
💖
💖
"Eh, udah ada. Aku duluan ya? Sampai besok." Nania baru saja keluar dari gedung ketika mendapati suaminya yang sudah berada di sana entah sejak kapan.
Darryl menunggunya di tempat parkir dan dia langsung mengenalinya karena memang paling mencolok di antara beberapa kendaraan yang berjajar di tempat itu.
Pria tersebut keluar bersamaan dengan Nania yang berlari ke arahnya dengan raut gembira.
"Daddyy!!" Dia segera menghambur ke pelukannya sementara Daryl menyambutnya dengan senyuman dan pelukan balasan.
"Udah lama?" Nania mendongak.
"Baru saja."
"Aku kirain aku yang harus ke Fia's Secret?"
"Sudah aku bilang aku yang akan menjemputmu kan?"
"Habisnya kamu nggak chat aku dari tadi?"
"Kan kamu sedang belajar, masa aku chat terus?" Daryl melepaskan rangkulannya, sementara Nania hanya tertawa.
"Bye Nna." Beberapa orang teman melintas dan melambaikan tangan.
"Bye." Nania pun balas melambai.
Lalu seorang pria muda dengan motor besarnya pun melintas pelan-pelan, namun dengan suara yang memekakan telinga. Yang tentu saja menarik perhatian beberapa orang. Termasuk Daryl dan Nania yang masih berada di sana.
"Apa-apaan dia itu?" Daryl menjengit sambil mengusap-usap telinganya ketika pria bermotor itu pergi.
"Hahaha, dia emang rese." Nania hanya tertawa.
"Dia juga teman sekelasmu?"
"Iya. Namanya Zayn, duduknya di sebelah aku."
"Apa? Sudah tahu namanya? Kamu juga kenalan dengan dia?" Daryl bereaksi.
"Dia yang ngenalin dirinya. Lagian kan sama temen sekelas emang harus kenal, jadi gampang kalau ada apa-apa."
"Noooo! Ini hanya sekolah persamaan, kenapa harus kenal semua orang?" protes pria itu.
"Eh, dia kan yang paling deket, masa iya aku cuekin?"
"Ecsacly! Abaikan saja, apalagi dia laki-laki."
Hadeh, mulai. Nania memutar bola mata.
"Kamu hanya perlu sekolah, tidak perlu berteman. Apalagi dengan anak laki-laki. Nggak penting. Tujuanmu kan agar punya ijazah SMA, bukan teman."
"Iya Pak, iya. Udahan ah, ayo kita pergi?" Nania menghentikannya, lantas mendorong suaminya masuk ke dalam mobil. Kemudian dia pun berputar ke sisi lainnya dan masuk pula.
"Hey, sepertinya ada yang salah!"
"Ah, sama aja. Nggak usah selalu jadi gentleman kalau sama aku."
"Yeah, right. But i'm your husband!"
"Iya Pak." Nania hanya tertawa.
***
Tak menghabiskan waktu terlalu lama di perjalanan untuk sampai ke tempat yang dituju. Hanya butuh sekitar satu jam saja dan mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di sebuah komplek perumahan terkenal.
Rumah-rumah besar berdiri kokoh di balik pagar tinggi dengan suasana sepi dan asri. Pohon dan tanaman tampak terawat dan tertata rapi membuat siapa pun betah melihatnya.
__ADS_1
"Aku pikir rumahnya yang deket rumah besar?" Nania turun dari mobil setelah Daryl membukakan pintu.
"Apa artinya tinggal terpisah tapi masih di lingkungan yang sama?" Pria itu menjawab.
"Ya, aku ngiranya begitu." Nania menatap bangunan tinggi bertingkat dua yang cukup besar itu.
Lalu seorang pria muncul menyambut mereka.
"Silahkan Pak?"
"Terima kasih. Mungkin kami disini agak lama." ucap Daryl yang menerima kunci dari pria itu.
"Baik Pak, tenang saja. Saya ada di pos depan kalau Bapak sudah selesai." jawabnya yang kemudian segera pergi.
Keduanya kemudian masuk dan langsung disuguhkan pemandangan indah. Ruangan luas dengan kaca besar di samping menampilkan view taman yang indah dan sejuk di mata. Rumput dan tanaman ditata sedemikian rupa sehingga mereka senang melihatnya.
"Rumahnya siap huni, kapanpun kita bisa pindah." Daryl melepaskan jasnya yang kemudian dia sampirkan dia sofa. Lalu menggulung bagian tangan dari kemejanya hingga sampai sikut.
"Ada kolam renangnya?" Nania melihat sisi lain rumah yang juga memiliki kaca besar yang sama. Di mana bagian itu menampilkan halaman samping yang terdapat kolam renang cukup besar.
"Yeah … aku suka renang, ingat?" Daryl menghampirinya. "Don't worry, it's just for me. I need it."
Lalu mereka melihat beberapa ruangan lain. Sebuah ruang keluarga yang sama luasnya dengan sofa-sofa dan televisi besar. Juga lemari kaca tinggi yang juga sudah lengkap dengan hiasannya.
Dan dapur menjadi hal yang paling menarik perhatian Nania. Segala perabotan sangat siap dipakai dan semuanya tampak mengagumkan. Desainnya apik, perpaduan modern dan klasik, namun sederhana dan nyaman.
"Kayaknya aku bakalan lebih betah di dapur deh, dari pada di tempat lain." Nania menatap ruangan itu dengan mata berbinar.
"Well, that's good. Karena kamu akan selalu membuatkanku makanan yang enak kan?" Daryl berjalan ke arah kulkas besar yang hampir setinggi dirinya, lalu mengambil minuman dari sana.
Di dalamnya memang sudah penuh dengan berbagai jenis makanan seolah akan segera ditinggali.
"Wanna see upstaires?" Pria itu melenggang ke arah tangga dan Nania segera mengikutinya.
Terdapat empat kamar di sana yang salah satunya merupakan kamar utama. Terletak di ujung paling depan dan memiliki pemandangan paling indah dari seluruh rumah yang semuanya sudah diisi dan siap huni.
"Kita memang membutuhkan ruang untuk membangun keluarga dan membesarkan anak-anak, bukan?"
"Anak?" Perempuan itu berbalik.
"Yeah, siapa tahu kita punya banyak anak?" Daryl meneguk minuman sambil bersandar pada dinding.
"Umm … rencananya kita punya banyak ya?"
"Tergantung."
"Apa harus banyak?"
"Tidak juga. Terserah kamu yang akan melahirkan. Satu atau dua, empat atau enam. That's your body. Kamu bisa melahirkan sebanyak yang kamu mau."
"Banyak amat empat atau enam?" Nania bergidik seolah tengah memikirkan hal paling mengerikan di dunia.
"I have a big family. Mamaku memiliki empat anak, Kak Dygta punya empat, lalu Darren kemungkinan punya anak kembar, apalagi kita. Keluarga Nikolai akan semakin besar dan kuat dengan semakin banyaknya anggota baru."
"Tapi nggak harus enam juga kan?" Nania terkekeh frustasi. Baru membayangkannya saja dia sudah merasa ngeri.
"No, aku bilang terserah kepadamu, kamu yang akan melahirkan anak-anak kita kan?"
"Satu aja boleh nggak?" Perempuan itu mendekat.
"Masa cuma satu? Kasihan kalau ada apa-apa dia sendirian?"
"Kan sepupunya banyak?"
"Lalu dia akan bertanggung jawab atas semua yang kita miliki hanya sendirian? Kasihan."
"Hmm …." Nania mengerucutkan mulutnya.
__ADS_1
"Gimana kalau dua?"
"Umm …." Daryl berpikir.
"Ya, dua kayaknya cukup. Kan program pemerintah. Kalau kebanyakan nanti aku nggak bisa urus kamu kan?" Dia kemudian merapatkan dirinya kepada Daryl.
"Kalau kebanyakan nanti aku sibuk urusin anak-anak. Sekolahnya, kebutuhan mereka, tugas belum lagi les-les dan segala macamnya?"
Daryl tertawa.
"Banyak sekali yang harus dikerjakan, padahal anaknya belum ada?" Pria itu meraup pinggangnya sehingga jarak di antara mereka segera menghilang.Â
"Ya kan semuanya harus direncanakan dari sekarang?"
"Hmm …."
"Oke? Jangan banyak-banyak ya? Kalau misal sekarang aku hamilnya kembar ya udah aja, nanti jangan hamil lagi?" bujuk Nania seraya berjinjit untuk menyamakan tinggi mereka berdua. Walau pada kenyataannya tetap dia tak mampu mencapai tinggi tubuh pria itu.
"Daddyy??" Kedua tangan Nania merayap di pundaknya.
Daryl tertawa pelan lalu menenggak habis munumannya, kemudian mengeratkan rangkulan tangannya di pinggang perempuan itu.Â
Sedetik kemudian dia menunduk dan meraih bibir merah milik Nania, lalu menyesapnya dengan penuh perasaan.
"As you wish, Ma'am." katanya, dan dengan mudahnya dia mengangkat tubuh perempuan itu sehingga wajah mereka benar-benar sejajar.
Nania tertawa, namun kemudian Daryl membungkamnya dengan ciuman, Dan dia segera bergerak mundur membawanya ke dalam rumah.
Nania meronta untuk turun namun pria itu tak melepaskannya, dan malah membawanya masuk kedalam kamar utama.
"Ini tengah hari, Pak?" ucap Nania ketika Daryl menjatuhkannya di atas tempat tidur.
"Well i don't care." Pria itu setengah berbisik dengan napas yang menderu-deru. Gairahnya tersulut begitu saja setiap kali mereka saling bersentuhan.
"Umm … ini juga rumah orang, masa kita mau …." Nania menahan dadanya yang merapat seraya cumbuan yang kembali dia mulai.
"Siapa bilang? Aku sudah membayar lunas, maka itu menjadikan rumah ini sebagai milikku." Pria itu mengecupi leher dan menyentuh seluruh tubuh Nania.
"Hah?"
"Don't worry, it's all mine." katanya lagi, dan dia hampir menarik dua ujung kemeja Nania ketika tak lagi mampu menahan hasratnya.
"Eee … jangan disobek!" Namun perempuan itu menahan kedua tangannya.
Lalu dia melepaskan kancing-kancing kemeja dan tautan rok di belakang sehingga Daryl dapat melepaskannya dengan mudah. Tidak terkecuali dengan paka*an dal*mnya. Begitu pun Nania yang melepasakan kancing pada pakaian Daryl sehingga kini mereka sama-sama telanjang.
Pria itu menyeringai dan dia melanjutkan cumbuan. Suara decapan bergema di udara dan hembusan nafas terdengar begitu jelas. Keduanya benar-benar dikuasai hasrat yang bergelora.
"Ugh!!" Nania mengerang ketika pria itu memasuki dirinya dan dia mulai menghentak. Dan segera saja, pertautan kedua tubuh itu berlangsung panas.
Pergumulan terjadi dengan begitu intens dan mereka berdua segera tenggelam dalam lautan hasrat. Keduanya saling menyentuh dan mereka berusaha untuk saling memuaskan.
Daryl mencengkram pinggul Nania sehingga hujamannya begitu mengobrak-abrik bagian terdalam dari perempuan itu.
Erangan dan des*han terus mengudara selama beberapa saat hingga mereka benar-benar kehilangan akal.
Suara, ekspresi dan gerakan tubuh benar-benar tak terkendali sehingga tak ada lagi yang mereka pikirkan kecuali ingin mencapai pelepasan bersama. Dan tanpa menunggu lagi, keduanya segera menuntaskan apa yang menjadi tujuan utama.Â
Dan mereka membiarkan klim*ks segera tercapai saat dua tubuh telanjang itu mengejang bersamaan.
💖
💖
💖
Bersambung ...
__ADS_1
Hadeh .... Kabuurrrr🙈🙈