
π
π
"Rambut kamu udah panjang." Nania menelusupkan jemarinya di sela rambut kecoklatan milik Daryl.
"You want me to cut it?" Sementara pria itu menyurukkan wajahnya dengan nyaman di perut istrinya yang duduk setengah berbaring di sofa ruang tengah.
Mereka baru saja kembali ke rumah pada malam hari setelah seharian berkumpul di rumah besar, dan para saudara juga ipar pun pulang bersamaan. Kecuali anak-anak yang dibiarkan menginap semalam lagi atas permintaan nenek dan kakeknya.
"Terserah kamu. Tapi kalau pendek mungkin akan kelihatan lebih rapi."
"Hmm β¦."
Hujan menjadi semakin deras setelah turun gerimis beberapa saat sebelumnya, membuat suasana menjadi lebih syahdu.
"Anak-anak pada ngapain ya di rumah besar? Mereka udah tidur belum?" Nania menatap rumah megah milik mertuanya yang berada tepat di depan rumah mereka.
"Tidak tahu, mungkin sedang mendengarkan papi bercerita soal generasi awal keluarga Nikolai."
Nania tertawa.
"Some old storry that never ending."
"Tapi anak-anak suka, apalagi Anya sama Zenya. Mereka selalu serius kalau dengar papi cerita."
"Yeah, wanna hear something about that?" Daryl tiba-tiba saja bangkit mengangkat kepalanya.
"Soal apa?"
"Cerita tentang kakek buyut?"
"Emang ada?"
"Ada."
Nania menatap wajah suaminya.
"Mereka hanya sepasang suami istri yang bekerja sebagai petani di pinggiran Moscow yang waktu itu belum menjadi kota. Hanya ada hutan pinus dan ladang luas tempat gandum ditanam dari musim semi hingga musim panas, atau sayur-sayuran sebagai selingan. Pohon buah-buahan di sekitarnya tumbuh subur karena Kakek Rostislav merawatnya dengan baik. Mereka punya empat anak. Satu perempuan paling besar dan tiga anak laki. Salah satunya Dedushka."
"Terus?"
"Aku tidak tahu, mungkin buyutku dulunya keturunan bangsawan atau entah tuan tanah, sehingga dia memiliki kekayaan yang melimpah berupa ladang yang luas. Padahal kehidupan mereka hanya dari bertani dan berladang, juga peternakan sapi."
"Kalau kekayaannya begitu ya bisa jadi."
"Tapi mungkin orang dulu itu mau sekaya apa pun mereka tidak hidup mewah. Bekerja juga sangat keras untuk mempertahankan atau menambah kekayaannya."
"Bagus, memang harusnya begitu. Terus gimana ceritanya bisa punya perusahaan sebesar Nikolai Grup?" Nania bertanya.
Daryl terdiam sebentar. "Aku rasa semuanya berawal dari pabrik gula."
"Masa?"
"Ya, pabrik gula dan pabrik sepatu."
"Sekarang pabriknya masih ada?"
"Sayangnya tidak ada. Nenek buyut meninggal karena sakit, dan membuat semuanya kacau. Sementara anak-anak termasuk Ded sudah besar."
"Terus gimana ceritanya jadi Nikolai Grup kayak sekarang?"
"Aku rasa mungkin awalnya karena kakek patah hati? Lalu dia meninggalkan negaranya untuk mencari tempat hidup lain agar tidak selalu merasa sedih. Tapi tidak tahu kenapa Indonesia jadi pilihan?" Daryl terkekeh.
"Emangnya nggak nikah lagi?"
"Tidak."
"Setia amat?"
"It's in our blood."
Nania mencebikkan mulutnya.
"Serius."
"Tapi suka bobok bareng sama perempuan." Nania menyindir.
"Itu hanya eksperimen."
"Sembarangan! Kamu pikir perempuan itu kelinci percobaan sampai bilang eksperimen?"
"Ya mereka nya juga yang mau, apa lagi? Kalau menolak ya aku tinggalkan."
"Dih, orang kamunya suka maksa?" Nania mengingatkan kelakuan suaminya.
"Hanya kepadamu saja. Hahaha." Namun Daryl tertawa.
__ADS_1
"Hmm ...." Sementara Nania mencebikkan mulutnya.
"Mau dengar ceritanya tidak? Ini menginspirasi."
"Oh iya, oke."
"Kakek mendengar ada sebuah negara yang kaya dengan sumber daya alamnya. Negara tropis, yang segala jenis tanaman bisa tumbuh sepanjang tahun tanpa terjeda musim dingin yang ekstrim seperti di Rusia atau dararan Eropa lainnya. Tapi itu sangat jauh dari rumah."
"Kakek buyut terbang ke sini?"
"Waktu itu masih perjalanan laut, dan dia meninggalkan rumah hanya bersama Dedushka. Sementara anak yang lain memilih untuk mengurus diri mereka sendiri setelah harta dibagikan."
"Kakek buyut ke sininya sama Ded?"
"Ya."
"Terus apa lagi?"
"Dengan semua pengetahuan, dan harta yang dibawanya setelah mengenal tempat disini, dia dan Ded membangun satu persatu pabrik seperti yang dibangunnya di Moscow. Dengan cara dan metode yang sama. Pabrik gula, pengolahan kayu dan usaha dagang barang mentah. Anehnya, semua yang dilakukannya disini berhasil hingga membuatnya menciptakan perusahaan lain, dan menarik minat kerjasama kerabatnya di Rusia. Lalu mereka berbondong-bondong untuk menanamkan modal dan segala macamnya sehingga semuanya berkembang pesat sampai sekarang."
Nania terdiam.
"Ceritaku tidak seru ya? Hahaha. Padahal dulu kalau papi menceritakan soal ini kedengarannya seru. Aku memang nggak pandai mendongeng seperti papi, yang terkadang membuat imajinasi anak-anak berkembang jadi hal luar biasa."
"Sangat menginspirasi." ucap Nania. "Segala hal nggak selalu bisa diawali dengan mudah. Dan untuk sukses, terkadang orang harus benar-benar berjuang keras dulu. Beruntung mereka yang punya kemampuan kayak kakek buyut kamu. Se nggaknya punya modal awal untuk membangun bisnis. Tapi kebanyakan dari pengusaha generasi awal itu bener-bener berjuang dari titik nol untuk bisa mewujudkan apa yang menjadi mimpi terbesarnya."
"Dan ini bukan kebetulan. Tuhan yang menggerakkan hati kakek buyut kamu sehingga dia memilih negara ini untuk membangun bisnisnya hingga kayak sekarang. Dan mungkin udah rizkinya juga. Kamu percaya konsep kalau rizki itu nggak akan salah alamat? Semuanya akan jadi milik siapa pun yang memang haknya. Apalagi dengan kerja keras yang dilakukan orang sehebat Dedushka dan kakek buyut kamu."
"Ya, benar." Daryl menggerak-gerakkan kepalanya.
"Dan kamu beruntung jadi salah satu keturunan orang hebat itu."
Daryl terkekeh.
"Jangan besar kepala, biar keluargamu sukses tapi kamunya males sama aja bohong!" Nania berujar.
"Aku tidak malas. Selama ini aku bekerja dengan baik sejak lulus kuliah. Apalagi semasa sekolah. Tidak tahu ya kalau aku belajar dengan keras sehingga mampu menangani usahanya Mama seperti sekarang? Hanya saja aku tidak mau terikat secara langsung di Nikolai Grup."
"Iya, kelihatan kok."
"Jangan khawatir, aku pasti akan melakukan apapun untuk anak dan istriku." Pria itu bergeser mendekat lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Nania.
"Tidak akan aku biarkan kalian sengsara sedikitpun." katanya, kemudian menyurukkan wajahnya di ceruk leher Nania.
Perempuan itu tertawa.
"Nggak tahu, aku aneh aja denger kamu ngomong kayak gitu. Rasanya ini jadi serius banget deh?"
"Ya memang serius. Kamu pikir soal keluarga bisa dijadikan bahan bercandaan? Bagiku tidak. Karena keluarga itu pertahanan dasar seseorang agar bisa menghadapi kerasnya kehidupan."
Nania tertawa lagi.
"Duh, apa yang aku tahu soal kerasnya kehidupan ya? Aku belum pernah dipukul seseorang karena tidak memberikan uang. Atau diperas setiap saat untuk kebutuhan sehari-hari." Dia menatap wajah istrinya, dan mereka tahu persis siapa yang tengah menjadi bahasan.
"Dan satu-satunya kesulitan yang aku alami sampai sekarang adalah berhadapan dengan kancing dan ikat sepatu." Lalu dia tertawa, karena ini mulai terasa konyol.
"Jangan bahas-bahas soal itulah, aku suka sedih kalau diingatin. Kayak buka luka lama yang hampir sembuh." ucap Nania.
"I'm sorry. Tidak ada yang bisa menandingi perjuanganmu sebelum ini." Daryl kembali mengusap-usap perut istrinya.
"Oh iya, waktu itu aku lihat ibu di halte bus siang-siang. Bawa tas besar lagi." Nania teringat kepada ibunya.
"Mau ke mana ibumu?"
"Nggak tahu. Mungkin cari kerja, atau udah dapat kerja yang jauh dari rumah jadinya harus bawa baju?"
"Kamu tidak menemuinya?"
"Nggak. Emang boleh?"
"Tidak."
"Nggak boleh ketemu ibu?"
"Tidak boleh."
"Kalau nggak sengaja?"
"Itu lain lagi ceritanya."
"Kalau ibunya ke sini gimana?"
"Ya tidak apa kalau ibumu yang ke sini. Asal jangan kamu yang menemuinya di manapun selain di rumah ini. Apalagi sampai berkunjung ke rumahnya."
"Kenapa?"
"Aku tidak suka ibumu, dan menganggap dia sebagai ancaman." Daryl berbicara tanpa kiasan.
__ADS_1
"Banyak hal yang sudah dia lakukan kepadamu, dan tahu apa dampak buruknya jika dia dibiarkan mendekatimu."
"Sebenarnya aku bisa juga melarangnya datang ke rumah ini, tapi itu tidak baik. Maka akan aku izinkan jika dia ingin menemuimu, dengan catatan kalian bertemu di sini."
"Kan ada Regan kalau misalnya aku mau β¦."
"No! Jangan coba-coba mencari alasan."
"Gimana kalau tiba-tiba ibu di rumah dan membutuhkan aku?"
"Dia tidak akan butuh siapa pun. Dia sibuk dengan dirinya sendiri, dan kamu sudah tahu itu."
Nania terdiam.
"Jangan berpikir bahwa aku sudah jadi orang kejam. Karena apa yang dia lakukan kepadamu justru lebih kejam." Daryl berusaha mengingatkan apa saja yang sudah terjadi. "Mana ada ibu yang memanfaatkan anaknya seperti yang dilakukan ibumu?"
"Tapi dia tetep ibu aku."
"I know. Tapi apakah dia berpikir bahwa kamu tetap putrinya?" Pria itu membalikkan pernyataan.
Nania terdiam lagi.
"Aku ngantuk. Apakah kamu juga?" Diaryl kemudian melirik jam dinding di atas lemari.
Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam dan ternyata mereka cukup lama berbincang membicarakan banyak hal.
"Ngantuk, tapi β¦."
"Mau tidur sendirian lagi atau aku temani?" Daryl bangkit lalu menariknya.
"Umm β¦."
"Aku kan mandi lagi pakai sabun dan shamponya Anya. Kamu juga bilang kalau aku tidak bau?" Dia menuntunnya ke lantai dua.
"Masa sudah begini kamu masih tidak mau tidur denganku?" Mereka masuk ke dalam kamar.
"Oke." Nania segera berganti pakaian di ruang ganti.
"Oke?" Dan Daryl hampir saja mengikutinya.
"Hu'um." Perempuan itu keluar dengan sudah mengenakan pakaian tidur transparannya. Dan dia tak mengenakan paka*an dal*am seperti biasa.
"Baiklah kalau begitu." Daryl tampak kegirangan.
"Tapi β¦." Nania naik ke tempat tidur sambil membawa pouch body care milik Anya dan Zenya.
"Apa lagi?"
"Pakai minyak telon dulu." Dan dia mengeluarkan botol berisi cairan dengan aroma khas bayi yang isinya tinggal setengah itu. Padahal tadi pagi masih agak penuh.
"Apa?"
"Kan biar wangi?" Nania tersenyum sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya ke atas dan ke bawah.
"Kan sudah tadi?" Daryl masih berdiri di samping tempat tidur.
"Ya pakai lagi biar wangi. Nanti aku muntah-muntah lagi."
"Hah! Macam-macam saja kamu ini?" Pria itu naik ke tempat tidur sambil melepaskan kausnya.
Nania tersenyum.
"Aku curiga bukan hanya malam ini saja harus pakai minyak telon sebelum tidur? Jangan-jangan setelah ini juga harus?" Daryl menggerutu.
"Ide yang bagus, jadi kita tetep bisa tidur sama-sama tanpa aku merasa mual, kan?" Nania membalur punggung, lengan dan bagian depan suaminya dengan minyak telon di tangan.
"Baru hamil tapi kamar kita seperti sudah punya bayi?" ucap Daryl.Β
"Ya kan kamu bayinya?" Nania tertawa setelah selesai membaluri tubuh suaminya.
"Hmm β¦."
"Ayo kita bobok, Baby?" katanya yang kemudian merebahkan tubuhnya di samping pria itu.
"Baik, tapi baby nya mau menyusu dulu!" Daryl mendekat dan dia menempelkan tubuh mereka berdua.
Sementara Nania tertawa sebelum akhirnya pria itu melepaskan pakaiannya dan mulai mencumbu.
"Baik, tapi jangan keras-keras menyusunya ya, Baby?" Dia tertawa lagi, dan selanjutnya mereka memulai pergumulan panas pada malam itu.
π
π
π
Bersambung ....
__ADS_1
Duh, makin rajinπ€£π€£