The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Zurich


__ADS_3

💖


💖


Nania memberanikan diri melihat keluar, meski dia tetap berpegangan erat pada apa pun. Tapi pemandangan dibawah sana membuatnya takjub.


Ribuan lampu menyala seperti hamparan bintang yang menerangi kegelapan malam, dan semuanya terlihat indah.


"Daddy?" Dia berteriak.


"Dari sini Jakarta kelihatan bagus." katanya, dan Daryl meresponnya dengan senyuman.


Dan setelah sekitar sepuluh menit menikmati pemandangan malam Jakarta dalam perjalanan udara, akhirnya mereka tiba di bandara. Tepat di landasan udaranya yang sudah siap.


Daryl melepaskan headphone dan safety belt mereka, kemudian turun. Dia berjalan memutar ke arah kiri di mana Nania berada, lalu membukakan pintu untuknya.


Dia membiarkannya berdiri sebentar untuk menyeimbangkan tubuhnya yang agak linglung.


"Sudah?" tanya nya, dan Nania jawab dengan anggukkan.


Kemudian Daryl menuntunnya ke arah lain di mana pesawat milik keluarganya berada.


"Terus kita mau ke mana?" Lagi-lagi Nania bertanya.


Dia menatap pesawat dengan logo Nikolai sementara Daryl menggenggam tangannya.


"Welcome to the Nikolai Airlines." ucap pria itu sambil tersenyum.


Dua petugas menyambut mereka begitu keduanya masuk dan menunjukkan tempat mereka. Dan Daryl memilih kursi di bagian tengah lalu mempersilahkan Nania untuk duduk.


Pintu segera ditutup dan mesin terdengar menyala. Lalu seorang pramugari muncul dan mengatakan beberapa hal.


"Selamat malam? Sabuk keselamatan mohon dipasang karena kita akan segera melakukan penerbangan." katanya, dengan senyumnya yang menawan.


Semua prosedur penerbangan dia jalankan dan beberapa hal dia tunjukkan seperti halnya untuk kegiatan komersil. Sementara Daryl dan Nania hanya mendengarkan.


"Kita akan lepas landas dalam beberapa menit untuk penerbangan ke Zurich. Enjoy flight." katanya, kemudian kembali ke kabin crew.


"Zurich?" Nania baru buka suara.


"Swiss?" katanya, yang memeluk lengan Daryl saat dia merasakan pesawat mulai bergerak.


"Yeah." jawab pria itu.


"Kita mau ke Swiss?"


"Iya. Bukankah besok ada konser Colplay di sana? You like that band? Aku sering mendengarmu memutar musik mereka."


"Umm …."


"And i like them too."


Nania tertegun sambil menatap wajah suaminya.


"What? Are you happy? Kamu bisa berterima kasih lagi nanti." Pria itu terkekeh.

__ADS_1


"Oh iya, baiklah. Nanti aku akan berterima kasih, tapi …."


"What?"


"Aku nggak bawa baju sama yang lainnya." ucapan itu membuat Daryl tertawa.


"Semuanya sudah ada, kenapa harus repot-repot?" Pria itu berujar.


"Masa?"


"Ya. Tenang saja."


Nania memekik ketika pesawat terasa menanjak, dan dia berpegangan erat kepada suaminya.


"Tenang, kita hanya akan terbang." Daryl mengusap-usap tangan perempuan itu.


Lalu secara perlahan pesawat terasa stabil. Seperti terasa diam tapi pemandangan di luar terlihat bergerak, dan mereka menjauh dari bandara.


"Bapak dan Ibu, perjalanan ke Zurich akan berlangsung selama kurang lebih 17 jam. Selamat menikmati." Suara pilot terdengar mengudara.


"Lama amat?" Nania bergumam.


"No, mungkin bisa lebih cepat jika aku memintanya. Sekarang kita bisa tidur agar perjalanan tidak terasa lama. Atau kamu mau yang lainnya?"


"Umm … nggak usah. Kayaknya tidur lebih baik." jawab Nania yang mulai mengerti apa yang pria itu maksud.


"Baiklah, tidur juga bagus." Daryl yang membuat dirinya sendiri agar senyaman mungkin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Daryl menyentuh pipi Nania pengan punggung tangannya. Perempuan itu masih terlelap setelah beberapa jam mereka pindah ke tempat tidur di bagian belakang begitu selesai melahap makanan mereka dini hari tadi.


"Malyshka? Ayo bangun!" Pria itu berbisik di telinganya.


Nania tampak mengerjap pelan lalu menggeliat.


"Kita hampir sampai." katanya lagi.


"Umm …." Nania termenung sebentar.


Dia menjengit kemudian melirik ke arah pria di sampingnya.


"Apa perjalanannya terasa nyaman sehingga tidurmu sangat lelap?" Daryl berujar.


Perempuan itu perlahan bangkit.


"Tidak sia-sia aku terus mengomel sehingga mereka memperbaiki semuanya."


"Kita udah sampai?" Nania dengan suara serak khas bangun tidur. Dia juga mengucak kedua matanya untuk memperjelas pandangan.


"Sebentar lagi."


"Bapak dan Ibu, kita akan tiba di Bandara Internasional Zurich dalam tiga puluh menit. Diharapkan agar segera bersiap untuk pendaratan." Kemudian terdengar pilot berbicara lewat pengeras suara.


"Come." Daryl bangkit seraya mengulurkan tangannya pada saat Nania juga turun dari tempat tidur tersebut.

__ADS_1


Pramugari pun muncul bersamaan dengan mereka yang sudah siap di kursinya.


"We're ready, Annita. Just do your job." ucap Daryl, dan perempuan dengan seragam batik itu pun mengangguk sambil tersenyum.


Dan beberapa saat kemudian pesawat terasa menukik perlahan untuk beberapa menit. Lalu mereka merasakan sedikit guncangan ketika diketahui bahwa burung besi tersebut sudah mendarat di landasan pada lewat tengah hari.


Suasana terang benderang tapi cuaca begitu redup dan salju terlihat menggunung di beberapa sudut.


"It's winter here." Daryl bergumam sambil melihat keluar jendela.


Dia kemudian melepaskan safety belt lagi, dan menarik Nania untuk bangkit. Kemudian memakaikannya mantel dan topi woll tebal yang diberikan oleh pramugari. Tidak lupa sarung tangan khusus agar melindunginya dari udara dingin.


"Welcome to Zurich." ucapnya, saat pintu pesawat terbuka.


Nania masih kehilangan kata-kata. Beberapa minggu yang lalu dia pindah ke Amara's Love karena kabur dari cengkeraman ibunya, tapi hari ini dirinya terbangun di pesawat pribadi milik keluarga suaminya, dan lihat di mana mereka sekarang berada?


Daryl membawanya turun menuju ke bagian luar bandara, di mana sebuah mobil sudah menunggu di depan. Dan tanpa menunggu lama segera membawanya pergi dari tempat itu.


Jalanan kota Zurich tak sepadat pusat kota pada umumnya. Entah, mungkin karena musim dingin yang menjadikan semua orang tak terlalu bersemangat untuk pergi keluar rumah. Atau mungkin negara tersebut memang seperti itu.


Namun Nania tampak bersemangat. Ini adalah pertama kalinya dia keluar negri, dan pertama kalinya pula melihat salju secara nyata. Dan rasanya cukup menyenangkan.


Dia bahkan sampai menurunkan kaca mobil dan menjulurkan kepalanya agar bisa melihat benda itu lebih jelas.


"Hati-hati, Malyshka. Nanti kamu kedinginan." Bahkan Daryl sampai menariknya dan menaikkan kaca.


"Tapi aku mau lihat saljunya!" Nania berujar.


"Dari sini juga kelihatan. Look, pipimu sampai pucat karena kedinginan!" Daryl merangkulnya dalam pelukan.


"Dulu aku cuma bisa lihat salju di film liburan akhir tahun. Tapi sekarang bisa melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Nania merapatkan wajah di dada Dary.


"Sudah aku katakan. Apa pun akan jadi nyata kalau kamu tetap bersamaku. Maka diamlah." ucap pria itu yang mengeratkan pelukan.


***


Sebuah hotel megah di tengah kota Zurich menjadi persinggahan pertama. Dan mereka langsung menuju ke kamar yang sudah dipesan sebelumnya.


Fasilitas kelas satu dengan segala keistimewaannya menjadi hal pertama yang menarik perhatian Nania. Dan dia mulai membiasakan diri dengan hal itu. Karena mungkin hal tersebutlah yang akan selalu didapatkannya begitu menjadi istri dari seorang Nikolai.


"Istirahatlah kalau mau." Daryl melepaskan mantelnya lalu menyampirkannya di sofa.


Dan Nania segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang terasa begitu nyaman. Kepalanya masih terasa berdengung karena mengalami jet lag, dan dia memutuskan untuk beristirahat saja.


Perempuan itu hampir memejamkan mata ketika Daryl juga merebahkan tubuh tingginya di samping.


"Dan kamu bisa mempersiapkan diri untuk nanti malam." gumam Daryl yang seketika membuat Nania membelalak.


💖


💖


💖


Bersambung ....

__ADS_1


Ada apakah nanti malam?


like komen dan hadiahnya dulu gaess🤣🤣


__ADS_2