
💖
💖
Nania memeluk tubuh setengah telanjang Daryl dari belakang ketika pria itu hampir mengenakan pakaiannya. Dan mereka dalam posisi seperti itu untuk beberapa saat.
"Aku sebentar lagi harus pergi lho." Dan Daryl menghentikan aktifitas yang baru mengenakan boxernya.
"Aku tahu." Namun Nania malah menempelkan wajahnya di punggung pria itu.
"Terus kenapa begini lagi? Nanti aku tergoda lagi dan kita akan mengulangi …."
Nania tertawa.
"Dan aku akan terlambat, kemudian membuat Darren mengomel."
Kemudian Nania melepaskan rangkulan tangannya sehingga Daryl bisa melanjutkan kegiatan berpakaiannya.
Lalu dia berbalik setelah selesai sehingga bisa melihat istrinya yang menunggu di belakang, dan mendapati jika perempuan itu masih hanya mengenakan paka*an dal*mnya saja. Hanya kemeja yang Nania temukan di keranjang cucian yang melapisinya sehingga tubuhnya tidak terlalu terbuka.
"Ck!" Mau menggodaku lagi ya?" Daryl tertawa sambil memicingkan mata, seraya mendekapnya.
Perut Nania yang mulai mengencang dia usap-usap sekedar untuk mengingat dan merasakan keberadaan anak mereka di dalam sana.
Dan perempuan itu merangkul pundaknya erat-erat untuk menyalurkan rindu yang sudah terasa bahkan sebelum mereka berpisah.
"Padahal aku hanya pergi ke Malang, tapi rasanya sudah rindu." Daryl menempelkan bibirnya di telinga Nania sambil berbisik.
Sementara perempuan itu hanya menikmati setiap kecupan yang mendarat di kulitnya dan dia berusaha mengingat bagaimana rasanya.
Mengapa ini begitu membahagiakan? Dan mengapa rasanya ini begitu sempurna, sehingga dirinya sendiri hampir tidak mempercayai hal tersebut.
Nania terkekeh dan dia semakin mengeratkan pelukan saat kecupan di wajahnya semakin intens.
"Aku harus berangkat, Malyshka." ucap Daryl setelah berhenti mengecupi perempuan itu.
"Oke." Nania pun menganggukkan kepala, dan posisi mereka masih seperti itu.
"Okay, Baby …." Kemudian Daryl melepaskannya, namun dia menunduk dan kembali menyentuh perut Nania yang sudah terasa mengencang lalu mengecupnya untuk beberapa detik.
"Baik-baik selama Daddy tidak ada ya? Jangan menyusahkan Mommy mu." katanya, dan dia kembali mengecup perut perempuan itu, yang tertawa sambil mengusap usap punggungnya.
***
"Nanti pesertanya dari mana aja?" Mereka turun setelah Nania berpakaian dan Daryl mendapat panggilan dari saudaranya.
"Dari seluruh Indonesia dan Asia Tenggara." Daryl memastikan semua hal yang biasa dibawanya ada.
Ponsel, jam tangan, airpods, dompet dan isinya sampai laptop yang biasa digunakan untuk bekerja.
"Wah, banyak juga ya?"
"Ya. Dan akan lebih banyak lagi kalau konferensinya diadakan di Singapur." Daryl menyerahkan tas berisi pakaian dan barang-barang pribadinya kepada Regan yang masuk begitu mengetahui dirinya sudah berada di lantai bawah.
"Masa?"
"Tentu saja. Hampir dari seluruh Asia, bahkan benua tetangga juga ikut berpartisipasi."
__ADS_1
"Hmm …." Nania mengangguk-anggukkan kepala. "Ada perempuannya?" Tiba-tiba saja dia bertanya.
"Apa?"
"Ada pengusaha perempuannya?" Nania mengulang pertanyaan.
"Oh, ya ada."
"Ada ya?"
"Tentu saja. Konferensinya kan dari beberapa negara dan siapa saja bisa datang. Termasuk pengusaha perempuan atau para eksekutifnya. Juga sekretaris seperti Dinna."
Nania tertegun.
"Why?" Dan hal itu membuat Daryl memperhatikannya lagi.
"Kamu … kenal sama mereka?" tanya Nania lagi.
"Tentu saja tidak. Bagaimana aku bisa kenal sedangkan ini konferensi yang pertama aku hadiri dengan Darren." Pria itu menjawab.
"Tapi nanti kamu bakal kenalan nggak sama mereka?" Pertanyaan Nania malah lebih aneh lagi.
"Mungkin, di sana akan ada banyak orang yang berasal dari berapa perusahaan di Asia dan kita harus membuka jalan untuk kerja sama, bukan?"
Perempuan itu terdiam dan berpikir.
"Kenapa menanyakan hal seperti itu? Koneksi dengan siapa pun diperlukan dalam bisnis ini, dan aku memang harus melakukannya."
"Ya, benar. Tapi …." Belum apa-apa pikirannya sudah jelek, dan Nania tidak akan membiarkan hal ini terjadi.
"Aku pergi ya? Darren sudah menunggu di mobil." Pria itu kembali merangkul tubuhnya.
"Aku ke rumah Papi dulu untuk berpamitan, mau mengantarku ke sana?" ucap Daryl yang berjalan ke arah pintu.
"Eee … tunggu sebentar!" Namun Nania bergegas ke area masak dan membuka laci penyimpanan perkakas.
Dia menemukan gunting yang membuatnya menyeringai ketika sebuah ide muncul di kepalanya.
Perempuan itu melepaskan pakaian bagian atasnya termasuk bra berwarna hitam yang dia kenakan.
"Malyshka, what are you doing?" Yang tentu saja membuat Daryl bereaksi sembari menutup pintu.
"I don't have time to do that, and i …."
Lalu dia mengenakan pakaiannya lagi meski kini tanpa bra.
"Aku harus pakein kamu sesuatu jadi kamu ingat aku terus." Nania menggunting satu tali pada bra nya sehingga benda itu terlepas. Dan dia kembali ke dekat suaminya dengan satu tali di tangan.
"What's that for? Aku selalu ingat kamu, jadi kenapa harus memakaikanku sesuatu?"
Nania tak menjawab, namun dia segera melilitkan tali bra yang telah diguntingnya di pergelangan Daryl.
"Malyshka! What are you doing? Kenapa mengikat tanganku dengan tali paka*an dal*mmu?" Daryl menarik tangannya, namun Nania telah berhasil menautkan pengaitnya.
"Baby! Nanti aku tidak bisa melepaskannya. Bagaimana ini?" protes pria itu yang menatap benda tersebut.
"Nggak apa-apa, nggak usah dilepas sampai kamu pulang." Nania mengusap pergelangan tangan suaminya yang terlilit tali bra miliknya.Â
__ADS_1
Sekilas tampak seperti gelang kain biasa saja jika tidak jeli melihatnya. Namun bagi sebagian orang, terutama perempuan pasti akan mengetahuinya, sehingga mereka akan menganggap Daryl aneh. Dan dengan begitu dia berharap tidak akan ada yang mendekat kepada suaminya.
"Kan aku jadinya aneh, Malyshka!!" ucap Daryl lagi dan dia berusaha untuk melepaskan tali itu meski rasanya sulit. Saat ini dyspraxianya benar-benar sangat menghambat.
"Nggak apa-apa, aku suka kamu yang aneh, Daddy." Namun ucapan perempuan itu segera menghentikannya. Yang akhirnya membuat Daryl mengalah.
"Kamu tahu aku pasti akan selalu mengingatmu. Dan ini bukan tahun 20 an di mana tidak ada yang mampu saling menghubungi secara instan seperti sekarang. Ada ponsel, laptop dan jaringan internet yang akan bisa menghubungkan kita dengan cepat." Pria itu membingkai wajah Nania.
"Tapi aku maunya kamu ingat aku dengan cara yang berbeda. Biar kalau ada yang godain, kamunya nggak tergoda."
Â
Daryl tertawa.
"Ugh!! Naniaku! Kamu lucu sekali!" Dia dengan gemasnya mengecup bibir perempuan itu beberapa kali.
Namun interaksi itu terjeda ketika suara klakson mobil dari arah depan terdengar.
"Haih!!! Darren sudah tidak sabar rupanya?" Daryl kemudian melepaskan Nania.
"Aku pergi, Malyshka. Selain sekolah, igat untuk tetap di rumah ya? Jangan nakal." Dia berpesan.
"Bekalmu sudah aku simpan di laci ya? Jadi tidak usah meminta kepada Regan." katanya sebelum pergi.
"Duh? Padahal cuma pergi tiga hari?"
"It's okay, aku merasa tidak enak kalau tidak memberimu bekal. Seperti ada yag hilang, begitu."
Nania tersenyum.
"Bye, Malyshka. Ingat yang aku bilang ya?"
Perempuan itu mengangguk lalu bermaksud mengikutinya.
"Eh tidak usah mengantarku ke depan, Malyshka." Namun Daryl cepat mencegahnya.
"Kenapa? Kan mau lihat kamu pergi?" Nania mengerutkan dahi.
"Kamu nggak pakai bra. Nanti orang-orang bisa lihat, aku yang rugi."
"Duh." Lalu Nania menutupi dada dengan kedua tangannya. Meski pakaian masih dia kenakan, tapi tanpa bra memang rasanya agak lain.
"Jadi, tetaplah di sini." Daryl keluar dari rumah kemudian berlari ke arah depan ketika bunyi klakson kembali terdengar.
"Iya, aku datang. Astaga!! Sabar sedikit kenapa?" Pria itu berteriak.
Sementara Nania menatapnya hingga pria itu menghilang dibalik rumah besar mertuanya.
💖
💖
💖
Bersambung ...
Vote dulu gaess 😂
__ADS_1