The Sweetest Feeling

The Sweetest Feeling
Glacier Express


__ADS_3

πŸ’–


πŸ’–


"Mmm … Daddy!!" Nania mengerang ketika lagi-lagi Daryl menyatukan milik mereka berdua, padahal pagi hampir tiba.


Namun pria itu tidak peduli, karena yang dia inginkan hanya terus bergumul denganΒ  Nanianya.


Kecupan-kecupan lembut mengawali percintaan yang kemudian berubah menjadi cumbuan hangat. Lalu diikuti sentuhan di setiap bagian sensitif pada tubuh perempuan itu.


Dia menggeliat dan tubuhnya melengking seperti busur yang siap melesatkan anak panahnya. Membuat dadanya yang masih ranum semakin membusung.


Tentu saja hal tersebut membuat Daryl tergoda untuk menyentuhnya.


"Aahh …." Nania meremat rambutnya yang agak bergelombang.Β 


Menekan kepalanya sehingga sesapan di dadanya semakin kuat. Rasanya menyenangkan dan dia menyukainya. Sementara pria itu terus berpacu sehingga ranjang mereka tampak bergetar.Β 


"Uuhhh … Daddy!!" Nania menarik wajah Daryl kemudian mencumbunya. Seperti tak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain itu.


Tubuhnya terus bereaksi, dan dia menginginkan lebih. Kini tak ada lagi sikap malu-malu apalagi ragu. Yang ada hanya perasaan ingin mencapai pelepasan bersama. Pusat tubuhnya bahkan terus berkedut semakin kencang seiring hentakan yang semakin cepat.


Daryl tersenyum dalam cumbuannya. Dia tahu hal seperti ini mungkin akan terjadi, tapi tak pernah menyangka bisa secepat ini. Namun dirinya senang akan hal itu.


Nania terus mendes*h dan mengerang. Sesekali dia merengek karena Daryl sengaja mempermainkan perasaannya yang sedang menggila, sengaja hanya karena ingin melihatnya merasa frustasi. Tapi dia menyukainya.


Dan setelah beberapa saat lamanya, mereka berpacu dan saling menyenangkan satu sama lain. Hingga keduanya tak mampu lagi menahan diri, maka terlepaslah segalanya ketika digulung pelepasan yang begitu luar biasa.


***


"Daddy!!" suara bisikan terdengar di telinganya.


"Daddy!!" Lalu aroma segar menguar di indra penciumannya.


"Hey, ayo bangun! Katanya mau ajak aku jalan-jalan?" Lalu Daryl merasakan perempuan itu menduduki punggungnya.


"Daddyyyy!!" Dan dia kembali berbisik di telinganya.


Nania bahkan sampai menggelitik suaminya agar dia bangun setelah pergumulan mereka yang berakhir pagi tadi.


Pria itu perlahan membuka mata dan dia mendapati kamar mereka yang terang benderang karena hampir semua tirai sudah dibuka.


"Jam berapa ini? Kenapa kamu bersemangat sekali?" Daryl bergumam, seraya meremat kaki Nania yang bertumpu di sisi tubuhnya yang tertelungkup.


"Udah siang, dan kamu susah banget dibangunin?" Nania beranjak dan membiarkan suaminya untuk bangkit.


"Masa?" Lalu Daryl berbalik dan dia memeriksa jam di ponselnya.

__ADS_1


Sudah pukul sepuluh siang waktu Zurich dan mereka masih berada di kamar hotel tengah kota. Meski waktu menunjukkan sudah siang, tapi matahari tidak bersinar terik.Β 


"Cepat bangun! Bukankah kita mau jalan-jalan?" Nania menarik tangannya sehingga pria itu bangkit.


"Sebentar, aku masih ngantuk!" Namun Daryl kembali berbaring dan memejamkan mata.


"Ish!!" Nania tidak menyerah. Dia kembali menariknya sampai Daryl benar-benar bangun dari tempatnya, dan mendorongnya ke kamar mandi.


***


Glacier Express menjadi pilihan pertama mereka untuk menikmati waktu di Swiss. Perjalanan kereta panoramic tersebut dimulai dari St. Moritz sebagai titik awal yang nanti tujuannya akan berakhir di Zermatt.


Kereta tersebut melewati Engadine yang mempesona sampai Matterhorn yang menakjubkan. Dan sengaja berjalan lambat karena memang dikhususkan untuk pariwisata.Β 


Pengunjung disuguhkan dengan pemandangan menawan kota pegunungan bersalju tersebut yang tidak dimiliki oleh negara lainnya. Dan mereka memilih waktu yang tepat berkunjung ke kota itu pada liburan akhir tahun seperti ini.


Jendela besarnya membuat pemandangan pegunungan Alpen yang bersalju di sepanjang perjalanan terlihat begitu jelas. Sehingga siapa pun dapat menikmatinya dengan sepuas hati.


Nania bahkan mengambil beberapa foto dengan ponselnya, yang kelak akan menjadi kenangan indah baginya di kemudian hari.


Setelah perjalanan kereta berakhir di kota Zermatt pada lewat tengah hari, mereka memutuskan untuk menetap di sebuah persinggahan di tengah kota kecil itu. Dengan segelas coklat panas dan makanan khas yang menjadi teman menikmati waktu.


Salju yang turun perlahan membuat pengunjung tak dapat melakukan perjalanan kembali ke Zurich setidaknya beberapa jam ke depan.Β 


Namun hal tersebut membuat suasana di kota kecil tersebut menjadi semakin indah. Dan Nania tidak pernah bosan untuk menatap keluar.


"Hey? Mau ke Gunung Matterhorn?" tawar Daryl.


"Saljunya tipis, jadi masih aman."


"Umm …."


"Come! Akan terlihat indah dari atas sana." Katanya, dan dia membawa Nania menaiki cable car yang masih tetap beroperasi.


Salju di Zermatt memang merupakan daya tarik tersendiri pada saat-saat seperti itu, dan mereka beruntung karena mengalaminya. Lokasinya yang berada di kaki Gunung Matterhorn membuatnya memiliki pesona tersendiri.


Nania berpegangan erat kepada Daryl karena semakin lama, cable car yang mereka naiki menjadi semakin tinggi saja. Dan ini rasanya mengerikan. Tapi dia memutuskan untuk meneruskan perjalanan karena tidak ingin mengecewakan suaminya yang sudah berusaha keras membuatnya bahagia.


Dari atas sini dia bisa melihat orang-orang juga menikmati waktu mereka. Dan pada saat salju berhenti turun, lintasan ski di bawah kembali penuh.


"Look!" Daryl menunjuk ke bawah sana di mana rumah-rumah dan penginapan kota Zermatt sudah menyalakan lampu-lampunya karena cuaca sudah meredup meski petang belum tiba.


Dan hal itu terlihat memukau karena lampu-lampu yang berpijar, membuat tempat tersebut seperti di negri dongeng.


"Kayak pernah lihat di film ya?" Nania menatap ke bawah sana.


"Ya. Bagus bukan?"

__ADS_1


Perempuan itu menganggukkan kepala.


"Kayak di Nuttracker yang aku tonton waktu kecil."


Daryl tersenyum.


"Wanna stay?" Lalu dia bertanya.


"Hum?"


"Mau bermalam di sini?"


"Nggak tahu, menurut kamu gimana? Setelah ini kita mau ke mana lagi?" Nania balik bertanya.


"Rencananya malam ini kita akan ke Moscow. Agar bisa menetap lebih lama di sana."


"Langsung ke Moscow?"


"Rencananya begitu. Tapi kalau kamu kamu menginap dulu semalam di sini sepertinya akan bagus." Pria itu menyeringai. Banyak ide bermunculan di kepalanya.


"Kayaknya langsung ke Moscow juga bagus." Namun rupanya Nania memiliki pilihan lain.


"Benar?"


"Iya."


"Padahal kalau menginap di sini pasti akan menyenangkan lho?"


"Di mana aja sama, asalkan sama-sama." Nania mengeratkan rangkulan tangannya.


"Really?"


"Ya. Jadi, ayo kita ke Moscow sekarang?" Perempuan itu dengan semangatnya.Β 


Setidaknya, dengan menempuh perjalanan ke Moscow yang akan membutuhkan waktu berjam-jam, akan memberinya cukup waktu untuk beristirahat. Karena setelahnya bisa dipastikan hari-harinya akan berbeda.


"Baiklah, setelah kita turun nanti ya?" ucap Daryl yang juga mengeratkan genggaman tangannya.


"Hu'um." Nania menganggukkan kepalanya.


Dan cable car tersebut perlahan terus berputar mengelilingi gunung Matterhorn yang bersalju hingga ke puncak. Kemudian kembali turun ke Zermatt, bertepatan dengan kedatangan kereta Glacier Express di stasiun.


πŸ’–


πŸ’–


πŸ’–

__ADS_1


Bersambung ...


Hadeh ... Enaknya jadin Nania πŸ™‰πŸ™‰


__ADS_2