The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Antisipasi


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


"Tumben jam segini ada di rumah?" Dimitri menjatuhkan bokongnya di sofa. Sementara Daryl berbaring di sofa satunya lagi memeluk bantal dengan pandangan mengarah ke layar televisi di depan mereka.


"Kakak juga tumben jam segini sudah datang? Mau jemput anak-anak ya? Atau sekalian menginap?" Daryl menyahut.


"Dasar! Ditanya malah balik bertanya." Pria itu mendorong kepala adiknya dengan keras.


"Shut up!!" Lalu Daryl bergumam.


"Darren ke mana?" Dimitri bertanya lagi.


"Mana aku tahu? Mungkin menemui Kirana?" jawab Daryl yang tak mengubah posisinya sama sekali.


"Dasar calon pengantin! Mentang-mentang nikah seminggu lagi, sering sekali dia menemui Kirana?" ucap Dimitri yang menyalakan ponselnya.Β 


"Suka-suka dia lah, jangan iri." Daryl menekan tombol pada remot sehingga program yang ditontonnya berpindah-pindah, entah apa yang sedang dia cari.


"Apa katamu? Iri? Aku iri kepada dia? Tidak mungkin!"


Daryl terlihat mencebik.


"Aku hanya heran karena selama ini kalian tidak terpisahkan.Β  Ke manapun selalu bersama."


"Kakak pikir aku harus menemani dia menemui Kirana, begitu? Enak saja, memangnya aku ini apa?"


"Kau kan kembarannya, bodoh!"


"Memangnya kalau kembaran harus selalu sama-sama ya? Sampai-sampai pacaran juga aku harus ikut?"


"Kalian kan biasanya begitu. Hahaha." Dimitri tergelak. "Dan kau ada di rumah pada jam seperti ini, apa tidak ada kegiatan?" Lanjutnya, dan dia sepertinya sedang ingin menggoda adiknya itu.


"Tidak ada, aku lelah."


"Lelah? Memangnya apa yang kau kerjakan seharian ini? Berlaga sok sibuk!"


Daryl menoleh, kemudian sesuatu melintas di pikirannya.


"Kakak tidak tahu apa yang sudah aku kerjakan." Kemudian dia bangkit.


"Apa?"


"Subuh tadi aku ikut Nania ke pasar." Pria itu dengan bangganya.


"Hah?"


"Dan itu pertama kalinya aku masuk pasar tradisional. Bayangkan apa yang aku alami?" Sebuah lengkungan senyum terbentuk di bibir pria itu saat mengingat pengalamannya subuh tadi.


"What?"


"Aku tidak tahu ada tempat seperti itu di dunia ini. Begitu banyak orang dengan segala barang dagangannya yang aku yakin tidak pernah kita temukan di manapun. Dan mereka ada di tempat yang sama dalam waktu sepagi itu."


"Lalu?"


"Aku menunggui dia belanja." Daryl tergelak. Dia masih tidak percaya sudah mengalami itu semua.


"Terus bagusnya di mana?" Daryl mengerutkan dahi.


"Kau tidak mengerti? It's cool! Aku menjaga barang belanjaan sementara dia berkeliling membeli barang lainnya."


"Dan kau hanya diam menunggu?"


"Ya, dia yang menyuruhku begitu."


Dimitri hampir menyemburkan tawa.


"Kenapa kau tertawa, Kak?"


"Tanggung sekali kau ini! Kalau mau terjun ya terjun sekalian, kenapa malah setengah-setengah?" Dimitri berujar.


"Maksudmu?"


"Seharusnya kau ikut dia belanja, dan bawakan dia barang belanjaannya. Jadi dengan begitu kau akan membuatnya sangat terkesan."

__ADS_1


"Huuuuu … tips from the expert! Hahaha. Kau tak tahu saja aku sudah menemaninya setengah jalan. Kalau bukan karena kelelahan aku pasti sudah menemaninya berkeliling."


"Hah! Segitu saja kau bangga. Coba seperti aku dulu sebelum pacaran dengan Rania."


"Memangnya bagaimana?"


"Kau belum tahu bagaimana rasanya berdesak-desakan naik angkutan umum, yang jika kau duduk maka kepalamu mengenai langit-langitnya sehingga selama perjalanan kau harus menunduk."


"Yo do?"


"Yeah. Dan coba makan di warung tenda dengan menu yang tidak pernah kita makan sebelumnya. How that can change your whole life."


"Really?"


"You just don't know."


"Nania tadi pagi juga mengajakku makan nasi uduk di parkiran. Apa tempatnya punya roda dan menggunakan tenda?" Daryl tidak akan lupa dengan pengalamannya hari itu.


"Ya, seperti itu."


"Sepertinya kita sering melihatnya di mana pun tapi baru kali ini aku merasakannya. Dan itu karena Nania." Daryl menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa, kemudian tertawa.


"Dasar! Orang kasmaran!! Lama-lama kau jadi gila karena anak itu."


Daryl mendelik.


"Hey, memangnya kau serius dengan dia?" Dimitri kemudian bergeser.


"Serius."


"Yakin?"


"Tentu saja. Kau pikir ucapanku di pertemuan dengan keluarganya Kirana tempo hari main-main?"


"Just can't imagine."


"About what?"


"Her." Sang kakak tertawa.


"Memangnya kenapa?"


"Hey Kak, apa kau pikir aku ini normal."Daryl masih memikirkan sesuatu.


"About what?"


"Nania."


"Apa maksudmu dengan menyebut normal?"


"Kau tahu kalau usianya baru genap 19 tahun minggu depan?"


"What? Really?" Dimitri kembali tertawa.


"Ya. Apa menurutmu tidak apa jika aku menikahinya di usia semuda itu?"


"I don't know. Memangnya kau benar-benar akan menikahinya ya?"


Daryl terdiam.


"I just wonder ….


"Umur delapan belas itu sudah dewasa menurut ukuran internasional, dan dia bukan bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa,Β  jadi aku rasa tidak masalah jika kau ingin menikahinya, dengan catatan tanpa paksaan atau penipuan. Dan itu harus murni kemauannya sendiri."


"Ah, itu artinya aku tidak bisa."


"Why? Kau memaksanya?"


"Karena dia harus sedikit dipaksa."


Sang kakak lagi-lagi tertawa.


"Maka rayulah agar dia mau.


"Justru itu, Nania tidak gampang dirayu."

__ADS_1


"Maka kuatkan dirimu jika mau menunggunya setidaknya sampai dia berusia dua puluh tahun."


"Astaga! Itu lama sekali!!" Daryl meremat rambut di kepalanya.


"Apanya yang lama?" Sofia muncul tiba-tiba.


"Umm … 


"Daryl ingin menikah juga, tapi harus menunggu Nania berusia dua puluh tahun dulu." Dimitri segera menjawab.


"Apa?


"No, Mom. Maksudnya nggak gitu. Aku hanya berandai-andai dan ini nggak benar-benar serius, jadi … tidak perlu dilebih-lebihkan, Kak!" Daryl meralat ucapan kakaknya.


"Tidak! Barusan dia bilang serius waktu aku tanya, aku bersumpah!" Namun Dimitri menyela.


"No, it's just a conversation! Aku hanya bertanya saja, apa hal itu memungkinnkan untuk dilakukan sekarang ini, tapi setelah aku pikir-pikir lagi ternyata … tidak bisa. Lagi pula Nania belum mau."


"Memangnya kamu benar-benar serius dengannya?" Perempuan itu duduk di samping putra keduanya.


"Umm … serius sih, dan aku berniat membicarakannya dengan kalian nanti setelah pernikahan Darren selesai, tapi aku pikir-pikir lagi … sepertinya Nania membutuhkan waktu."


Sofia dan anak laki-laki pertamanya saling pandang.


"You know, dia baru saja 19 tahun sementara aku … 27. Apa itu tidak aneh? Hahaha." Daryl sedikit tergelak. "Dan aku mulai bertingkah seperti baru 17 kalau bersama dia." Pipinya sedikit merona.


"Kenapa Mama melihatmu manis sekali ya?" Sofia membingkai wajahnya sendiri sambil tersenyum. Melihat tingkah anak laki-lakinya membuat dia merasa lucu sendiri.


"Apanya yang manis?" Kemudian Satria muncul setelah beberapa saat.


"Ini Sayang …." Dan perempuan itu hampir saja berbicara ketika di saat yang bersamaan Daryl bangkit.


"Ah, kenapa juga kita membicarakan ini? Tidak akan ada ujungnya, iya kan?"


"Tapi Nak?"


"Aku lupa kalau ada janji dengan Nania." Dia meraih jaketnya yang tersampir di pegangan sofa.


"Kamu mau ke kedai? Tapi ini sudah malam!" Sofia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.


"Hanya sebentar untuk menyampaikan kabar dari kantor polisi." Pria itu mengambil kunci mobilnya.


"Prosesnya sudah selesai?" Satria kemudian bertanya.


"Yeah."


"Kenapa tidak telfon saja? Kan lebih mudah?"


"Sekalian mau bertemu." Daryl terkekeh.


"Ah, alasan! Bilang saja kamu rindu!!" cibir Sofia, saat putra keduanya itu pergi meninggalkan mereka.


"Mama dan Papi tahu? Sepertinya kita harus bersiap-siap untuk peristiwa tidak terduga yang mungkin akan terjadi." Dimitri berujar.


"Peristiwa tidak terduga apa?" Sofia mengalihkan perhatian kepada putra pertamanya.


"Entahlah, hanya kita harus mengantisipasi setiap kemungkinan, bukan?" jawab Dimitri.


"Apa Daryl mengatakan sesuatu keadamu?"


"Hanya curahan hatinya yang kemudian dia ralat sendiri di depan Mama."


"Soal …."


"Yes." ketiga orang itu saling menatap bergantian.


"Hanya … antisipasi, iya kan?" ucap Daryl lagi.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


Bersambung ...

__ADS_1


Kuy, yang masih ada vote buruan kirim! Jangan lupa like komen sama hadiahnya juga ya?


alopyu sekebon😘😘


__ADS_2