The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Gejala


__ADS_3

💖


💖


"Udah aku bilangin masih ngantuk." Nania menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, sementara Daryl melenggang ke arah ruang makan untuk mengambil minum.


"Kenapa?" Sofia bertanya seraya menoleh kepada putranya.


"Hari ini Nania lambat." jawab sang putra dengan wajah masam.


"Lambat kenapa?"


"Bangun kesiangan, mandi lama, berpakaianpun lama." Dia meneguk air hangat yang dituangkan oleh sang ibu.


"Memangnya kenapa? Sakit?" Perempuan itu memelihat ke ruang keluarga, dan tampak menantunya yang agak terkantuk-kantuk.


"Tidak, hanya lambat."


"Biarkan saja kenapa? Kan hari ini tidak ada jadwal sekolah?"


"Tetap saja." Daryl kemudian membawa gelas keramik berisi milk tea kesukaan istrinya.


Meski semalaman dia dibuat kesal oleh tingkah laku perempuan itu, belum lagi dia yang tadi merengek memintanya untuk tidak menggunakan parfum seperti biasanya. Tetap saja tak membuat Daryl lupa dengan apa yang disenangi istri belianya.


"Ayo bangun, sarapan dulu!" Lalu dia menyodorkan gelas keramik tersebut kepada Nania.


"Milk tea ya?" Perempuan itu bangkit dan melihat kedalam cangkir di tangan suaminya.


"Ya. Milk tea panas seperti yang kamu suka." jawab Daryl.


"Nggak mau!" ucap Nania yang kemudian kembali meringkuk di sofa.


"What?"


"Aku maunya jus jeruk." katanya dengan kepala tersuruk di sudut sofa.


"Jus jeruk?"


"Hu'um."


"Biasanya kamu minum milk tea?" Daryl belum merubah posisi tangannya.


"Mau jus jeruk." ulang Nania setengah merengek.


"Kenapa sih?" Sofia datang menghampiri setelah mendengar percakapan anak dan menantunya.


"Aneh sekali dia meminta jus jeruk? Biasanya tidak mau selain milk tea?" Daryl menggerutu.


"Kamu sakit, Nna?" Sofia menyentuh kening menantunya.


"Nggak, cuma ngantuk." Nania pun menjawab.


"Ngantuk? Memangnya semalam kamu tidak tidur?" Sofia melirik curiga ke arah putranya.


"Iya."


"Kenapa?"


"Berantem terus." jawab Nania yang membuat raut wajah sang mertua berubah.


"Apa?"


"Eee …."


"Semalaman dia ngomel terus Ma. Kan aku jadinya nggak bisa tidur. Ngantuk, mana pusing lagi?" Dia mengadu.


"Apa yang kamu lakukan?" Sofia segera bertanya.


"Tidak ada, aku hanya …."


"Kenapa bertengkar? Ada masalah apa?" Dia lantas duduk di dekat Nania.


"Apa yang Daryl lakukan kepadamu? Ayo, katakan kepada Mama, Nna!" tanyanya, dan dia memeriksa keadaan menantunya.


"Nggak ada, cuma ngomel doang."


Sofia menoleh lagi kepada pitranya.


"Sumpah, Mom. Tidak ada, dia hanya sedikit bertingkah aneh semalam, jadinya aku kesal kan?" Daryl membela diri.


"Bertingkah aneh apanya? Kamu jangan berani macam-macam ya? Kalau tidak …."


"No! What are you talking about?" Pria itu segera berjongkok do depan Nania dan sama-sama memeriksanya juga.


"Mau jus." ucap perempuan itu, lebih seperti anak kecil yang merengek.


"Baik, sebentar kita minta Mima buatkan." jawab Sofia yang segera memanggil asisten rumah tangganya.


***


Nania meneguk segelas jus jeruk hingga hampir habis dan membuat semua orang melongo. Tidak terkecuali Mima yang masih berdiri di sana.

__ADS_1


Lalu dia menyeka mulutnya yang basah dengan punggung tangannya.


"Bikinin lagi." Kemudian Nania menyerahkan gelas jusnya kepada perempuan itu.


"Lagi, Non?" tanya Mima untuk meyakinkan pendengarannya.


"Ya, lagi." jawab Nania.


"Tapi kamu belum makan, tahu?" Lalu Daryl menyela.


"Sebaiknya sarapan dulu. Terlalu banyak jus sebelum makan juga tidak bagus, kan?" Sofia menambahi.


Nania terdiam sambil merasai lidahnya yang terasa sedikit pahit. Mungkin akibat dari muntah-muntahnya pada saat bangun tidur tadi? Dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.


"Ayo sarapan dulu? Nanti bisa tidur lagi." ucap Sofia, setengah membujuk menantunya.


Kemudian mereka pindah ke ruang makan setelah semua hidangan siap di meja. Dan mata Nania tampak berbinar menatap makanan-makanan itu seperti dia baru menemukannya setelah sekian lama.


Roti diisi campuran salad dan ikan tuna juga keju slice, ditambah telur mata sapi di pinggirnya dan beberapa potong daging asap yang tampak menggiurkan.


"Asiikk!" katanya yang segera duduk di kursinya. Diikuti oleh Daryl yang mengisi tempat di sampingnya.


"Kamu duduknya sana, jangan deketan aku ih, bau!" Namun perempuan itu malah mengusirnya.


"Aku pagi ini tidak memakai parfum lho, tapi kamu masih menyebutku bau!" Daryl segera mendebatnya.


"Ya emang kamu bau! Aku nggak suka bau kamu!"


"Astaga, ini bahkan masih pagi tapi kalian seperti kucing dan anjing!" Sofia bereaksi.


"Coba Mama lihat. Apa aku tampak buruk hari ini?" Daryl menunjuk dirinya sendiri.


"Apa aku terlihat seperti orang yang belum mandi? Rambutku bahkan masih basah. Tadi aku keramas sampai dua kali agar rambutku wangi. Tapi retap saja …." adu pria itu kepada ibunya.


"Aku nggak suka bau di rambutnya. Aku juga nggak suka bau parfumnya. Aku juga nggak suka bau pasta giginya. Bikin aku mual! Apalagi pomadenya." Lalu Nania menyahut.


"Mual?" Sofia mendengarkan perdebatan anak dan menantunya.


"Iya mual. Aneh deh, masa ada shampo wanginya begitu? Nggak ada seger-segernya?" Nania melahap roti isinya dan merasai setiap gigitannya dengan perlahan.


Lalu dia berhenti ketika merasa aroma makanan itu sangat menyiksa indra pengecapnya.


Perempuan itu bangkit lalu berlari ke dapur dan memuntahkan makanan di mulutnya ke tong sampah. Yang tentu saja membuat para pegawai yang sedang bekerja merasa terkejut.


"Haih!! Kenapa makanan juga rasanya begini!!" Dia mengeluh.


"Nah, sekarang makanan." Daryl menggumam.


Sofia dan Satria saling pandang, lalu mereka beralih kepada Daryl.


"Apa iya?" tanya sang ibu sambil mencondongkan tubuhnya.


"Aku tidak tahu." Daryl menjawab sambil melahap makanannya.


"Kenapa tidak diperiksa?"


"Ah, malas. Mungkin hasilnya negatif lagi?"


"Negatif? Memang pernah di tes?" Satria bertanya.


"Sudah beberapa kali. Terakhir dua minggu yang lalu. Membuat kecewa saja."


"Siapa tahu sekarang positif?" sambung Sofia, dan wajahnya berbinar ceria ketika membayangkan jika apa yang mereka sangka adalah benar adanya.


"Ah, jangan berharap. Mungkin cuma hal biasa. Mungkin seperti yang waktu pulang dari Moscow. Cuaca sekarang kan berubah-ubah?"


"Cuaca apanya? Jelas Nania sedang mengalami sesuatu?" tukas sang ibu, dan dia hampir saja bangkit ketika melihat menantunya yang berjalan gontai keluar dari dapur.


"Jangan dibahas, Mom. Itu akan membuat Nania sedih. Nanti kalau hasilnya negatif lagi, dia akan kecewa. Murung, dan nemikirkan banyak hal."


"Tapi, Der?"


"No." Pria itu menggelengkan kepala.


Sofia menghembuskan napas keras kemudian kembali duduk. Tidak ada yang bisa dilakukan jika sang putra sudah berkata demikian.


"Mulut aku nggak enak rasanya." Nania pun kembali ke tempat duduknya, lalu dia meneguk jus jeruk yang baru saja diantar Mima.


"Mual muntah?" Sofia mulai bertanya.


"Iya."


"Pusing waktu bangun tidur?"


"Hu'um." Nania mengangguk.


"Bagaimana dengan perutmu?"


"Ya nggak enak."


Sofia terdiam.

__ADS_1


"Mungkin makan buah bisa membuatnya lebih baik?" Lalu dia menggeser bowl berisi potongan buah ke dekat Nania, dan perempuan itu menatapnya dengan bersemangat.


Dia mengambil potongan melon itu dengan garpu kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Lalu mengunyahnya dengan perasaan riang.


"Enak?"


"Hmm …." Nania mengangguk lagi, lalu potongan berikutnya dia lahap.


Ada semangka, stroberi, dan kiwi yang masing-masing dipotong dalam ukuran kecil.


"Mm … ini enak." Nania bereaksi, dan hal tersebut semakin membuat Sofia meyakini perkiraannya.


"Makanlah itu dulu kalau membuatmu merasa lebih baik." katanya, lalu tersenyum.


***


"Omaaa … Opaaaa …." Dua bocah berteriak sambil memasuki rumah besar.


"Oh, cucu Oma!!" Dan Sofia segera menyambut mereka.


"Aku tadi habis berenang di sekolah, aku juara tiga dan Anya juara empat." Zenya bercerita begitu dia berada di pangkuan neneknya.


"Oh ya? Hebat sekali kalian ini." puji Sofia.


"Ah, aku payah. Masa juara empat? Harusnya kan satu." Namun Anya tampak kecewa.


"Juara empat juga bagus?" Satria menyahut.


"No! Mommy selalu juara satu kalau balapan. Kok aku malah juara empat?" Dia melirik kedua orang tuanya yang masuk sambil menenteng beberapa hal. Di antaranya pakaian dalam plastik khusus yang akan mereka kenakan di acara besar sebentar lagi, yang segera mereka serahkan kepada asisten rumah tangga yang menghampiri.


"Belum. Nanti kalau banyak latihan juga bisa jadi juara satu. Ini kan baru lomba renang pertama?" Rania menghibur putrinya yang kecewa sebelum dia dan Dimitri naik ke kamar mereka untuk berganti pakaian dan sedikit berdandan.


"Tante Nna udah pulang sekolah?" Lalu Zenya bertanya.


"Tante Nna tidak sekolah. Mungkin sekarang sedang bersiap-siap." Sofia menatap ke area belakang ketika anak dan menantunya masuk.


Nania yang sudah mengenakan gaunnya dan Daryl rapi dengan jas yang berwarna senada.


"Eh, ada Zenya?" Orang yang dimaksud cepat-cepat menghampiri mereka.


"Tante Nna udah cantik begini, mau ikut Mommy ya?" Zenya yang turun dari pangkuan sang nenek kemudian berpindah ke dekat Nania.


"Iya."


"Tante Nna boleh ikut, tapi aku nggak boleh?" adu Zenya.


"Ini acara untuk orang dewasa tahu? Anak kecil nggak diajak." Daryl menyahut dari belakang lalu duduk agak jauh untuk menghindari protes Nania seperti tadi.


"Kenapa nggak diajak? Emangnya ada bahaya ya? Kata Mommy kalau ada bahaya nggak boleh ajak anak-anak." Anya ikut bertanya.


"Bukan, hahaha." Nania tertawa. "Cuma ribet aja disana banyak orang."


"Aku nggak apa-apa banyak orang, aku okay." Zenya berucap.


"Iya, tapi tetep nggak boleh. Ini acaranya orang dewasa. Cuma sebentar kok, jadi Anya sama Zen tunggu aja di sini ya?"


"Iya deh."


"Bagus, Anya sama Zen pinter." Nania mengusap kepalanya yang basah.


"Zen baru mandi ya?" Lalu dia bertanya.


"Iya, aku kan udah lomba renang di sekolah. Dapat juara tiga lho."


"Oh ya? Hebat."


"Tapi aku juara empat. Kan nyebelin." Anya kembali mengadu.


"Sama aja mau juara berapa juga. Kalian sama-sama hebat." Nania menyentuh wajah kedua anak itu bergantian.


"Kalian wangi banget sih, pakai apaan?" Lalu dia memeluk mereka untuk beberapa saat.l saat mencium aroma yang segar menguar dari keduanya.


"Nggak pakai apa-apa."


"Tapi wangi. Seger … nggak bikin mual." Nania mendelik kepada suaminya yang tak menurut ketika dia memintanya untuk tak mengenakan wewangian apa pun.


"Cuma dipakein minyak telon abis renang tadi sama Mommy biar hangat." Anya menjawab.


"Oh … iya iya, emang wanginya enak ya? Mmm …." Lagi-lagi dia memeluk mereka lagi untuk menghirup aroma yang menyenangkan dari tubuh dua keponakannya. Sementara Daryl memutar bola matanya, sebal.


💖


💖


💖


Bersambung ....


Nah, nah kan? Gejala apa itu? 😁😁


Ayo like komen sama hadiahnya kirim lagi, ka asyik kalau nanti up lagi?

__ADS_1


__ADS_2