
💖
💖
"Lu tahu Neng? Ini kalau misalnya ke butik lain kagak mungkin orderan mepet gini diterima. Gimana sih anak lu mikirnya?" Suara dari percakapan telfon terdengar nyaring.
"Iya, makanya aku ordenya ke Cece, kan pasti diterima." Sofia menjawab.
"Dan lu beruntung yang nerima gue, coba kalau pemilik butiknya bukan gue? Mau lu kasih semilyar kagak bakal dijabanin!"
"Iya, Ce. Makasih."
"Lu yakin ukuran bajunya sama kayak di Darren?"
"Iya, paling agak longgaran sedikit."
"Daryl badannya lebih gede?"
Sofia melirik putra keduanya.
"Sedikit, Ce."
"Calon istrinya?"
"Lebih kecil dari Rania."
"Hadeh …."
"Kalau mau mungkin besok mereka ke sana?" Sofia berujar.
"Kagak usah. Mau gue kerjain sekarang. Lagian kalau gue ketemu si Daryl, tar malah gue omelin tuh anak! Bikin repot aja!"
Sofia tertawa.
"Jangan ketawa! Anak lu yang satu itu rese nya minta ampun. Minta nikah kayak si Anya minta es krim!!"
"Iya, Ce. Memang.
"Ya udah, gue sama anak-anak kerjain dulu bajunya biar bisa dipake ntar Minggu."
"Terima kasih ya Ce ya?"
"Gimana nggak terimakasih lu sama gue? Semepet ini orderan baju pengantin masih gue terima." Cece masih mengomel.
"Iya, Cece yang terbaik." Lalu percakapan itu berakhir.
"Oke." Sofia meletakkan ponselnya di meja.
"Mau apa lagi kalian setelah ini? Persiapan sudah 90 persen dan semuanya sudah dipastikan berjalan sesuai rencana. Kecuali ijab kabul yang akan berlangsung dua kali." Perempuan itu kembali berbicara.
"Ya lanjutkan saja seperti yang sudah direncanakan. Tidak usah merubah apa pun. Hanya akad nikahnya saja yang bertambah kan?" Daryl dengan santainya.
"Bagaimana dengan undangan yang sudah disebar? Di sana hanya tertera nama Darren dan Kirana." Dygta ikut berbicara.
"Bukan masalah besar, Kak. Sama saja."
"Baik kalau begitu, tapi jangan jadikan ini sebagai masalah suatu hari nanti ya? Salahmu sendiri minta menikah dadakan begini."
"It's oke, yang penting menikah." Daryl tertawa.
"Tentu saja it's oke, kau tinggal terima beres!" Daryl menepuk kepala adik keduanya itu.
"Ya kalau bisa begitu kenapa tidak dimanfaatkan?" jawab Daryl lagi.
"Percayalah Nania, kami tidak akan membeda-bedakan siapa pun di dalam keluarga ini. Tapi karena Daryl yang mendadak begini, jadinya pernikahan kalian seolah dibedakan." Sofia kepada calon menantunya.
"Umm … nggak apa-apa sebenarnya. Tapi masa iya ini beneran? Kan belum siapin apa-apa." Nania menjawab.
"Ah, soal itu serahkan kepada Galang." ucap Daryl yang bersandar pada kepala sofa.
"Enak saja kau ini, memangnya dia kurang kerjaan apa?" Dimitri bereaksi.
"Hahaha, tidak apa kalau dia tidak bisa. Ada Regan." Pria itu mengirimkan pesan dari ponselnya.
"Apakah sudah selesai? Tamu-tamu menanyakan kalian." Arfan naik ke lantai atas untuk memeriksa.
"Sudah, semuanya sudah sepakat." Dygta menghampiri suaminya.
"Sepakat apa?"
"Lusa ada dua pernikahan sekaligus." Dia bergelayut di tangan pria itu.
"Serius?"
"Ya. Jadi siapkan dirimu untuk kejutan berikutnya." ucap Dygta yang menarik Arfan kembali ke lantai bawah di mana pesta masih berlangsung. Diikuti semua yang ada di ruangan itu.
"Ini mimpi nggak sih? Masa dua hari lagi aku jadi istri Bapak?" Nania dan Daryl berjalan paling belakang.
"Hahaha, ini nyata Malyshka, ini nyata." Pria itu tertawa.
"Tapi nanti siapa yang mau nikahin aku? Kan ayah udah nggak ada?" Mereka berhenti di ujung tangga.
__ADS_1
"Bisa pakai wali hakim kalau tidak ada keluarga dari ayahmu."
"Terus, apa keluarga harus datang?"
"Mm … kalau ada."
"Tapi aku cuma punya ibu. Nggak tahu kalau misal ada keluarga lainnya."
"Tidak apa-apa, ibumu juga cukup."
"Ibu harus datang?"
"Dia orang tuamu kan? Ya kalau bisa."
"Umm …."
"Ayo kita kembali ke bawah?" Daryl mengulurkan tangannya sambil menatap waja gadis itu yang telah berganti pakaian dengan yang tak se terbuka sebelumnya.
Nania terdiam untuk beberapa saat.
"Come on! It will be alright. Don't worry." ucap Daryl, meyakinkan.
"Bapak janji?"
"Ya." Pria itu menganggukkan kepala.
"Aku nggak punya siapa-siapa. Dan dengan menikah itu berarti aku menyerahkan hidupku sama Bapak. Nanti aku jadi tergantung dan semuanya berhubungan sama Bapak."
"Yeah, so? Orang tuaku juga begitu. Lalu di mana masalahnya?"
"Bapak akan bertanggung jawab untuk hidup aku dan semua yang berhubungan dengan aku."
"Ya, itu fungsinya suami istri bukan?" jawab Daryl.
"Aih, suami istri!!" Dia tergelak. Baru menyebutnya saja aku sudah berdebar-debar!!" Pria itu mengusap-usap dadanya.
"So come, kita akan menjalaninya bersama mulai sekarang." ucapnya lagi, kemudian meraih tangan Nania dan menuntunnya turun ke bawah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka menatap rumah sederhana bertingkat dua di pemukiman padat penduduk di pinggiran kota Jakarta.
Nania memutuskan untuk memberitahukan perihal pernikahan dadakannya kepada sang ibu yang merupakan satu-satunya keluarga yang dia punya.
Tentunya setelah pembicaraan panjang lebar dengan Satria dan Sofia, yang menganjurkan untuk melakukan hal tersebut.
"Ingat kata Mama, apa pun hasilnya kita harus tetap menghadap ibumu. Walau bagaimanapun dia adalah orang tuamu." Daryl menautkan jari-jari mereka untuk menguatkan Nania.
"Tidak masalah, bukan dia yang akan menikahkannmu. Kita hanya perlu menghargai keberadaannya."
"Umm …."
"Ayolah, cepat. Disini panas." ucap Daryl yang wajahnya sudah memerah.
Kemudian mereka masuk ketika pintu terbuka dan Mirna muncul di ambang pintu.
Perempuan itu tak banyak bicara dan wajahnya datar-datar saja setelah mendengarkan penuturan putrinya, yang sesekali ditimpali oleh Daryl. Dia lebih banyak mendengarkan dan memutuskan untuk menerimanya saja. Apalagi setelah tahu siapa yang tengah dihadapinya ini.
Tidak ada pembahasan apa pun yang dia lontarkan selain menerima keputusan putrinya.
"Kalau mau, nanti ada yang jemput Ibu da Om Hendrik ke sini. Jangan khawatir, semuanya udah disiapkan." Nania mengakhiri percakapan.
"Baiklah." Hanya itu yang Mirna ucapkan.
"Bisa tunggu di sini? Aku mau ambil sesuatu dulu?" Nania beralih kepada Daryl yang duduk dengan tenang di sofa.
Lalu pria itu menganguk.
Nania bergegas menuju kamarnya yang dia tempati bersama mendiang neneknya yang terletak tak jauh dari ruang keluarga. Berada tepat di bawah tangga yang masih bisa Daryl jangkau dengan pandangannya.
Beberapa foto dan benda peninggalan nenek, termasuk kain batik yang tersimpan di lemari kecil dia masukkan ke dalam kotak kardus dari bawah tempat tidur. Sengaja Nania bawa untuk tetap mengingatkan jika dulu ada anggota keluarga yang menyayanginya. Meski kini sudah tak ada lagi, tapi kenangan nya tidak akan pernah hilang dari ingatan.
Nania terdiam di sisi ranjang usang ketika Daryl memeriksa keadaan.
"Apa masih lama?" Pria itu berdiri di ambang pintu dan menatap ke dalam ruang sempit itu.
Pandangannya menyelidik dan tiba-tiba saja dia merasa sesak. Melihat tempat itu yang sepertinya tak layak untuk dijadikan tempat tinggal manusia pada umumnya.
"Nggak, udah kok." Nania mengusap matanya yang basah.
Masih segar dalam ingatan ketika dia menemukan perempuan tua itu tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
"Ayo kita pulang?" ajak Daryl yang menundukkan kepalanya saat memasuki ruangan yang Nania sebut kamar itu untuk menariknya keluar.
"Aku … pamit, Bu." ucap Nania kepada ibunya.
Mirna menganggukkan kepala tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Entah saat ini bagaimana perasaannya dia tak mengerti. Ada sedikit sesak, juga rasa sedih. Tapi selebihnya kebas. Mungkin hatinya sudah mati bahkan untuk merasakan kasih sayang terhadap putrinya sendiri.
Dia menatap punggung Nania yang Daryl rangkul hingga mereka keluar dari pekarangan rumah.
"Aku … boleh mampir dulu ke suatu tempat nggak?" Nania buka suara setelah terdiam cukup lama.
__ADS_1
"Ke mana?" tanya Daryl yang tak melepaskan genggaman tangannya sedikitpun.
Hari itu bahkan dia memilih menggunakan sopir untuk mengantar mereka mengunjungi beberapa tempat.
"Ke makam ayah, terus ke rumah lama."
"Boleh, kenapa tidak boleh?" jawab pria itu.
"Kau dengar Regan?" katanya kepada sopir.
"Baik Pak." Lalu pria itu melajukan kendaraannya ke tempat yang Nania sebutkan.
"Aku baik-baik aja Yah, nggak usah khawatir. Sekarang aku aman." Nania berjongkok di samping pusara sang ayah.
"Lusa aku juga menikah. Ayah percaya nggak?" gadis itu terkekeh seperti dia tengah berbincang dengan manusia.
"Nanti nggak akan kesepian lagi, nggak akan sendiri lagi. Di sana banyak orang, dan mereka baik-baik kayak Kak Ara. Jadi Ayah bisa tenang sekarang." Dia merapikan bunga yang dibawanya.
Sementara Daryl membiarkannya menghabiskan waktu sebanyak yang dia butuhkan hingga gadis itu puas melepas rindu dengan ayahnya.
"Habis ini ke rumah lama ya?" ucap Nania ketika mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Hmm …." Dan Daryl menuruti saja semua kemauannya.
Dan persinggahan terakhir sore itu adalah rumah sederhana lainnya. Berada tak jauh dari pemakaman Arsyad yang keadaannya tampak lebih baik dari rumah sebelumnya.
Suasananya lebih tenang dan lebih menyejukkan mata.
"Kamu yang waktu itu datang kan?" Seorang perempuan paruh baya yang Nania kenali sebagai pemilik baru rumah itu menyapa. Setelah melihat dua orang tersebut yang berdiri di depan rumahnya.
"Iya, Bu. Apa kabar?" Nania menjawab.
"Baik, mau masuk?" Dia membuka kan pintu pagar.
"Boleh Bu?"
"Boleh, silahkan."
Lalu Nania dan Daryl memasuki pekarangan. Namun dia tak mau masuk kr dalam rumah dan hanya menatap bangunan tersebut dari luar.
Keadaannya sekarang lebih baik dengan cat baru dan tanaman yang memenuhi setiap sudut teras. Lalu pandangannya jatuh pada tiga pot tumbuhan yang dia ingat adalah pembelian sang ayah.
"Barang-barang kamu masih di sini." Perempuan itu menunjuk sudut teras di mana gundukan perabotan milik Nania berada.
"Iya Bu. Nanti saya ambil kalau udah ada tempat ya? Nggak apa-apa kan?" jawab Nania.
"Tidak apa-apa, santai saja."
"Terus, kalau saya ambil tanaman ini boleh nggak? Ini punya ayah dulu." Nania menunjuk tanaman yang dia kenali.
"Boleh, silahkan. Itu milik kamu kan?"
"Terima kasih." Lalu dia segera mengambil satu pot tanaman kuping gajah dan dua pot succulent yang sudah berkembang lebih besar dari terakhir dia tinggalkan.
Kemudian mereka berpamitan setelahnya.
"Rumahnya dijual nggak lama setelah ayah meninggal. Dan aku nggak tahu." Nania kembali berbicara.
Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah besar.
"Uang hasil penjualannya?" Daryl menyahut.
"Ibu simpan. Sebagian dipakai membeli motornya Bang Sandi. Kemungkinan sisanya dipakai biaya hidup."
"Ah, bisa ditebak."
"Padahal itu peninggalan ayah satu-satunya. Biarpun kecil tapi ayah bikin sendiri. Dan kami sangat berhemat untuk bisa punya rumah itu."
"Kamu mau membelinya lagi?" tawar Daryl.
"Apa? Nggak mungkin, orang udah ada yang nempatin. Lagian mana bisa beli lagi dengan gampang? Segitu juga mahal."
Daryl hanya tersenyum.
"Mungkin nanti kalau aku punya uang." Nania merebahkan kepalanya ada sandaran kursi.
"Hmm …."
"Seriusan ini kayak mimpi, aku si upik abu yang jadi putri." suaranya terdengar melemah.
"Some dreams come true." jawab Daryl yang menoleh dan mendapati Nania sudah memejamkan mata. Dan dia tampak kelelahan.
"Haih, Malyshka!" katanya, yang kemudian merangkul pundak gadis itu dan mendekapnya dalam pelukan.
💖
💖
💖
Bersambung ....
__ADS_1
Kuy kirim hadiah buat calon pengantin?😁😁