The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Bertemu Ibu


__ADS_3

💖


💖


Berminggu-minggu kemudian ….


Daryl merangkul tubuh Nania yang tengah mengancingkan kemejanya, sedangkan dia pun sudah rapi dengan seragam hitam putihnya.


"Jangan peluk-peluk, nanti ada yang bangun." ucap perempuan itu yang sedikit mendorong dada suaminya.


"Already have." Daryl malah menggesek-gesekkan apa yang memang mengeras dibalik celananya yang hampir menempel di perut Nania.


"Jangan gini ah …." Dia pun hampir mundur namun pria itu mengeratkan pelukan seraya menunduk untuk meraih ciuman.


"Udah Daddy, kamu kan suka baperan." Lalu dia menghentikan suaminya dari kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Namun ternyata perkiraannya memanglah benar. Ketika pria itu tak mau melepaskannya dan dia malah melanjutkan cumbuan. Dan Nania tak mampu menghindar karena dia juga terbawa suasana.


Perempuan itu memekik ketika Daryl mengangkatnya dengan mudah kemudian mendudukkannya di meja aksesoris yang terletak di tengah ruangan.


"Daddy, nanti kita terlambat." Lalu dia mengingatkan.


"Hanya sebentar." jawab Daryl yang tangannya sudah menyelinap ke dalam rok Nania dan menyentuh miliknya yang hangat.


"Mmmhh … Daddy!!"


Pria itu tersenyum saat merasakan pusat tubuh istrinya yang sudah basah. 


"Kamu juga baperan." katanya, yang segera menarik lepas kain mini itu dari Nania.


Daryl menurunkan celananya lalu menarik pinggul Nania untuk menyesuaikan posisi. Dan sedetik kemudian dia sudah membenamkan senjatanya pada perempuan itu.


"Eghh …." Nania mengerjap dan tubuhnya menegang. Bersamaan dengan pria itu yang mulai menghentak.


Kedua tangan Nania bertumpu di belakang untuk menahan bobot tubuhnya, sementara kedua kakinya dia buka lebar-lebar untuk memberi akses lebih kepada pria itu yang segera menghentak dengan cepat.


"Daddyy …." Kepalanya mendongak dengan mata terpejam erat, dan dia merasakan kegilaan ini benar-benar disukainya.


Sedangkan Daryl memegangi kedua pinggul perempuan itu agar pertautan tersebut tetap stabil. Meski dia juga merasa bahwa ini pasti tidak akan terkendali 


"Aah …." Des*han Nania terus mengudara seiring hentakan yang kian mengeras, dan Daryl memacu tubuhnya cepat-cepat agar mereka segera mencapai klim*ks.


Keduanya sama-sama tidak sabar dan benar-benar tak mampu mengendalikan diri. Hingga akhirnya pelepasan datang bersamaan, dan seketika itu juga Daryl menekan milik mereka berdua saat sesuatu dari dalam dirinya memancar deras memenuhi Nania.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku kayaknya nanti pulang telat deh." Mereka tiba di depan gedung setelah perjalanan yang cukup cepat.


"Mau ke mana?" Daryl melepaskan seat belt mereka berdua.


"Toko bunga."


"Beli bunga lagi?""


Nania menganggukkan kepala.


"Kan kita sudah punya banyak bunga. Greenhouse juga hampir penuh kan? Lalu untuk apa beli lagi?"


"Kan bunga juga harus dirawat. Dikasih pupuk, penyubur daun, penyehat akar sama batang." katanya.


"Hmm …."


"Bukan cuma aku lho yang butuh pupuk dan penyubur." Perempuan itu tersenyum.


"Baiklah, hanya ke toko bunga kan?"


Dia pun mengangguk.


"Paling jajan milk tea sebentar."


"Oke. Butuh bekal berapa?" Daryl mengeluarkan dompetnya.


"Nggak tahu, berapa ya? Nanti aja deh aku ambil uangnya di ATM."


"Benar?" Pria itu menarik beberapa lembar uang dari dompetnya.


"Umm … eh nggak apa-apa deh kalau kamu mau ngasih tunai, jadinya aku nggak usah ke ATM dulu. Hehe …." ucap Nania yang menyambar lembaran uang itu dari tangan suaminya.


"Duh, burung elang menyambar mangsa." gumam Daryl yang menatap isi dompetnya yang berkurang banyak.


"Makasih Daddy." Nania beranjak maju kemudian mengecup sudut bibir suaminya setelah memasukkan lembaran uang tersebut ke dalam tas sekolahnya. Membuat pipi pria itu merona seketika dengan hidungnya yang sedikit kembang-kempis.


"Aku sekolah dulu ya? Kamu hati-hati kerjanya." Kemudian dia membuka pintu mobil dan segera keluar.


"Hey! Kamu melupakan bekalmu!" Daryl pun keluar seraya meraih totebag kecil berisi bekal untuk perempuan itu.

__ADS_1


"Oh iya lupa, habisnya buru-buru sih." Perempuan itu tertawa, dan dia kembali untuk membawa bekalnya karena tak sempat sarapan.


Kemudian dia memeluk pria itu sebelum akhirnya bergegas masuk ke dalam gedung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Peluncuran parfum mau dilakukan kapan, Pak?" Dinna memastikan laporannya sudah lengkap.


"Sidangnya sudah selesai? Bagaimana dengan putusan pengadilan?" Dia baru ingat pada kasus pencurian data produk miliknya.


"Sudah kemarin, dan pihak sebelah memilih memberikan ganti rugi dari pada naik banding, Pak."


"Hmm … tahu diri juga mereka ya? Tadinya aku akan meminta Om Wira untuk bertindak jika mereka tidak mau mengaku."


"Itu mustahil, Pak. Karena buktinya sangat jelas jika itu adalah milik kita. Dan tidak ada celah bagi mereka untuk mengelak."


"Hmm …."


"Jadi … kita akan launching produknya kapan?" Dinna bertanya lagi.


"Nanti saja, aku mau memikirkan ide yang baru." Daryl memulai pekerjaannya.


"Kenapa tidak kita luncurkan saja dengan konsep yang sudah ada? Bukankah penjualan akan tetap berjalan?"


"Tidak, feelingku sudah tidak baik dengan iklan ini. Lebih baik kita buat yang baru saja." Pria itu tetap pada pendiriannya.


"Baiklah Pak, kalau begitu saya kembali ke depan?"


Daryl menganggukkan kepala.


"Tunggu Din." Namun dia segera menghentikannya.


"Ya Pak?"


"Nanti minta uang tunai lagi ya? Sepertinya aku akan butuh lebih banyak." katanya.


"Uang tunai?"


"Ya, untuk bekal Nania."


"Bekal?"


"Hmm …."


Perempuan itu tertegun di ambang pintu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ada lagi?" Seorang pelayan toko meletakkan beberapa bungkus pupuk organik dan barang-barang lainnya yang sudah Nania tunjuk. Termasuk pot bunga dan pernak-pernik untuk tanaman hiasnya.


"Sebentar." Perempuan itu menatap tanaman jenis monstera berukuran sedang di sudut toko yang menarik perhatiannya sejak pertama kali masuk ke tempat tersebut.


"Itu dijual nggak sih?" tunjuknya pada tanaman eksotis tersebut.


"Dijual kalau ada yang beli." jawab si kasir.


"Kalau yang itu?" tunjuknya lagi pada satu pot anturium dengan ukuran yang sama.


"Dijual juga."


"Dua-duanya jadi berapa?"


Kasir menyebutkan harga.


"Bisa kurang?"


Pria dibalik meja itu menatap belanjaan Nania yang cukup banyak, dan pelanggannya yang satu itu memang tidak pernah belanja sedikit dari tokonya.


"Karena Anda selalu belanja banyak, sepertinya saya pantas memberi diskon sepuluh persen." jawabnya.


"Beneran?" Nania dengan raut riang.


"Ya. Dan kalau mau silahkan pilih satu tanaman sebagai bonus."


"Dapet bonus juga?"


Pria paruh baya itu mengangguk.


"Umm … oke." Nania menatap ke setiap rak di dalam toko tersebut, kemudian pandangannya jatuh pada satu jenis tanaman berduri yang selalu menyita perhatiannya.


"Kaktus boleh?" tanya nya, dan dia meraih benda tersebut.


"Boleh."


"Yes. Makasih." katanya, kemudian dia kembali ke area kasir.

__ADS_1


Regan segera memindahkan barang belanjaannya setelah Nania melakukan pembayaran, dan mereka keluar dari toko tersebut.


"Nania?" Seseorang memanggil namanya ketika dia hampir saja masuk ke mobil, dan Nania menoleh.


"Ibu?" Dia menatap perempuan itu yang keadaannya tampak tidak terlalu baik.


"Oh, Nania. Bersyukur ibu bisa menemuimu." Mirna segera menghambur untuk memeluk putrinya, namun Regan dengan sigap menghalangi.


"Maaf, Bu?" ucap pria itu yang merentangkan tangannya di antara ibu dan putrinya tersebut.


"Ibu dari mana?" Nania memilih untuk membawanya ke sebuah toko swalayan yang terletak tak jauh dari tempatnya berbelanja tanaman barusan. Di mana pedagang minuman langganannya berada.


Dan mereka duduk di kursi yang tersedia di pelataran toko tersebut dengan dua katong kresek makanan yang dibelinya.


"Ibu tadinya mau mengunjungimu ke rumah, tapi penjaga bilang kamu sekolah lagi. Tapi dia tidak mengatakan tempatnya di mana." Mirna menyesap minumannya dengan cepat.


"Ada apa?" Sekilas saja dia merasa jika ada sesuatu yang diinginkan oleh perempuan itu darinya. Bukankah memang begitu biasanya?


"Ibu … sedang dalam kesulitan."


Sudah kuduga. Lalu Nania menghembuskan napas pelan.


"Sejak Sandi ditahan ibu mengeluarkan banyak uang untuk mengiriminya makanan, sedangkan ayahmu jarang bekerja.


"Ayahku udah meninggal." tukas Nania yang merasa tidak terima dengan perkataan ibunya mengenai Hendrik.


"Maksud ibu …."


"Kan sudah tahu kalau Om Hendrik memang begitu. Terus kenapa ibu masih mau bersama dia?"


Mirna terdiam.


"Aku nggak punya banyak waktu, Bu. Harus cepat pulang, kalau nggak nanti aku kena masalah." Nania beringsut seraya meraih cup minumannya.


"Tapi Nania, ibu butuh bantuanmu." Namun Mirna berusaha menghentikannya.


"Bantuan apa? Kalau soal Bang Sandi aku nggak bisa bantu. Suamiku akan marah kalau tahu aku berbuat sesuatu."


"Setidaknya bantu ibu untuk keperluan sehari-hari." Tanpa basa-basi perempuan itu meminta kepada putrinya, seperti biasa.


Nania tertegun sebentar.


"Tolong, Nania. Ibu tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Ibu hanya ingat kepadamu." Dia tampak memelas.


Nania merasakan hatinya ngilu. Walau bagaimanapun Mirna adalah ibunya. Perempuan yang melahirkannya ke dunia dan membawa kehidupan baginya. 


Mungkin dia pernah berbuat buruk tapi itu tak mampu merubah kenyataan bahwa di tubuh mereka mengalir darah yang sama. Dan semarah-marahnya Nania, hatinya tetap tidak mampu mengesampingkan bahwa perempuan di hadapannya adalah orang tuanya.


Namun suara dering telfon membuyarkan lamunannya, dan kontak suaminyalah yang memanggil.


"Ha-hallo?" Nania segera menjawabnya.


"Kamu sudah pulang?" Pria di seberang sana bertanya. Dan Nania yakin jika Daryl tahu sesuatu ketika di saat yang bersamaan dia juga melirik ke arah Regan yang berdiri tegap di dekat mobilnya.


"I-ini mau pulang." Kemudian dia menjawab.


"Sudah selesai belanja bunganya?" tanya pria itu lagi.


"U-udah."


"Beli milk tea?"


"Udah juga."


"Then, what are you waiting for? Cepatlah pulang, sudah terlalu siang." ujar Daryl dengan intonasi yang cukup jelas.


"Iya ini juga mau."


"Oke, nanti telfon aku lagi jika sudah sampai di rumah ya?" Kemudian panggilan pun berakhir.


"Mm … aku lagi nggak pegang uang banyak, tapi …." Nania merogoh ke dalam tas kemudian dia mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan sisa berbelanja beberapa saat yang lalu.


"Mungkin ini bisa bantu sedikit." lanjutnya setelah meletakan uang tersebut di atas meja.


"Aku nggak bisa lama-lama, dan mungkin nggak bisa sering-sering menemui ibu. Tapi aku harap ibu baik-baik aja." Dia pun bersiap untuk pergi.


"Aku pamit." katanya, setelah dia memeluk Mirna sebentar, kemudian dia segera masuk kedalam mobilnya begitu Regan membukakan pintu. Dan setelahnya mereka pun pergi.


💖


💖


💖


Bersambung ...

__ADS_1


Hmm ... Mau apa sih bu muncul lagi? 🙄🙄


__ADS_2