The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Klinik


__ADS_3

💖


💖


Darren menepuk pundak saudaranya yang duduk dengan kedua tangan menopang kepalanya. Pria itu benar-benar tak berdaya ketika sebuah ambulance datang dan membawa Nania tak lama begitu dokter Syahril tiba, setelah Zenya berhasil membujuknya untuk keluar dari tempat persembunyiannya di dalam lemari. Dan kini mereka berada di sebuah klinik khusus kejiwaan di Jakarta untuk menangani masalahnya.


"Dokter sudah menanganinya dan kita harus membiarkan Nania disini untuk beberapa hari." Darren duduk di sampingnya.


"Jangan khawatir, Dokter Syahril akan ikut mengawasi perkembangannya dan kita akan selalu diberi tahu." Arfan juga menghampiri mereka.


Namun Daryl tak merespon, dia hanya diam merasakan jika kini segala hal seperti sedang menghimpitnya.


"Ayo Der, kita pulang dan biarkan Nania di sini." ajak Darren.


"Tapi kenapa harus di sini?" Akhirnya Daryl buka suara, dan menghempaskan punggungnya pada dinding namun kedua tangan masih menekan kepalanya yang terasa mau pecah.


"Tidak ada pilihan, kita harus menyelamatkannya." Arfan menjawab. "Selain itu, Dokter Harsya dan istrinya sudah terpercaya jadi kita bisa membiarkan mereka yang menangani Nania."


Daryl tampak mengusap kedua matanya.


"Come on, Der. Harus ada yang bertahan untuk membuat Nania tetap hidup, dan orang itu adalah kau. Tapi sebelumnya kita harus merelakan dia di sini dulu. Bukankah dokter mengatakan jika ini hanya sementara? Nania hanya membutuhkan ruang kosong untuk dirinya sendiri." ujar Darren yang berusaha menguatkan saudaranya.


"Tapi bagaimana bisa aku meninggalkannya di sini sendirian?"


"Itu harus. Demi kesehatan mentalnya. Lagipula Dokter Harsya dan istrinya ada di sini selama 24 jam untuk mengawasi, jadi kamu tidak perlu khawatir soal itu." Arfan menambahi.


"Ayolah, kita pulang. Nanti setelah tiga hari kau bisa melihatnya ke sini." Darren mendorong sang kakak untuk bangkit.


"Kenapa tiga hari? Sebentar saja aku tak melihatnya perasaanku bisa kacau. Aku khawatir." Daryl sempat menolak.


"Memang begitu seharusnya. Mereka harus melakukan sesuatu kepadanya. Percayalah, ini untuk kebaikannya."


Daryl meremat rambut di kepalanya dengan keras.


"Ayo, jangan buat kami lebih khawatir karena kau juga. Nania saja sudah cukup, dan jangan sampai ini terjadi kepadamu." ucap Darren lagi dan dia benar-benar menarik Daryl untuk bangkit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana? Kenapa Nania tidak ikut pulang?" Sofia segera menyambut kedatangan dua putranya bersama Arfan.

__ADS_1


"Nania harus dirawat, Mom. Kondisinya tidak terlalu baik jika dibawa pulang." Darren menjawab sementara Daryl menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Apa parah?" Satria menyela.


Darren membuang napas sebentar seraya melirik ke arah Daryl yang pandangannya tertuju pada langit-langit rumah mereka.


"Bisa dikatakan seperti itu, Pih. Tapi diagnosa dokter ini hanya sementara. Nania mengalami halusinasi karena tingkat depresinya yang sudah cukup parah. Dan apa yang dia lakukan tadi adalah bentuk pemberontakan yang mungkin diharapkannya dia lakukan dulu pada saat kejadian. Tapi karena ketidakberdayaannya malah membuatnya menerima hal itu sebagai bentuk pembiasaan. Yang padahal jika dibiarkan cukup lama membuatnya menjadi seperti ini."


Sofia tampak menghela napas berat.


"It's okay Mom, dokter tahu apa yang terbaik untuk Nania. Dan kita hanya harus mengikuti apa yang mereka katakan." ucap Darren lagi setelah menerangkan segala hal.


"Kita bisa menjenguknya?" Dygta yang turun dari kamar diikuti adik dan iparnya yang lain.


"Untuk sementara dokter belum memberi izin, setidaknya sampai tiga hari ke depan. Da setelah itu kita bisa mengetahui perkembangannya."


"Hhhh … Se nggaknya di sana ada yang tahu harus gimana harus bertindak,  kan?" Rania ikut berbicara.


"Ya, dan penanganan apa yang tepat untuknya, jadi penyembuhannya juga cepat." Darren menjawab.


"Sekarang, Mama dan yang lainnya istirahat. Kita harus tetap sehat agar bisa membantu Nania." Lalu dia melirik ke lantai atas di mana Kirana muncul.


Begitu juga yang lainnya, kecuali Satria yang memutuskan untuk menemani putra keduanya yang tak mau beranjak.


"Tabahkan hatimu, Nak. Sekarang kamu yang harus kuat." Dia pindah ke tempat yang paling dekat.


"Lupakan dulu yang sudah terjadi karena kini saatnya kita mendukung Nania." katanya lagi, namun sang putra belum buka suara.


"Well, seharusnya kita tahu dan kita lakukan sejak awal sehingga tidak berakhir seperti ini. Tapi mungkin memang sudah jalannya.  seperti peristiwa kehilangan yang kamu alami."


"Tidak ada yang mau mengalami kejadian seperti ini, tapi jika memang harus terjadi kita bisa apa?  Menghindar pun tidak akan ada gunanya apalagi marah. Satu yang harus kita lakukan saat ini adalah menerimanya dulu, dan rela dengan apa yang terjadi."


"Sebenarnya Papi tidak ingin ikut campur dalam hal apa pun, apalagi untuk kalian yang sudah berumah tangga. Papi percaya bahwa kamu punya cara sendiri untuk mengaturnya sesuai dengan yang kamu inginkan. Tapi ternyata Papi salah."


"Dan mungkin saja apa yang Papi katakan saat ini sudah terlambat, tapi Papi harap ini berguna. Setidaknya untuk tetap membuatmu bertahan dan menjadi lebih kuat lagi karena yang sangat Nania butuhkan sekarang adalah keberadaanmu."


Daryl tak menjawab sama sekali tapi dia terisak sambil menutup kedua matanya.


"Tidak apa untuk meratap sejenak, sekedar untuk melampiaskan perasaanmu, tapi jangan terlalu lama karena Nania sangat membutuhkanmu." Satria menepuk dada putranya.

__ADS_1


"Sekarang istirahatlah, jangan sampai kamu pun sakit." Pria itu meninggalkan Daryl yang tetap tak mau beranjak dari tempatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Perkembangannya belum terlihat. Saat ini Nania hanya seperti itu saja." Mereka menatapnya dari balik pintu bercelah kaca.


Nania ditempatkan di satu ruangan tersendiri dari pasien lainnya karena penanganannya yang memang sangat khusus.


Perempuan itu tampak termenung di tempat tidurnya menatap keluar jendela tanpa ekspresi apalagi pergerakan berarti.


"Terapi tiga hari ini hanya mengajaknya bicara tapi Nania belum merespon." Dokter Harsya berujar.


"Tapi memang tidak mudah, dan ini akan berjalan sangat lambat karena kita memang harus sangat hati-hati. Jika tidak maka akan terjadi ledakan emosi seperti tempo hari."


Daryl menempelkan keningnya pada kaca sehingga dia dapat melihat Nania lebih jelas.


"Boleh saya menemuinya, Dokter?" Dia lantas bertanya.


"Untuk sekarang sepertinya belum bisa, Pak. Mungkin harus menunggu sekitar tiga hari lagi? Setidaknya setelah dia merespon terapist."


Daryl merasa tenggorokkannya seperti tercekat. Rasa ngilu di ulu hati semakin tidak tertahankan dan ini menjadi sebuah siksaan baginya. Dan pada kenyataannya, ini memang menjadi hal paling menakutkan dari pada ditinggal pergi.


"Tapi Anda masih bisa melihatnya dari sini setiap hari. Walau saya tetap berharap Anda tidak mendekat apalagi secara tiba-tiba karena itu sangat berbahaya."


Daryl terdiam.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Mungkin dalam beberapa bab lagi cerita ini akan selesai. Tapi tenang, setelah itu akan lanjut di buku kedua dengan judul yang sama. Dan pastinya tetap di Noveltoon/Mangatoon.


Jadi, tetap dukung oke? Biar otor tetap semangat.


Alopyu sekebon😘

__ADS_1


__ADS_2