
π
π
"Ish, aku pikir kamu ke mana, dari tadi dicariin nggak ketemu?" Nania menemukan suaminya yang sudah berada di kamar mereka. Dan dia asyik di tempat tidur fokus dengan buku barunya.
"Hmm β¦ yeah, aku merasa agak lelah hari ini." Daryl menjawab sambil tetap membuka halaman pada buku yang mulai dia baca.
"Kecapean karena seharian nganter aku ya?" Nania menjatuhkan tubuhnya di samping pria itu dan dia ikut melihat pada bukunya.
"Apa sih yang kamu baca?" Lalu dia melihat sampul depannya.
"Kamu lagi belajar soal psikologi?" Dan kemudian bertanya.
"Hanya merefresh pengetahuan agar tidak di situ-situ saja."
"Kirain mau sekolah lagi?" Nania kemudian merubah posisinya menjadi duduk.
"Ada pikiran juga ke sana tapi mungkin nanti." jawab Daryl yang tidak mengalihkan fokusnya dari buku.
"Serius? Kamu kan udah S2, ngapain sekolah lagi? Mau S3?"
"Belum, baru rencana. Kan sekarang fokus dulu mengurus Fia's Secret dan kamu?"
"Tapi beneran mau sekolah lagi?"
"Mungkin, tapi nanti kalau semuanya sudah benar-benar berjalan seperti yang aku rencanakan."
"Kamu gabut ya?" celetuk Nania, kemudian tertawa.
"Hum?"
"Iya, kamu kayak orang gabut padahal banyak hal yang bisa dikerjain. Tapi kamu memilih sekolah untuk menghabiskan waktu. Tapi tepat juga sih karena kuliah kan habiskan waktu tahunan dan itu bisa bikin kamu sibuk kayaknya?"
"Ya kalau mampu kenapa tidak? Diluar sana bahkan ada orang-orang yang rela mengejar beasiswa dengan tanggung jawab yang besar untuk mendapatkan gelar. Kamu bahkan mau mengejar ketertinggalan dengan ikut persamaan kan? Sedangkan aku kapan pun bisa melakukannya sesuai dengan kemauanku karena aku mampu."
Nania terdiam.
"Jadi selagi bisa kenapa tidak mengambil kesempatan itu."
"Tapi nggak sekarang kan?"
"Tidak. Sudah aku bilang aku akan mengurus keluargaku dulu. Aku bahkan baru mulai bekerja, kan? Kita baru menikah, dan aku ingin santai dulu. Mengejar S3 itu harus benar-benar fokus."
"Hmmm β¦."
"Sudah menyiapkan semuanya untuk besok?" Daryl melepaskan kaca mata bacanya sejenak untuk berbicara dengan istrinya.
"Udah tadi, begitu semua orang pulang aku langsung siapin semuanya. Bajunya udah dikasih Mbak Mima untuk dirapihin, alat tulisnya udah aku masukin ke tas."
"Good." ucap Daryl, dan sebuah senyuman terbit di sudut bibirnya.
"Tapi kamu yakin mau ngizinin aku sekolah offline?" Nania sepertinya masih tidak percaya dengan apa yang sudah diputuskan oleh suaminya.
"Yakin. Why?"
"Aku kok merasa aneh ya?"
"Aneh kenapa?"
"Kamu tiba-tiba ngasih izin aku untuk sekolah offline padahal sebelumnya bener-bener ngelarang aku?"
"Why, is it not good?" Daryl kemudian menutup bukunya. Sepertinya peecakapan ini membuka jalan untuknya dan Nania agar bisa bicara masalah serius.
"Nggak tahu, kayak ada sesuatu yang mungkin nggak tahu. Kamu kan biasanya nggak gini?"
"Memang biasanya aku bagaimana?"
"Kamu?"
Daryl menganggukkan kepala, sementara Nania terdiam menatap wajahnya.
"Deskripsikan aku menurut pandanganmu. Sejujur-jujurnya." ucap Daryl dan dia tampak serius.
"Umm β¦."
"Go ahead, tell me what you think about me?"
"Nggak ah, nanti kamu marah." Nania tertawa sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
"No! Kenapa aku harus marah? Bukankah suami istri memang seharusnya bicara masalah seperti ini? Dan aku sedang belajar di sini."
"Beneran?" Nania meyakinkan.
"Yeah, just tell me. So i can fix something that might be wrong between us."
"Umm β¦ apa udah aku bilang kalau kamu sering memaksakan kehendak?" Nania dengan takut-lakut.
"Yeah, itulah kenapa kamu menyebutku sebagai tukang maksa."
Nania tertawa dengan keras.
"Dan kamu terlalu mengekang?" Hati-hati sekali perempuan itu berbicara karena dia takut membuat suaminya marah.
"Hhhmmm β¦." Daryl menghembuskan napas sambil mengerucutkan mulutnya, dia ingin protes tapi tidak mungkin karena itu akan membuat keadaan menjadi tidak baik.
Saat ini dirinya sedang belajar untuk mengontrol diri agar bisa menyesuaikan dengan bagaimana cara Nania menangani masalahnya.
Dan dia juga mengerti jika perempuan itu terbiasa melakukan segala hal sendiri, membuat keputusan sendiri, dan menjalani hidupnya sesuai dengan yang dia inginkan. Jadi, bentuk perhatian dan kepedulian apapun yang diberikan akan dianggapnya sebagai pengekangan.
"Jangan marah! Ini sudut pandangku lho, kamu kan nyuruh aku jujur?" Nania segera melontarkan pembelaan.
"Yeah, i know. I used to it. Aku terbiasa melakukan apa pun yang aku mau. Dan aku terbiasa mendapatkan apa pun dengan caraku. Tapi, hanya karena aku terbiasa dengan cara hidup yang seperti itu bukan berarti aku bisa memaksakannya kepada orang lain kan?"
Nania menganggukkan kepala sambil tersenyum. Dia merasa mulai menemukan titik terang soal kebebasannya yang mungkin akan kembali.
Apakah ini akibat dia yang membaca buku barusan ya? Kalau iya, oh bagus sekali. Hatinya bersorak gembira.
"Dan sekarang, katakan kamu ingin aku seperti apa?" Lalu Daryl berucap.
"Hum?"
"Agar kamu tidak merasa terkekang dengan aturan yang aku terapkan."
"Serius kamu ngomong gitu?"
"Yeah."
"Kenapa?"
"Just wanna make you happy." jawab Daryl yang menatap binar ceria di kedua bola mata perempuan itu. Dan sekarang dia mengerti jika apa yang selama ini dilakukannya mungkin salah.
"Nggak usah apa-apa. Cuma biarkan aku sekolah kayak yang lain, melakukan kegiatan biasa dan jangan terlalu melarang-larang aku untuk melakukan apa pun."
"Iya."
"But β¦ can i trust you for being responsible about freedom like that?"
"Iya dong, kamu bisa percaya aku seribu persen. Aku nggak akan ngapa-ngapain selain sekolah sama kegiatan yang cuma berhubungan dengan itu. Aku kan udah berhenti kerja, jadi satu-satunya kegiatan aku ya sekolah sama di rumah,Β apa lagi?"
"Are you sure?"
"Iya."
"Then i'll give a hundred persen all of my trust."
"Masa?" Wajah perempuan itu tampak riang.
"Ya."
"Aaa β¦ makasih!!!" Nania segera menghambur untuk memeluknya setelah dia mendengar kalimat tersebut terlontar dari mulut suaminya.
"Dan sekarang tidurlah, besok kamu harus berangkat pagi kan?" Lalu Daryl meletakkan buku dan kacamata bacanya di atas nakas.
"Katanya masuk sekolah jam sembilan?" Nania tampak masih ingin bercakap-cakap.
"Besok kan hari pertama. Pasti banyak hal yang harus dilakukan sebelum mulai belajar." Daryl merebahkan kepalanya diatas bantal.
"Masa sekolah persamaan ada ospeknya juga?"
"Bukan ospek, tapi lebih ke pengenalan guru dan murid, juga mungkin sedikit basa-basi?"
"Ada sekolah basa-basi?"
"Ya tidak tahu, kan aku bilang juga mungkin." Pria itu menepuk bantal disampingnya.
"Terus besok kamu yang antar gitu?" Lalu Nania pun merebahkan dirinya disamping Daryl dengan posisi miring.
"Ya, memangnya siapa lagi?" Dia menjawab. "Makanya cepat tidur agar kita tidak kesiangan. Hari pertama harus memberikan kesan yang bagus."
__ADS_1
"Kesan bagus apanya? Ini kan sekolah persamaan?"
"Segala sesuatu itu dilihat dari kesan pertama, dan jika ingin berhasil kita harus memberikan kesan yang baik sehingga kesempatan apa pun akan terbuka lebar untuk kita."
"Iya gitu?"
"Percayalah, aku pernah mengalaminya."
"Ooo, okelah kalau gitu."
Mereka mulai memejamkan mata. Namun kemudian Nania mengerjap ketika dia merasa ada sesuatu yang aneh.
"Daddy?"
"Hmm β¦."
"Kamu ngerasa nggak sih?"
"Apa?"
"Nggak tahu, aku kayak lupa sesuatu gitu?"
"Soal apa?"
"Nggak tahu, kan aku lupa?"
Daryl terdengar mendengus keras.
"Sayang?"
"Apa lagi?" Daryl akhirnya membuka mata dan dia merasa sadikit kesal dengan perempuan itu.
"Kamu nggak marah kan sama aku gara-gara obrolan kita yang tadi?"
"Obrolan yang mana?"
"Soal aku yang bilang jangan terlalu mengekang?"
"Tidak, kenapa aku harus marah? Itu kan hanya diskusi?"
"Oh β¦ kirain?"
"Sekarang, tidurlah! Aku juga sedang mencoba untuk tidur di sini!" Pria itu kembali memejamkan matanya.
"Tapi β¦ kenapa β¦ kamu nggak β¦ mm β¦ itu β¦." Nania merasa sedikit malu. Dia ingin bertanya soal ini tapi mungkin suaminya malah akan menertawakannya.
"What?" Dan pria itu pun sekarang mulai merasa kesal.
Nania terlihat menggigit bibirnya keras-karas. Bagaimana ya cara menjelaskannya, karena ini seperti sudah menjadi kebiasaan bagi nya semenjak mereka menikah. Dan apa yang terjadi beberapa ini ternyata membuatnya merasa jika pria itu sedikit berbeda.
"Nggak jadi lah, aku malu." Lalu dia kembali merebahkan tubuhnya, namun kini lebih dekat dengan suaminya.
"Malyshka, stop!!" protes Daryl saat perempuan itu terus merangsek sehingga mereka kini saling menempel.
Nania bahkan memeluknya begitu erat dan menyurukkan kepalanya di dada.
"Eh ada yang lupa." Namun kemudian perempuan itu kembali bangkit.
"Now what? I'm trying to sleep here, astaga!!"
"Aku kan nggak biasa pakai daleman kalau tidur?" Dia kemudian melepaskan bra dan cel*na dalamnya tanpa melepaskan kaus gombrong milik Daryl yang selalu dipakainya sejak mereka resmi menjadi suami istri.
Pria itu terkesiap melihat caranya melepaskan pakai*n dalam yang seperti sedang menggodanya.
"Ah, sekarang udah." katanya, yang kembali ke tempat tidur dan mengisi ruang kosong di samping suaminya.Β
"Kamu ini sengaja menggodaku ya?" Pria itu berujar.
"Nggak, kan aku emang setiap malam tuh begini kamu juga tahu? Cuma waktu di Swiss sama di Moscow aja aku pakai baju lengkap karena sering kedinginan." Perempuan itu tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
Ssmentara Daryl mengetatkan rahang hingga giginya terdengar bergemeletuk. Dia mungkin bisa abai terhadap hal lain, tapi yang satu ini memang tak dapat ditolak. Apalagi jika Nania sudah berlagak lugu-lugu menggemaskan seperti ini.
"Ah, kamu membuat kesabaranku habis Malyshka!!" katanya yang bangkit seraya melepaskan pakaiannya, dan di detik berikutnya dia segera menerkam Nania yang tergelak saat mendapat serangan dari suaminya.
π
π
π
__ADS_1
Bersambung ....
Yaelah Bang, pake tahan harga segala sih? Terkam aja terkamπ€£π€£π€£