
💖
💖
"Malyshkaaaa … sepatuku mana?" Daryl duduk di kursi depan rumah.
Lalu Nania datang dengan menenteng sepatu olah raganya.Â
"Kamu tidak usah ikut, aku mau lari." katanya setelah perempuan itu meletakkan sepatu di dekat kakinya.
"Aku mau jalan kaki aja."
"Good, mungkin kamu bisa tunggu Mama dan Kirana? Sepertinya sebentar lagi mereka turun." Daryl mengenakan kaus kakinya satu persatu.
"Oke, tunggu sebentar. Aku mau ambil botol minum dulu." Nania kembali ke dalam rumah.
"Hmm …." Dan pria itu pun mencoba mengenakan sepatunya sendiri.
Daryl membungkuk dan dia meraih kedua ujung tali, lalu mendekatkannya bermaksud untuk membuat simpul.
Tapi seperti halnya ketika dia akan mengancingkan kemeja, otaknya tiba-tiba saja terasa seperti membeku.
"Ah, sial!" Dia bergumam.
"Come on! Kau bisa." katanya, yang berusaha mengingat caranya dengan keras.
Dia tahu, dan dia ingat bagaimana seharusnya. Mengaitkan kedua tali itu, lalu membuat simpul agar terbentuk ikatan yang benar. Tapi seperti biasa, tangannya seperti lupa bagaimana harus melakukannya.
"Ah, benda sialan ini!" Dia menggeram.Â
Namun kemudian Daryl tertegun ketika sepasang tangan perempuan meraih benda yang ada di tangannya. Lalu membuat simpul dan mengikatnya seperti yang dia maksud. Yang ternyata adalah tangan ibunya.
"Hey, Mom! What you doing? Stop! Aku bisa melakukannya!" Dia bereaksi, namun Sofia tak mendengar.
"Mom!"
"Selesai!" ucap sang ibu.
"You di it in the wrong way! Nania tidak seperti itu!"
"Sama saja, masih mengikat tali sepatu!" Lalu perempuan itu bangkit.
"No is not!"
"Sama saja."
"But you shouldn't do that! Bagaimana aku bisa melakukannya jika dibantu?" protes Daryl kepada ibunya.
"Hanya sekali."
"But Mom!!"
"Udah …." Lalu Nania muncul dengan botol minum di tangannya.
"Sudah, ayo kita jalan?" ujar sang mertua ketika di saat yang sama Kirana muncul dengan Darren.
"Papi juga mau lari?" Nania bertanya ketika dia juga mendapati keberadaan ayah mertuanya bersama mereka.
"Tidak akan. Bisa kena serangan jantung kalau Papi ikut lari dengan mereka." Satria menjawab.
"Jadi mau jalan dengan kami?" ujar Sofia.
"Ya, dan mungkin juga menjaga anak-anak." jawab pria itu ketika cucu-cucunya datang bersama Dimitri, dan mereka segera berjalan mendahului.
"Kenapa wajahmu tidak enak dilihat begitu?" Daryl bertanya kepada sang kakak yang wajahnya tampak cemberut.
Mereka juga berjalan mengikuti para perempuan di depan.
"Kau membuatku pusing!" jawab Dimitri yang mendelik kepada adiknya.
"Aku? Kenapa?"
"Kenapa-kenapa kepalamu! Kau tidak merasa sudah berbuat salah ya?" Sang kakak balik bertanya.
"Salah apa? Aku kan baru bangun. Lagi pula kita baru bertemu pagi ini, lalu bagaimana aku bisa melakukan kesalahan kepadamu?" Daryl sedikit mengerutkan dahi.
"Salah apa-salah apa? Dasar kau ini!" Lalu Dimitri memukul kepala adiknya.
"Aww! Kenapa kau ini?!" Dan pria itu bereaksi.
"Kalau mau mesra-mesraan itu lihat-lihat tempat. Jangan di mana saja asal kau mau. Kalau ada anak-anak melihat bagaimana?" jelas Dimitri.
"Hah?"
"Jangan di sembarang tempat, apalagi ada Anya dan Zen. Bisa kotor otak anak-anakku." ucap pria itu lagi dengan nada tak suka.
"Anya dan Zen?" Daryl memiringkan kepalanya agar bisa melihat dua keponakannya lebih jelas.
"Aku pusing karena mereka bertanya terus soal pacaran. Padahal tadinya sudah lupa. Tapi sekarang gara-gara kau mereka jadi ingat lagi. Apalagi Anya."
"Pacaran?" Daryl bergumam.
"Kau, bodoh!" Dimitri kembali memukul kepala adiknya.
__ADS_1
"Kak! Stop it!" protes Daryl lagi.
"Maka berhentilah bermesraan di depan anak-anakku, atau kuhajar kau!" ancam sang kakak dengan wajah serius.
"Aku tidak pernah, … kapan?" Daryl mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit.
"Setiap waktu."
"Tidak."
"Oh, kemarin aku sama Zen cari-cari Om Der sama Tante Nna di sana nggak ada. Tapi ada bekas pacarannya." celetuk Anya yang menunjuk ke hutan buatan di depan sana.
"Apa?" Satria bereaksi.
"Hu'um. Om Der biasanya kan gitu. Pacaran terus. Semalam juga boboknya peluk-pelukan, tadi pagi cium-ciuman." jelas Anyan dengan segala kepolosannya.
"Astaga!" Satria tertawa. "Kamu suka ngintip ya? Itu tidak baik." Dia menuntun tangan cucunya.
"Nggak, orang Om Dernya cium-cium Tante Nna pas aku bangun tidur." Anya menjawab.
Satria menoleh kepada dua orang yang dimaksud kemudian menggelengkan kepala. Sementara Nania pura-pura tak mendengar. Wajahnya bahkan terlihat memerah karena menahan malu.
"Nah kan!" Dimitri lagi-lagi memukul belakang kepala sang adik.
"Kak!!"Â
"Dasar kau ini! Bisa tidak kalau mesra-mesraannya jangan di depan anak-anak? Aku pusing harus menjelaskan banyak hal kepada mereka!"
"Aku kira mereka masih tidur!"
"Lalu karena mereka masih tidur kau mau melanjutkan sampai kalian …."
"Eehh … apa sih, bukankah kita mau jogging? Kenapa malah berdebat?" Darren lalu menyelinap di antara kedua kakaknya, lalu merangkul tangan mereka.
"Aku tidak berdebat, tapi Kak Dim yang marah-marah." Daryl menjawab.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan jika seseorang bermesraan di depan anakmu? Apa kau akan diam saja? Dia mengotori pikiran anakku!"
"Kakak berlebihan. It's just a kiss!"
"Kiss kiss kepalamu!"
"Sudah, sudah … dari pada bertengkar lebih baik kita lomba lari, bagaimana? Kalau Daryl kalah Kakak bisa memukulinya sepuas hati, tapi kalau Kakak yang kalah biarkan seharian ini dia bermesraan di manapun mereka mau?"
"Cih! Taruhan macam apa itu?" Dimitri mendelik.
"Ayolah. Kalau menang, kau bisa memukulinya sampai puas." Darren berbisik kepada sang kakak.
"Dalam mimpimu saja!" Dimitri bergumam.
"Lalu bagaimana jika kau kalah?" Dua pria di sampingnya sama-sama bertanya.
"Oohh, aku tidak ikutan. Aku kan wasit." jawab Darren.
"Cih! Curang!"
"Memangnya yang bertengkar sejak pagi siapa? Kan kalian, bukannya aku?"
"Baiklah, kalau begitu kejar aku kalau bisa." Lalu Daryl berlari mendahului kedua saudaranya.
"Hey, kau curang!" Dimitri pun segera mengejarnya.
"Ohh … bagus sekali anak-anak TK ini ya? Akhirnya mereka sepemikiran." Sementara Darren tertawa di belakang mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anandita menghentikan laju motor matic milik Rania yang memang berada di rumah itu. Dia sedang belajar mengendarainya di halaman depan kediaman Nikolai ketika sebuah mobil masuk.
Gadis itu hampir saja menabrak bagian depan mobil jika dia tak menekan remnya dengan cepat.
"Maaf Om, aku masih belajar!" teriaknya ketika Regan turun dan membantunya bergeser.
"Dengan siapa kamu belajar naik motor?" Pria itu menatap sekeliling di mana hanya ada seorang penjaga keamanan yang mondar-mandir di dekat gerbang.
"Sendirilah, minta Pak Nunu nggak bisa karena lagi jaga." Anandita menjawab sambil melirik ke arah satpam.
"Orang-orang ke mana?"
"Masih jogging kali." Namun gadis itu tak turun dari motor dan malah membiarkan Regan mendorongnya ke sisi lain halaman sebelum akhirnya dia memindahkan mobilnya juga ke pinggir.
"Kamu tidak ikut?"
"Nggak, kan aku mau belajar naik motor." Anandita menjawab.
"Berarti Pak Daryl juga tidak ada?" Regan kembali turun.
"Nggak ada, mungkin sebentar lagi pulang?" Dan Anandita menatap jam tangan di pergelangan pria itu yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
"Hmm … baiklah, saya akan menunggu di sini." Lalu dia pun bergegas menuju ke pos satpam di dekat gerbang.
"Om nggak mau bantuin aku gitu?" ujar Anandita tanpa berpikir panjang. Membuat Regan menghentikan langkahnya lalu berbalik.
"Apa kamu bilang?"
__ADS_1
"Om nggak mau bantuin aku belajar naik motor gitu? Aku kan belum bisa?"
Pria itu tertegun.
"Eh, Om sibuk ya? Udah deh, aku belajar lagi sendiri." Gadis itu terkekeh lalu dia kembali menyalakan motor matic berwarna ungu itu.
"Memangnya kamu belum bisa ya?" Regan bertanya lagi.
"Baru hari ini belajar."Â
"Baru belajar sudah berani bawa motornya sendiri? Bahaya tahu? Bagaimana kalau misalnya …." Pria itu menggantung kata-katanya ketika Anandita memutar gas dengan cepat. Dan dalam sekejap mata dia melesat ke arah taman di sisi kiri pekarangan.Â
"Om Regaaaaannn!!!" Gadis itu menjerit ketika motornya melaju tanpa kendali dan dia tak tahu bagaimana harus menghentikannya.
"Astaga!!!" Yang membuat Regan dan penjaga keamanan segera berlari ke arahnya.
Namun dia berhenti ketika menabrak pot besar di mana tanamam bonsai milik Satria berada. Yang meski menimbulkan kerusakan pada taman milik nenek kakeknya itu, tapi dia selamat. Walaupun tertindih oleh kendaraan beroda dua tersebut.
"Ann!!" Regan segera menghampirinya.
Dia mengangkat motor dari sebelah kaki Anandita dan menyingkirkannya ke samping.
"Aduuuhhh … Sakiiitttt." Gadis itu mulai menangis.
"Ada yang luka? Mana?" Regan segera memeriksa keadaannya.
Lutut sebelah kiri Anandita tampak berdarah, sepertinya mengenai batu atau semacamnya. Hanya karena dia mengenakan celana pendek menjadikannya terlihat cukup parah.
"Huaaaaa … ini sakiiiitttt!!!"Â
Beberapa orang tampak keluar dari dalam rumah untuk memeriksa apa yang telah terjadi.
"Hanya terkena batu." Regan menyentuhnya.
"Jangan Om!! Itu sakit!!" Anandita menjerit.
"Tidak apa, hanya …."
"Apa yang sedang kau lakukan?" Namun seseorang menarik kerah jasnya dari belakang sehingga dia terjengkang. Kemudian tanpa basa-basi mendaratkan pukulan di wajahnya.
"Aaaa!!! Jangann!!" Dan gadis itu menjerit lagi tapi kali ini dia bangkit dan merangkak ke arah dua pria yang sedang bergumul di tanah. Bersamaan dengan Daryl dan Dimitri yang berusaha menahan Arfan.
"Papa, jangan!!" Anandita menghalangi Regan denga tubuhnya sehingga sang ayah berhenti melayangkan pukulan.
Arfan terdiam dengan napas yang memburu. Dia menatap Regan dan Anandita secara bergantian dan mendapati keadaan putrinya yang tampak berantakan.
"Apa yang terjadi?" Sofia dan yang lain menghampiri mereka.
"Ann, kamu kenapa?" Lalu dia bertanya kepada cucunya.
"Aku … tadi jatuh dari motor." jawab gadis itu dengan suara bergetar.
"Apa?"
"Aku belajar motor, tapi nggak sengaja mutar gasnya terlalu kencang, jadi …." Anandita menatap wajah Arfan yang memerah menahan marah.
"Aku belajar motor sendirian …." katanya dengan takut-takut. Dia tahu sang ayah akan marah karena jelas dirinya sudah dilarang untuk mendekati mesin beroda dua tersebut apalagi sampai mengendarainya.
"Terus kenapa Arfan memukul Regan?" Sofia beralih pada pria dibelakang cucunya.
"Ng … nggak tahu, datang-datang Papa …."
"Aku kira dia sedang melecehkan putriku!" Arfan pun bangkit dan dia menyentakan kedua tangannya hingga terlepas dari cengkraman kedua adik iparnya.
"Astaga!" Regan menghempaskan tubuhnya ke tanah sambil merasakan nyeri di wajah dan sudut bibirnya.
"Nggak ih, aku kan jatuh. Mana nabrak pot keramik bonsainya Opa lagi. Nih, lihat?" Anandita menunjukkan lukan di lututnya kemudian beralih pada korban tabrakannya.
Di mana pot keramik berukuran besar dengan gambar naga dari negri tirai bambu itu mengalami keretakam cukup besar.
"Kamu tidak apa-apa?" Satria maju.
"Cuma lututnya doang, Opa. Tapi sakit. Huhuhu …." Dia ingat untuk kembali menangis agar terhindar dari kemarahan sang ayah karena jelas telah berbuat salah karena melanggar larangannya.
"Pot bonsainya juga pecah. Huaaaaa …." Dan tangisnya menjadi semakin keras sehingga membuat semua orang menjadi panik.
"Aaa … sudah, sudah tidak apa-apa. Pot bisa diperbaiki atau beli lagi. Yang penting kamu tidak apa-apa." ujar Satria.
"Opa jangan marah!!"Â
"Tidak, Opa tidak marah. Sudah, jangan menangis lagi. Soal pot kita bisa beli lagi nanti."
Arfan mendengus keras, namun tak urung juga dia merangkul sang putri. Yang kemudian ditariknya bangkit dan membawanya masuk ke dalam rumah besar itu.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Ayo ayo .... Like komen sama hadiahnya mana😄😄
__ADS_1