
💖
💖
Nania ambruk di depan closset ketika lagi-lagi dia muntah. Semua makanan yang masuk ke perutnya kembali keluar seperti hari-hari sebelumnya. Tubuhnya seperti menolak apa pun yang masuk dan kali ini benar-benar tak lagi bisa menerima apa pun meski sudah dia paksakan.
"Ayolah Nania!" Dia bergumam dan berusaha untuk tetap tersadar meski rasanya sudah tak mampu lagi terjaga.
"Nna?" Sofia kembali datang untuk memeriksa dan mendapati menantunya yang duduk di lantai kamar mandi dapur, bersandar pada dinding.
"Kenapa?" Dan perempuan itu segera menghampirinya.
"Nggak apa-apa, Ma. Aku cuma pusing aja." Dan Nania segera bangkit.
"Kami menunggumu untuk makan bersama, tapi kamu tidak datang." Lalu Sofia membantunya pindah ke kursi makan.
"Udah tadi, tapi malah mual-mual." Nania menjawab.
"Pasti ini dari asam lambungmu, kan? Obatnya tidak kamu minum?" Perempuan itu memberinya segelas air hangat yang dia ambil dari dispenser kemudian duduk bersamanya.
"Udah. Tapi mungkin agak lama untuk normal lagi. Tapi nanti juga sembuh, Ma. Biasanya juga begitu." Nania menenggak habis air minumnya.
"Jangan lama-lama ya? Rumah sepi kalau kamu sedih terus. Kami jadinya selalu khawatir." Perempuan itu menyentuh tangannya.
Nania mengangguk dan dia mencoba untuk tersenyum.
"Sedih dan kecewa sewajarnya saja, tapi jangan lupa bahwa hidup tidak hanya sekedar itu. Ada hal lain yang sedang menunggumu yang mungkin lebih baik dari sekarang."
"Iya Ma."
"Ayo kita ke rumah besar? Berkumpul lagi seperti dulu agar kesedihanmu berkurang." Sofia bangkit dan mengajaknya pergi.
Nania terdiam sebentar sambil menatap mertuanya.Â
Dia yang sedang berusaha membesarkan hatinya meski mungkin rasa kecewa belum hilang sepenuhnya. Sikapnya memang sudah biasa namun malah membuat Nania merasa semakin malu.
Tapi tidak ada salahnya untuk ikut karena dia juga sudah berusaha mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, bukan?
"Ayo." Dia kemudian mengikuti mertuanya ke arah luar.
Namun lagi-lagi langkahnya terhenti di ambang pintu dan dia merasa ragu untuk keluar.
Kakinya hampir saja menginjak teras namun dia urungkan ketika kembali teringat ucapan suaminya.
"Kenapa?" Sofia berbalik saat menyadari Nania tertinggal di belakang.
"Umm … kayaknya aku pusing." Lalu perempuan itu beralasan.
__ADS_1
"Pusing?" Sofia pun kembali ke dalam rumah.
"Ya, pusing. Kayaknya …."
"Ya sudah, istirahat saja. Berkumpulnya bisa besok-besok lagi." Kemudian Sofia menuntunnya.
"Mau Mama antar ke kamar?" tawarnya saat dia berhasil mengantarkannya.
"Nggak usah, di sini aja. Sambil nunggu Daryl pulang." Dan Nania segera menjatuhkan dirinya di sofa.
"Baiklah kalau begitu." Dan sang mertua membenahi bantal untuknya sehingga dia tampak merasa nyaman.
"Maaf ya Ma?"
"Tidak apa-apa, istirahat saja. Nanti kalau ada apa-apa panggil saja ya? Mama tinggal, oke?"
Nania menganggukkan kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Papi, lihat?" Pasangan suami istri itu berdiri di dekat jendela ruang tengah yang tembus ke belakang. Dan dari sana mereka bisa melihat Nania yang berada di ambang pintu pada menjelang sore hari.
"Apa yang sedang dia lakukan?" Sofia menyingkap tirai agar lebih memperjelas pandagannya.
"Menunggu Daryl?" Satria melakukan hal yang sama.
Satria menatap Nania yang persis seperti apa yang dikatakan istrinya.
Perempuan itu berdiri, melihat ke kanan dan ke kiri sambil mengulurkan kakinya, dan pada saat hampir menginjak teras dia mengurungkan niatnya. Lalu kembali ke dalam rumah.
"Apa dia mau kabur?" Pria itu bersuara.
"Mana mungkin? Kalaupun mau kabur mungkin Nania sudah melakukannya dari kemarin. Tapi ini malah begitu terus. Keluar pun sepertinya dia tidak berani."
Kemudian mereka melihat Nania yang lagi-lagi berada di ambang pintu dan kini sang menantu benar-benar menginjakkan kakinya di teras luar. Lalu di menit berikutnya dia melangkah hingga turun dan berada di luar rumah.
Nania berhenti sebentar. Dia melihat sekeliling yang suasananya tidak pernah berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tetap sepi, asri dan penuh kedamaian.
Namun kemudian dia mundur dan kembali ke dalam rumah ketika mendengar mesin mobil memasuki pekarangan, dan itu adalah suaminya.
Baik Sofia maupun Satria hanya bisa saling pandang dengan pikiran yang menerka-nerka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nania masih belum mau ikut bergabung?" Satria memulai percakapan saat tak ada siapa pun diantara mereka bertiga yang berbicara.
Bahkan Daryl tampak makan dengan cepat tanpa jeda seperti dia dikejar sesuatu.
__ADS_1
Sang anak berhenti lalu mendongak ke arahnya. "Tidak." jawabnya, singkat dan dia melanjutkan kegiatan makannya.
"Tidak kamu ajak?" Sofia memberanikan diri untuk ikut bicara.
"Kenapa harus diajak? Dia sudah dewasa, sudah tahu apa yang harus dilakukan, bukan?"
Kedua orang tuanya tampak menghela napas pelan. Ini tidak mudah. Berbicara pada yang mengalami kemarahan dan kekecewaan seperti putra mereka harus hati-hati dan benar-benar tenang. Kalau tidak, bisa-bisa dia salah tanggap dan kembali membuatnya marah.
"Berhentilah, Nak. Maafkan Nania." Sofia menyentuh tangan Daryl sehingga putranya itu kembali berhenti, padahal makanannya hanya sisa sedikit.
"Dia juga terluka, sama sepertimu. Ibu manapun akan merasa sedih jika kehilangan anak karena kami yang mengandung dan merasakan kehadirannya jauh sebelum yang lain. Kami yang lebih tersiksa ketika waktu itu tiba dan tidak ada yang bisa dibandingkan dengan apa pun."
"Jangan berlarut-larut seperti ini, Der. Maklumi lah, karena dia mungkin tidak mengerti cara kita." Satria menambahkan.
Daryl tak menyahut, namun dia cepat-cepat menyelesaikan acara makannya.
"Aku selesai. Selamat malam." katanya.Â
Daryl pun bangkit dan dia bergegas pulang ke rumahnya di belakang. Sementara kedua orang tuanya sama-sama saling pandang.
***
Rumah terasa begitu sepi beberapa hari ini, dan lampu-lampu selalu padam bahkan sebelum larut. Tempat itu bagai tak punya kehidupan padahal sebelumnya selalu terasa hangat.
Kamar bahkan tak ubahnya seperti dunia tanpa penerang yang selalu gelap setiap kali Daryl memasukinya. Namun dia paksakan untuk pulang meski rasanya enggan.
Apalagi ketika melihat Nania yang sudah meringkuk di bawah selimutnya, seakan dia sudah tertidur lelap. Padahal Daryl tahu bahwa perempuan itu masih terjaga.
Namun saat ini dia tak ingin mengusiknya sama sekali karena ingat pada interaksi mereka beberapa hari belakangan saat Nania selalu terlihat ketakutan ketika dirinya mendekat.
Sedangkan Nania menunggu dengan berdebar di bawah kegelapan malam. Sambil merapatkan selimutnya, dan menekuk kakinya sehingga dia merasa terlindung dari apa yang mungkin akan terjadi malam ini.
"Nania?" Bahkan suara pelan Daryl terdengar mengerikan baginya. Membuat dia memeluk tubuhnya sendiri erat-erat.
"Nania, apa kamu sudah tidur?" tanya Daryl yang naik ke tempat tidur lalu mendekat untuk memeriksa keadaannya.
Namun Nania tak merespon sama sekali. Sehingga pria itu mengurungkan niatnya untuk berbicara, dan dia memilih untuk berbaring saja di dekatnya.
💖
💖
💖
Bersambung ...
Panggil Sayang dong Pak.ðŸ¤
__ADS_1