The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Perasaan Daryl


__ADS_3

💖


💖


Daryl meletakkan tas berisi pakaian di sofa ujung ranjang. Mereka tiba pada hampir siang setelah yakin keadaan Nania membaik. Meski darah dan sisa rasa sakitnya masih ada, namun mereka memutuskan untuk pulang.


Perempuan itu duduk di pinggir tempat tidur. Wajahnya masih pucat dan dia tampak lemas. Yang paling kentara darinya adalah Nania belum berani bicara.


Daryl membenahi tempat tidur dan menumpuk bantal untuknya agar istrinya merasa nyaman, sebelum dia beralih kepadanya.


"Tidurlah lagi. Aku … harus datang ke kantor polisi untuk wajib lapor." Pria itu hampir saja meninggalkannya tapi Nania segera meraih tangannya.


Daryl tertegun menatap wajahnya yang tertunduk.


"Aku tahu mungkin ini nggak ada gunanya lagi, tapi … aku nyesel. Maafin aku." Nania mendongak.


Dan seperti sebelum-sebelumnya, air mata kembali menyeruak dari sudut matanya.


Daryl mengetatkan rahang dengan keras. Sejujurnya dia ingin mengatakan segala hal kepada Nania. Memarahinya seperti biasa, atau mengomel seperti yang sering dia lakukan kepadanya, atau memakinya seperti orang marah pada umumnya. 


Tapi rasanya itu tidak akan ada manfaatnya. Karena selain melelahkan dirinya juga sudah malas.


"Kamu tahu? Seandainya kamu bukan istriku apa yang akan aku lakukan?" Pria itu buka suara.


"Bisa membayangkan bagaimana jadi aku, hum?"


Nania mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Aku segera pulang begitu pekerjaanku di Malang selesai karena ingin memberi kejutan kepadamu, tapi apa yang aku dapat? Aku justru terkejut melihat istriku dipukul orang sampai kehilangan anakku."


"Kamu sedih? Lalu bagaimana dengan aku?"


"Kamu pikir yang aku lakukan ini untuk mengekangmu? Mengurungmu? Kamu pikir aku ingin menghambatmu untuk melakukan banyak hal sehingga berkali-kali tak mendengarkan aku? Begitu menurutmu?"


Nania kembali menundukkan wajahnya, dan kini semakin dalam.


Daryl kemudian berjongkok di depannya.


"Amukanku tidak akan ada gunanya, dan tangis penyesalanmu tidak akan mengembalikan anakku. Jadi diam saja dan biarkan aku memulihkan diri dengan caraku sendiri. Dan akan aku biarkan kamu menyembuhkan diri dengan caramu. Tapi satu hal yang aku tekankan di sini." Pria itu membingkai wajah Nania dengan keras.


"Mulai saat ini sampai selamanya aku tidak mengizinkanmu menemui perempuan itu apa pun alasannya." Dia menatap Nania dengan kilat kemarahan yang kentara pada manik kelamnya.


"Kau dengar, Nania? Selangkah saja kau keluar dari gerbang tanpa seizinku maka selamanya kau tidak akan bisa masuk lagi." Lalu dia melepaskannya seraya bangkit.


"Itupun kalau kau mau mendengarkan aku. Tapi jika tidak, terserah padamu. Pintu rumah keluarga Nikolai akan terbuka jika kau tak lagi ingin ada di sini."

__ADS_1


Nania terkesiap.


Daryl menatapnya sebentar, dan dia menyentuh wajah sembab perempuan itu. Dalam hatinya dia berharap gertakan itu akan membuat Nania jera, dan tak lagi bertindak gegabah. Meski mungkin sedikit kejam tapi tak ada pilihan lain baginya selain mengucapkannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nania belum turun?" Sofia duduk di kursinya bersama anak menantunya yang sore itu datang untuk menginap seperti biasa. Kecuali Dimitri dan anak-anaknya yang memilih pergi mengikuti Rania untuk balapan di negara tetangga.


"Belum. Daryl juga belum kembali." Darren menjawab. "Regan menemaninya ke kantor polisi, jadi Mama tidak usah khawatir."


"Sampai sore begini?"


"Ya kita tidak tahu, mungkin banyak hal yang mereka bicarakan jadi agak lama."


"Hmm … Mama tidak akan khawatir jika dia mengatakan banyak hal atau melampiaskan kemarahannya pada apa pun. Yang Mama khawatirkan adalah jika dia diam saja dan tak bereaksi apa-apa. Karena itu lebih menakutkan dari bencana alam sekalipun."


"Mungkin ada yang sudah berubah, Mom."


"Ya, dan Mama harap itu adalah hal baik."


"Apa perlu kita lihat ke rumahnya, Ma?" Kirana yang baru datang ikut bicara.


"Sepertinya tidak usah. Lebih baik biarkan saja dulu mereka. Mungkin butuh lebih banyak waktu."


"Aku rasa Nania butuh dukungan. Kita tidak bisa membiarkannya sendirian. Sepertinya dia …."


Satria bahkan memilih untuk diam dan memulai kegiatan makannya saja tanpa banyak bicara. Meski dia merasa jika indra pengecapnya sedang kebas saat ini. 


Duka kehilangan memang mereka rasakan juga, dan tak ada obat yang lebih ampuh untuk memulihkan selain waktu.


"Mima, setelah ini antar makanan untuk Nania ya? Sekalian kamu lihat keadaannya." ujar Sofia kepada asisten rumah tangganya.


"Iya, Bu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pulanglah, Regan. Sudah cukup." Daryl kembali menenggak minuman bening kebiruan di gelasnya.


Semilir angin menerpa rambut kecoklatannya yang berantakan. Dan dia menikmati suasana malam itu sambil menatap hamparan lampu kota Jakarta yang semarak dari ketinggian balkon Nikolai Tower.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya akan tetap di sini." Regan menjawab.


"Pulanglah! Besok bahkan sudah akhir pekan dan kau bisa libur. Kau bebas." Daryl kembali menenggak habis minumannya.


Regan terdiam.

__ADS_1


"Kau mau?" Daryl kemudian menyodorkan botol berisi minuman memabukkan yang dia minta kepada bawahannya itu.


"Tidak, Pak. Saya tidak minum." Namun pria itu menolak.


"Baik sekali kau ini?"


"Hanya tidak biasa, Pak." Regan sedikit terkekeh.


Daryl kembali menatap hamparan lampu kota di bawah sana.


"Kau tahu, Regan? Dulu sekali, jika aku merasa bosan, marah atau butuh hiburan pasti aku pergi ke klub dan berpesta. Menemui banyak perempuan seksi dan minum-minum. Lalu berakhir di kamar hotel dengan salah satu dari mereka."


Regan mendengarkan atasannya bercerita.


"Kau tahu itu sangat menyenangkan. Tiba-tiba saja kau menjadi orang paling bahagia di dunia."


"Bisa saya bayangkan, Pak."


"Tapi sekarang aku hanya ingin sendiri. Menyepi … dan mendiamkan semua hal tanpa ingin bertindak lebih meski itu diperlukan. Kau tahu aku telah menjadi orang yang berbeda." Tiba-tiba Daryl tergelak.


"Betapa manusia bisa berubah dengan cepat, dan sebenarnya kita tidak tahu apa-apa mengenai hidup." Daryl dengan suara sendu.


"Aku kira segala hal ada dalam genggamanku dan bisa aku kendalikan. Tapi nyatanya, sebagai keturunan Nikolai pun aku masih punya kelemahan."


"Itu karena kita manusia biasa, Pak. Kita yang membuat rencana dan aturan tapi Tuhan yang memegang kekuasaan untuk meluluskan atau menggagalkannya. Dan kita hanya harus siap kecewa jika semua tidak sesuai dengan keinginan." Regan menjawab.


Sedangkan Daryl terkekeh tapi dia mengusap kedua matanya yang hampir saja tergenang.


"Tidak apa-apa, Pak. Sedih itu wajar dan menangis itu normal. Itu tandanya kita masih punya hati dan perasaan. Jika tidak maka artinya ada yang salah dengan diri kita."


Daryl bangkit kemudian duduk memegangi kepala dengan kedua tangan yang sikutnya bertumpu pada lutut.


Dia meremat rambutnya dengan keras  dan mati-matian menahan sesak di dada. Rupanya hal ini terasa lebih menyakitkan dari pada ketika dirinya kehilangan Grusha. 


Berkali-kali dia menyeka air mata yang memaksa keluar kemudian kembali meneguk minuman berwarna biru itu langsung dari botolnya hingga habis.


Dan tak ada yang Regan lakukan selain membiarkannya saja. Karena tiada yang lebih berbahaya dari seorang pria yang tengah bersedih karena merasa kehilangan seperti atasannya.


💖


💖


💖


Beresambung ....

__ADS_1


Cup cup Bang, sini Emak peluk 😚


__ADS_2