The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Pulang Bekerja


__ADS_3

💖


💖


Daryl menutup pintu pelan-pelan begitu memasuki kamar saar malam telah larut. Namun Nania menoleh kemudian bangkit.


"Aku membangunkanmu?" Pria itu mendekati tempat tidur.


"Nggak. Aku belum tidur." Perempuan itu menjawab.


"Aku kira sudah, hehe." Daryl kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas Nania.


"Aaaaa … mandi dulu!! Kamu seharian bekerja?!!"


"Sebentar, aku lelah." Pria itu melilitkan kedua tangannya pada tubuh kecil Nania sambil memejamkan mata.


Bertemu dengan perempuan ini setelah seharian bekerja rasanya luar biasa membahagiakan. Dan rasa lelahnya berangsur menghilang.


"Lelah apanya? Cuma duduk sambil lihatin model seksi doang, di mana lelahnya?" Nania berusaha melepaskan diri.


"Kamu tidak tahu kalau hal itu sangat melelahkan bagiku, terutama karena melihat tubuh seksi mereka tapi ingatanku hanya tertuju kepadamu." Daryl mengeratkan pelukannya.


"Dih, mulai gombal."


"Tidak, aku serius." Lalu dia merapatkan wajah ke dadanya untuk mendengar degupan jantungnya yang seperti alunan yang indah.


"Mereka cantik dan seksi." ucap Nania.


"Tapi yang menarik hanya kamu."


"Aku ini pendek dan kecil."


"Tapi aku sangat mencintaimu, Naniaku yang pendek dan kecil!!" Pria itu menggelitiknya, sehingga membuat Nania tertawa terbahak-bahak.


Daryl kemudian merayap sehingga bisa meraih leher perempuan itu, kemudian mengecupinya dengan penuh perasaan.


"Eh, jangan!!" Namun Nania menghindar.


"What?"


"Jangan tambah lagi merah-merahnya, maluu!!"


"Kenapa? Aku suka menandaimu. Di sini, di sini, atau di sini." Pria itu mengecupi beberapa tempat.


"Jangan lagi, atau paling nggak jangan di tempat yang kelihatan."


"Kenapa?"


"Malu tahu, kelihatan sama orang-orang!!"


"Masa?"


Nania mengangguk.


"Kamu nggak tahu aja seharian ini aku malu banget sama orang rumah karena merah-merahnya kelihatan Anya sama Zenya. Udah tahu kan mereka gimana?"


"Anya dan Zen banyak bertanya?"


"Iya. Kan aku malu, mana sendiri lagi nggak ada kamu. Masih untung nggak kena bully juga."


"Hahahah! Mereka itu, memang ya?" Daryl kembali menyurukkan wajahnya di dada Nania.


"Sekarang ke mana dia? Rumah agak sepi selain anak-anaknya Kak Dygta tadi yang sudah tidur?"


"Setelah ambil raport di sekolah katanya langsung ke Bandung."


"Oh, mudik?"


"Hu'um." Nania mengangguk.


"Malyshka, kamu nggak memakai bra lagi?" Sebelah tangannya menyelinap ke punggung dan dia tak menemukan apa-apa selain kulit mulus Nania dibalik pakaian tidurnya.


"Udah aku bilang kalau mau tidur aku nggak pakai daleman." 


"Masa?" Kemudian Daryl meraba pantatnya yang tidak dilapisi apa pun.


Nania tersenyum malu.


"Udah nyoba pakai dari tadi tapi nggak tahan juga. Rasanya udah nggak nyaman. Kebiasaannya gitu kalau malam …"


Daryl mengerutkan dahi. Dia membayangkan bagaimana keadaan perempuan itu ketika sebelum menikah dengannya.


"Setiap malam?"


"Ya, kalau mau tidur."


"And you are not wearing anything?"


"Cuma kaos tidur aja."


"No bra, no cd's?"


"Ya."


"Di rumah ibumu?" Dia membayangkan keadaan rumah itu di mana ada ayah dan kakak tirinya.

__ADS_1


"Di sana nggak, malu ada nenek." Nania tertawa.


"Di kedai."


"Nah, baru kalau di sana iya. Aku sendirian."


Daryl bangkit seraya menatap wajahnya.


"Every night?"


"Ya."


Pria itu membeku.


"Kamu tahu, rasanya nggak nyaman. Kayak kamu diikat sangat kencang terus  dibiarkan begitu saja, dan lagi …."


"Stop!! Dan kamu juga begitu waktu aku menginap di kedainya Ara?" Pikirannya mengingat.


"Eee … iya." Nania kemudian terkikik sambil menutup mulutnya dengan tangan. Rasanya malu sekali membicarakan hal ini, tapi sudah terlanjur.


"Bagaimana kalau ada orang masuk ke kamarmu dan melakukan sesuatu? Bagaimana jika aku memperk*samu?"


"Tapi nggak kan?" Perempuan itu tergelak.


"Seandainya, Nna! Ugh, kamu sangat ceroboh soal itu!!" Daryl mengusak kepalanya dengan gemas, namun Nania hanya tertawa saja.


"Look! You make me hard by just talking about that! ( lihat, kamu membuatnya mengeras hanya dengan membicarakan hal itu saja!)." Pria itu mengarahkan pandangannya pada bagian bawah tubuhnya. 


"Ah, itu otak kamunya aja yang kotor!!" Nania menepuk bagian itu agak keras.


"Aww!! How dare you!" Daryl memicingkan mata.


"Mandi sana! Dan keramas yang lama biar otak kamu bersih!" ucap Nania seraya mendorong tubuh suaminya.


"No kamu harus memandikan aku."


"Nggak mau, mandi aja sendiri!" Nania kembali berbaring ditempatnya semula.


"No, i want you to come with me." Lalu Daryl kembali mendekat dan dia berbisik di telinganya. Jangan lupa dengan tangannya yang merayap mengusap paha dan bokong perempuan itu yang tidak terhalang apa pun.


"Nggak mau! Nanti bukannya mandi, tapi malah raba-raba!!" Perempuan itu meronta.


"Ya kan kalau mandi memang begitu? Memangnya bagaimana caramu menyabuniku?"


"Come!" Daryl segera menariknya, tak peduli seberapa keras Nania menolak.


Bathtub sudah dipenuhi air hangat dan Nania menambahkan cairan aroma terapi ke dalamnya, sehingga wangi yang menyenangkan menguar memenuhi ruangan.


Daryl menunggu di belakangnya dengan perasaan sedikit tidak sabar. Lalu Nania melepaskan semua pakaiannya seperti yang biasa dia lakukan sejak mereka menikah.


Daryl tertawa, kemudian dia masuk ke dalam bak mandinya dan menenggelamkan tubuhnya di sana.


Nania hampir saja keluar ketika pria itu menarik tangannya. 


"Masuklah, Nna." katanya.


"Nggak mau." Tolak perempuan itu.


"Ayolah, ini hanya bathtub, bukan kolam renang. Tidak ada apa-apa, hanya aku."


"Nggak. Tetep aja bikin aku takut."


"Apa yang kamu takutkan di dalam bak sebesar ini? Ikan hiu? Paus? Bahkan buaya saja tidak ada. Just me." Daryl tertawa.


"Iya benar, cuma ada kamu sama Eragon."


"Yeah, you right. Eragon." Pria itu menyeringai. "So come!" Lagi-lagi dia menariknya.


"Nggak!!" Namun, seberapa kuatpun Nania menolak akhirnya dia masuk juga ke dalam sana. Dan segera saja perempuan itu memeluk tubuh telanjang suaminya sambil berteriak.


"Just bathtub and nothing else."


Napas Nania memburu kencang dan dia mengalami serangan panik. Tapi usapan Daryl pada punggungnya membuat dia berangsur tenang.


"It's oke, ini hanya bak mandi, bukan kolam. Kamu tidak akan tenggelam di sini apalagi ada aku. See?" Pria itu memeluk pinggangnya erat-erat.


"Tapi ini …." Nania hampir saja menangis.


"Tidak apa, kamu bahkan menduduki kakiku kan?" Lalu Daryl mengusap pahanya.


"Everythings fine, and nothings gonna happen to you!" Dia meyakinkan.


Nania terdiam sebentar. Dia menetralisir rasa takutnya perlahan dan mencoba mempercayai ucapan suaminya.


Meski seperti yang dia katakan bahwa ini hanya bak mandi, tapi tetap saja Nania merasa takut. Dalam pikirannya, ada sesuatu yang akan menariknya begitu dia masuk ke dalam air. Entah seberapa besar atau seberapa kecil tempat tersebut. Akan selalu ada hal berbahaya yang menghantuinya.


"Tenang, tenang. Tidak apa-apa." bisik Daryl yang terus mengusap punggungnya yang masih terbalut kaus putih itu.


"See? tidak ada apa-apa selain air dan kaki ku kan?" ucap Daryl setelah beberapa lama.


Dia lantas menarik diri lalu mendongak dan menemukan wajah Nania yang berangsur tenang.


"It's alright. Just watter, it doesn't kill you."


Napasnya tak se memburu tadi dan degup jantungnya tak sekencang sebelumnya. Nania bahkan memasukkan satu tangannya ke dalam air untuk merasakan benda itu di antara jari-jarinya.

__ADS_1


"Benar kan?" ucap Daryl lagi, dan Nania mengangguk.


"So, …." Daryl menyandarkan punghungnya pada pinggiran bathub lalu meraih botol berisi sabun cair di sisi lanannya, iemudian menyerahkanya kepada Nania, dan perempuan itu mengerti.


Dia mengeluarkan cairan beraroma segar itu ke dada Daryl lalu mengusap pahatan menggoda tersebut dengan kedua tangannya hingga menimbukkan busa yang cukup banyak. Hal yang sama Nania lakukan pada punggungnya.


Pundak dan lehernya, lalu kedua tangan. Hingga ke bagian tubuh yang terendam air. Kemudian pada kakinya yang Daryl angkat sejenak.


"But you miss something." Daryl masih bersandar pada pinggiran bathub ketika Nania mengira pekerjaannya sudah selesai.


"Apa lagi?" 


"That one." Pria itu melirik bagian bawah tubuhnya. "Eragon juga perlu dibersihkan." katanya, kemudian menyeringai.


Nania menelan ludahnya dengan susah payah sambil menatap wajah suaminya.


Masa aku harus menyentuh itu? Ugh!! Dasar laki-laki ini mes*mnya kebangetan! Gerutunya dalam hati.


"Cepat!" Daryl meraih tangan perempuan itu kemudian mendekatkannya ke alat tempurnya.


"Nggak mau, kamu bersihin aja sendiri!" tolak Nania yang bangkit bermaksud keluar dari air, namun pria itu memegang kedua sisi pinggulnya dan menahannya untuk tetap duduk di atas pahanya.


"Mau ke mana kamu? Tetaplah di sini!" katanya, dan dia kembali meraih tangan Nania.


"Just touch. It won't bite you!" Ini menggelikan, tapi Daryl menyukainya.


Ekspresi Nania antara takut, malu dan kesal. Tapi menurutnya dia begitu menggemaskan.


"Naniaaaa!!!"


Perempuan itu segera menggenggam milik Daryl yang menegang di dalam air. Meski tangannya bergetar, tapi dia memegangnya kuat-kuat.


Daryl terkekeh. Antara senang, gembira dan juga bersemangat. Bagaimama tidak? Apapun yang mereka lakukan semuanya diperbolehkan, dan Nania tidak akan mampu menolaknya.


"Lakukanlah pelan-pelan!" Daryl menaik turunkan tangan Nania, lalu membiarkannya melakukan sendiri.


"Yeah, kamu mengerti. Good girl." katanya, dan dia mengusap paha perempuan itu.


Oh, astaga! Batin Nania dengan wajahnya yang sudah semerah tomat.


Rasanya malu sekali dan ini sangat konyol. Tapi dia melihat kepuasan di wajah suaminya, dan pria itu tampak senang.


Nania menggigit bibirnya ketika dia merasakan benda dalam genggamannya semakin mengeras, dan rasanya menjadi semakin besar saja. Sedangkan pria di depan tampak menikmati hal tersebut.


Matanya tampak mengerjap-ngerjap perlahan dan mulutnya terbuka. Dan des*han mulai terdengar.


Nania meneruskan gerakan tangannya, dan dia mulai mengerti dengan situasi ini.


Daryl bangkit dan mendekatkan dirinya, kemudian mencumbu bibir ranum milik Nania. Dia menyesapnya dengan segenap perasaan dan memagutnya dengan penuh cinta.


Napasnya sudah menderu-deru dan degupan jantungnya kini mulai tak terkendali. Seiring hasratnya yang sudah membumbung tinggi.


Dia mendorong Nania kemudian menariknya keluar dari bathub, lalu beralih ke tempat berbilas di sisi lain kamat mandi.


Daryl mengalirkam air hangat dari shower untuk membersihkan sabun dari tubuhnya, kemudian kembali menarik perempuan itu untuk berhabung bersamanya.


Bentuk tubuhnya tercetak dengan jelas dibalik kaus basah dan itu membuatnya kehilangan akal. Sehingga Daryl menarik lepasnya dengan cepat.


Mereka kembali bercumbu dibawah guyuran shower. Saling memagut dan menyentuh bagian tubuh masing-masing yang segera membuat keduanya dikuasi hasrat yang membara.


Nania bahkan lupa dengan rasa sakit bekas percintaan malam sebelumnya dan dia pasrah saja ketika Daryl membawanya keluar dari kamar mandi.


"Ngh …." Perempuan itu mengerang ketika Daryl membenamkan alat tempurnya.


Rasa sakitnya masih ada tapi perasaan lain malah lebih mendominasi. Apalagi ketika pria itu mulai menggerakkan pinggulnya.


"Eeuuhh …." Kedua alisnya tampak saling bertautan.


"Apakah sakit?" Daryl berbisik. "Atau … Nikmat? Hum?" katanya, lalu dia menggigit lembut telinga Nania.


"Aaahhh …." des*h perempuan itu dengan kedua matanya yang tertutup dan terbuka perlahan.


Nania sedang mencerna perasaannya sendiri. Ini sakit dan aneh, tapi dia menyukainya. Dia bahkan tak ingin Daryl berhenti dan setelah beberapa lama dirinya menginginkan lebih.


"Mmm …." erangan terus kekuar dari mulutnya. 


Dadanya naik turun dengan cepat seiring napas yang kian menderu. Apalagi ketika Daryl meremat buah dadanya kemudian menyesapnya secara bergantian.


"Daddy, aahhh …." Nania terus meracau, semakin membuat Daryl tak karuan.


"Daddyyy!!!" erangnya lagi dengan tubuhnya yang menggeliat kemudian melengkung sehingga membuat dadanya semakin membusung. Dia merasakan pelepasan menghantamnya saat itu.


Daryl mempercepat hentakannya saat merasa milik Nania semakin mengetat. Dan tubuhnya mengejang kemudian bergetar hebat, diakhiri dengan lenguhan keras dan rematan pada lengannya yang begitu kencang.


Dan dia pun mengalami hal yang sama. Daryl hujamkan miliknya sekeras mungkin saat klim*ks menyerangnya. Dan segera saja, pancaran dari dalam tubuhnya memenuhi rahim Nania seiring geraman yang keluar dari mulutnya.


"Aaarrggghhhh, Malyskhaaaa!!!" lalu dia ambruk.


💖


💖


💖


Bersambung ...

__ADS_1


Hadeh, katanya nggak mau. 🙈🙈


__ADS_2