The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Malam Minggunya Daryl


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


"Kita pulang ya?" Ardi dan kedua teman lainnya bersiap untuk pergi.


Nania menganggukkan kepala.


"Kata Kak Ara nanti ada mobil hitam datang mau jaga. Mungkin itu?" Nindy menunjuk sebuah mobil hitam yang terparkir persis di depan kedai.


Mereka menatap ke arah yang sama.


"Aku kok merasa kayak siapa ya? Padahal kan yang tadi siang cuma lihatin doang dari seberang. Kenapa jadinya berlebihan kayak gini?" Nania sambil tertawa.


"Kalau untuk keselamatan kayaknya nggak berlebihan deh? Karena ini urusannya nyawa. Kita kan nggak tahu apa yang akan dilakukan orang jahat. Belum lagi ada aset berharga di kedai yang mungkin bisa menarik perhatian mereka."


"Iya, aku rasa Kak Ara nggak akan sesantai itu ngebiarin barang miliknya, apa lagi ada pegawai dalam bahaya."


"Hu'um."


"Ya udah, kita pergi dulu ya? Kalau ada apa-apa teriak aja, pasti penjaganya langsung bertindak. Karena kalau nelfon salah satu dari kita kejauhan. Hahaha." Raka berujar.


Nania mengangguk lagi. Lalu ketiga rekannya tersebut segera pergi.


Gadis itu mulai menutup tirai-tirai pada jendela, dan dia hampir saja mengunci pintu kedai ketika mobil hitam lainnya datang dan berhenti tepat di depan mobil sebelumnya.


Rubicon hitam yang dia kenali sebagai milik Daryl.


Nania menatap pria yang turun kemudian menghampiri mobil di belakangnya. Dia mengetuk kaca lalu mengatakan sesuatu sehingga si pengemudi membawa mobilnya pergi.


Daryl memutar tubuh, dan dengan senyum mengembang menatap Nania yang masih berdiri dibalik pintu kaca yang hampir dia kunci.


"Bapak mau masuk?" Gadis itu memutuskan untuk membuka celah. Entah mengapa dia melakukan hal tersebut yang akhirnya dia sesali juga.


Tentu saja itu seperti sebuah undangan bagi Daryl, dan dia segera menerobos pintu. Membuat Nania mundur karenanya.


"Kenapa sudah tutup? Baru jam sembilan?" Daryl melihat jam tangannya.


"Malam ini agak sepi." Nania menjawab.


"Tumben? Biasanya ramai sampai malam?" Mereka berjalan ke arah tengah ruangan, lalu Daryl menurunkan kursi yang sudah dibereskan.


"Mungkin orang-orang memutuskan untuk istirahat di malam Minggu?"


"Hmm … benar juga. Tapi biasanya kalian mengadakan akustik show kalau malam Minggu. Sekarang tidak lagi?" Pria itu duduk di kursi yang sudah dia turunkan.


"Sejak Kak Ara kecelakaan nggak lagi. Repot dengan empat karyawan harus ngadain acara kayak gitu. Pengunjung kadang tiba-tiba membludak dan susah dikendalikan."


"Begitu ya?"


"Iya."


Daryl mengangguk-anggukkan kepala.


"Bapak dari mana? Jauh-jauh muter ke sini?" Nania mengalihkan topik pembicaraan.


"Dari rumah." Daryl menjawab dengan tenang.


"Dari rumah?"


"Ya. Tadinya mau ke suatu tempat, tapi pas lewat pertigaan malah belok ke sini." Pria itu terkekeh.


Nania tertegun. Tidak biasanya pria ini bersikap tenang dan ramah seperti sekarang. Karena dia lebih sering melihat Daryl yang marah-marah dan menggerutu. Dan ini rasanya aneh karena dia terbiasa dengan cara bicara Daryl yang ketus dan seenaknya.


"Bapak mau makan?" Lalu kalimat itulah yang terlontar dari mulutnya karena dia tidak tahu harus membicarakan apa dengannya. Sepertinya pria ini berniat untuk tinggal lebih lama di sana?


Daryl tak segera menjawab, dia malah menatap wajah gadis di depannya.


"Maksudnya, kalau mau makan saya buatin sekalian. Soalnya saya mau bikin makanan. Saya lapar." lanjut Nania.


"Umm … boleh kalau nggak merepotkan?" ucap pria itu.


"Mau kopi juga nggak? Sambil nunggu makanannya matang?" tawar Nania lagi, dan kali ini dia memberanikan diri untuk tersenyum meski rasanya canggung.


"Boleh." jawab Daryl lagi.


Lalu Nania segera melakukan apa yang dia katakan. Membuatkannya secangkir kopi hitam tanpa gula yang hanya dicampur krimmer seperti yang biasa Daryl pesan, lalu selanjutnya dia membuat makanan untuk mereka.

__ADS_1


Sebuah kastrol kecil yang berisi nasi berbumbu khas Nania letakan di meja setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam untuk memasaknya.


Ada beberapa potong ikan bakar dan tahu goreng ditambah cah sayuran yang menjadi pendamping acara makan mereka malam itu.


"Bapak udah pernah makan nasi liwet?" Nania duduk di kursinya.Β 


Dia segera mengambil piring dan meraup nasi dari dalam kastrol yang menguarkan uap panas dengan aroma bumbu dan rempah tradisional.


"Sepertinya aku pernah mendengar nama makanannya. Apa itu makanan tradisional?"


Nania mengangguk seraya meletakkan piring berisi nasi di depan Daryl.


"Dari baunya sepertinya enak!" Pria itu mengambil sendok lalu meraup sedikit nasi untuk dia cicipi.


"Sepertinya aku pernah makan ini kalau berkunjung ke Bandung." Dia mengingat sesuatu.


"Ke Bandung?"


"Ya, kalau menginap di rumah abah. Nenek sering membuatkan makanan seperti ini, tapi ada sambal dan lalapannya gitu. Ditambah ikan kering yang rasanya seperti garam."


Nania tertawa. "Ikan asin?"


"Namanya itu ya? Bukan ikan garam?"


"Bukan, namanya ikan asin."


"Aku kira namanya ikan garam. Habis rasanya seperti garam." Pria itu tergelak.


"Ya memang. Ini juga seharusnya begitu sih. Ada sambel, lalapan, ikan asin juga. Baru enak."


"Lalu kenapa kamu malah membuatnya seperti ini?" Daryl mengambil sepotong ikan bakar yang kemudian dia cicipi juga.


"Saya pikir mungkin orang seperti Bapak nggak terbiasa makan makanan kayak gitu, jadi …."


"Orang seperti aku?"


Nania menganggukkan kepala.


"Memangnya aku seperti apa?"


Gadis itu terdiam menatapnya yang makan dengan lahap. Seperti dia belum pernah menemukan makanan dalam hidupnya.


"Kamu tahu, rasanya ini enak. Namanya saja makanan tradisional tapi sepertinya aku cocok?" Pria itu menambah lagi nasinya.


"Apalagi kalau ada sambalnya, mungkin lebih enak?" katanya, kemudian dia terkekeh.


Mengapa hatinya begitu bahagia hanya dengan begini saja?Β 


"Ya, mungkin lain kali saya buatkan sambalnya." sahut Nania yang masih betah melihat pria itu makan.


"Oh iya, itu akan sangat bagus." Sementara Daryl fokus pada makanannya.


"Kamu tahu, di antara saudara-saudaraku, sepertinya hanya aku yang bisa memakan apa pun tanpa takut mengalami sakit atau alergi. Kak Dim tidak kuat makan makanan pedas. Dia akan sakit berhari-hari kalau makan sambal sedikit saja. Kalau Darren aka mengalami alergi parah meski hanya sedikit memakan seafood atau makanan yang mengandung produk laut. Tapi aku bisa memakan berbagai jenis makanan tanpa mengalami masalah setelahnya." Pria itu bercerita.


"Omni-vora." Nania bergumam.


"What?" Daryl menjeda kegiatan makannya.


"Bapak omnivora."


"Omnivora itu apa?"


"Pemakan segala."


Pria itu terdiam.


"Umm … maksud saya …."


"Kamu benar juga, hahaha …." Dia tertawa lalu melanjutkan acara makannya.


"Kamu sendiri, kenapa tidak makan? Malah memperhatikan aku terus?" Daryl menyadari gadis itu yang sejak tadi hanya terdiam.


"Hah? Eee …." Nania salah tingkah.


Dia mencoba meraih sendok, namun malah membuat benda itu terjatuh ke lantai. Lalu dia berusaha mengambilnya tapi malah membuat kepalanya terantuk meja. Dan setelah itu banyak hal yang berjatuhan hingga membuat keadaan kedai yang sepi menjadi sedikit gaduh karena Daryl tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kamu ini ceroboh sekali?" katanya yang membantu gadis itu memunguti barang-barang.

__ADS_1


"Tidak usah takut, aku tidak akan memakanmu walau perutku ini masih lapar." katanya, yang membuat Nania melirik kastrol yang hampir kosong.


"Bapak mau saya buatkan lagi nasinya?" tawarnya kemudian.


"Tidak usah, yang ini sudah cukup." Namun pria itu menolaknya.


"Barusan Bapak bilang masih lapar?"


"Iya, tapi tidak usah."


"Serius. Kalau mau saya buatkan lagi." Nania hampir beranjak, namun Daryl memegang tangannya untuk menghentikan dia.


"Tidak usah, duduklah. Kamu juga belum makan?" katanya seraya melirik piring milik gadis itu yang makanannya masih utuh.


"Tapi …."


"It's oke, makanlah dulu punyamu." katanya, yang membuat Nania kembali ke tempat duduknya.


Daryl beralih sebentar ke arah showcase untuk mengambil dua botol minuman ringan. Lalu kembali dan meletakkan salah satunya di depan Nania.


"Sekarang giliranku melihatmu makan setelah kamu tadi melakukannya." katanya lagi, yang menempelkan punggungnya pada sandaran kursi, sambil sesekali menyesap minumannya.


Dan hal itu berlangsung beberapa saat, hingga kemudian dia memulai kembali percakapan. Lalu segalanya mengalir begitu saja seolah mereka sudah sangat akrab.


Daryl membicarakan banyak hal, sementara Nania mendengarkan, begitu juga sebaliknya. Sesekali mereka menertawakan sesuatu ketika ada hal lucu, lalu mencari lagi topik lainnya agar kebersamaan itu tak berhenti. Hingga akhirnya tiba pada lewat tengah malam dan Daryl menyadari jika gadis itu sudah kelelahan.


"Baiklah, sepertinya aku harus pulang?" Dia menenggak habis minuman ringannya.


Nania menganggukkan kepala.


"Kamu akan baik-baik saja di sini kan?" katanya, yang bangkit saat mobil hitam yang tadi tampak kembali.


"Kayaknya begitu."


"Yeah." Pria itu terdiam sebentar, namun dia mengeluarkan dompetnya lalu mengambil beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu.


"Nggak usah dibayar Pak, anggap aja saya yang traktir." Nania menolak saat Daryl menyodorkan uang tersebut.


"Tidak ada istilahnya perempuan mentraktir laki-laki. Tidak di dalam keluargaku."


"Ee … maksud saya bukan begitu, maaf. Tapi …."


"Ini untuk membayar kopi dan minumannya."


Nania menatap lembaran uang itu.


"Tapi kebanyakan?"


"Lebihnya anggap tip karena kamu sudah menemaniku mengobrol."


Gadis itu masih terdiam.


"Ambillah, agar aku tidak merasa sungkan jika meminta bantuanmu." Posisi tangannya masih seperti itu.


Akhirnya Nania pun menerima uang tersebut. Lagi pula dia memang membutuhkannya karena ingat neneknya dirumah yang mungkin selalu menunggu kedatangannya.


"Terima kasih Pak."


"No." Daryl menggelengkan kepala. "Terima kasih. Kali ini malam Mingguku sangat menyenangkan." katanya, lalu dia tersenyum.


"Mm …."


"Aku pamit." ujar pria itu seraya mundur ke arah pintu.


Dia segera keluar dan berjalan ke arah mobilnya. Namun berbalik terlebih dahulu untuk melihat kembali gadis itu yang tengah mengunci pintu.


Daryl melambaikan tangan sebelum akhirnya dia masuk dan segera pergi dari tempat itu.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–


Bersambung ...


Acie cieeeeeee ... Udah dadah dadahan aja Pak? Kayak ngantar anak sekolah? πŸ˜œπŸ˜œπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ

__ADS_1


Cuma mau ngingetin, klik like komen sama hadiahnya ya? ditunggu banget.


Alopyu sekebon😘😘


__ADS_2