
💖
💖
Mereka tiba di bandara internasional Sheremetyevo, Moscow Rusia pada pukul enam pagi. Setelah melewati perjalanan udara selama kurang lebih 7 jam dari Swiss.Â
Salju sedang tak turun tapi udara begitu dingin membekukan. Daryl bahkan harus memberikan Nania mantel tambahan agar dia tak kedinginan ketika mereka keluar dari pesawat. Tidak lupa dia juga merapikan topi bulunya agar kepalanya tetap terlindung.
"Nah, kamu aman sekarang." Katanya, setelah memasangkan sarung tangan pada perempuan itu.
"Mantelnya berat tahu?" Keluh Nania yang mengenakan dua lapis mantel yang cukup tebal.
Wajahnya bahkan hampir tidak terlihat saking tebalnya pakaian yang dia kenakan.
"Yang penting kamu tidak kedinginan." Daryl menggenggam tangannya erat-erat, lalu dia menuntunnya untuk turun.
Sebuah mobil khusus menjemput mereka, dan segera membawa keduanya keluar di mana mobil lainnya sudah menunggu.
Di sana, di depan bandara, sebuah Rubicon lainnya menunggu, dengan seorang pria tinggi berambut pirang dan bermata biru membukakan pintu.Â
"Kak dela, Andrei? ( apa kabarmu, Andrei?)." Daryl menyapanya.
"Khorosho, Ser. Dobroye utro? (baik, Pak. Selamat pagi?)." Dia mengangguk, dan dengan sigap menutup pintu, lalu dia pun segera masuk ke dalam mobil dan membawa mereka keluar dari area tersebut.
Nania hampir merapatkan wajah dan kedua tangannya pada kaca mobil. Lagi-lagi salju yang tiba-tiba turun membuatnya terkesan.
Sisi kiri dan kanan jalan memang dipenuhi benda dingin berwarna putih itu, dan sepertinya disini bahkan lebih parah dari pada Swiss.Â
Saljunya lebih tebal dan hujannya lebih deras. Kalau udara jangan ditanya, sudah pasti lebih dingin.
"Kamu tahu, musim dingin ataupun tidak, udara di Rusia kadang ada di titik beku." Daryl memulai percakapan.
"Masa?"
"Ya. Jika kamu keluar tanpa pakaian hangat yang tebal, maka sudah dipastikan kamu akan mati kedinginan."
"Apa setiap tahun saljunya selalu setebal ini?" Perempuan itu menatap pohon-pohon di kiri dan kanan jalan yang ditutupi salju seluruhnya, sehingga tak sehelaipun daun yang terlihat.
"Biasanya tidak. Tapi siklus badai membawa salju yang lebih banyak dari pada tahun-tahun sebelumnya. Bisa dibilang jika saat ini kawasan Eropa sedang mengalami musim dingin yang ekstrim." Daryl menjelaskan.
"Ohh …." Nania menganggukkan kepala, kemudian dia kembali lagi menatap keluar mobil.
Matanya berbinar-binar dan wajahnya tampak ceria. Dia asyik menikmati pemandangan hamparan putih sejauh mata memandang semlmentara Daryl terus memegang tangannya.
Saat ini mereka sedang menuju jauh ke pinggiran kota Moscow di mana mansion keluarga berada. Yang berjarak sekitar satu jam dari pusat kota.
Melewati beberapa tempat terkenal dan ikonik di negara itu, juga banyak hal yang dulu, sebelum bertemu Daryl hanya bisa Nania lihat di televisi atau internet.
Tapi lihatlah, saat ini dirinya bahkan melewati tempat-tempat tersebut.
Perempuan itu tertawa.
"What?" Daryl mencondongkan tubuhnya ke arah Nania.
"Aku berasa kampungan banget ya? Dari kemarin pasti kamu mikirnya kalau aku ini aneh." Dia menoleh.
"No. Why should i thoughts about that?"
"Karena aku kayak nemu harta karun setiap kali lihat salju dan tempat-tempat yang udah kita datangi."
Daryl terkekeh.
"Semua orang yang pertama kali melihat pasti akan begitu. And that's okay. You are precious."
Nania tersenyum.
__ADS_1
"Really." Daryl mengeratkan genggaman tangannya.
"Aku nggak aneh?" tanya Nania, lalu dia menyandarkan punggungnya pada pria itu.
"No. Kenapa hal itu membuatmu merasa aneh? Kamu tahu, jika manusia itu pada umumnya memang selalu takjub pada hal-hal yang belum mereka lihat. Seperti aku yang baru pertama kali ikut ke pasar denganmu. And that's amazing!!"
Nania tertawa terbahak-bahak.
"Ke pasar kamu bilang Amazing? Itu baru aneh. Hahaha …."
"Yeah, seperti halnya kamu yang yang terpesona dengan salju yang turun itu."
"Hmm … cara kita memandang sesuatu itu berbeda ya?"
"Tentu. Aku dan Darren saja berbeda padahal kami lahir dari rahim yang sama. Apalagi kita."
"Ya, itu benar."
Lalu mobil memasuki jalanan sepi. Yang mereka temukan hanya gundukkan salju bahkan semua tanaman yang disekitarnya.
Kemudian sebuah gerbang besar berwarna hitam terlihat perlahan terbuka meski jarak mereka masih puluhan meter. Dan mobil tersebut terus melaju hingga memasuki area dibaliknya.
Mansion dengan dinding ditumbuhi tanaman merambat berdiri kokoh di tengah salju. Yang sebagiannya dibersihkan untuk lalu lintas kendaraan. Beberapa pohon memagari dinding sehingga area itu tampak tersembunyi.
Rubicon berhenti tepat di depan teras dengan dua tiang marmer. Dan pintunya sudah terbuka.
Andrei turun dan membuka pintu sebelah kiri, sementara seorang pria lain berjas hitam membuka pintu sebelah kanan.
"Malyshka, come!" Daryl mengulurkan tangannya setelah mereka berada di luar mobil, dan Nania segera mengikutinya.
"Dobro pozhalovat', Ser?" Pria tersebut menyambut dengan ramah.
"Spasibo." Lalu dia menuntunnya masuk ke dalam bangunan luas itu.
Saat itu masih ada Rudolf Nikolai sang Kakek yang selalu menanti kepulangannya bersama Darren di setiap akhir pekan. Yang selalu membuat suasana mansion terasa hangat.
Tapi kini, rasanya berbeda. Jantung rumah itu telah tiada, dan mereka hanya bisa mengenangnya lewat foto dan lukisan, juga semua barang-barang peninggalannya saja.
Daryl menghela napas dalam-dalam sebelum akhirnya dia melanjutkan langkahnya ke arah tangga menuju ke lantai dua.
"V komnate nedostatochno teplo, Grigori! ( ruangannya kurang hagat, Grigori!)." ucap Daryl begitu mereka memasuki sebuah kamar besar di lantai dua.
"Khorosho, Ser. Ya povyshu temperaturu. ( baik Pak. Akan saya tingkatkan suhunya)." Pria dengan jas hitam itu menjawab.
"Spasibo."
"Van chto-nibud' nuzhno? (ada yang Bapak butuhkan?)" Grigori bertanya sebelum pergi.
"Ne, khazestya (sepertinya tidak)." jawab Daryl, kemudian dia melirik kepada Nania yang sedang mengamati keadaan.
"Malyshka, kamu mau sesuatu?" lalu dia bertanya.
"Kayaknya nggak. Aku mau tidur." Perempuan itu pun menjawab.
"Slushat'?( dengar kan?)"
Grigori menganggukkan kepala kemudian dia mundur keluar dan menutup pintu.
"Emangnya dia ngerti apa yang aku bilang?" Nania kembali mendekat.
"Mengerti. Sebagian besar pegawai di mansion bisa bahasa Indonesia." Daryl melepaskan mantel tebalnya, kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Terus kenapa dari tadi kalian ngomognya pakai bahasa Rusia? Aku kan nggak ngerti!" protes Nania, dan dia sedikit kesal akan hal tersebut. Namun Daryl malah tertawa.
"Itu … hanya kebiasaan." jawabnya, yang merebahkan kepalanya pada bantal.
__ADS_1
"Ish, nyebelin! Pokoknya nanti aku mau belajar bahasa Rusia juga. Biar ngerti kalau kalian lagi ngeghibah."
"Bahasa Rusia itu sulit, lidahmu tidak akan terbiasa. Bahasa Inggris saja yang gampang." jawab Daryl yang menarik selimutnya.
"Bahasa Inggris aku udah bisa, tinggal ngelancarin aja."
"Masa?"Â
"Iyalah. Nggak nyadar apa kalau selama ini kamu ngomong pakai bahasa Inggris atau anak-anak gitu juga? Aku kan ngerti."
Daryl hanya tersenyum.
"Nanti cariin aku tempat les bahasa Rusia, atau kalau nggak boleh keluar rumah cariin guru privat aja sekalian!" ujar Nania, dan dia juga melepaskan dua mantel dari tubuh mungilnya.
"Yes, Ma'am." Daryl masih tersenyum. "Tapi sepertinya kalau untuk belajar bahasa asing kita tidak memerlukan guru privat untukmu." Daryl menegakkan tubuhnya.
"Kenapa? Aku belajarnya dari internet? Oke lah." Nania menjawab.
"Bukan."
"Terus?"
"Kamu sudah punya guru pribadi." Pria itu setengah berbisik.
"Maksudnya."
"You already have." Lalu dia kembali menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang sambil menggerak-gerakkan alisnya.
"Maksudnya kamu?" Nania memperjelas maksud suaminya.Â
"Yeah. I'll teach you for free."
"Hmmm … nggak yakin bakal gratis. Pasti nanti ada ujungnya." Nania mencebikkan mulut yang membuat tawa Daryl menyembur dengan keras.
"Kamu mengerti rupanya."
"Ah, apa lagi? Kan kamu memang begitu. Bayarannya lebih dari duit!"
Pria itu terus tertawa.
"Ini sebenarnya siapa sih yang kaya? Kamu atau aku ya?" Nania duduk di ujung ranjang.
"No no no!!" Namun Daryl menggelengkan kepala.
"Apaan?"
"Come here!" Lalu dia menepuk pahanya sendiri.
"Mau apa? Masa mau anuan? Baru juga sampai."Â
"Ehh!!"
"Nggak mau, aku masih jet lag!!" Dan Nania hampir saja bangkit ketika pria itu merangkulnya, dan menariknya ke tempat tidur.
"Nggak mau, aku capek!!" Namun dia pasrah ketika Daryl menggulungnya dibawah selimut.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Hadeh ... Baru juga nyampe? 🙈🙈
__ADS_1