
💖
💖
"Ya kalau keputusan kamu udah gitu, masa iya aku nolak? Kan nggak lucu, masa nyonya Nikolai masih kerja di kedai. Iya nggak?" Amara tertawa.
Mereka mampir ke kedai sekedar untuk berbicara masalah berhentinya Nania dari pekerjaan.
"Kakak ih, jangan ngomong gitu. Akunya jadi nggak enak."
"Apaan?"
"Nyebut aku nyonya Nikolai melulu dari tadi?" protes Nania.
"Ya emang kenyataannya kayak gitu? Kan kamu istrinya Kak Daryl, ya otomatis jadi Nuonya Nikolai. Lagian kenapa kamu masih manggil aku Kakak? Sekarang kamu jadi tante aku, tahu?"
"Ah, aku pusing soal panggilan ini. Semua hal tiba-tiba langsung berubah!" Nania menggaruk-garuk kepalanya sendiri, sementara Amara masih saja tertawa.
"Bayangin anak aku nanti bakalan punya nenek yang lebih muda dari mamanya, uuhhh lucu!"
"Oia, anak Kakak secara nggak langsung jadi cucu aku ya?"
"Hu'um, nenek muda. Hahaha."
"Lucu ya, nikah sama keluarga sebesar ini bikin aku jadi punya banyak keponakan, dan sekarang mau punya cucu juga." Perempuan itu mengusap-usap perut buncitnya Amara.
"Iya, dan yang paling penting kamunya bahagia." jawab Amara.
Nania kemudian menyandarkan punggungnya pada kepala kursi, lalu berpikir.
"Kenapa? Masa aku salah sih? Hahaha." Amara menatap raut wajah Nania yang berubah.
"Nggak. Kakak bener." Perempuan itu tersenyum.
Dia kemudian melirik ke arah Daryl yang tengah berbincang dengan Galang di sisi lainnya.
"Aku juga mulai besok udah harus bedrest, kehamilan kembar agak beresiko mudah kelelahan." Amara kembali berbicara.
"Oh, … gimana dong? Aku malah resign?" Nania kembali menegakkan tubuhnya.
"Nggak apa-apa. Ardi udah bisa diandalkan. Raka sama Nindy juga udah bisa dikasih tanggung jawab lebih. Dan orang baru cepet ngertinya." Mereka menatap si pegawai baru yang bertugas di depan.
"Iya deh kalau gitu."
"Apa sudah selesai?" Daryl datang menghampirinya.
"Kenapa?"
"Kita pulang, sudah sore."
"Umm …."
"Apa lagi?" ucap Daryl yang melihat jam tangannya.
"Nggak. Ayo?" Nania pun bangkit dari kursinya.
"Aku pamit ya? Lain kali ke sini lagi." Dia berpamitan.
"Hu'um … nanti main ke rumah. Kan kita deketan." Amara mengagguk.
"Iya, kalau boleh keluar. Kan kalau pintu gerbang udah ditutup nggak bisa keluar lagi." Nania berkelakar.
"Hey!!" Daryl memprotes ucapannya.
"Nggak, aku cuma bercanda." Namun Nania segera meralatnya.
Dua orang itupun pergi setelah berpamitan kepada yang lainnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Malyshka!!!!" Daryl berteriak dari ujung tangga lantai dua ketika tak menemukan Nania di kamarnya.
"Kenapa sih kamu teriak-teriak begitu? Ini rumah bukan hutan!" Sofia muncul dari ruang tengah rumahnya.
"Mama melihat Nania?" Pria itu bertanya kepada ibunya.
"Tadi Mama lihat dia ada di belakang. Pergilah kesana cari dia, bukannya malah berteriak di dalam rumah." Sang ibu berujar.
Daryl turun kemudian melenggang ke belakang. Tampak Nania yang sedang asyik dengan ponselnya sambil tertawa-tawa sendirian di sofa teras belakang.
"Huh, pantas aku cari di dalam tidak ada?" Pria itu segera menghampirinya.
Nania menoleh, lalu kembali menatap layar ponselnya. Dia melanjutkan bacaannya di salah satu aplikasi baca terkenal.
Daryl duduk di sampingnya kemudian merebut benda pipih itu.
"Hey!!!" Nania pun bereaksi.
"Aku bicara kepadamu!" ucap Daryl dengan raut kesal.
"Iya aku dengar." Nania berusaha merebut kembali benda itu dari tangan suaminya.
"No, kamu mengacuhkan aku!"
"Nggak ih, kamu baperan!"
"Terus kenapa malah menyendiri di sini?"
"Ya masa jam segini udah mau ngamar? Lagian kamu juga dari tadi lihatin foto cewek seksi terus?"
"Aku kan sedang menyelesaikan pekerjaanku, Nna!"
"Iya, makanya aku keluar biar kamunya konsentrasi kerja. Kalau di sana malah akunya bosen karena dicuekin."
Daryl terkekeh.
"Jadi maksudnya kamu sedang protes?"
"Nggak, cuma nggak mau ganggu waktu kerja kamu." Dia berhasil meraih ponselnya, lalu menyalakannya kembali.
"Ish! Kenapa sih, kamu baca lagi ini?" Daryl menyandarkan kepalanya pada pundak Nania.
"Hiburan. Aku kan nggak ada kerjaan."
"Hmm …."
Lalu mereka terdiam untuk beberapa saat.
"Look, Nna. Soal tadi siang, bukannya aku tidak mau menuruti kemauanmu. Hanya saja aku sudah punya prioritas lain sekarang ini." Daryl kembali memulai percakapan.
"Hum?" Nania menoleh.
"You know, soal sewa lahan untuk lapangan bermain?"
"Oh, … nggak apa-apa. Itu cuma ide spontan aja. Mungkin lain kali."
"Idemu untuk taman bacaan itu cukup bagus, dan sepertinya aku akan mendukung. Jadi bisa dimulai kapan saja."
"Beneran?"
__ADS_1
"Ya."
Bibir Nania melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Are you happy?"
"Ya." Nania menjawab. "Tapi mungkin nanti aja, nggak apa-apa."
"Why? Kalau hanya taman bacaan aku bisa membantumu sekarang. Kita bisa pesan buku atau melakukan hal lainnya untuk itu, jadi …."
"Nggak apa-apa, nggak usah. Lagian kayaknya aku salah waktu deh?"
"Salah waktu?"
"Ya. Baru juga nikah masa udah banyak mintanya? Aneh banget." Nania tertawa.
"Nggak apa-apa, nanti aja. Nggak darurat kok. Anak-anak masih sekolah kan?"
Daryl terdiam sebentar.
"Hey, bukannya aku tidak mau mementingkan keinginanmu, tapi … ada hal yang menurutku lebih penting daripada memikirkan orang lain."
"Apa?"
"Bukankah kita akan pindah? Aku ingin kita kita punya rumah sendiri, dan aku rasa itu butuh pemikiran dan biaya yang tidak sedikit."
"Maksudku, kita bisa saja tinggal di apartemen … dan mudah saja bagiku untuk membawamu tinggal di Nikolai Tower tapi aku tidak bisa melangkahi Kak Dim begitu saja."
"Kenapa melangkahi Kak Dim?"
"Tempat itu memang masih milik Papi tapi Kak Dim yang merampungkan proyeknya. Nanti saudaraku yang lain merasa iri. Dan aku tidak mau seperti itu."
Nania mendengarkan setiap ucapannya.
"Mungkin nanti, keinginanmu satu persatu akan aku penuhi. Tapi tunggu dulu, setidaknya sampai kita punya rumah. Aku janji tidak akan lama."
"Hmm …." Nania mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Are we clear?"
"Ya."
"So you won't mad at me?"
"Nggak. Kenapa aku harus marah?"
"Karena aku pikir kamu akan marah."
"Nggak akan. Ngapain? Kan kita memang punya prioritas yang berbeda. Aku merasa harus melakukan sesuatu karena pernah mengalami hidup yang nggak mudah. Dan lihat tempat tinggal aku yang kayak tadi rasanya miris juga? Meski itu bukan tanggung jawab aku."
"Kamu tahu, orang-orang dari duniaku nggak bisa dengan mudah mendapat akses pendidikan terbaik karena kendala biaya. Rata-rata tetangga aku anak-anaknya lulusan SMA dan itu pun orang tuanya harus benar-benar kerja keras sampai bisa lulus. Dan lebih banyak lagi yang kayak aku, lulus SMP langsung cari kerja karena ketidakmampuan orang tua untuk melanjutkan. Padahal cita-cita kami sangat tinggi ingin meraih mimpi dan mengangkat derajat keluarga. Tapi karena adanya keterbatasan membuat kami berhenti di tengah jalan. Dan itu rasanya menyakitkan."
"Aku pikir satu-satunya cara anak-anak itu dapat pendidikan lanjutan yang baik adalah dengan dapat beasiswa, tapi itu nggak mudah karena banyak syaratnya. Salah satunya prestasi akademis yang bisa mereka miliki dari ilmu dan wawasan yang luas. Salah satu sarananya adalah membaca, tapi di tempat kita susah juga untuk punya akses ke sana. Buku mahal, penghasilan kurang, bahkan untuk makan aja kadang susah. Gimana mau beli buku?"
"Terus aku mikirnya kalau ada taman bacaan yang gratis dengan buku-buku bagus, anak-anak bisa dapat ilmu di luar sekolah biasa yang akan menambah pengetahuan mereka. Bukankah itu bagus? Kita bisa membuka jalan bagi siapa pun untuk punya kesempatan yang lebih baik?"
Daryl tidak menyelanya sama sekali.
"Pikiran aku kejauhan ya?" Perempuan itu terkekeh.
"Tahu nggak kenapa aku sekolah cuma sampai SMP?"
"Pastinya bukan karena malas kan? Mana ada pemalas yang gigih bekerja sepertimu? Sampai-sampai semua pekerjaan kamu ambil."
"Ya."
"Terus kenapa?"
"Ya, benar."
"Tapi ayah nggak bilang gitu pas tahu aku mau jadi pramugari. Tahu apa yang ayah bilang?"
"Apa?"
"Jadi apa pun kamu boleh, Nna. Ayah akan berusaha sekeras yang ayah bisa agar kamu jadi pramugari." Nania menirukan saat ayahnya berkata demikian.
"Padahal aku juga tahu kalau itu nggak mungkin. Dan mungkin ayah adalah satu-satunya orang tua yang nggak pernah mematahkan harapan anaknya meski keadaan kami jauh dari itu semua."
"Dan memang terbukti. Ayah malah sakit begitu aku naik ke kelas tiga dan nggak bisa mengusahakan lebih."
Nania kemudian terdiam.
"Sekolah tidak memberikan beasiswa?"
Perempuan itu menggelengkan kepala.
"Nilai akademis harus bagus, waktu belajar harus stabil sementara aku?"
"Dari caramu bicara sepertinya kamu pintar." Daryl merubah posisi duduknya.
"Tapi aku nggak masuk ranking."
"Ah, ranking tidak penting."
"Tapi dulu penting karena itu yang bikin pihak sekolah bisa ngasih beasiswa dan merekomendasikan sama sekolah lanjutan untuk ngasih hal yang sama."
"Benarkah?"
"Yang aku tahu gitu. Dan aku juga baru tahu kalau ternyata kita bisa ngajuin surat keterangan nggak mampu biar bisa tetep sekolah."
"Terus kenapa kamu tidak melakukannya?"
"Udah dibilangin akunya baru tahu."
"Coba kita kenal dari dulu. Mungkin aku yang akan menyekolahkanmu."
"Hahaha, konyol. Jodohnya baru sekarang." Nania tergelak.
"Eh tapi … barusan kamu bilang apa?"
"Apa?"
"Barusan yang kamu bilang?"
"Yang mana?"
"Soal nyekolahin aku?"
"Oh … ya, seandainya kita bertemu tiga tahun yang lalu dan tahu keadaanmu, mungkin aku akan membantumu."
"Masa?"
"Serius. Bahkan Nikolai Grup saja punya program beasiswa untuk karyawan. Jadi mereka yang masih lulusan SMA atau yang sederajat bisa melanjutkan sekolah dan memiliki jenjang karir yang sangat baik. Contohnya Om Arfa dan Galang. Mereka melanjutkan kuliah dari biaya perusahaan."
"Oh ya?"
"Ya."
"Terus kalau misalnya sekarang aku mau sekolah lagi gimana?" Sebuah ise baru saja muncul di otaknya.
__ADS_1
"Hum?"
"Kamu mau membantu aku untuknsekolah lagi?" ulang Nania.
"Hey, kamu terlalu tua untuk masuk SMA. Lagi pula kamu sudah menikah." jawab Daryl.
"Buka masuk SMA, tapi kejar paket C."
Pria itu menjengit.
"Aku sekolahnya di tempat lain tapi setara SMA, jadi nanti aku dapat ijazahnya SMA."
"Aku tahu apa itu kejar paket C."
"Kirain kamu nggak tahu. Heheheh."
"Hmm …." Daryl bergumam.
"Ya, boleh ya?"
"What?"
"Aku sekolah lagi, ambil paket C?"
"Untuk apa? Kamu sudah menikah."
"Tapi aku mau punya ijazah SMA."
"Tidak perlu ijazah, kamu sudah jadi istriku."
"Tetep aja … se nggaknya ijazahku nambah satu, nggak SMP doang."
"Tidak apa-apa, bukan masalah bagiku."
"Untuk aku itu masalah."
"Kenapa jadi masalah?"
"Kamu kuliah sampai punya gelar apa?" Nania bertanya.
"Nggak penting, Nna."
"Aku cuma nanya, kamu kuliah sampai dapat gelar apa?"
"S2 …."
"Tuh kan? Bedanya jauh banget."
"Tidak apa-apa, tidak akan ada yang bertanya soal itu."
"Bakal ada."
"Tidak akan. Kalau pun ada yang berani awas saja, mereka akan merasakan akibatnya."
"Nggak fair!"
"Nggak fair apanya?"
"Menurut kamu pendidikan untuk perempuan itu nggak penting ya?" Nania terus melontarkan argumen.
"Penting lah."
"Terus kenapa kamu nggak mau aku sekolah lagi?"
"Bukan nggak mau, tapi masalahnya …."
"Kamu bilang kalau kita ketemunya dulu kamu bakalan bantuin aku?" Nania dengan ide cemerlangnya memutar perkataan suaminya.
"Ya, itukan seandainya." Daryl menjawab.
"Berarti kamu cuma banyak omong doang?"
"Apa maksudmu?"
"Kamu cuma ngomong gitu biar kelihatan mampu, tapi nyatanya nggak."Â
"What?"
"Ah, masa Daryl Stanislav gitu doang?" Dia tahu kelemahan suaminya.
Pria itu merengut.
"Cuma kejar paket C lho, bukan minta helikopter." ucap Nania lagi, namun pria itu masih terdiam.
Nania berpikir keras.Â
Dalam otaknya, jika dia mampu meraih pendidikan yang lebih tinggi, maka kesempatan baginya akan terbuka lebar. Termasuk pekerjaan yang lebih baik. Sehingga dia bisa menghasilkan uang yang cukup untuk mewujudkan mimpinya bagi anak-anak di tempat tinggalnya tanpa campur tangan suaminya. Dan pria itu tidak akan bisa protes lagi.
Dan ya, cara ini sepertinya sangat baik. Lalu ide lainnya muncul di otaknya, membuatnya merasa pintar seketika.
"Daddy!!!" Lalu dia mendekati Daryl dan menempelkan tubuhnya pada pria itu. Persis seperti satu adegan yang dibacanya dari novel online, juga wejangan dari ibu mertuanya soal rayuan untuk meluluhkan seorang pria.
"Minta sekolah lagi, boleh?" katanya, dan dia menyentuh dada pria itu yang seketika terdiam dengan kedua alisnya yang saling bertautan.
"Daddy!!!" katanya lagi, dan dia membuat suaranya menjadi selembut mungkin.
"What?" Wajah Daryl tampak memerah mendengar panggilan perempuan itu.
"Mau sekolah, please!!" Nania tersenyum, dan dia membuat wajahnya menjadi seimut mungkin.
"No!!"
"Daddy!!" Perempuan itu belum menyerah sehingga dia melakukan hal paling tidak terduga.
Nania mengecup telinga suaminya dan tangannya merayap di dada pria itu. Lalu turun menyusuri perutnya. Dan dia hampir mencapai area di mana alat tempur Daryl sudah terbangun sejak beberapa saat yang lalu.
"Stop!!" Daryl menahan tangannya. "Sejak kapan kamu bisa merayu seperti ini?"Â
"Sejak sekarang." Ini terasa konyol. Tapi demi sekolah lagi, apapun akan dia lakukan termasuk merayu suaminya.
Tidak apa-apa kalau merayu suami sendiri.
Seperti ucapan Sofia agar mampu membuat suaminya selalu fokus kepadanya.
"Daddy, nggak mau nurut soal itu ya?" Dia lantas berbisik dan membuat Daryl mengetatkan rahang ketika merasakan hasratnya mulai meronta-ronta.
"Daddy!!" Nania berbisik lagi.
"Aaarrgghh, baiklah! Tapi kamu harus memenuhi keinginanku dulu!!" Daryl pun bangkit, dan dia lantas menarik Nania masuk ke dalam rumah.
Asataga!! Aku membangunkan banteng yang sedang tidur! Nania berjalan tersaruk-saruk mengikutinya.
💖
💖
💖
Bersambung ...
__ADS_1
Hadeh, muridnya siapa itu ya🙈🙈