The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Donasi


__ADS_3

💖


💖


"Besok pembukaan taman bacaan ya?" Anandita memulai percakapan saat mereka makan malam. 


Para cucu memang sudah tiba untuk menginap seperti biasa.


"Kok tahu?" Nania balik bertanya.


"Postingan Tante seliweran terus sih di beranda aku, ya tahu." jawab gadis itu.


"Masa?"


"Iya, kayaknya banyak yang ngeshare deh?"


"Umm … mungkin temen-temen di sekolah." Nania mengunyah sayuran tanpa nasinya dengan cukup lahap. 


Gejala kehamilannya yang semakin hari semakin parah membuatnya tak bisa mengkonsumsi nasi dan beberapa macam lauk seperti biasanya. Jadilah dia hanya memakan sayuran atau buah-buahan saja. Dan paling tidak, roti sebagai sumber karbohidratnya.


"Bisa jadi."


"Hmm … ya." Perempuan itu tersenyum.


"Donasinya masih dibuka nggak sih? Aku sama temen-temen boleh ikutan nyumbang nggak?" ucap Anandita.


"Apa? Mau nyumbang?" Nania menghentikan kegiatan makanannya.


"Iya. Boleh nggak?"


"Boleh aja sih kalau mau."


"Yang sekarang lagi dibutuhin apa? Buku? Alat tulis atau uang?"


"Apa aja boleh. Mau buku bacaan, bagus. Mau alat tulis juga oke. Bisa digunakan sama anak yang masih sekolah. Uang juga nggak apa-apa biar bisa bantu mereka beli kebutuhan sekolah yang nggak ada di kita."


"Misalnya apa?"


"Sepatu, kaos kaki, seragam atau tas."


"Bukannya untuk hal itu ada dana bantuan dari pemerintah ya? Kenapa kita harus bantu mereka di bagian itu?" Arfan bertanya.


"Masalahnya nggak semua anak dapat. Kadang hanya sebagian dari total satu kelas yang kebagian bantuan." Nania beralih untuk menjawab.


"Kenapa bisa begitu?" Disusul Dygta.


"Nggak tahu. Mungkin datanya nggak akurat jadi bantuan nggak merata? Karena kadang laporan yang masuk ke pemerintah sama fakta di lapangan itu beda." Perempuan itu menerangkan sesuai dengan apa yanh diketahuinya selama ini.


"Kok bisa begitu?" Kirana menyahut.


"Bisa lah. Kan anak sekolah di seluruh Indonesia itu ada puluhan juta. Mungkin mereka pusing ngitungnya." Mereka tertawa hampir bersamaan.


"Apa yang dapat bantuan lebih banyak dari yang tidak dapat?" Dimitri ikut berbicara.


"Kadang banyak yang nggak dapet kan, Nna?" Dan Rania pun sama.


"Gitulah." Nania mengangguk.


"Tuh kan? Terus yang rumahnya dekat taman bacaan kamu itu pada nggak dapat bantuan?" Rania bertanya.

__ADS_1


"Sayangnya iya, Kak. Makanya setelah ini anak-anak yang sebentar lagi lulus SMP tuh nggak tahu nasib mereka kayak gimana. Sedangkan di sana tuh ada mungkin se nggaknya sekitar dua puluh lebih yang tahun ini lulus SMP. Dan sebagian besar dari mereka ekonominya pas-pasan. Sama kayak aku lah."


"Mereka tidak akan bisa melanjutkan ke SMA?" Satria buka suara.


"Ada beberapa yang dapat beasiswa. Ada juga yang dapat bantuan tiga bulanan dari pemerintah. Tapi kalau boleh jujur sih nggak cukup untuk biaya ongkos pulang pergi aja sampai tiga bulan. Karena yang berat tuh ya yang sehari-harinya. Kayak yang sekolahnya jauh tuh butuh ongkos lebih sama bekal. Kan nggak mungkin mereka jalan kaki sementara jarak dari sekolah ke rumah cukup jauh. Biarpun sistemnya udah zonasi tapi kan tetep aja, nggak akurat. Seenggaknya harus naik angkot lah."


Mereka semua terdiam.


"Aaa … kenapa jadi pada diem? Nggak apa-apa, pasti ada jalannya nanti. Kan ini lagi diusahain." Nania bereaksi atas keheningan di ruang makan keluarga itu.


"Mereka pasti bisa dan akan mengusahakannya dengan baik. Sedikit-sedikit bisa kami bantu lah, karena sampai hari ini bantuan tetep datang kok. Jadi bisa lah sedikit meringankan beban mereka." Nania kembali melahap makanannya.


"Papi, kalau mau bikin sekolah gratis kita bisa nggak sih?" celetuk Rania kepada Satria.


"Apa?" Dan Dimitri yang bereaksi.


"Iya, kan kemarin rumah sakit kita bisa. Terus masa sekolah gratis nggak bisa? Kasihan deh anak-anak itu. Kenapa kita nggak bikin aja do dekat rumah mereka, biar nggak harus negluarin ongkos lebih untuk sekolah?"


"Kalau rumah sakit kan prioritasnya untuk karyawan, Zai. Jadi tidak bisa disamakan dengan sekolah." Dimitri menjelaskan.


"Masa? Nggak bisa tiba-tiba bikin yayasan terus bikin sekolah gitu? Kayaknya aku bisa deh kalau soal biayanya. Kita bisa gapanh dana juga kan?"


"Ini bukan hanya soal uang, Ran." Lalu Arfan pun buka suara. "Sekolah itu hal yang tidak bisa tiba-tiba dibuat hanya karena kita ingin. Tapi banyak aspek yang harus dimiliki agar tempat tersebut jadi sekolah resmi."


"Oh ya?"


"Ya. Kita harus melewati tahap yang panjang dan rumit untuk mendapat perizinan, belum lagi proses akreditasi agar kegiatan belajar dan mengajar itu bisa legal, dan hal-hal lainnya juga."


"Duh, banyak amat yang harus di urus?" ujar Rania.


"Iya, belum lagi tenaga pengajar dan pengurus yayasan. Mereka orang yang harus dibayar kerja kerasnya lho."


"Terus kapan sumbangannya bisa dikirim?" Arkhan, yang sejak tadi asyik dengan makanannya pun berbicara juga.


"Kapan aja boleh asal pas lagi buka. Taman bacaannya buka dari jam delapan sampai jam empat." Nania menjawab.


"Oke deh. Hari ini aku mau kasih tahu temen-temen." Anandita yang sudah menyelesaikan makan malamnya beranjak dari tempat duduknya, diikuti oleh Arkhan dan adik-adiknya.


***


"Kenapa kamu tidak memberi tahu kami soal taman bacaan ini?" Darren kembali berbicara saat mereka berkumpul di ruang tamu setelah acara makan bersama itu selesai.


"Kan waktu itu udah cerita. Tapi memang rencananya belum ada. Eh tahu-tahu temen di sekolah punya projek sosial gitu, nah kebetulan aku ada ide ini kan. Jadinya ya … udah deh." Nania bercerita.


"Apa? Bukankah memang idemu untuk membuat taman bacaannya di rumah lama? Kenapa tiba-tiba jadi projek teman sekolahmu?" Daryl buka suara setelah hanya menjadi menyimak sejak tadi.


"Umm … sama-sama lah. Aku punya ide dan lahan, terus mereka kebetulan memang ada rencana juga. Jadi ya … kayaknya udah jodohnya."


"Jodoh apa? Memangnya orang mau menikah pakai ada istilah jodoh segala? Ada-ada saja kamu ini?" Pria itu menggerutu.


"Iya, terserah ajalah. Tapi kan kalau udah dibuka nanti, apalagi di dalamnya ada banyak barang sumbangan, udah bukan milik aku lagi. Sekarang jadi milik umum. Terutama anak-anak."


"True. Aku suka pemikiranmu. Karena di dalamnya ada kerelaan orang-orang yang menyumbangkan sebagian harta mereka untuk kepentingan anak-anak. Dan itu bagus." Darren kembali mengutarakan pendapatnya.


"Iya kayak gitu."


"Hmm … baiklah, sepertinya aku mau berdonasi juga agar niatmu ini lancar. Bagaimana Sayang? Apa kamu mau berdonasi untuk rumah bacanya Nania?" Dia bertanya kepada Kirana.


"Ide yang bagus. Semakin banyak yang menyumbang semakin baik kan?" jawab perempuan itu.

__ADS_1


"Apa? Kalian serius?" Nania seakan tidak percaya.


"Tentu saja. Bagaimana yang lainnya?" Dan hal tersebut membuat seluruh anggota keluarga ikut setuju untuk memberikan sumbangan tambahan.


"Der, apa kau tidak mau ikut?" Darren beralih kepada saudaranya yang sejak tadi hanya diam saja menyimak percakapan mereka.


"Ikut apa?"


"Memberikan donasi untuk rumah bacanya Nania?"


"AlBercanda ya? Aku kan sudah lebih dulu dari kalian." jawab Daryl dengan bangganya.


"Benarkah?"


"Ya. Baaaanyak sekali."


Nania menoleh kepadanya.


"Kau pikir memangnya apa? Keberadaan istriku ini di rumah bacanya menjadi sumbangan terbesar bagi mereka. Kalau tidak ada idenya, mana mungkin rumah baca itu akan terwujud?" Daryl merangkul pundak Nania sambil menatap wajahnya dengan bangga, dan membuat perempuan itu terkekeh pelan.


"Ish, dasar kau ini!"


"Iya, terima kasih sudah mendukung." Nania menepuk dada suaminya.


"Aku juga boleh ikut nyumbang nggak sih?" Zenya menyela percakapan tersebut.


"Boleh, Zen mau nyumbang apa? Buku?" Rania menjawab.


"No, Mommy." Anak itu kemudian mendekat kepada Nania lalu dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan yang terlipat.


Kemudian Zenya menyentuh tangan Nania yang tertelungkup dan membalikkannya. Yang setelahnya dia letakan uang-uang kertas itu diatas telapak tangan tantenya tersebut.


"Zen punya uang dari mana? Kan Mommy sama Papi nggak pernah kasih Zen uang?" Namun Rania bereaksi.


"Dari Anom." Anak itu menjawab.


"Anom?"


"Iya, kalau nginep ke Bandung kan suka dikasih buat jajan sama Anom atau Enin, tapi nggak dijajanin."


"Kenapa nggak dijajanin?"


"Soalnya kalau ke warung suka dicubitin ibu-ibu. Kan sebel?" Zenya dengan ekspresi kesal namun lucu.


Sang ibu tertawa.


"Me too!" Anya pun tidak mau kalah, dan dia meraih tas kecilnya di sudut sofa kemudian mengeluarkan uang yang sama di dalamnya untuk dia berikan kepada Nania.


"Cukup buat beli pensil nggak? Kalau nggak cukup aku mau minta sama Papi." katanya dengan polosnya.


"Cukup Anya." Nania dan yang lainnya pun ikut tertawa


💖


💖


💖


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2