The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Penyamaran


__ADS_3

💖


💖


"Kamu beneran kan, nanti sore pulangnya?" panggilan video kembali berlangsung pada saat sarapan keesokan paginya.


"Ya, begitu selesai aku langsung pulang." Daryl menjawab.


"Oke. Gimana semalam? Masih muntah-muntah? Soalnya kamu nggak nelfon aku lagi." Nania memulai kegiatan makannya, begitupun yang dilakukan Daryl di seberang sana.


"Tidak terlalu, mungkin karena tahu aku akan pulang jadi gejalanya berkurang. Semalam kegiatan cukup padat dan selesai sangat larut, jadi aku putuskan untuk langsung tidur saja." Pria itu tersenyum.


"Masa? Bisa tidur?"


"Bisa."


"Tapi dia tetap mengigau, Nna. Pas aku lihat ke kamarnya dia sedang menyebut-nyebut namamu." Darren yang duduk tak jauh darinya pun menyahut.


"Masa? Ahahaha …."


"Lalu jam berapa kalian akan pulang?" Sofia ikut dalam percakapan tersebut.


"Perkiraan siang ini selesai, jadi mungkin setelahnya kami langsung pulang, Mom." Darren menjawab.


"Baik, hati-hati di sana ya, ingat yang di rumah." ucap Sofia.


"Ini juga ingat yang di rumah makanya mau buru-buru pulang." Kini Daryl yang menjawab, membuat ibunya tertawa.


"Oke, Malyshka. Aku harus segera pergi. Hari ini sangat sibuk, dan sudah pasti aku akan sedikit sulit untuk menghubungimu, jadi tunggu saja aku pulang ya?" Daryl hampir mengakhiri percakapan tersebut.


"Oke. Ingat gelangnya?" Nania sedikit tertawa ketika Daryl menunjukkan tangannya yang masih dililit tali berwarna hitam itu. Sementara Darren di sampingnya tampak memutar bola mata, sebal.


Lalu sambungan telfon pun terhenti setelah Daryl berpamitan.


"Apa hari ini tidak ke rumah baca lagi?" Sofia mengalihkan perhatia Nania.


"Mmm … kayaknya nggak, aku langsung pulang lagi deh." Nania menghabiskan sarapannya.


"Memangnya tidak ada kegiatan di rumah baca?"


"Setiap hari banyak kegiatan. Tapi aku nggak harus selalu ke sana, kan ada temen-temen."


"Mereka sudah tahu tugasnya masing-masing ya?" Satria ikut berbicara.


"Iya. Apalagi kalau Sabtu-Minggu, kan ada Ann. Jadi lebih santai aja.


"Ann juga jadi lebih sering ke sana ya sekarang? Bagus juga." sambung Satria, dan dia pun menghabiskan teh hangatnya.


"Iya, mungkin seru karena banyak orang, dan dia kenal yang bukan temennya aja." Nania pun bersiap untuk pergi.


"Regan sudah datang?" Sofia menatap ke arah pintu ketika di saat yang bersamaan asisten rumah tangganya muncul.


"Sudah, Bu. Baru saja, dan sekarang sedang menunggu di luar." Mima menjawab.


"Oke, kalau gitu aku pergi ya?" Nania pun segera berpamitan.


"Tunggu, Nna?" Namun Sofia menghentikannya sejenak.


"Ya Ma?" Dan Nania pun berhenti tepat di ambang pintu penghubung antara ruang makan dan lorong tengah rumah.


"Bukankah kamu tidak ada rencana pergi ke rumah baca hari ini?" Sang mertua bertanya.


"Iya."


"Tapi kenapa tasmu sepertinya penuh sekali? Tidak biasanya." Sofia mendekat.


"Umm …." Nania meraba tasnya yang hari itu memang penuh.


"Ini …."


"Apa pelajaran hari ini banyak sekali?" tanya Sofia lagi dan dia hampir menyentuh tas menantunya.


"Iya, lumayan Mah. Soalnya kan udah ujian akhir semester." Namun Nania segera menurunkan tas hingga menyentuh kakinya.


"Benarkah?"


Sang menantu mengangguk.

__ADS_1


"Berarti sisa enam bulan lagi sampai ujian untuk kelulusan ya?"


"Iy Mah. Lima atau enam bulan lagi lah."


"Hmm … apa akan berbarengan dengan kelahiran bayimu?"


"Mmm … kayaknya ujian dulu deh, baru lahiran. Mungkin setelah kelulusan." Nania mengingat-ingat.


"Ya, benar."


"Ya udah, aku sekolah dulu ya? Sampai nanti siang?" Nania mundur kemudian berbalik. Lalu dia berlari kecil ke arah luar di mana bawahan suaminya sudah menunggu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Regan?" Nania berpura-pura memainkan ponselnya saat berbicara.


"Ya?" 


"Yang setiap hari ngawal kita di jalan ada berapa orang?"


"Dua orang di dalam mobil yang mengikuti kita." Pria itu melirik spion di mana dia melihat mobil-mobil di belakang sana.


"Sekarang ngikutin kita?"


"Ya."


"Yang mana?" Nania menoleh ke arah belakang dan mencari keberadaan orang yang dimaksudnya.


"Rahasia, kalau kamu mengenali mereka nanti akan sembunyi lalu kabur."


Lalu perempuan itu kembali pada posisinya.


"Umm … kalau di sekolah mereka jaga nggak?" Nania memberanikan diri untuk bertanya lagi.


"Jaga."


"Di mana?"


"Rahasia juga. Masa saya harus melanggar SOP?"


"Hmm …."


"Apaan ih, nggak. Kamu sembarangan!"


"Ya siapa tahu kamu ada rencana? Tapi saya beritahu dari sekarang. Kamu tidak mungkin akan bisa kabur."


"Yeeee, siapa juga yang mau kabur? Lagian buat apa juga aku kabur?" Nania tampak mendelik.


"Untuk mendatangi ibumu misalnya?" Regan menatap kaca spion di atas kemudi dan melihat Nania yang ada di belakang.


"Ngawur! Kamu bilang bahaya? Mana mau lah aku ke sana?"


Regan kemudian kembali fokus pada jalanan ketika mereka memasuki area sekolah.


"Ingat untuk tidak pergi sebelum saya menjemput ya?" Regan menutup pintu mobil setelah Nania keluar.


"Ya."


"Jangan juga percaya kepada siapa pun yang datang menjemput selain saya. Karena Pak Daryl tidak menugaskan orang selain saya untuk bertanggung jawab atas kamu."


Nania mengangguk.


"Baik, saya pamit." Pria itu mundur lalu kembali ke mobilnya dan segera tancap gas, setelah dia memeriksa ponsel saat pesan dari nomor Daryl masuk.


"Dua jam lagi urusanku selesai, dan aku akan langsung pulang. Saat mendarat nanti aku harap kau sudah siap di bandara."


"Baik." Lalu Regan meletakkan ponselnya di kursi penumpang setelah balasan terkirim. Dan dia segera tancap gas dari tempat tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nania berkali-kali menatap jam di layar ponselnya. Sudah hampir pukul sembilan dan pelajaran sedang berlangsung, namun  dia masih memikirkan banyak hal.


Sudah lebih dari tiga hari sejak pertemuan dengan ibunya, dan perempuan itu menyatakan akan menghubunginya. Tapi nihil, Mirna tak kunjung mengirimkan pesan apalagi mendatanginya. 


Sudah tentu ada hubungannya dengan Hendrik, dan itu tak bisa dibiarkan. Dia harus menyelamatkan ibunya.


Tapi bagaimana? Penjagaan untuknya sangatlah ketat sedangkan dia tak mungkin meminta bantuan Regan. Sementara Daryl baru tiba sore nanti.

__ADS_1


"Kelamaan." Perempuan itu menelungkupkan wajahnya di meja dengan otaknya yang berputar keras.


"Masa harus merealisasikan rencana semalam?" Lalu dia melirik tasnya di bawah meja.


Yang mana benda tersebut tak hanya berisi buku pelajaran, melainkan celana panjang dan hoodie yang sengaja Nania bawa dari rumah. Untuk berjaga-jaga jika dirinya akan melakukan penyamaran. Seperti yang sudah dipikirkannya sejak semalam tentang misi penyelamatan ibunya.


"Kan konyol, masa begitu?" Nania semakin menempelkan wajah pada meja sehingga hal tersebut mengundang perhatian gurunya.


"Ada masalah, Nania?" Tanya perempuan yang tengah menjelaskan materi pelajaran tersebut.


"Umm … saya …."


"Apa kamu baik-baik saja?" 


"Eee … agak nggak enak badan, Bu." Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Nania.


"Benarkah?"


"Ya, saya sedikit pusing dan perut saya rasanya …."


"Kamu mau pulang?" Guru itu bertanya lagi.


"Pulang? Emang boleh?" Nania balik bertanya.


"Ya kalau kamu tidak kuat mengikuti pelajaran."


Nania berpikir sebentar. 


Dia kembali melirik layar ponselnya yang menyala kemudian ingatan tentang ibunya kembali melintas di kepala.


"Om Hendrik jam segini biasanya lagi judi. Walaupun nggak judi dia pasti lagi keluar. Apa aku cari ibu sekarang ya?" batinnya bermonolog.


"Mungkin ibu lagi kerja, jadi mending ke tempat kerjanya aja?" gumamnya lagi.


"Nania?" Sang guru kembali memanggil.


"Ya Bu?" Dan Nania mendongak.


"Apa kuat untuk mengikuti pelajaran?"


"Ka-kalau boleh, saya izin pulang Bu?"


"Baik, sudah menghubungi orang rumah untuk menjemput? Kalau tidak saya yang akan …."


"Udah Bu, barusan." Nania menjawab dengan cepat.


"Baik, kalau begitu silahkan keluar. Apa kamu perlu bantuan?"


"Umm nggak usah, Bu. Saya masih bisa." Perempuan itu bangkit lalu melangkah pelan ke arah pintu. Dan setelah berpamitan kepada beberapa temannya dia pun segera keluar.


"Ugh! Konyol sekali aku ini!" Nania bergegas ke toilet di ujung bangunan.


"Gimana ini kalau ada yang tahu? Pasti akan jadi bencana!!" Dia mondar mandir di dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu.


Sebagian pikirannya mengatakan tidak boleh, tapi sebagiannya lagi mengiyakan.


Tidak apa-apa, hanya sebentar dan tidak ada yang akan tahu. Batinnya lagi saat dia menatap pakaian dari dalam tas.


Tapi nggak mungkin, kan ada yang jaga? Sisi lain hatinya bergumam.


"Ah!!" Nania mengusap wajahnya, kasar.


Pikiran dan hatinya bertolak belakang sementara dirinya ada keinginan. 


"Cuma sebentar kan? Ketemu ibu terus balik lagi ke sini. Kalau misal ibu bener-bener nggak mau ya udah." Nania menatap cermin di depannya.


"Ya, gitu aja." Dia mengangguk-anggukkan kepala.


Nania bergegas mengganti seragam dengan jeans dan melapisinya dengan hoodie hitam, lalu mengenakan masker hingga menutupi sebagian besar wajahnya. Dan terakhir, topi dikenakan juga sebelum kerudung hoodie menyembunyikan kepalanya.


Kalau sudah begini, penampilannya jadi tersamarkan dan sedikit kemungkinan orang lain mengenalinya, sehingga Nania siap untuk keluar. 


💖


💖


💖

__ADS_1


Bersambung ....


Aduh, Nania?😱


__ADS_2