
π
π
Nania baru saja naik ke rooftop dengan sekeranjang makanan setelah dia memastikan semua jendela dan pintu kedai terkunci rapat.
Lalu memutuskan untuk menikmati waktu kesendiriannya di lantai paling atas ruko itu. Menatap pemandangan malam yang cukup sunyi di antara gedung tinggi yang tidak beroperasi.
Lampu-lampu semua dia nyalakan sehingga atap kedai itu tampak terang benderang. Dan suara musik mengalun dari ponselnya.
Namun setelah beberapa saat suara musik terhenti dan digantikan oleh nada panggilan telfon.
"Haih, mau ngapain dia nelfon?" gumamnya saat melihat nama kontak yang menghubungi.
"Hal β¦
"Malyshka!!!" Suara di seberang tampak berteriak.
"Astaga!!" Gadis itu menjauhkan ponsel dari telinga sebentar.
"Kenapa kedainya sudah tutup?" Daryl bertanya dari seberang.
"Udah sepi Pak."
"Aku ada di depan, bukalah pintunya!"
"Hah, apa?"
"Aku ada di depan kedai. Bukalah pintunya, aku mau masuk." ulang Daryl.
Nania kemudian bangkit dan berjalan ke sisi depan rooftop. Dia menemukan Rubicon hitam memang sudah terparkir tepat di depan dan pemiliknya terlihat mondar-mandir dengan ponsel menempel di telinga.
"Bapak pulang deh, aku mau istirahat." katanya.
"What?"
"Pulang, Pak. Udah malam."
"But i need to see you." ucap pria itu.
"Dari subuh kita ketemu."
"Tapi ini penting." Lalu Daryl mendongak ke arah rooftop di mana Nania berada.Β
Lampu terang di belakangnya membuat gadis itu tampak berpendar diantara keredupan cahaya disela gedung.
"Izinkan aku masuk. Ada hal penting yang harus aku bicarakan." Dia berteriak.
"Tapi jangan ngomongin soal nikah." ucap Nania.
"Tidak akan."
"Jangan bahas eragon juga." Nania dengan polosnya.
"Hah?"
"Bapak mau ngomongin apa?"
"Soal kakakmu."
"Bang Sandi?"
"Memangnya kakakmu ada berapa?"
Gadis itu terkekeh.
"Come on, open the door!!" pinta pria itu lagi.
Kemudian Nania turun ke bawah untuk membuka kan pintu. Dan mereka segera menuju ke rooftop.
"Proses di kepolisian sudah selesai, dan kakakmu membuat pengakuan." Daryl menyesap kopi yang Nania buatkan.
Mereka duduk di gazebo seperti biasanya.
"Terus?" Gadis itu menyimak dengan rasa penasaran.
"Ternyata nenekmu menghalanginya mengambil uang, sehingga dia marah dan menendangnya. Dia membuatnya terjatuh dan bisa jadi itu yang menjadi penyebabnya mengalami serangan jantung."
Nania menahan napasnya sebentar.
"Terus apa lagi?"
"Dia juga mengaku telah memukulimu karena marah dan takut oleh ancaman bandar judi. Kalau tidak begitu, maka dia yang akan dihajar."
"Dia mengakui semua perbuatannya, apa lagi? Kakakmu tidak berdaya. Sepertinya aku memukulinya terlalu keras?" Daryl tertawa, lalu dia kembali menyesap kopinya.
__ADS_1
"Kamu mau polisi melakukan otopsi kepada nenek?" Pria itu berbicara lagi.
"Apa harus?"
"Tidak juga kalau tersangka sudah mengaku. Dan dia bersumpah memang melakukannya. Otopsi hanya dilakukan untuk pembuktian atas apa yang dia ucapkan."
"Jadi nggak harus kan?"
"Tidak."
"Ya udah, nggak usah. Kasihan Nenek kalau makamnya dibongkar terus badannya diotopsi. Aku nggak tega."
"Hmm β¦."
"Bapak udah makan?" Lalu dia mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah."
"Oke."
"Kenapa kamu selalu bertanya sudah makan atau belum? Mau makan atau tidak? Atau mau dibuatkan makanan apa?"
"Nggak tahu, mungkin cuma kebiasaan."
"Kebiasaan kalian aneh. Soal makanan terus?"
"Ya apa lagi? Kalau perut kenyang, hatipun senang. Hahaha." Nania tertawa.
Kemudian dia mengambil sesuatu dari keranjang makanan. Buah naga dengan ukuran cukup besar yang kemudian dibelah menjadi empat bagian.
"Malam-malam begini masa makan buah?" Daryl berkomentar.
"Nggak apa-apa, bagus buat pencernaan. Bapak mau?" Dia menyodorkan satu potongan besar kepada pria itu.
Daryl menggelengkan kepala.
"Aku nggak suka buah-buahan, apalagi buah itu. Bijinya banyak."
"Hah?"
"Aneh. Masa ada buah yang bijinya sebanyak itu?"
"Perkara biji!" Nania menggelengkan kepala.
Kemudian dia menyuapkan potongan besar buah berwarna merah itu kedalam mulutnya, lalu dia mengunyahnya dengan cepat. Setidaknya gadis itu memakan dua potongan besar dalam waktu beberapa detik saja. Dan Daryl menatapnya dengan raut yang tidak bisa diartikan. Namun yang pasti, pikirannya sudah kotor saat ini.
Eh β¦.
Pria itu mengelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran mes*m di otaknya. Meski sebenarnya sudah terlanjur juga karena dia memang sudah begitu.
Namun Nania malah asyik dengan makanannya, dan dia kembali menyuapkan satu potongan besar itu ke dalam mulutnya yang kecil. Bibirnya bahkan menjadi semakin merah karena buah itu.
"Do you like dragon fruit?" Daryl kembali memulai percakapan.
"Banget." Nania menjawab dengan mulutnya yang penuh, dan dia tampak begitu senang.
"Well, di rumahku ada banyak. Pohonnya sedang berbuah sangat lebat sekarang ini." ucap pria itu.
"Masa? Kok aku nggak lihat?"
"Ada di samping rumah bermain. Kamu tahu, mama senang sekali menanam bermacam-macam pohon dan bunga. Dan ada beberapa pohon buah-buahan di hutan kecil di belakang."
"Oh ya? Asik dong? Buah-buahan sekarang mahal. Sekilo bisa lebih dari dua puluh ribu. Kemarin pas kita ke pasar harga segitu sekilo aku cuma dapet tiga biji."
"Hmm β¦ kalau kamu tinggal dirumahku bisa dapat gratis."
"Nanti kalau main lagi ke sana mending petik buah aja, jangan di rumah biar nggak kena mes*mnya Bapak."
"What?" Daryl tergelak.
"Emang kalau pacaran sama yang lebih dewasa gitu ya? Ujung-ujungnya β¦."
"Tidak juga."
"Tapi kalau sama Bapak gitu."
"Memangnya sebelum dengan aku, kamu pernah pacaran dengan orang lain?"
"Nggak sih, nggak sempet." Nania tertawa, lalu dia menyuapkan potongan buah naga terakhir ke dalam mulutnya.
"Apa kamu suka dragon fruit jenis lain?" Kemudian pria itu bertanya lagi.
"Hah? Aku suka semuanya. Yang merah, ungu, putih, kuning. Rasanya sama aja manis dan dingin."
"Maksudku β¦ jenis lainnya lagi." Pria itu mulai ngelantur. Tapi ini rasanya lucu juga mendengar jawaban-jawabannya yang sangat apa adanya.
__ADS_1
"Emangnya buah naga ada berapa jenis? Setahu aku yang itu aja."
"You know β¦ Eragon fruit?" Daryl menahan tawanya.
"Hum?" Nania mengerutkan dahi.
"Buah jenis baru? Bentuknya kayak apa? Kayak buah naga?"
Pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Ya β¦ sebut saja begitu." katanya.
"Rasanya?"
"Umm β¦."
"Enak? Manis atau asam?"
"Enak."
"Di mana adanya? Di pasar atau supermarket?"
"Umm β¦ Aku β¦ Punya."
"Di rumah? Ada pohonnya? Yang mana?"
Pria itu terdiam sambil menggigit bibir bawahnya dengan keras.
Kenapa semakin lama gadis ini semakinΒ menggemaskan saja?Β
Ah!! Aku tidak yakin akan kuat menahan diri kalau begini terus.
Dia mengusap wajahnya, kasar.
"Apaan?"
"Kamu benar-benar tidak mengerti ya, masalah seperti ini?" gumamnya dengan nada frustasi.
"Soal apa? Kalau ngobrol sama aku yang jelas dong, kan aku anak SMP. Hehehe." Gadis itu terkekeh.
Daryl menatapnya, lalu sejurus kemudian dia merangsek sambil menggeser keranjang makanan yang menjadi penghalang di antara mereka.Β
Dan dengan cepat dia meraih pinggang gadis itu. Membuat tubuh mereka merapat dan bibir keduanya bertabrakan.
"Umm β¦."
Daryl kemudian memagutnya dengan penuh perasaan dan lidahnya menerobos kemudian bermain di rongga mulutnya.
Nania merasakan tubuhnya bergetar dan jantungnya berdetak dengan cepat. Namun dia membiarkan pria itu mencumbunya untuk beberapa menit.
Dan Daryl tak menyia-nyiakan hal itu. Dia meneruskan cumbuannya apalagi gadis itu tak melakukan perlawanan. Mereka segera tenggelam dalam suasana yang semakin syahdu.
Daryl merasa berada di atas angin karena bisa menguasai keadaan, dan gadis itu tampaknya sudah terbawa suasana. Terbukti dari diamnya Nania ketika dia membiarkan tangannya menyentuh lebih jauh, sehingga Daryl menjadi semakin berani saja.
Nania bahkan pasrah ketika Daryl mendorongnya ke belakang sehingga mereka hampir saling menindih. Lalu cumbuan terus berlanjut.
Pria itu menyentuh wajahnya, menjelajahi bibirnya, kemudian turun ke leher jenjangnya. Lalu merayap di punggung dan menyelinap dibalik hoodie berlapis kausnya.Β
Bibirnya bahkan sudah menyusuri leher Nania dan membuat gadis itu menggeliat-geliat, sehingga seluruh tubuh mereka saling bergesekan. Dan Daryl merasakan ketidak nyamanan ketika alat tempurnya di bawah sana sudah sangat mengeras.
"Umm β¦." Nania mendorong pundaknya, sehingga cumbuan mereka terhenti.
Dia menatap wajah pria itu dengan dahi berkerut saat merasakan sesuatu mengganjal di perutnya.
"Bapak bawa apaan sih ini?" Tangannya kemudian merayap dan menemukan sesuatu yang keras di bawah sana.
Napas Daryl terhenti dan wajahnya seketika memerah saat Nania dengan segala keluguannya menyentuh bagian bawah tubuhnya.
"Eee β¦." Namun gadis itu segera menyadari kelakuannya, dan dia menarik tangannya.
"It's a β¦ Eragon fruit." ucap Daryl, kemudian dia bangkit.
Pria itu turun dari gazebo dengan napasnya yang masih menderu-deru.
"Aku β¦ Pulang, Nna. Kunci lagi pintunya." katanya, yang setengah berlari ke bawah.
"Eto katastrofa! Ya ***'she ne mogu, bizhe moy!! (ini bencana!! aku sudah tidak tahan lagii Ya Tuhan!!)" Pria itu berteriak.
π
π
π
Bersambung ...
__ADS_1
Nemu apaan sih?πππ