The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Kabar Baik


__ADS_3

💖


💖


"Nanti siang Mama mau ke rumahnya Ara. Mau ikut?" Mereka sarapan bersama seperti biasa.


"Oh, udah pulang dari rumah sakitnya?" Nania meletakkan roti isi pada piring suaminya.


"Siang ini."


"Aku kira dia sudah pulang? Kenapa lama sekali di rumah sakit? Ada masalah?" Daryl ikut berbicara.


"Tidak. Hanya ingin memastikan kalau kondisinya baik-baik saja. Yang Ara lahirkan itu dua bayi lho." jawab Sofia.


"Hmm …


"Paling nanti aku nyusul aja pas pulang sekolah. Langsung mampir gitu." ucap Nania yang memulai kegiatan sarapannya.


"Baik, nanti Mama dan Papu duluan ke sana."


"Harus bawa hadiah nggak?"


"Terserah kamu."


"Boleh nggak kalau aku ngasih hadiah sama Ara?" Nania bertanya kepada suaminya.


"Boleh."


"Tapi apa ya?"


"Apa saja, asal jangan kaktus." Daryl asap bicara.


"Hum?"


"Bisa pakaian atau produk perawatan bayi. Stroller mungkin, atau apa saja. Coba lihat di hp pasti banyak macamnya." Sofia menyela.


"Oke deh. Paling nanti pulang sekolah aku beli dulu ya, habis itu langsung ke rumahnya Ara?" Nania meminta persetujuan Daryl. Dan pria itu mengangguk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu nanti ke rumahnya Ara juga nggak?" Nania turun setelah suaminya membukakan pintu.


"Sepertinya tidak. Pekerjaanku masih banyak. Kalau siang ini pergi bisa-bisa aku pulang malam lagi." Daryl menjawab.


"Gitu ya?"


"Ya. Pergilah, Mama dan Papi kan ada. Nanti juga mungkin ada Kirana dan Rania."


"Hmm … tapi nanti pulang sekola kan aku mau beli buat kado dulu?"


"Iya aku tahu, kamu kan sudah bilang tadi."


"Nggak apa-apa? Kan aku mampir-mampir dulu?"


"Tidak apa, kan kamu sudah memberitahuku dulu sebelumnya."


"Jadi kalau sebelum pergi aku bilang dulu, boleh?"


"Ya boleh. Masa tidak boleh."


Nania terdiam.


"Sudah, sana masuk." Daryl melihat jam tangannya.


"Iya." 


"Aku pergi ya?" Daryl mendekat kemudian mengecup pelipis nya sebentar.


Nania mengangguk kemudian berjalan ke arah gedung.


"Hey, Malyshka!" Namun pria itu memanggilnya.


"Ya?" 


"Botol minummu!" Daryl menghampirinya dan menyerahkan sebuah tumbler yang Nania tinggalkan di dalam mobil.


"Percuma Mima buatkan milk tea kalau tidak kamu bawa?" katanya, dan hal tersebut membuat Nania tersenyum.


Sengaja dia tinggalkan benda tersebut di dalam mobil untuk melihat sejauh mana perhatian suaminya. Dan dia senang karena pria itu memang peduli meski sikapnya terkadang agak lain.


"Cepat masuk! Sebentar lagi pelajaran dimulai." ucap pria itu lagi yang kembali ke mobilnya dan segera pergi.


"Ugh, perhatian sekali pria itu. Bisa-bisanya menciummu di tempat seperti ini." Seperti biasa Zayn muncul bertepatan dengan jam pelajaran yang akan dimulai.


Nania melihat dengan ekor matanya.


"Lucu sekali. Sugar baby dan sugar daddy. Hahaha." Lalu pria itu berjalan mendahuluinya masuk ke dalam gedung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bulan ini penjualan produk kita agak sedikit menurun, Pak." Dinna menyerahkan laporannya.


"Oh ya? Apa saja?"

__ADS_1


"Di brand pakaian dewasa. Kalau pakaian anak sih cenderung stabil. Malah ada kenaikan selama beberapa hari ini." Dinna menunjukkan tabel perkembangan penjualan beberapa produk mereka.


"Mungkin orang-orang memang sedang lebih mengutamanak anak-anak ya?" Daryl membaca tabel berisi tulisan produk dan jumlah penjualan.


"Bisa jadi Pak. Soalnya di kosmetik juga begitu. Meski tidak mengalami penurunan, tapi tidak mengalami peningkatan yang signifikan."


"Benar-benar. Memang trend anak-anak sepertinya sedang naik sekarang ini. Berarti yang harus kita tingkatkan itu di bagian pakaian dewasa ya?"


"Betul Pak."


"Bagaimana dengan majalah?"


"Kalau majalah stabil Pak. Ada beberapa perusahaan juga yang sudah menghubungi meminta perpanjangan kontrak iklannya."


"Bagus."


"Apa perlu saya hubungi outlet agar mereka menambah promosinya?" Dinna dengan idenya.


"Boleh. Kalau bisa orang di outlet harus lebih aktif lagi."


"Baik Pak."


"Dan tolong daftarkan juga brand kita ke beberapa festival fashion. Biasanya itu akan membantu promosi dan menambah konsumen. Tidak usah berpatokan pada besar kecilnya event, karena konsunen bisa datang dari mana saja."


"Baik." Dinna menambah catatannya. "Beberapa acara akan di mulai di awal bulan depan, Pak. Pertama sekali di Jakarta Fashion Week, berlanjut ke festival fashion di minggu berikutnya. Di Semarang, Surabaya dan Bandung."


"Sudah kamu daftarkan?"


"Sudah Pak. Dan mereka menghubungi jika kita kemungkinan berminat jadi sponsor?"


Daryl berpikir sejenak.


"Daftarkan parfum kita untuk jadi sponsor." katanya.


"Fia's Secret Fragrance?"


"Ya."


"Yang lainnya?"


"Untuk sekarang kita berikan satu produk dulu."


"Baik. Dan smpelnya bagaimana?"


"Kirimkan dua puluh sampel untuk staff saja."


"Baik. Ada lagi Pak?"


"Sepertinya cukup untuk hari ini."


"Hmm …."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nania tiba di depan rumah Amara pada lewat tengah hari. Beberapa mobil sudah berjajar rapi di pekarangan dan suasana tampak ramai. 


Tentu saja, keluarga dan kerabat pasti sudah berdatangan untuk menyambut kepulangan bayi kembar yang baru lahir itu.


"Nania? Ayo masuk!!" Dygta yang menyadari keadaannya segera memanggil.


"Umm … iya." Nania tersenyum, kemudia dia pun masuk ke dalam rumah.


Beberapa orang sudah ada di sana termasuk para ipar dan kedua orang tuanya Galang dari Bandung.


"Hai Nna? Kamu sendiri?" Amara menyapanya 


"Nggak, aku diantar Regan." Nania mendekat lalu menyerahkan sebuah bungkusan berisi pakaian bayi dan produk perawatannya yang dia beli dalam perjalanan.


"Padahal nggak usah repot-repot." ucap Amara yang menerima barang tersebut.


"Aku nggak tahu harusnya beli yang kayak gimana, jadi maaf …." Nania terkekeh canggung.


Ini pertama kalinya dia ikut berkumpul dengan keluarga tanpa Daryl bersamanya. Dan itu rasanya aneh.


"Nggak apa-apa. Padahal kalau mau datang ya datang aja, nggak usah bawa kado. Si kembar pasti seneng Nenda nya datang." Amara menjawab.


"Nenda?"


"Nenek muda, hahaha." Hampir semua orang tertawa.


"Tenang, bukan cuma kamu yang sudag jadi nenek, aku juga." Kirana menyela percakapan.


"Iya, aku juga." Dan Rania juga menyahut.


"Aah, seneng ya? Anak aku neneknya banyak?" ucap Amara dengan suara riang.


"Iya, Nenda dan Kenda. Nenek muda dan Kakek muda." Sofia pun tidak ketinggalan.


"Iya, uyutnya juga masih muda kan? Jadi mereka orang tuanya banyak." Dygta yang mendekap salah satu bayi tersebut.


"Ayo, setelah ini siapa yang mau menyusul? Kirana dulu atau Nania dulu?" Rania kembali berbicara seraya meraih bayi dalam pelukan kakak iparnya.


"Kamu lah, Anya dan Zenya sudah besar. Cukup untuk punya adik lagi." Satria menyahut.

__ADS_1


"Apaan? Nggak mungkin. Dua anak cukup Papi, jangan banyak-banyak." Perempuan itu menjawab sambil tertawa.


"Tapi kalau lihat bayi selucu ini rasanya pengen punya anak lagi, tapi takut." katanya yang menata bayi itu dengan gemas.


"Takut apaan Oneng? Takut pas lahiran?" Galang pun ikut berbicara.


"Takut nggak bisa ngurus. Saat Anya juga Zenya aja aku hampir kewalahan."


"Kewalahan apanya? Anak-anak lebih sering kamu tinggal balapan? Mereka lebih sering dengan Pak Dimitri." ucap Galang.


"Justru itu, nanti papinya yang lebih repot. Hahaha."


"Dih, dasar. Bilang saja kamu tidak mau mengasuh?"


"Nah itu, kan kasihan. Biar ada baby sitter juga kan tetep butuh emaknya."


"Makanya cepat pensiun, jangan balapan terus."


"Tanggung Dudul!"


"Tanggung terus?"


"Eh, kamu nggak ngerti lah!"


Semua orang kembali tertawa.


"Oke, kebetulan semua orang sedang berkumpul ya, hari ini?" Darren baru buka suara setelah percakapan yang cukup panjang di antara saudara-saudaranya.


"Belum, kurang Kak Daryl." jawab Amara.


"Oh iya, apakah Daryl aka datang?" Pria itu bertanya kepada Nania.


"Kayaknya nggak. Dia pulangnya malam karena beberapa hari ini banyak kerjaan."


"Baiklah, tidak apa-apa. Kamu juga sama kan?" ucap Darren.


"Hmm …."


"Ada apa?" Sofia bertanya.


"Ada kabar baik, Mom." Sang putra pun berujar.


"Kabar baik?" Semua orang serentak menatap ke arah mereka.


"Ya." Darren dan Kirana pun saling tatap untuk beberapa detik, lalu dengan senyuman yang merekah pria itu merogoh sesuatu dari saku jasnya.


Sebuah benda kecil berbentuk stik yang sudah pasti semua orang tahu apa.


"Ya Tuhan!!" Sofia menjadi orang pertama yang bereaksi, lalu dia menghampiri anak bungsunya itu.


Dia merebut benda tersebut dan melihatnya dengan hati-hati.


"Positif??" katanya dengan mata berbinar.


"Ya, sudah empat minggu." Darren menyentuh perut Kirana dan mengusap-usapnya dengan lembut.


"Ya Tuhan!!" ucap sang ibu yang segera memeluk anak dan menantunya.


Dan semua orang pun memberikan reaksi yang sama kepada mereka. Tidak terkecuali Nania. 


Dimitri bahkan sempat mengejek adiknya yang tanpa menunggu lama sudah diberi kepercayaan untuk memiliki keturunan.


"Bagus, bagus. Tidak sia-sia kau cepat menikah. Cepat juga punya anak?" Pria itu tertawa.


"Jadi, nanti dedek bayinya nambah ya?" Anya yang duduk dengan Nania buka suara.


"Iya, nanti tambah banyak." 


"Asik dong, aku jadinya banyak temen kan?" 


"Iyalah, banyak temen banyak saudara."


"Tante Nna kok belum?" celetuk Anya yang mendongak pada perempuan itu.


"Anya!!" Dimitri memberinya isyarat.


"Iya belum. Mungkin nanti." Nania terkekeh.


"Umm … kan bagus, nanti tetep ada yang nemenin aku main kalau nginep di rumah Opa." ujar anak itu dengan polosnya.


"Hmm …." Nania mengangguk.


Keadaan sempat hening untuk beberapa saat dan semua orang menatap ke arah Nania.


"Akunya malah lagi datang bulan." ucap perempuan itu yang kemudian tertawa. Membuat yang lainnya juga tertawa.


💖


💖


💖


Bersambung ....

__ADS_1


Aduhhh nambah lagi anggota baru😂


__ADS_2