
💖
💖
"Ck!" Daryl berdecak kesal ketika menemukan Bella sedang menunggu di lobi.
"Kamu yakin menyuruh Bella menemaniku ke pesta?" Pria itu melakukan penggilan telfon kepada sekretarisnya.
"Dia yang mengajukan diri Pak." jawab Dinna.
"Kenapa tidak kamu pilih orang lain saja? Ada Stefi, Sisil, Vina?"
"Mereka sudah punya acara sendiri, Pak."
"Hah! Sudah aku bilang kamu saja yang menemani ke pestanya, kenapa malah menyuruh model?"
"Saya … juga sudah ada janji, Pak."
"Batalkan janjimu! Aku bayar gajimu dua kali lipat bulan ini."
"Ah, kalau janjinya dengan orang lain sih saya mau, Pak. Masalahnya ini janjinya dengan calon mertua."
"Duh?"
"Jadi maaf, saya nggak bisa."
"Haih …."
"Saya tutup dulu, Pak? Mau pergi." ucap Dinna sebelum akhirnya menyudahi percakapan.
"Bagaimana ini?" Pria itu bergumam.
"Sudah saya bilang kan Pak? Yang lain tidak bisa. Hanya saya yang punya waktu luang lho." Bella membenahi penampilannya yang malam itu tampak luar biasa.
Mengenakan mini dress hitam yang mengekspos bagian punggung dan dadanya yang menggoda. Memamerkan kulit halusnya yang seputih susu dan tampak berkilauan diterpa lampu terang di langit-langit gedung.
Daryl tak meresponnya, namun dia menatap jam yang sudah menunjukkan hampir jam sembilan malam, dan acara di Pub baru itu sebentar lagi akan dimulai.
"Baiklah, cepat kita pergi." Pria itu berujar seraya melenggang ke arah pintu keluar. Diikuti Bella yang tersenyum puas di belakang. Merasa senang karena yakin rencananya malam ini akan berhasil setelah mengintimidasi model lainnya agar tak bersedia menghadiri undangan bersama Daryl.
Aku pastikan malam ini kau tidak akan bisa menghindar lagi, Daryl! Batinnya saat mereka masuk ke dalam Rubicon milik pria itu.
Mereka tiba setelah sekitar setengah jam berkendara, dan acara sudah dimulai begitu keduanya masuk.
Seorang pria dan dua orang wanita berpenampilan tak kalah seksi menyambut di depan pintiu.
"Selamat datang Pak? Semoga menikmati acaranya." Dia menyalami Daryl dan Bella.
"Terima kasih."Â
Lalu sesama perwakilan dari beberapa perusahaan dan media yang mengenalinya menyapa sehingga mereka cepat berbaur dengan mudah.
"Jadi, Fia's Secret kau yang pegang sekarang?"Â
"Yeah." Daryl menjawab. Sesekali dia meneguk minuman yang sudah di sediakan pemilik acara.
"Mengapa tidak di Nikolai Grup? Aku rasa potensimu lebih baik di sana?"
__ADS_1
"Ada yang harus mengurus bisnis ibuku, bukan?" Pria itu menenggak habis minuman berwarna biru bening untuk ke tiga kalinya.
Sementara Bella tetap berada di sisinya mengamati keadaan.
"Aku rasa adikmu lebih pantas, seharusnya kau yang di Nikolai Grup."
"Sama saja, intinya sama-sama bekerja. Dan jangan coba-coba untuk mengadu dombakan aku dengan keluargaku ya?" Daryl memperingatkan.
"Dasar kau ini!" Pria itu menepuk bahu Daryl dengan keras.
Lalu musik berganti menjadi lebih semarak dengan dentuman yang cukup keras. Menarik orang-orang yang yang berada di sana untuk turun ke lantai dansa.Â
Seperti halnya para penari seksi yang sudah lebih dulu menghibur di panggung kecil mereka masing-masing, memamerkan tarian menggoda dan tubuh indah mereka dalam balutan pakaian kurang bahan.
"Ah, aku suka ini!" Pria dengan jas yang mulai berantakan itu bagkit dari tempat duduknya.
"Kau mau turun Der?" tanya nya sebelum pergi.
"No, pergilah!" tolak Daryl.
"Baiklah kalau kau tetap mau di sini?" Dan pria itu pun pergi.
"Kamu yakin tidak akan turun? Pestanya meriah, dan mereka memang hebat mengadakan acara seperti ini. Aku dengar DJ nya dari Norwegia." Bella mendekat.
"Pergilah kalau kau mau ke sana." Daryl meneguk minuman dari gelas ke empat.
"Tidak tanpamu, Baby." Bella mendekatkan bibirnya pada telinga Daryl.
"Pergilah! Aku sedang tidak berminat." Pria itu bergeser.
"Kenapa? Kau benar-benar bosan padaku? Sudah mendapat gantinya yang lebih baik? Siapa?" Bella mengikutinya.
"Benarkah?"
"Yeah, … lagi pula …." Daryl bangkit. "Sepertinya aku harus pulang sekarang juga." katanya, saat dia teringat kepada Nania.
"Pulang? Acaranya bahkan baru saja dimulai." ujar Bella, merasa tidak senang.
"Yeah, aku harus pulang." Daryl melonggarkan ikatan dasinya saat dia merasakan udara mulai memanas. Belum lagi pengaruh alkohol yang dia teguk memang sudah hampir mencapai batas.
"Kenapa? Ibumu akan marah kalau kau tidak pulang?" Bella mengulur waktu. Dia menunggu dengan sabar dengan reaksi dari apa yang sudah dicampurkannya ke dalam minuman pria itu sebelumnya.
"Sudah aku katakan jika itu bukan urusanmu." jawab Daryl yang mulai merasa tak nyaman dengan dirinya sendiri.
Lalu dia memutuskan untuk segera pergi.
"Dasar anak Mama!" Bella setengah berteriak sehingga pria itu menghentikan langkah, lalu berbalik.
"Apa katamu?"
"Ehm … anak Mama." Bella mendekat, dan menunggu reaksi pria itu berikutnya.
Wajah Daryl sudah memerah dan napasnya menjadi lebih cepat. Sesuatu di dalam tubuhnya memberontak dengan hebat.
Sialan! Apa ini?Â
"Hah, di sini mulai membosankan!" Lalu Bella melenggang ke arah luar dengan langkahnya yang dibuat pelan.
__ADS_1
Sementara Daryl menggelengkan kepala beberapa kali sambil memejamkan mata ketika pandangannya mulai berkabut.
Dia merasakan tubuhnya kian memanas dan hasratnya tiba-tiba saja menanjak dengan cepat. Apalagi ketika menatap bagian belakang tubuh Bella yang berlenggak lenggok menggoda membuat gairahnya menggelegak tak karuan.
"Aarrgghh!!" Dia menepuk kepalanya yang mulai terasa pening.
"Kenapa, Baby?" Perempuan itu berbalik lalu kembali.
Daryl tak menjawab, tapi seperti ada sesuatu yang menggerakkannya untuk menarik tubuh Bella dan segera mencumbunya.
Bella sempat menghentikannya, namun kemudian dia menariknya keluar menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana.
Mereka masuk ke bagian belakang kendaraan tersebut kemudian melanjutkan cumbuan.
Daryl seperti melupakan dirinya sendiri dan segala yang dia rasakan. Yang ada hanya keinginan untuk menuntaskan hasratnya yang kian menggelegak menguasai akal dan pikiran.
Sementara Bella menyeringai dalam cumbuan, karena dia merasa sudah memenangkan keadaan.
Lalu mereka terhanyut dalam gairah yang kian meningkat. Keduanya bahkan lupa jika mereka ada di mana.
Bella menarik ikatan dasi dan melepaskan kancing kemeja milik Daryl, sementara tangan pria itu merayap ke dalam mini dress dan menarik segitiga mini sehingga terlepas darinya.
Bella membiarkan Daryl menjelajahi dadanya dengan mudah dan pria itu hampir saja menautkan miliknya ketika ponsel yang tergeletak di kursi berdering nyaring.
Bella hampir mematikannya ketika dengan cepat Daryl merebutnya. Dan pria itu segera menjawab setelah membaca nama kontak di layar.
"Pak? Nania menghilang."
"Apa?" Dan dia berhenti saat senjatanya sudah masuk setengah.
"Nania keluar dari kedai dan kami kehilangan jejaknya." ucap pria di seberang yang dia tugaskan untuk mengawasi Nania.
Daryl tertegun dengan napas menderu-deru. Dunianya terasa jungkir balik dan kesadarannya seperti berangsur kembali. Hasratnya sirna begitu saja padahal dia sedang menanjak. Dan alat tepurnya bahkan melemas dengan sendirinya.
"Tidak, Daryl!!" Bella berteriak.
Di kembali menyentuh dan menciumi Daryl untuk menggodanya kembali, namun pria itu segera tersadar.
"Aarrggh! Lepas!" Daryl menepis dan menarik diri.
Dia dengan cepat mengenakan kembali pakaiannya meski tidak dengan benar.
"Keluar!" katanya, dan dia turun.
"Tapi Daryl?" Bella sedang mengembalikan keberaniannya.
"Turun kataku!" ulang Daryl seraya menarik perempuan itu keluar dari mobilnya. Kemudian dia masuk ke balik kemudi dan segera menyalakan mesin.Â
Daryl segera tancap gas meninggalkan Bella yang tertegun di tempat parkir sambil melemparkan cel*na d*lamnya yang tertinggal.
💖
💖
💖
Bersambung ...
__ADS_1
Hadeh ... Ada-ada aja😵😵😵