
💖
💖
"Ayo, jangan sampai kamu lepas dariku!" Daryl menarik tanganya yang semula memegang bagian belakang mantel.
Keduanya memasuki stadium ketika kerumunan sudah memenuhi tempat tersebut. Dua kursi tersisa di area VIP paling depan, dan Nania semakin tak tahu lagi apa yang harus dia katakan selain hanya menurut dan mengikuti apa yang Daryl ucapkan.
Sejak dari hotel hingga tiba di area konser dia hanya berusaha menyadarkan dirinya sendiri jika ini bukanlah mimpi.
Lampu-lampu di panggung sudah menyala, dan mereka bisa melihat dengan jelas dari sini. Dan sorakan menggema begitu keras ketika pria-pria asal negara Inggris itu muncul.
Chriss Martin menyapa penonton yang membuat seisi stadium riuh dengan jeritan kebahagiaan. Tentu saja, idola mereka akan tampil membawakan lagu dan memainkan musiknya sebentar lagi.
Nania bangkit dari kursinya, dan dia merapat ke dinding pembatasnya. Segera saja, Daryl pun melakukan hal yang sama untuk menjaganya.
Musik mulai bergema, dan suara khas sang vocalist mengikuti. Menyanyikan lagu-lagu mereka sejak awal debut.
Look at the stars
Look how they're shine for you
And all the things you do
And it was all yellow
Your skin,
You know your skin or bone
Turning to something beautyfull
D'you know,
You know i love you so?
D'you know i love you so?
Yellow by Coldplay
Nania berteriak sambil mengangkat kedua tangannya di udara. Saat ini hatinya terasa sangat bahagia, dan dia benar-benar tidak menahannya.
Sementara musik dari panggung di bawah sana terus berkumandang di udara hingga puluhan lagu mereka mainkan. Dan mampu menenggelamkan puluhan ribu manusia dalam euphoria. Menghangatkan musim dingin Zurich menjadi lebih berkesan.
Light will guide you home
And ignite your bone
And i will try to fix you
Fix You by Coldplay
Nania terdiam, seperti halnya penonton lain. Dia juga menikmati suasana lain yang tercipta saat musik itu mengalun. Sesuatu memang memiliki arti tersendiri bagi setiap orang, dan inilah yang dia rasakan.Â
Dia tahu, bahwa segala hal ada masanya. Dan dia mengerti, apa pun yang terjadi di dunia memang sudah seharusnya. Dan itu biasa, semuanya akan baik-baik saja.
Dan dia bersyukur karena sekarang tidak sendiri. Ada orang yang akan selalu melindunginya, dan ada untuknya. Salah satunya adalah pria yang saat ini tengah memeluknya.
Nania mendongak, dan dia menemukan Daryl yang juga sedang menikmati hal ini. Lalu dia melirik ketika merasa sedang diperhatikan.
Dia tersenyum, kemudian menunduk dan segera, dia mendapatkan ciuman yang cukup manis dari Nania.
"Makasih." Perempuan itu tersenyum, dan berkali-kali dia mencium suaminya. Lalu Daryl membalas ciumannya seraya mengeratkan pelukan.
Dan keriuhan kembali menggema ketika band tersebut memainkan lagu terakhirnya setelah sekitar dua jam lamanya mereka menghibur audiens.
Cause you're a sky, cause you're a sky
Full of stars
I'm gonna give you my heart
Cause you're a sky, cause you're a sky
Full of stars
Cause you light up the path
I don't care
Go on and tear me appart
I don't care
If you do …
Oohh …
Cause in the sky, cause in the sky
__ADS_1
Full of stars
I think i saw you ….
A Sky Full Of Star by Coldplay
Mereka berloncat-loncat dengan perasaan begitu bahagia. Tak ada seorangpun yang berdiam diri di tempat itu. Semuanya benar-benar menikmati waktu mereka hingga usai pada lewat tengah malam. Namun euphoria di tengah kota Zurich masih terasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Oh, sayang sekali ya aku tidak bisa membawamu bertemu mereka. Padahal tadinya kita punya kesempatan tapi waktunya tidak memungkinkan." Daryl melepaskan mantelnya kemudian dia lemparkan ke atas sofa.
"Nggak apa-apa, ini juga udah cukup." Nania pun melakukan hal yang sama. Wajahnya ceria, dan dia terlihat begitu bahagia.
"Mungkin lain kali kita punya kesempatan." Pria itu berujar.
"Iya. Tapi nggak juga nggak apa-apa."
Daryl terdiam sebentar.
"Now you really happy?" Lalu dia bertanya.
"Gimana aku nggak bahagia? Aku mendapatkan banyak hal sejak hidup dengan kamu. Memangnya apa yang akan membuatku nggak bahagia?" Nania mendekat.
"True?"
Dan dia menganggukkan kepala.
"Kenapa waktunya bisa tepat? Kamu pasti melakukan banyak hal untuk dapat tiketnya ya?" Nania dengan nada menyelidik.
"Ummm … bukan aku, but the agent." Daryl terkekeh.
"Udah aku duga kayak gitu." Perempuan itu tertawa.
"Yeah, realistis saja. Kalau aku yang mendadak membeli tiket, maka sudah bisa dipastikan aku tidak akan mendapatkannya. Jadi, aku gunakan orang dalam. Hahaha." Pria itu tertawa.
"Apa kamu sering melakukan hal kayak gitu untuk mendapatkan apa yang kamu mau?"
"Hmm … cukup sering."
"Ish!! Itu curang!" ucap Nania.
"No, it's not curang. Itu karena kita mampu. Kenapa juga harus bersusah-susah seperti orang lain kalau memang kita mampu? Selama tidak ada pihak yang dirugikan, aku akan menggunakan segala fasilitas yang kupunya."
"Umm …."
"Untuk apa memiliki kelebihan itu jika tidak kita manfaatkan, bukan?" katanya lagi, dan dia kembali tertawa.
"Memang, terserah aku saja." Lalu Daryl mencium pelipis Nania sambil memeluk pinggangnya.
"Hh … sebaiknya sekarang istirahat. Besok ada banyak tempat yang akan kita kunjungi." Pria itu kemudian melepaskannya, dan dia melenggang ke arah kamar seraya melepaskan sepatu dan pakaiannya.
"Hum?" Nania tertegun.
Dia pikir pria itu akan memintanya melakukan banyak hal setelah ini.
"Tapi aku pikir kita …."
"I'm so tired right now. My energi are lower …." Daryl menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Beneran nih?" Nania seolah tidak percaya, dan dia mengikutinya masuk ke dalam kamar mereka.
"Humm … i need to sleep." jawab Daryl yang hampir memejamkan mata.
Nania tertegun di samping tempat tidur di mana suaminya sudah berbaring. Dan dia menatap pria itu dengan setengah tidak percaya.
"Serius?" Nania menunduk sebentar.
"Oh ya udah, syukur deh. Aku juga mau istirahat. Padahal tadinya mau bilang terima kasih." Dia kembali menegakkan tubuhnya, dan bermaksud menjauh ketika tiba-tiba saja Daryl membuka mata lalu mencengkram tangannya.
"Aku mau berterima kasih, tapi karena kamu kelelahan dan mau tidur jadinya ya …."
Namun pria itu segera bangkit.
"What did you say?" Daryl bertanya lagi.
"Aku … mau … berterima kasih." jawab Nania yang menggigit bibir bawahnya dengan keras.
Dia tak percaya mengatakan hal seperti ini, dan sempat menyesalinya karena sudah dipastikan pria itu akan menanggapinya dengan serius.
"And how?" Daryl melipat kedua tangannya di dada.
Nania menatap suaminya, lalu lengkungan senyum terbit di sudut bibirnya. Kemudian tanpa pikir panjang dia segera melepaskan seluruh pakaiannya hingga tak ada sehelaipun yang tersisa.
Daryl menelan ludahnya dengan keras sehingga jakunnya terlihat naik turun. Dan dia menatap tubuh belia istrinya lekat-lekat.
"Aku kan nggak punya apa-apa. Aku cuma punya diriku sendiri." ucap Nania yang terus mendekat hingga dia menduduki paha pria itu, dan kedua tangannya bertumpu di pundak Daryl.
"Tapi semua yang aku punya juga udah jadi milik kamu, jadinya …."
__ADS_1
Daryl meletakkan kedua tangannya di paha perempuan itu, dan seketika rasa hangat menjalar ke segala arah. Bahkan lebih hangat dari pemanas ruangan yang sudah dinyalakan sebelum mereka memasuki suitroom itu.
Lalu kedua tangannya merayap ke pangkal paha dan dia berhenti di sana. Sementara pandangannya tertuju pada wajah Nania yang mulai memerah.
"Kamu … menggodaku, hum?" Daryl dengan suara rendahnya, namun membuat Nania merasakan tubuhnya merinding.
"Nggak. Cuma mau berterima kasih. Bukankah ini yang kamu suka?" Namun dia mulai terbiasa dengan hal tersebut.
Muncul seringaian di wajah pria itu, dan Nania yakin ini tidak akan berakhir dalam waktu yang sebentar.
"Kamu sudah mengerti caranya, heh?" Daryl mendekatkan wajahnya hingga hanya tersisa jarak beberapa senti saja dengan wajah Nania.
"Hmm … bukankah aku pintar?" Perempuan itu menjawab.
"Yeah, sangat pintar." katanya, yang kemudian segera meraih cumbuan dengan cepat.
Sebelah tangannya menekan tengkuk Nania sehingga ciuman segera berlangsung begitu dalam. Sementara sebelah tangannya yang lain meremat bokongnya hingga perempuan itu mulai bergerak. Udara seketika saja memanas dan keduanya mulai kehilangan kesadaran.
Daryl meremat rambut di kepala perempuan itu, membuat kepalanya mendongak ke belakang sehingga dia dapat menciumi leher jenjangnya.
Tubuh Nania mengejang merasakan sengatan yang merambat dan dia tak mampu menahan des*hannya.
Daryl menyesap kulitnya, sesekali menggigit atau dia menjilat tulang selangkanya. Lalu semakin turun sampai dia menemukan gundukan menggoda milik Nania yamg segera disesapnya secara bergantian.
"Mmhhh …." Perempuan itu mend*sah dan kepalanya kembali terdongak ke atas.
Gelenyar hebat pada tubuhnya semakin bertambah saja, dan dia mulai tak terkendali. Pinggulnya bergerak ke depan dan ke belakang sehingga dia bersentuhan dengan milik Daryl yang sudah menegang dibalik boxernya.
Nania kemudian mendorong pria itu hingga dia terlentang dibawahnya, bersamaan dengan Daryl yang melepaskan celana terakhirnya, sehingga kini mereka berdua sama-sama telanjang.
Nania bertumpu dengan kedua tangannya, dan dia mengungkung tubuh kekar Daryl dibawah seolah dirinya ingin memegang kendali. Lalu mereka melanjutkan cumbuan.
Hasrat sudah membumbung tinggi, dan keduanya tak lagi bisa menahan diri. Sehingga Daryl membiarkan saja Nania yang memulai segalanya.
Perempuan itu menggenggam alat tempurnya, lalu mempermainkannya sebentar seperti yang pernah Daryil ajarkan. Dan hal tersebut sepertinya membuat pria itu senang.
Lalu kedua tangan Daryl menyelinap ke bawah pahanya. Mengangkat, lalu menariknya perlahan sehingga pusat tubuh mereka saling bersentuhan. Dan dia sudah merasa tak sabar, sehingga tanpa aba-aba menghujamkan miliknya bersamaan dengan dia melepaskan tangan. Membuat dirinya menerobos inti tubuh Nania sekaligus.
"Ugh!!" Perempuan itu melenguh saat senjata milik Daryl melesak seluruhnya hingga menyentuh bagian paling dalam dirinya.Â
"Go ahead!" bisik pria itu yang meremat paha Nania.Â
Lalu pergumulan terjadi, dan mereka segera tenggelam dalam gairah yang hebat.
Daryl merasakan hal luar biasa saat Nania mulai bergerak di atasnya, dan perempuan itu memang mulai pandai melakukannya.
"Oh, ya … that's it! You so good, Malyshka!" Daryl mulai meracau sementara kedua tangannya tidak tinggal diam. Dia terus menjelajahi tubuh Nania.
Dirinya pun mulai menghujamkan miliknya dari bawah, dan hal tersebut membuat permainan menjadi semakin panas.
Tubuh Nania meliuk-liuk sementara Daryl terus menghentak, sehingga menimbulkan suara yang begitu erotis da membuat malu jika ada yang mendengarnya.
"Ahh … umm …." Kening Nania menjengit, dan ekspresinya sangat menggemaskan setiap kali mereka bergerak dan menimbulkam perasaan gila bagi masing-masing.
Napas sudah menderu-deru, dan keringat mulai menetes. Namun pergumulam ini tampaknya belum akan usai.
"Hhaaa, Daddy!!" Nania mengerang ketika dia merasakan dirinya hampir meledak, dan dia mempercepat gerakan pinggulnya.
Kedua tangannya mencengkram pundak Daryl dengan kencang ketika pertahanannya runtuh dalam hitungan detik.
Namun Daryl menahan diri, dan dia membiarkan Nania mencapai klim*ksnya yang pertama. Lalu membalikkan posisi saat perempuan itu ambruk di atasnya.
"Ngghhh!!" Nania bahkan masih mengatur napas ketika Daryl membalikkan tubuhnya dan menarik pinggul, lalu dia kemmbali membenamkan miliknya dari belakang, dan tanpa ampun dia segera maenghentak.
"Ahhh!! Daddy!!" Pria itu memenuhinya, dan mengobrak-abrik bagian terdalam dari dirinya. Sehingga meskipun Nania sudah mengalami pelepasan pertama, hasratnya yang sempat surut kembali menanjak dengan mudah.
"Hmmm … Daddy!!" Perempuan itu terdengar merengek, dan hal inilah yang membuat Daryl begitu bersemangat.
Gairahnya terus bergolak dan dia benar-benar menggila kali ini.
"Want more, Baby?" Dia berbisik di telinga Nania, lalu mengecup tengkuknya beberapa kali.
Kedua tanganya mempermainkan buah dada perempuan itu, atau sesekali dia menyentuh bagian sensitifnya di bawah. Membuat Nania kembali merasa tidak tahan.
"Mmm … ahhh!!" Dia terus mende*ah dan mengerang yang semakin membuat Daryl tak bisa bertahan. Yang akhirnya membuat pria itu mempercepat hentakannya.
"Ahhh, Daddyyy!!" Nania bangkit menegakkan tubuhnya, bersamaan dengan Daryl yang meremat kencang kedua dadanya.
Dan di saat itu pula tubuhnya mengejang saat pelepasan kembali menyerangnya, seperti halnya Daryl yang menghujamkan miliknya ketika dia juga mendapatkan klim*ksnya yang luar biasa.
"Aarrrggghhhhh!!!!" Mereka sama-sama mengerang keras.
💖
💖
💖
Bersambung ...
__ADS_1
Duh, Swiss panas ya bestie🙉🙉
Cus like komen sama hadianya biar novel ini terus meroket?!