Dadd nggak kuliah juga. Ini udah cukup." Nania menyusupkan jari-jarinya di sela rambut Daryl.
"Tidak juga. Kamu bisa kuliah setelah anak kita bisa ditinggal. Mungkin setelah satu atau dua tahun?"
"Emang nggak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, kamu kan hanya kuliah. Pergi keluar selama beberapa jam lalu kembali. Tidak pergi ke luar negri selama berhari-hari seperti Rania."
"Ah, kan itu mah beda?"
"Ya, makanya. Lanjut kuliah saja. Soal anak kita bisa sewa pengasuh untuk menjaganya selama kamu pergi."
Nania tersenyum sambil mengangguk.
"Ya udah, sekarang mau bangun nggak? Udah jam tujuh lebih lho Dadd. Nanti kita telat." Perempuan itu melepaskan rangkulan tangannya kemudian turun dari pangkuan suaminya.
"Sepertinya aku tidak akan bekerja hari ini." Daryl pun turun dari tempat tidur.
__ADS_1
"Lho, kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa. Hanya mau menghabiskan waktu denganmu." Lalu dia bangkit dan melenggang ke arah kamar mandi dengan keadaan telanjang.
"Kan akunya sekolah?" Sementara Nania mengenakan rok hitamnya.
"Ya, aku mau mengantarmu sekolah, lalu siang nanti menjemputmu sendiri." jawabnya yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"Kenapa?" Nania mengikuti.Â
"Tidak kenapa-kenapa, hanya mau saja." Pria itu mulai menyalakan shower dan membiarkan air dingin mengguyur kepala sampai seluruh tubuhnya. Sementara Nania menatapnya diambang pintu.
"Terus kerjaan kamu?"
"Beberapa hari ini tidak terlalu banyak. Lagipula aku bisa mengerjakannya di rumah sambil menunggumu, kan?"
Perempuan itu tertegun.
"Kenapa? Kamu mau ikut mandi lagi?" Daryl berbalik menghadap ke arah Nania dengan tubuh telanjangnya yang masih dialiri air dari shower di atas kepala, lalu dia menyeringai sambil menggerakkan tangannya untuk meminta perempuan itu mendatanginya.
"Apaan? Ih, ogah. Nanti bukannya mandi tapi malah anuan." Nania menjawab.
"Hey, bukannya kemarin kamu juga yang mengajakku mandi?" Daryl pun tertawa.
Dia tidak mungkin lupa dengan apa yang terjadi sore kemarin dan berharap bisa mengulanginya pagi ini.
"Itu karena aku belum mandi." Nania mundur ke belakang.
"Kemarin aku juga sudah mandi, tapi aku mengikutimu untuk mandi lagi?"
"Itu lain ceritanya."
"Lain apanya? Sama saja kan?"
"Kemarin aku nggak akan pergi sekolah."
"Ah, alasan!"
"Kalau aku ikut mandi lagi nanti telat ke sekolah tahu? Ini aja udah hampir telat, gimana sih? Lagian nggak cukup apa malamnya dilanjut lagi? Kamu suka keterlaluan deh?" Nania juga mengingatkan kepada pria itu apa yang terjadi setelahnya. Lalu Daryl tertawa ketika dia ingat hal yang sama.
"Kan kamu yang mulai." Daryl menjawab.Â
"Iya, udah. Jangan ngomong terus. Selesaikan mandinya jadi kita bisa berangkat. Ingat, aku ada ulangan semester kan?" Nania menghindar dengan pipinya yang merona karena teringat kejadian semalam.
Ah, aku yang mulai aneh atau otakku yang mulai rusak ya? Kenapa setiap kali melihatnya seperti itu aku selalu menginginkan sesuatu? Batinnya, dan dia segera merapikan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Minumanmu sudah?" Daryl memastikan tidak ada yang Nania lupakan saat mereka turun dari mobil.
"Udah." Perempuan itu menunjukkan tumbler berisi jus yang menggantikan milktea sejak dirinya menyadari keadaannya yang berbadan dua.
"Tidak usah aku bekali, kan? Karena nanti aku sendiri yang akan menjemputmu lagi." Pria itu membenahi seragam Nania yang terlihat sedikit kusut.
"Ya nggak usah kalau gitu."
"Baiklah, aku akan ada di sekitar sini ya? Mungkin di kafe ujung blok sana."
"Kenapa di sana?"
"Sambil menunggu kamu."
"Kamu yakin nggak akan pergi kerja?"
"Ya. Hari ini Dinna bisa mengerjakannya sendiri. Fia's Secret sedang santai."
"Bisa gitu ya?"
"Bisa lah, apa sih yang aku tidak bisa?" Lalu Daryl menyelipkan helaian rambut Nania ke belakang telinganya.
"Pasang kancing sama ikat tali sepatu?" Perempuan itu mencondongkan tubuhnya sambil tertawa.
"Kecuali itu." Da Daryl memutar bola matanya. "Eh tapi waktu itu aku lan sudah bisa?"
__ADS_1
"Baru sekali. Tapi pakai kemeja setiap hari aku yang bantu?"
"Ya itu kan kamu yang mau melakukannya? Padahal aku sudah menolak."
"Habisnya aku kebiasaan. Kan udah masangin kancing kemeja kamu sejak kita pacaran?"
"Hmm …."
"Ya udah, aku masuk dulu ya? Kamu kalau mau ya jalan-jalan dulu sana. Tapi matanya jangan jelalatan!" Nania memperingatkan.
"Bagaimana mau jelalatan? Aku kan sudah tak bisa lagi melihat apa-apa selain kamu." Pria itu segera merangkul tubuh Nania.
"Ahaha, gombal!"
"Tidak apa, kan aku sedang menggombali istriku, bukan perempuan lain."
Nania tertawa lagi.
"Curiga setelah ini kamu jadi genit?"
"Itu juga bagus, kan aku genitnya hanya kepadamu?"
Perempuan itu tergelak.
"Sudah ah, semakin lama bicaraku semakin ngawur. Nanti kamu benar-benar terlambat lagi?" Lalu Daryl menundukkan kepala sambil membingkai wajah Nania. Dan sebuah kecupan manis mendarat di bibir istrinya.
"Sana masuk! Selesaikan ulanganmu dengan baik agar aku bangga karena telah menyekolahkanmu!" katanya, lalu dia melepaskan Nania.
"Oke, Dadd." Nania mundur dua langkah.
"Kalau sudah selesai telfon aku ya?"
Dia mengangguk.
"Aku pergi." Daryl pun kembali ke mobilnya.
"Bagaimana caranya untuk mendapatkan laki-laki seperti dia?" Tiba-tiba saja Lisa sudah berada di sampingnya.
Dia menatap ke arah yang sama seperti Nania di mana Rubicon hitam milik Daryl terus menjauh.
"Hum?" Yang membuat teman sekelasnya itu menoleh.
"Kriteria apa yang biasanya menarik perhatian laki-laki seperti suamimu?" Lisa bertanya lagi.
"Nggak tahu." Dan Nania menjawab.
"Lho, bagaimana denganmu? Apa yang dia sukai darimu sehingga membuatnya tampak tergila-gila seperti itu?" Lisa selalu memperhatikan setiap kali Nania dan Daryl berinteraksi. Entah itu di ruang publik atau di manapun mereka berada. Keduanya selalu saja terlihat saling mengisi. Apalagi Daryl yang selalu besikap begitu manis kepada Nania.
"Ya aku nggak tahu." Nania memutar tubuh kemudian melangkah masuk kedalam gedung.
"Itu manis sekali." Lisa pun mensejajari langkahnya. "Oh, aku juga mau seperti itu. Menemukan laki-laki yang mencintaiku seperti Daryl yang sangat menggilaimu. Dan aku akan sangat bahagia dengan itu." Mereka hampir masuk ke dalam kelas ketika Nania menghentikan langkah.
Dia tertegun dan menatap punggung temannya itu yang masuk dan segera duduk di kursinya seperti biasa.
Apa orang lain menginginkan hidup yang aku miliki? Batinnya, yang menatap Lisa saat dia melewatinya menuju tempat duduk di belakang.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Makasih gaes, sejauh ini Novelnya Om Der naik terus. Ini berkat dukungan kalian. Terus klik like, kirim hadiah sama komen juga votenya ya biar makin naik.
Oh iya, udah tau belum kalau Emak punya novel baru. Tapi bukan di sini, adanya di oren. Mampir dan ramaikan karya Emak di sana ya?
Judulnya Mas Duda And Me 😊
Ingat cari napen TiyanaPratama di kolom pencarian ya?
Alopyu sekebon😘😘
__ADS_1