
💖
💖
"Kakimu tidak pegal apa?" Daryl menempelkan punggungnya pada sandaran kursi sementara Nania asyik berfoto ria dengan kamera ponselnya.
Wajahnya sudah memerah dan netra di balik kaca mata hitam itu tampak memicing.
"Baru segini masa udah pegal? Setiap hari olah raga nggak apa-apa?" Nania memeriksa gambar yang diambilnya, kemudian mengulanginya ketika tidak sesuai dengan keinginannya.
"Itu beda tahu? Sea World ke Taman Mini kan dari ujung-ke ujung."
"Sama-sama gerakin kaki. Lagian dari Taman Mini kita pakai mobil. Di gym apalagi pakai beban-beban juga. Apa nggak pegel?"
Daryl memutar bola matanya lalu dia menyesap minuman berperisa buah yang dibelinya dari pedagang di sekitar.
"Udah ah, ayo pulang?" ucap Nania kemudian yang memasukkan ponselnya kendalam saku jumpsuitnya.
"Apa? Sudah?" Daryl menegakkan tubuhnya.
"Hu'um." Nania mengangguk.
"Serius?" Pria itu bangkit.
"Iya, kamu bilang kakinya udah pegel gara-gara ngikutin aku terus?"
"Umm … tidak, maksudku tidak begitu … hehe … hanya saja aku butuh istirahat sebentar kan?" Dia mendekat.
"Ayo, mau ke mana lagi? Masih banyak yang belum kamu lihat kan? Mau naik kereta gantung? Kita suruh Regan beli tiketnya?" tawar Daryl kemudian.
"Nggak ah, aku kan takut ketinggian. Kamu nggak tahu ya?" Nania mengedikkan bahu dan raut wajahnya tak seceria tadi.
Duh, bahaya! Batin Daryl saat sinyal di kepalanya terasa berdenging.
"Ayo ah cepet kita pulang!!" Nania berjalan mendahuluinya menuju pintu keluar.
Daryl tertegun sebentar kemudian dia melirik ke arah Regan. Dan orang kepercayaannya itu mengangkat sebelah alisnya ke atas.
"Ah, ****!" gumam pria itu yang kemudian segera mengejar Nania.
"Sayang? Ayolah, aku masih mau di sini. Masih siang kan, kenapa buru-buru pulang?" katanya yang mensejajarkan langkah istrinya.
"Aku udah lapar, dari tadi jalan terus?" Nania bergumam.
"Apa?"
"Aku lapar dari tadi muter-muter terus!" Perempuan itu mengulang ucapannya.
"Oh … lapar ya? Kenapa tidak bilang dari tadi?" Pria itu terkekeh.
"Habisnya kamu ngedumel melulu!!" protes Nania.
"Eee … hehehe. Kalau begitu ayo kita makan? Jangan dulu pulang." katanya kemudian.
"Makan di mana?"
"Aku tahu tempat yang makanannya enak tapi perjalanannya agak jauh."
Nania mengerutkan dahi.
"Ayo cepat, pasti kamu juga belum pernah ke tempat ini." Kini dia meraih tangan Nania dan menuntunnya keluar dari area tersebut.
***
Nania mengerucutkan mulutnya begitu mereka tiba di sebuah tempat yang tak dikiranya akan mereka datangi. Restoran di kawasan Pantai Indah Kapuk di sisi utara kota Jakarta yang memakan waktu cukup lama dari tempat mereka semula.
__ADS_1
"Ni kita seharian muter-muter nggak jelas. Dari ujung sini ke ujung sana. Dari ujung sana ke ujung sini. Kenapa nggak mampir ke tempat makan yang dekat Taman Mini aja sih?" gerutunya dengan raut wajah masam.
"Tidak apa, jarang-jarang kita punya waktu begini kan? Sesekali lah, kan namanya juga jalan-jalan?" Daryl berusaha bersikap seceria mungkin meski dia merasa takut merusak suasana hati perempuan itu.
"Ya udah, sekarang aku bener-bener lapar!!" rengek Nania dengan sedikit rasa kesal di hatinya.Â
"Iya aku tahu."Â
Dan beberapa saat kemudian seorang pelayan restoran datang membawakan pesanan mereka.
Dua porsi pasta dan minumannya disajikan di atas meja. Juga beberapa jenis makanan lain yang menjadi andalan di tempat itu.
"Awas kalau nggak enak! Aku mau langsung pulang! Jauh-jauh datang ke sini cuma makan pasta." ancam Nania.
Sedangkan Daryl tersenyum mendengar ucapan istrinya.
Kemudian mereka memulai kegiatan makannya ditemani suasana sore yang menyenangkan. Pemandangan Jembatan Putih di seberang restoran membuat keadaan tempat itu cukup istimewa. Ditambah pengunjung yang semakin sore semakin bertambah banyak.
Nania tidak banyak bicara selain menikmati makanannya dalam diam.
"Bagaimana? Enak atau tidak?" Daryl buka suara.
"Enak." Nania menjawab.
"Jadi tidak akan pulang kan?" Pria itu menahan senyum, namun istrinya itu tak menyahut.
"Jangan marah-marah, kita kan sedang jalan-jalan?" ucapnya kemudian.
"Aku nggak marah, cuma kesel aja." jawab Nania yang menyesap minuman sejenis milk tea seperti yang disukainya.
"Kesalnya jangan lama-lama. Kamu jelek kalau cemberut terus."
Nania terdiam lagi.
"Apa sudah selesai makannya? Kalau sudah kita jalan lagi." tanya Daryl kemudian.
"Sekarang sudah tidak, ayo?" Pria itu mengulurkan tangannya.
Tanpa banyak bicara lagi Nania segera bangkit dan mengikuti suaminya.
Pantai Pasir Putih menjadi tujuan pertama Daryl membawa Nania. Hari yang semakin sore membuatnya ingin menikmati suasana petang di tempat itu. Apalagi matahari yang perlahan tenggelam membuat langit Pantai Indah Kapuk tampak mempesona.
"Sebenernya aku nggak suka laut, tapi ini bagus." Nania yang moodnya sudah kembali membaik menatap sekeliling pantai yang cukup ramai.
"Tidak apa, nanti aku akan sering-sering mengajakmu ke sini sampai kamu merasa menyukainya."
"Dih, emangnya kita nggak ada kerjaan apa sampai bisa sering-sering ke sini?" Mereka duduk di atas pasir seperti pengunjung lainnya yang sama-sama menikmati sore itu.
"Banyak alasan untuk sering ke sini. Salah satunya mengunjungi hotelnya papi."
"Hah, emang papi punya hotel juga di sini ya?"
"Punya."
"Di mana?"
"Tuh." Daryl menunjuk tiga bangunan tinggi tepat di pinggir laut. Tempat itu memang mencolok karena menjadi salah satu area terbesar yang ada di kawasan tersebut.
"Masa?"
"Iya."
"Ada juga ya?"
"Ada lah."
__ADS_1
"Hmmm … apa sih yang kalian nggak punya? Kayaknya semua ada deh?"
Daryl terkekeh.
Nania mengarahkan kamera ponselnya kepada Daryl, dan segera gambar pria itu tertangkap dalam keadaan sempurna. Berlatar langit PIK yang redup dengan gradasi warna jingga dan keemasan yang mempesona.
"No!" Daryl hampir merebut benda pipih itu darinya.
"Nggak mau!!" Namun Nania segera menghindar sambil tertawa.
"Yang ini bagus." katanya yang segera menjadikannya sebagai storry di media sosialnya dengan caption 'Thank you.'
"Mau lihat pemandangan yang lebih bagus setelah ini?" Daryl pun bangkit mengikutinya.
"Di mana?"
"Just come." Daryl kembali mengulurkan tangannya yang segera disambut dengan riang oleh Nania.
Mereka kembali menyusuri jalanan di area itu yang semakin lama semakin ramai. Lampu-lampu sudah dinyalakan yang membuat suasana menjadi lebih meriah pada menjelang malam.
Toko-toko dan tempat makan pun menjadi pilihan para pengunjung sebagai tempat persinggahan untuk menghabiskan waktu.
Dan Nania pun menikmati saat-saat itu dengan hati yang gembira. Hingga akhirnya mereka tiba di tempat yang dimaksud.
Sebuah suit room di lantai paling atas salah satu gedung di pinggir laut menjadi pilihan Daryl malam itu. Dan mereka mendapatkan pelayanan terbaik begitu staff mengenalinya sebagai anak pemilik tempat tersebut.
"Kamu bener, dari sini pemandangannya lebih bagus." Nania membuka pintu ke arah balkon dan dia keluar saat menemukan pemandangan indah di luar sana.
Lampu-lampu menyala merata yang membuatnya terlihat berkilauan seperti hamparan bintang di kegelapan. Gedung di sisi kiri dan kanannya berpendar menampilkan atraksi spektakuler yang begitu memanjakan mata.
"Aku benar kan?" Daryl mengikutinya dan dia berdiri di belakang perempuan itu. Mengungkungnya yang merapatkan tubuh ke kaca pembatas di depan.
"Hu'um. Kalau siang lautnya kelihatan jelas kan?"
"Yeah. Dan pemandangan siang hari juga bagus."
"Masa?" Nania menoleh dan wajah mereka hampir saja bertemu.
"Kita pulangnya kapan? Kayaknya udah malam deh?" lalu dia bertanya.
"Well, sebaiknya kita bermalam saja di sini. Tanggung kan masa cuma sebentar?" Pria itu berjalan mundur ke belakang.
Duh, curiga mau ada apa-apa nih. Batin Nania bermonolog.
"Mumpung aku libur juga kan? Hari-hari biasa susah pergi?" Lalu dia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
"Sayang juga ada fasilitas bagus tidak kita gunakan." Dia melepaskan kaus kaki dan sepatunya, dan raut wajahnya menyiratkan sesuatu.
"Terus mau nginap di sini gitu sampai besok?" Nania pun berjalan masuk kembali ke dalam.
"Ya apa lagi?" Pria itu menaikkan alisnya ke atas.
Nania tertegun dan pikirannya menerka-nerka tentang apa yang mungkin suaminya inginkan saat ini.
"Come, Malyshka." Daryl menepuk pahanya dan seringaian muncul di wajahnya.
Oh, astaga. Bayaran jalan-jalan hari ini. Batin Nania lagi dan dia segera mendatangi suaminya.
💖
💖
💖
Bersambung ...
__ADS_1
Aduh ... Jalan-jalan diakhiri ngamar ya Pak?🙉🙉