
π
π
"Daddy?"
"Yes Baby?"
"Menurut kamu gimana kalau aku tebus rumahnya ibu?" Mereka sudah berada di tempat tidur namun belum dapat memejamkan mata. Padahal waktu sudah cukup larut. Hanya saja, keduanya masih berkutat dengan pikirannya masing-masing meski sudah saling berpelukan.
"Menebus rumahnya Ibu?" Daryl masih belum menghentikan usapan tangannya di punggung Nania sejak mereka berbaring beberapa saat yang lalu.
"Iya. Kira-kira berapa ya hutangnys Om Hendrik sampai-sampai rentenir berani mengambil rumahnya?" Sementara Nania menyurukkan kepala di dada pria itu dengan nyaman.
"Aku tidak tahu, tapi pasti jumlahnya sangat besar." Pria itu menjawab.
"Honor aku untuk model sama royalti dari parfum kayaknya cukup. Tapi nggak tahu kan? Apa kamu bisa minta Regan cari tahu?" Lalu Nania mendongak untuk menatap wajah suaminya.
Daryl belum menjawab, namun dia malah memikirkan banyak hal.
"Daddy?" panggil Nania lagi seolah pria itu tak ada di sana.
"Hum?" Daryl kemudian melirik.
"Boleh nggak?" tanya nya lagi. "Pakai uang aku aja, itu hartanya Nenek. Aku nggak rela kalau sampai jadi milik orang lain karena hutang yang nggak sepadan."
Daryl menghela napas dalam-dalam. Sebenarnya ia tidak rela memberi izin karena menurutnya, tidak akan ada manfaat yang baik dari apa yang Nania lakukan. Meski perempuan itu nyatanya mampu untuk membayar agar rumah peninggalan sang nenek bisa kembali menjadi miliknya, tapi jelas-jelas taka akan menghasilkan apa-apa selain kekecewaan.
Mirna akan tetap seperti itu, dan Hendrik akan terus membayangi mereka. Dan dia akan selalu terikat kepadanya walau sudah banyak hal yang membuat perempuan itu kecewa.
Tapi, Nania tetaplah Nania. Tidak akan ada yang mampu merubah hatinya yang lembut dan mudah untuk berbuat baik kepada orang lain meski dia lebih banyak dimanfaatkan daripada dihargai.
"Kita legalisasi kepemilikan menjadi hak milik aku, dan ubah sertifikatnya atas nama aku." Lanjut perempuan itu yang mengetahui apa yang sedang suaminya pikirkan.
Tapi Nania akan berusaha untuk mendapatkan rumah itu kembali bagaimana pun caranya, meski itu membuat Daryl tidak senang.
"Aku lahir dan tumbuh di sana sebelum ibu tergoda Om Hendrik dan membuat ayah pergi. Rumah itu punys banyak kenangan untuk aku."
"Yeah, right. Kenangan yang sangat buruk dan kamu mau tetap mengingatnya."
Namun Nania menggelengkan kepala.
"Rumah itu satu-satunya kenangan yang Nenek tinggalkan, Dadd. Dan aku nggak rela kalau akhirnya jadi milik orang lain," jelasnya, dan dia pun bangkit.
"Jadi aku mohon kasih izin aku untuk membelinya lagi dan tolong cari tahu siapa yang jadi pemiliknya sekarang."
"Belum aku beri izin permintaanmu sudah banyak." Pria itu mendelik kemudian melipat kedua tangannya di dada, namun hal itu membuat Nania tertawa.
Dia tahu suaminya tak akan mungkin tega melarang walaupun dia tak setuju dengan idenya.
"Ayolah Dadd, izinin ya?" katanya, seraya menunduk kemudian memberi kecupan manis di bibir pria itu beberapa kali. Yang pasti akan membuatnya luluh walau sambil misuh-misuh.
"Dasar kamu ini gadis nakal!" Kemudian Daryl menarik tengkuknya saat Nania hampir saja menarik diri. Lalu dia meraih ciuman yang lebih dalam dengan perasaan gemas tak terkira.
"Lalu bagaimana dengan ibumu jika dia tahu kalau rumah itu sudah jadi milikmu? Dia pasti akan kembali dan merayumu untuk mengizinkannya tinggal di sana lagi."
"Akan aku kasih izin." Nania dengan ringannya.
"What? Are you kidding?" Daryl bangkit dari posisi tidurnya.
"Nggak."
__ADS_1
"Apa kamu serius?"
"Iya."
"Don't you think β¦."
"Dengan satu syarat."
"Syarat apa?"Β
"Ibu harus cerai dari Om Hendrik dan nggak lagi berhubungan sama dia."
Dahi pria itu tampak berjengit.
"Ibu harus benar-benar lepas dari Om Hendrik, baru aku kasih izin tinggal di rumah lagi. Tapi kalau nggak mau, ya aku nggak akan berusaha lagi setelah ini."
Daryl terdiam sebentar, namun sesaat kemudian dia menyeringai.
"Good idea, dengan begitu ibumu punya alasan untuk meninggalkannya?"
Nania mengangguk.
"Tapi bagaimana jika tidak?"
Perempuan itu diam sebentar.
"Bagaimana jika ibumu tetap memilih Hendrik dari pada kamu, anaknya sendiri?"
"Ya udah, berarti ibu memang memilih untuk jauh dari anaknya dan aku nggak akan berusaha lagi. Mau nanti pas dalam kesulitan ibu minta tolong juga nggak akan aku denger."
"Yakin? Jangan-jangan tidak sampai sebulan nanti dia menemuimu untuk mengemis dan kamu akan memberikan bantuan tanpa sepengetahuanku?" Pria itu mengingatkan hal terakhir yang Nania lakukan di belakangnya.
"Nggak akan."
"Ya, asal izinkan aku berusaha untuk yang terakhir kalinya." ucap Nania, dan kini dia cukup yakin akan mampu menolak segala tipu daya dari Hendrik atau pun sang ibu.
"Hmm β¦."
"Izinin ya? Sekaliiiiii lagi ini aja." Nania memohon.
"Aku tidak yakin."
"Sen nggaknya aku udah berusaha."
"Dan setelah ini, jika dia tetap memilih jalan yang tak sama dengan kita, maka aku tidak akan mengizinkan kamu sama sekali untuk bertemu dengannya lagi. Walau kamu memohon dan sampai menangis darah sekalipun."
Nania mengangguk lagi.
"Aku serius, Malyshka."
"Iya, aku tahu."
Kemudian Daryl meraih ponsel di atas nakas dan melakukan panggilan kepada Regan. Yang ternyata malam itu masih mengaktifkan ponselnya tak seperti biasa.
"Ya Pak?" Terdengar jawaban dari seberang.
"Cari tahu pihak mana yang menyita rumah itu." katanya tanpa banyak basa-basi.
"Baik Pak." jawab Regan lagi, dan sepertinya dia memang mengerti maksud atasannya.
Lalu sambungan Daryl putuskan tanpa banyak menjelaskan lagi.
__ADS_1
"Puas?" katanya setelah meletakkan kembali benda pipih itu ke tempatnya semula.
Nania terkekeh sambil menepuk-nepukanΒ kedua tangannya seperti anak kecil yang sudah mendapatkan keinginannya.
"Senang sekarang?"
Perempuan itu mengangguk-angguk ceria.
"Bagus kalau begitu." Daryl mencondongkan tubuhnya bermaksud untuk meraih kembali hal yang malam itu paling dia inginkan. Namun Nania segera berbaring dan menarik selimutnya.
"Kalau gitu kita tidur, Dadd. Udah malam dan aku capek." katanya, yang membuat Daryl merengut.
"Lagian besok aku sekolah, kan?" lanjutnya, dan dia merapatkan selimutnya.
"Memangnya besok masih sekolah?" Pria itu menatapnya curiga.
"Iyalah."
"Bukannya kalau setelah ujian itu sekolah bebas dan santai ya? Masa besok tetap ke sekolah juga?"
"Yeee β¦ aku kan sekolah persamaan, ya beda sama sekolah biasa lah β¦."
"Begitu?"
"Iya dong. Besok langsung belajar lagi kan?"
"Tidak ada libur semester?"
"Nggak ada."
"Hmm β¦." Daryl mencebikkan mulutnya.
"Serius, Dad. Di sekolah aku nggak ada, nggak tahu kalau di sekolah lain."
"Kenapa berbeda dengan sekolah lain?"
"Ya nggak tahu, mungkin biar cepet kelar proses belajar mengajarnya?"
"Benarkah?"
"Iya." Nania membenahi posisi ternyaman kepalanya di ketiak Daryl.
"Malyshkaaa!!! Serius kita tidak akan melakukan apa-apa? Bukankah aku sudah memberimu izin soal rumah ibumu?"
"Aku capek, Daddy. Udah ngantuk." Lalu perempuan itu mengulurkan tangan untuk memeluk tubuh suaminya.
"Bobok ya? Baby lagi nggak mau ketemu Daddy malam ini." katanya yang memeluk tubuh pria itu erat-erat.
Dan tak ada yang bisa Daryl lakukan jika alasannya yang satu itu, dia akan memilih untuk mengalah saja kali ini.
"Ugh!! Baiklah, Mommy. Asalkan kamu menurut maka aku juga akan mengikuti keinginanmu." jawabnya, dan dia membalas pelukan perempuan itu tak kalah eratnya.
π
π
π
Bersambung ....
Maaf gaess hari ini up kemalaman. Maklum, ada bocah yang harus didahulukan kepentingannya jadi harus menunda beberapa hal.
__ADS_1
Oh iya, ada cerita yang masih anget nih, yuk di kepoin.