
💖
💖
"Nak?" Sofia segera memeluk putranya yang baru keluar dari ruang penanganan.
Meski suara raungan Nania masih terdengar, namun pria itu memutuskan untuk membiarkan dokter menanganinya saja.Â
Daryl merasa sudah tidak kuat dan dia hampir saja tak sadarkan diri apalagi setelah melihat gumpalan janin yang dokter keluarkan dari perut istrinya, diikuti darah yang mengalir deras seperti tak bisa dihentikan.
"Dia masih kecil, Mama. Dia masih kecil." Pria itu bergumam sambil membenamkan wajah di pundak sang ibu.
"Turut menyesal, Nak. Tapi kamu harus bersabar." Sofia dan Satria menepuk-nepuk punggung putra mereka.
Bahu Daryl tampak bergetar dan akhirnya, dia menangis juga. Tak ada hal yang pernah membuatnya seperti ini selain rasa kehilangan yang sangat dalam. Dan tentunya ditambah rasa kecewa teramat besar menguasai dada namun dia tak bisa melampiaskannya seperti biasa.
"Tabahkan hatimu, Nak! Semua sudah jalannya." Satria mencoba menguatkan putranya meski mungkin saat ini hal tersebut tidak akan terlalu memiliki dampak yang besar. Tapi setidaknya Daryl tidak merasa sendirian.
"Kuatkan hatimu! Karena setelah ini bukanlah kehilangan yang akan lebih menyiksa. Tapi rasa bersalah yang Nania rasakan." Sofia membingkai wajah sang putra.
Semuanya sudah dia dengar dari Regan yang segera dipanggil begitu mereka tiba di rumah sakit.
Daryl masih tergugu namun perempuan itu sedikit berhasil menghentikan tangisnya.
"Bersihkan dulu dirimu, Nak. Kamu tampak berantakan?" ujarnya saat menatap putranya.
Noda darah di kemeja dan celananya hampir mengering dan wajahnya tampak berantakan. Dia terlihat seperti baru saja melakukan pembunuhan.
Tentu saja, sebelumnya dia telah menghajar Hendrik terlebih dahulu untuk melampiaskan kemarahannya.
Lalu Daryl menoleh ketika ekor matanya menangkap gerakan di samping yang ternyata adalah Regan yang membawa tas berisi pakaian untuknya.
"Permisi, Pak?" Pria itu menganggukkan kepala.
***
"Bagaimana keadaan mereka?" Daryl keluar dari kamar yang akan digunakan sebagai tempat pemulihan Nania.
"Bu Mirna sudah mendapatkan perawatan. Punggungnya cedera akibat benturan keras, dan menurut keterangannya karena pukulan Hendrik."
Daryl mendengus keras mendengar bawahannya mengucapkan kata itu.
"Sementara Hendrik …."
"Apa dia mati?" Pria itu mengeraskan rahangnya kuat-kuat. Rasa marah kembali menyeruak ketika bayangan sebatang kayu dihantamkan ke perut Nania dan membuat bayi dalam kandungannya terpaksa harus dikeluarkan karena mengalami keguguran. Dan itu terjadi tepat di depan matanya.
__ADS_1
"Sayangnya tidak, Pak. Hanya organnya saja yang hancur. Sebelah ginjalnya pecah, paru-parunya luka dalam dan beberapa tulang rusuknya patah. Wajahnya apalagi …."
"Ah, aku kurang keras memukulnya." Daryl memejamkan mata.
Lalu perhatiannya teralihkan ketika empat orang pria bersetelan jas muncul da segera berjajar di sisi kirinya.
"Ada apa kalian kemari?" Daryl bertanya.
Regan terdiam sebentar, lalu dia mempersiapkan diri.
"Kami … sudah siap, Pak.?" katanya.
"Siap untuk apa?"
"Jika Bapak mau …." Regan berdeham, lalu dia menegakkan kepalanya.
"Kami sudah siap menerima hukuman karena keteledoran kami." katanya, dan hal sama juga dilakukan oleh rekan-rekannya yang hari itu berjaga.
Daryl tertegun dan dia menatap mereka satu-persatu. Kemudian pria itu menghela nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan.
"Tidak ada gunanya aku memukulimu." Namun tanpa diduga Daryl melewatinya seraya menyerahkan tas pakaiannya kepada Regan.
"Anakku tetap tidak bisa diselamatkan." katanya yang melenggang dengan lunglai. Tentu saja, darah dagingnya menjadi korban atas ketidak sabaran dan keras kepalanya Nania yang ada di bawah pengawasan mereka.
"Lagipula bukan salahmu." Pria itu berhenti sebentar lalu kembali menghela napas berat, kemudian dia melanjutkan langkahnya.
***
Sementara Daryl hanya bisa menatapnya sambil menahan sesak di dada ketika mereka sudah menempatkannya di ruang pemulihan yang memang sudah tersedia sebelumnya.
"Kuatkan hatimu, Nak!" Satria kembali menghampirinya dan menepuk punggung sang putra. Namun pria itu tak mengucapkan kata-kata sama sekali.
Bahkan kedatangan Arfan dan Dygta, juga saudaranya yang lain tak membuatnya ingin berbicara. Mereka hanya hadir untuk memberikan dukungan yang mungkin diperlukan.
"Permisi, Pak?" Regan masuk setelah mengetuk pintu.
"Ya?" Darren yang merespon saat semua orang hanya terdiam menunggui Nania.
"Ada petugas dari kepolisian yang meminta bertemu." ucap Regan.
"Polisi?" Semua orang terhenyak.
"Ya. Mereka menerima laporan penganiayaan dari pengurus rumah susun." jelas Regan, membuat semua orang saling pandang, sedangkan Daryl hanya terdiam.
"Aku saja yang menghadapi, kalian tunggu di sini." Dimitri bangkit dari tempat duduknya dan dia bermaksud keluar.
__ADS_1
"Tunggu, Kak!" Namun Daryl akhirnya bereaksi.
"Kau juga tunggu saja di sini, biarkan aku menyelesaikannya." ujar sang kakak dan dia hampir saja mengikuti Regan.
"Tidak apa, biar aku saja." Daryl pun bangkit.
"Kau tunggu, Nania membutuhkanmu." Dan Dimitri sempat menghalanginya, namun sang adik tetap pada pendiriannya. Bahkan dakam keadaan seperti inipun Daryl masih keras kepala.
"Aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku, bukan? Jadi sebaiknya aku ikut agar masalahnya cepat selesai." Daryl keluar mendahului mereka.
Dan tak ada yang mampu Dimitri lakukan selain membiarkan adiknya untuk pergi bersamanya karena memang seharusnya dia begitu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi, dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa penganiayaan itu terjadi karena membela diri, betul?" Polisi untuk kesekian kalinya bertanya untuk memastikan keterangan yang sudah didapat.
Sekitar dua jam mereka menginterogasi Daryl yang mengatakan segala yang terjadi ketika dia melihat Nania dihantam kayu dengan keras oleh Hendrik. Dan berikutnya kekacauan lah yang terjadi.
"Betul, Pak. Seperti yang adik saya katakan jika pria itu menyerang istrinya lebih dulu." Dimirtri tak mundur sama sekali dari sisi adiknya.
"Dan kami mengetahui jika akibat penganiayaan itu menyebabkan korban mengalami cedera yang sangat parah." ujar polisi yang mencocokkan keterangan Daryl dan Dimitri dengan laporan dari pengurus rumah susun juga pihak rumah sakit.
"Memang. Dan apakah Bapak juga tahu jika pukulannya kepada istri saya menyebabkan kami kehilangan janin yang sedang dia kandung?" Daryl menjawab dan sempat membuat petugas polisi terdiam sejenak.
"Saya tidak peduli jika Anda mau memenjarakan saya karena hal ini. Tapi bisakah Anda mengembalikan anak saya?" Logika Daryl sedang jungkir balik saat ini. Â
Tak ada hal yang lebih dia pikirkan dari janin yang telah hilang dari kandungan Nania.
"Saya salah karena sudah memukuli bajingan yang sudah menyiksa istri saya selama bertahun-tahun? Lalu apa yang akan mereka dapatkan setelah ini? Bahkan setelah kami kehilangan anak pun sepertinya itu tidak akan cukup."
Dimitri meremat pundak adiknya untuk membuatnya berhenti bicara.
"Ini anak pertama kami, Pak. Dan mendapatkannya sangat sulit, jadi apakah saya berlebihan jika bereaksi seperti itu?"
"Andai Bapak melihat ketika dia menghantam perut istri saya tanpa belas kasihan karena berusaha menyelamatkan ibunya yang dia paksa tinggal. Atau andai Bapak mendengar jeritan istri saya ketika dokter mengeluarkan bayi kami, kira-kira apa yang akan Bapak rasakan? Bagaimana hati Bapak setelah melihat itu semua?"
"Der!!" Dimitri mengguncangkan bahunya sehingga Daryl berhenti.
"Saya bahkan merasa menyesal karena tidak membunuhnya. Karena nyawa yang sudah hilang sudah seharusnya dibalas dengan menghilangkan nyawanya juga." Namun tampaknya Daryl tak ingin berhenti, dan dia sedang melampiaskan perasaannya.
💖
💖
💖
__ADS_1
Bersambung ....